Touch Me!

Touch Me!
S2- Rahasia yang terkuak



Nyonya besar Chloe masih terlihat begitu emosional. Sementara yang lainya, semua menatap Ivi dengan tatapan bingung dan penuh tanya. Vanya dan Nath juga tidak bisa lagi betkata-kata karena Ivi yang memintanya dengan tatapan memohon. Nathan juga tampak menahan kekesalan yang begitu besar. Ayah dan Ibunya Ivi juga terlihat begitu shock dengan apa yang di ucapkan oleh Nyonya besar Chloe.


Ibu mulai menangis saat putri tersayangnya tersenyum padanya. Rasanya sangat sakit melihat putrinya diperlakukan seperti ini.


" Kau adalah anakku. Kau adalah anakku, sampai mati pun, kau adalah anakku. Kau adalah gadis yang kuat. Tapi kau tidak boleh jadi bodoh. Ibu selalu mengajari mu agar tidak ditindas. Tapi kenapa kau membiarkan orang lain menindas mu? apa kau tahu? saat kau dihina atau disakiti oleh orang lain, hati Ibu dan Ayah lah yang hancur. Ibu memang sering memarahi mu, tapi Ibu tidak akan membiarkan orang lain melakukanya. Hanya aku yang boleh memarahi mu. Hanya aku yang boleh mengkritik mu. Yang lain tidak berhak. " Ucap Ibu sembari menatap Ivi dari kejauhan. Ayah yang juga merasakan sakit yang sama, dia hanya bisa menatap Ivi sembari memohon di dalam hati agar semua ini dihentikan.


" Wah, Bibi adalah Ibu yang baik ya? " Tanya Salia lalu tersenyum mengejek.


" Apa Bibi tahu? beberapa waktu yang lalu, dia dengan percaya diri mengatai Ibu yang sudah melahirkannya. Mulai dari tidak tahu malu, menjijikkan, monster, dan masih banyak makian yang lainya. "


Ibu menatap tegas manik mata gadis yang kini berbicara padanya. Meski air matanya tumpah tak terhitung lagi, tapi Ibu tidak akan mudah untuk di tindas.


" Memang kenapa? memang apa ruginya untuk mu? toh bukan kau kan yang melahirkan Ivi? mau dia bilang Aku monster, dia mau bilang aku siluman, mau dia bilang aku ini jin lembah, itu urusan anakku. Kau tidak berhak ikut campur! dasar gadis berhati nenek sihir!. "


" Wah, jadi pantas saja anak mu sangat tidak tahu malu. Kau juga adalah Ibu yang tidak waras. Bagaimana kau bisa sesantai itu saat anak mu menghina mu? bahkan anak mu mengatakan dengan jelas kepada kami, kalau dia menyesal telah dilahirkan oleh mu. " Salia mengangguk mengiyakan.


" Dasar keluarga tidak tahu malu! " Kesal Nyonya besar Chloe. Sungguh dia sangat kesal karena mendengar apa yang di ceritakan oleh Salia dan Ibunya.


" Lihatlah, kalian semua. Bagaimana bisa aku mempertahankan menantu yang seperti itu? " Ucap Nyonya besar Chloe kepada semua tamu undangan.


Nathan sungguh ingin berjalan mendekati Ivi dan membawanya pergi. Atau bahkan, dia ingin sekali berteriak marah. Tapi Ivi terus menatapnya dan menggeleng. Begitu juga dengan Nath dan Vanya. Mereka juga tidak bisa melakukan apapun karena larangan dari Ivi sendiri.


Dodi yang semakin tidak tahan, akhirnya menjauhkan tangan Berly yang terus memeluk lengannya. Dia berjalan mendekati Ivi dan berniat membawa Ivi pergi.


" Lihatlah, satu lagi anak dari seorang kriminal datang. " Tunjuk Nenek kepada Dodi. Dodi tidak ingin menggubrisnya, dan dia berniat untuk menarik tangan Ivi. Tapi Ivi menahannya dan menggeleng.


" Kakak, aku belum mengatakan apapun. Biarkan saja mereka mengatakan apa yang mereka ingin katakan. "


" Kau bodoh hah?! kita memang melarat! kita memang anak dari seorang Nara pidana! tapi tentang hati, orang seperti mereka tidak akan paham! " Ucap Dodi marah hingga tanpa sadar terus membentak Ivi. Salied yang melihag Ivi dipermalukan juga merasa sedih. Tapi dia juga tidak bisa melakukan apapun. Karena sudah pasti, Ivi akan terus menolak bantuannya.


" Hati? bagaimana bisa kau berbicara tentang hati? apa kau tahu? adik mu sendiri yang mengaku jika dia menikahi Nathan demi uang. Apa kau pikir kau pantas membicarakan hati di sini? terlebih, kau membicarakan itu kepada adik mu yang tidak punya hati. " Ucap Nyonya besar Chloe.


" Dasar menjijikan! betapa malunya memiliki anak seperti mu. " Ujar Nyonya Marhen.


Ivi terkekeh hingga mengeluarkan banyak air mata. Tentu saja semua orang kini menatapnya bingung.


" Sekarang aku jadi tahu alasannya." Ucap Ivi sembari menatap Nyonya Marhen.


" Nyonya Marhen, aku punya sebuah cerita menarik. Apa anda mau mendengar? " Tanya Ivi. Nyonya Marhen hanya diam dan terlihat begitu enggan.


" Karena ada diam, jadi aku anggap kalau anda setuju untuk mendengarkan. Dan untuk anda semua yang ada disini, aku juga ingin menceritakan sebuah cerita yang menurut ku lumayan menarik. "


Ivi menatap kedua orang tuanya yang kini sedang menangis. Ivi tersenyum laku menggeleng agar Ibu dan Ayahnya berhenti menangis.


" Nyonya Marhen, saat usia ku sepuluh tahun, aku mengalami kecelakaan. Beberapa tulang ku patah. Mulai dari tangan, kaki, bahkan tulang rusukku juga patah. Lalu aku tinggal bersama Bibi dan paman ku. Aku di pukuli sampai hampir setiap hari aku berdarah. Kemudian, paman ku membawa ku pergi untuk meyelamatkan ku. Aku tinggal dengan keluarga baruku. Tapi sayang, aku juga terus dipukuli hingga aku banyak memiliki luka memar. Aku lari untuk menyelamatkan diri. Saat itu usiaku sebelas tahun. Aku tinggal di panti asuhan. Kemudian aku di adopsi oleh sepasang suami istri. Tapi apa anda tahu? pria brengsek itu selalu saja menatap ku dengan keinginan yang menjijikkan. Aku lari dari rumah itu saat pria brengsek itu mencoba melepas pakaian ku. Aku berlari, hingga bertemu seorang pria yang tak lain adalah Ayah ku. '' Ivi menatap Ayahnya lalu menangis. Ayah juga terus menangis. Sama seperti Ibu dan Dodi yang kini juga menangis.


" Dia, dia adalah pria bodoh yang membuat dirinya menjadi narapidana untuk melindungi ku. Dia, menyelematkan ku dari pria brengsek itu. Dia rela menikam orang demi gadis bodoh dan tidak berguna sepertiku. Dia menghabiskan beberapa tahun di dalam penjara demi aku. Sebelum akhirnya paman ku datang dan menjaminnya. Dan apa anda tahu Nyonya Marhen? " Ivi menatap Nyonya Marhen sembari menyeka air matanya.


" Ibu dan kakak ku sama sekali tidak menyalahkan ku. Mereka justru menangis melihat tubuh ku yang penuh luka. Mereka merawat ku, memberiku makan, memberi tempat tidur yang nyaman, mereka memeluk ku saat aku histeris karena teringat semua kejadian menakutkan itu. Aku juga tidak bisa bicara dan hanya berteriak. Tapi berkat mereka, aku bisa tumbuh menjadi seperti sekarang ini. Aku menjadi gadis pemberani dan cerewet setelah aku bisu beberapa tahun. "


Dodi yang tidak tahan lagi akhirnya memeluk Ivi erat.


" Gadis bodoh! jangan bicara lagi! aku sudah tidak sanggup mendengarnya. "


Ivi menepuk pelan punggung kakaknya.


" Kakak, aku juga serasa tidak kuat. Tapi, semua ini harus berakhir. Aku tidak ingin terperangkap dalam duka itu. "


" Itu berarti, asal usul mu lebih tidak jelas dari yang aku pikirkan. " Ujar Nyonya besar Chloe.


Ivi melerai pekukannya. Dia menatap Nyonya besar Chloe lalu tersenyum. Setelah itu, dia menatap Nyonya Marhen yang sepertinya cukup terkejut dengan cerita Ivi.


" Nyonya Marhen, aku akan memberi tahu satu rahasia ku padamu. " Ivi tersenyum.


" Sebenarnya, nama ku saat kecil adalah, Silvia Marhen.


To Be Continued.