
Pagi hari yang cerah. Secerah hati Vanya. Ia tak henti-hentinya tersenyum bahagia. Apa yang ia lihat semalam, maksudnya, reaksi Nath. Dia benar-benar masih sama. Walaupun dalam keadaan tidak mengingat apapun tentang Vanya, nyatanya cinta yang ada didalam hati Nath tidak akan salah mengenali orang yang ia cintai.
Vanya dan Riska sudah selesai membereskan mini cafe yang akan siap dibuka beberapa menit lagi.
Vanya menghela nafas mengingat semua pertanyaan Nathan setiap pagi. Putra kecilnya itu benar-benar merindukan Ayahnya. Untuk pertama kali, Nathan merengek meminta agar bisa menghubungi Ayahnya. Vanya hanya bisa mencari-cari alasan untuk itu. Jika ada yang bertanya, kenapa tidak menunjukkan bukti nikah mereka? agar Nath bisa kembali padanya.
Tidak! sungguh, itu adalah tindakan gegabah. Kenapa? coba bayangkan, Nath dalam keadaan yang tak mengingat apapun tentangnya dan juga putranya. Jika dia tiba-tiba menyodorkan semua bukti pernikahan, coba pikirkan. Apa yang akan Nath rasakan saat itu? mungkin saja Nath akan kembali padanya. Atau juga, dia kan menganggap Vanya gila Lalu menghancurkan segalanya. Menghancurkan cinta, ataupun rumah tangga yang baru seumur jagung. Mungkin juga, hanya raganya yang akan kembali, tidak dengan hatinya. Sungguh,.. Vanya menginginkan semuanya. Baik hati dan juga raga Nath.
" Nathan kecilku, maaf sayang. Maaf untuk semua hal yang terjadi tentang Ayah. Dari kecil, Ibu selalu membohongimu tentang Ayah. Tidak terkecuali hari ini. Ibu juga masih sama. Membohongimu. Tapi nak, ini adalah jalan terbaik. Tapi, jika Ayahmu masih tidak mengingat tentang kita, mau tidak mau, Ibu harus melibatkan mu. " Gumam Vanya sembari menatap segelas coffee latte favorite nya.
" Selamat pagi? silahkan masuk.... " Vanya bangkit dari duduknya. Matanya terhenti sesaat setelah manik matanya tertuju pada sosok yang sangat ia rindukan. Dan yang menyebalkan, air mata itu tiba-tiba mengisi pelupuk matanya. Sungguh menyebalkan kan! Sebisa mungkin, bibir ranum itu menguasai dirinya. Dia tersenyum dengan menahan rasa rindu yang semakin terasa berat hari ini. Entahlah, apa mungkin karena Nathan kecil merengek lebih keras dari sebelumnya? mungkin karena itu hatinya menjadi sedikit pengecut karena kini merasa takut. Takut akan kegagalan.
" Selamat pagi? Lexi dan Presdir Nath? " Sapa Vanya yang masih memaksakan dirinya untuk tersenyum.
" Selamat pagi. " Jawab Lexi. Hari ini, wajahnya benar-benar kusut. Iya, tentu saja. Kejadian semalam membuatnya tidak bisa tidur dengan nyenyak.
Sedangkan Nath. Dia terdiam sembari menatap Vanya.
Presdir Nath? dia tidak memanggilku, Suami? kenapa? padahal, aku tidak masalah dia memanggil ku begitu. Apa karena aku menghalanginya dan Lexi semalam?
Melihat Nath yang hanya terdiam, Lexi akhirnya memesan kopi untuk mencairkan suasana. Lebih tepatnya, suasana hati Nath.
" Vanya, satu Espreso dan satu Milktea. " Ucap Lexi yang di angguki oleh Vanya.
Lexi hanya bisa menghela nafas heran. Kenapa Vanya tidak seperti biasanya? kemana sikap centil yang kemarin menggebu-gebu? kenapa dia begitu diam? apapun itu? Lexi bisa bernafas lega. Dia akan selamat dari Nath.
Beberapa saat yang lalu.
" Lexi, kau akan pergi membeli kopi? " Tanya Nath.
" Tentu saja. " Jawab Lexi.
Lexi bisa melihat tatapan tajam Nath yang tertuju padanya. Tentu saja, itu membuat Lexi kebingungan. Apa membeli kopi adalah kesalahan? akhirnya, ketemu juga alasannya. Nath benar-benar berpikir, bahwa dia dan vanya, masih akan membahas tentang ajakan Vanya.
Dasar bodoh! dalam keadaan seperti ini pun, Vanya tetaplah wanita yang kau cintai. Aku benar-benar iri dengan kalian. Bagaimana kalian bisa saling mencintai sampai seperti itu?
Setelah beberapa saat, Vanya menyerahkan dua cup kopi.
" Ini kopinya. "
" Vanya, kau baik-baik saja? " Tanya Lexi yang mulai penasaran dengan sikap Vanya yang cenderung pendiam hari ini.
" Iya. Aku baik-baik saja. Hanya, teringat dengan seseorang, membuat ku tiba-tiba tidak bersemangat. " Tutur Vanya sembari memaksakan senyumnya.
Siapa? apa dia suami mu yang sebenarnya? batin Nath bertanya-tanya.
" Lupakan saja orang yang membuatmu jadi begini! kau yang seperti ini, tidak cocok dengan karaktermu. Kau kan biasanya pecicilan dan selalu semangat? sama seperti si mulut kubangan itu. " Lexi bergumam di akhir kalimat saat menyebut, si mulut kubangan.
Vanya tersenyum.
" Kau selalu teringat padanya ya? " Tanya Vanya dengan mimik wajah meledek.
" Tidak! mana mungkin. " Elak Lexi. Yang benar saja! batinnya.
" Baguslah, jadi aku masih memiliki harapan. " Ujar Vanya yang mulai kembali semangat.
" Harapan untuk apa? " Akhirnya! orang yang sedari tadi diam, kini mengeluarkan suara indahnya. Yah, meskipun wajahnya sangat dingin saat bertanya begitu.
" Harapan untuk menjalin hubungan dengan orang tampan semacam Lexi." Timpalnya sembari mengedipkan sebelah matanya kepada Lexi.
Lexi mulai tidak bisa menyembunyikan kekesalannya karena sikap Vanya. Sungguh! dia menyesal karena telah memberikan semangat kepada Vanya.
Sialan! pikirkan saja lagi orang yang membuatmu jadi pendiam, Vanya! setelah dipikir-pikir, pendiam memang lebih baik untukmu!
Nath semakin tajam menatap Lexi.
Berani-beraninya dia! kalau sampai mereka menjalin hubungan, akan ku patahkan kedua tangan dan kakinya.
Ck! aku juga akan memotong habis tongkat ajaibnya. Dengan begitu, kau tidak akan memilih Lexi lagi kan?
Lexi hanya bisa terdian was-was melihat tatapan Nath.
Nath, rencana menyeramkan apa yang ada di pikiran mu itu?!
" Selamat pagi? " Sapa Vanya kepada seorang pria yang baru saja tiba.
" Silahkan. " Ucap Vanya sembari tersenyum ramah.
Pria itu terdiam sesaat. Dia mengingat kembali sosok wanita yang ada di hadapannya itu. Laku dia tersenyum saat yakin tidak salah mengenali.
" Kau Vanya? " Tanya pria itu yang terlihat antusias sekali.
Pria itu menyodorkan tangannya meminta untuk disambut. Dengan wajah bingung, Vanya menyambut uluran tangan itu.
" Kita pernah bertemu di lobby perusahaan Chloe. Waktu itu, kita tidak sengaja bertabrakan. " Pria itu menjelaskan karena Vanya terlihat bingung.
" Aku Ergen. " Pria itu memperkenalkan diri dengan senyum yang benar-benar sangat manis tapi masih terkesan maskulin.
Untuk kali ini, Vanya tidak mengada-ada. Dia benar-benar takjub dengan wajah pria bernama Ergen itu.
Wuah! tampan dan manis sekali.
Dari sudut ruangan, kedua mata Nath tak henti-hentinya menatap Vanya yang menerima jabatan tangan begitu lama. Yang lebih membuatnya sebal adalah, wajah Vanya yang tersenyum seolah benar-benar kagum dengan apa yang ada dihadapannya.
Nath bangkit dari duduknya. Dia berjalan mendekati Ergen yang masih memegang tangan Vanya.
" Vanya! berikan aku satu latte " Pintanya dengan wajah sebal.
Vanya tersadar dari pesona Ergen. Dilihatnya Nath yang kini berdiri disamping Ergen dengan mimik wajah kesal. Vanya tersenyum melihatnya.
Nath, apa kau cemburu dengan pria ink juga? apakah aku sudah boleh mengatakan segalanya? aku merindukan mu, Nath.
" Kenapa kau malah diam? " Tanya Nath yang masih saja merasa kesal.
" Tidak apa-apa. Aku hanya sedang berpikir, kenapa aku begitu merindukan mu hingga tidak memiliki semangat bekerja hari ini. " Jawan Vanya dengan senyum yang mengembang diwajahnya. Menyadari akan rasa cemburu Nath, membuat hatinya bahagia.
Merindukan ku? aku, aku sendiri bingung. Kenapa aku ini? kenapa aku juga merasa merindukan mu?
" Ergen, apa yang ingin kau pesan? "
" White coffee. " Jawabnya sembari menatap Vanya.
Vanya tersenyum dan mengangguk.
" Ini. " Vanya menyodorkan dua cup kopi. Satu milik Ergen, dan satu lagi milik Nath.
" Vanya, aku berjanji padamu waktu itu. " Ucap Ergen.
Nath yang tadinya hendak melangkahkan kaki, tiba-tiba tertahan untuk ikut nimbrung dengan obrolan itu.
" Benarkah? " Vanya terlihat antusias tapi matanya, melirik Nath untuk memastikan bagaimana reaksi Nath. Vanya tersenyum, ternyata Nath terlihat keberatan dengan itu.
" Iya. Aku berjanji akan meminta maaf dengan benar. " Ucap Ergen.
" Lalu? " Vanya mengucapkan kata itu dengan sangat centil.
Vanya! awas saja kalau kau macam-macam!
Nath semakin mengeraskan rahangnya.
" Mari kita dinner malam ini. "
Vanya tersenyum sembari mengangguk.
" Dimana? " Tanya Vanya. Bukan tanpa alasan dia bertanya. Karena dia paham bagaimana Nath. Dia pasti akan mengikutinya malam ini. Jadi, dia memudahkan Nath secara tidak langsung.
" Ah, itu " Ucapan Ergen tertahan saat menyadari Nath sepertinya sengaja ada di dekat mereka.
" Akan kuhubungi nanti. Boleh aku meminta nomor ponsel mu? "
Dasar modus! taktik mu bagus juga. Ingin meminta nomor ponsel dengan alasan itu. Tidak masuk akal! memang kau pikir, aku akan membiarkannya begitu saja? oh,.. tidak akan!
" Boleh. " Jawab Vanya.
Apa?! boleh?! apa-apaan kau ini?! kenapa memberikan nomor ponsel kepada sembarang orang?! memang apa bagusnya bajingan tengik ini?! apa kau tidak memperhatikan wajahnya dengan seksama? lihatlah! lubang hidungnya sangat lebar. Bahkan bulu hidungnya juga menyembul keluar. Apa kau juga tidak melihat? ada banyak kerutan di wajahnya?! jangan-jangan dia sudah bau tanah. Oh, lihatlah bibirnya yang sangat tebal. Apa kau tidak ngeri melihatnya? aduh! lihatlah,... masih ada sisa kotoran di sudut matanya. Ya ampun! itu benar-benar menjijikkan! bahkan rambutnya juga tidak tebal. Aku rasa, dia akan segera mengalami kebotakan. Memang nya dia tidak bisa melihatnya juga? bahkan tubuhnya saja pendek dan gendut. Sialan! kenapa laki-laki seperti ini pun bisa membuatmu terpesona!!!!!!
Di sudut ruangan. Lexi hanya bisa menghela nafas melihat Nath yang tak henti-hentinya menatap tajam ke arah Vanya dan pria yang entah dari mana asal usulnya.
" Nath, berusahalah mengingat semuanya. Vanya adalah istrimu. Meskipun dia terlindungi karena KBR group, tapi yang pantas melindungi dia adalah kau. " Gumam Lexi.
***
Prang.......!
Gaby membanting beberapa barang di kamarnya. Bahkan guci antik yang ia beli susah payah, tidak luput dari amukannya.
" Sialan! wanita itu selalu bisa memancing Nath untuk mengejarnya. Padahal, aku sudah dengan lembut merengek untuk ikut Nath bekerja. Tapi kenyataannya, Nath justru melarang dan datang ke mini cafe milik Vanya. Sebenarnya, apa yang terjadi? kenapa orang-orang yang ku perintahkan untuk melenyapkan Vanya semua menghilang tanpa kabar? siapa sebenarnya Vanya? siapa yang melindunginya sampai se ketat ini?
To Be Continued.