
Pagi hari telah tiba. Hangatnya sinar mentari membawa ketenangan dan semangat pagi.
Vanya bangkit dari posisinya. Dia mendesah sebal. Orang bilang, tidur sembari memeluk akan terasa menyenangkan. Tapi, itu hanyalah kebohongan belaka. Buktinya, sebagian tubuhnya terasa sakit karena tidur miring sembari memeluk Nath.
Vanya menatap Nath yang terlihat begitu lugu saat tertidur. Dia tersenyum mengingat betapa marahnya Nath saat itu. Hampir sepuluh menit sekali, Lexi mengetuk pintu.
" Nath, kau punya penutup mata?
" Nath, bisa minta pencukur yang baru?
" Nath, kau punya camilan?
" Nath, kau punya Novel?
" Nath, kau punya cream untuk otot pegal-pegal?
" Nath, bisa aku pinjam bantal mu? bantal ini sangat tidak nyaman.
" Nath, jangan lupa istirahat. Besok pagi ada rapat penting.
" Nath, aku mimpi buruk.
Dan yang paling menyebalkan adalah, saat Lexi datang dengan wajah yang begitu terlihat menyedihkan. Rambutnya berantakan. " Nath, aku tidak bisa tidur. Boleh aku bergabung dengan kalian, Nath?
" LEXI PERGILAH KE HUTAN AMAZON SECEPATNYA. AKU AKAN MENIKAHKANMU DENGAN GORILA BETINA. " Nath benar-benat terlihat sangat marah. Wajahnya juga menjadi merah. Ini, adalah kali pertama Vanya melihat Nath yang begitu marah. Tapi entahlah, tidak ada rasa takut sama sekali. Yang ada, hanyalah kelucuan saja.
Dan pada akhirnya, kemenangan adalah milik Lexi. Seberapa keras Nath mencoba, Lexi selalu lebih cepat dalam bertindak. Jadilah Nath dan Vanya hanya bisa tidur tanpa melakukan hal lain selain saling memeluk.
" Kau sudah bangun ya? " Tanya Nath yang merasa sedikit terusik dengan sentuhan-sentuhan jemari Vanya.
" Iya. Apa kau tidak ingin bangun? Lexi bilang, pagi ini akan ada meeting. " Ujar Vanya masih terus menatap Nath.
" Orang gila sialan itu berbohong. Aku tidak pernah mengadakan meeting dihari minggu. " Jawab Nath kembali memejamkan matanya.
" Benarkah?
Jadi dia itu sengaja menganggu ya? apa Ibunya Nath yang memintanya melakukan itu? yah, mungkin saja. Ibunya Nath kan tidak menyukaiku.
***
Lexi menatap wajahnya dari pantulan cermin. Cerah... benar-benar pagi hari yang cerah. Secerah hatinya. Rasa puas bercampur bahagia, kini tengah memanjakan suasana hatinya. Mengerjai Nath, benar-benar menyenangkan. Pantas saja Kevin begitu ketagihan. Batinnya.
" Hei....., Kau! kau adalah pria tampan dengan bibir merah merekah yang alami. " Tunjuk Lexi pada dirinya sendiri yang tergambar di cermin.
Dasar sekretaris homo!
Makian wanita dalam pesta itu, tiba-tiba ia mengingatnya. Lexi kembali menatap dirinya. Tapi, kali ini dia menatap dirinya kesal. " Hei kau! apa kau homo?
Lexi mendesah sebal menatap dirinya sendiri. " Aku memang masih jomblo, tapi aku tidak homo. Ck...! perempuan itu benar-benar memiliki mulut yang tajam. Aku curiga banyak silet didalamnya. " Gumam Lexi.
***
Ting....Tong.....
Suara bel milik Unit Sherin.
" Than-than, siapa orang tidak sopan yang bertamu sepagi ini? " Tanya Berly kepada Nath.
" Tidak tahu. Dibanding bertanya, bukanya lebih baik kau buka pintunya? dengan begitu, kita akan tahu siapa orang itu. " Ujar Nathan sembari mengoleskan selai coklat kesukaan Berly dan meletakkan di piring Berly setelah permukaan roti itu rata oleh selainya.
" Ck! menganggu pagi kita yang cerah saja. " Gerutu Berly sembari melangkahkan kaki menuju pintu.
" Paman jelek? " Ucap Berly reflek saat melihat Kevin tersenyum di ambang pintu.
Eh? jelek? maksutnya aku jelek begitu? astaga! Berly, kau buta atau apa? aku ini, pria paling tampan di rumah sakit loh.
" Berikan alasan kenapa paman datang sepagi ini? " Tanya Berly dengan wajah menyelidik.
Oh ya ampun! kenapa tidak menyuruhku masuk dulu sih?!
" Paman, ingin mengajak kakakmu berangkat bersama. " Jawab Kevin yang berusaha tersenyum meski wajahnya enggan melakukanya.
Sialan! aku bakar kata-kataku yang pernah mengatakan, jika kau lucu dan menggemaskan. Kau bahkan lebih menyeramkan dari boneka Anabel.
" Hahaha..... maaf Berly. Paman, memang tidak terbiasa banyak tersenyum. " Kevin menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
" Aku tahu itu. Itu sebabnya, wajah Paman memiliki banyak kerutan. " Tutur Berly sembari menyeringai licik.
Apa?!! kurang ajar! aku memang jarang tersenyum apalagi tertawa, tapi aku belum setua itu. Argh.........
" Ah,... Berly, ngomong-ngomong, dimana Kakakmu? " Tanya Kevin yang sudah malas berdebat dengan iblis kecil berwujud gadis cilik yang manis dan cantik.
" Dia sedang bersiap. Masuklah. Aku tidak mau menyia-nyiakan waktuku hanya untuk Paman. " Ujar Berly sembari melangkah meninggalkan Kevin yang masih dirundung kemarahan.
Tuhan,.... setidaknya, jangan kau perbanyak anak-anak yang memiliki sifat seperti Nathan kecil dan Berly. Anak-anak seperti mereka, hanya akan membuat orang dewasa cepat mati.
Kevin melangkahkan kaki menuju ruang tengah. Ruang yang digunakan Sherin serta Berly dan Nathan untuk sarapan bersama.
" Selamat pagi Nathan? dan Selamat pagi Sherin? " Sapa Kevin yang mencoba seramah mungkin.
" Ck! merusak pagi ku saja. " Kesal Nathan.
Dasar tukang pura-pura. Sherin.
" Selamat pagi, Dokter Kevin. Anda pagi-pagi sudah bertamu ada apa ya? " Tanya Sherin sembari mengambil posisi duduk lalu meminum segelas susu dan akan segera memulai sarapan.
" Aku ingin mengajakmu berangkat bersama.
' Brep.........! Sherin menyemburkan susu yang tertahan di mulutnya.
Berly sudah lebih dulu menutup wajahnya menggunakan piring Nathan yang belum terisi roti. Seakan dia sudah sangat tahu apa yang akan terjadi.
" Paman, kau benar-benar perusak suasana. " Gumam Nathan. Meski lirih, tapi Kevin masih bisa mendengarnya dengan jelas.
Ya tuhan! ingin sekali aku melakban mulut mu! oh tidak. Aku bahkan ingin melakban seluruh tubuhmu.
" Dokter Kevin, kita sudah beberapa kali berangkat bersama. Aku tidak mau lagi. " Tegas Sherin.
" kenapa? " Tanya Kevin yang terlihat guratan-guratan kekecewaan diwajahnya.
" Aku tidak mau ada kesalah pahaman. Para wanita yang mengejar mu, mereka membuatku risih dengan tatapannya. Mereka tidak membiarkan ku mencerna makanan ku dengan baik setiap kali aku makan di kantin. Jadi Dokter Kevin, aku mohon, jangan terlalu dekat. Tolong selamatkan hidupku.
Oh jadi begitu ya? kenapa aku kecewa ya? aku mengajaknya kan hanya karena kami bertetangga.
***
Esok harinya, Nath dan Vanya sudah berada di tempat kerja mereka masing-masing.
" Nath, " Panggil Lexi yang membuyarkan konsentrasi Nath.
" Kau sangat menganggu! bukan hanya semalam. Tapi, sekarang pun masih sama. Masih suka menganggu. Pergilah... aku akan memperhitungkan hukuman untukmu nanti. Sekarang aku sibuk. " Ucap Nath yang sama sekali tak sedikitpun menatap Lexi.
" Iya akan ku terima itu nanti. Tapi Nath, ada hal yang lebih penting yang harus kau ketahui.
Nath menghela nafasnya. Tapi tatapannya, tetap pada dokumen yang ada di mejanya. " Katakan.
" Dia kembali Nath.
Nath mengerutkan dahinya lalu menatap Lexi. " Apa maksutmu? siapa yang kau maksut?
" Mage. Dia kembali. Dia sudah berada diruang tunggu. Dia ingin bertemu denganmu.
Hening.....
Nath tak menunjukkan ekspresi apapun. Dan Lexi, dia hanya bisa menebak-nebak tapi belum juga mendapatkan kepastian untuk dia bertindak.
" Nath, kau akan menemuinya atau tidak? " Lexi kembali mengajukan pertanyaan ini. Ya iyalah... Kakinya kan pegal juga kalau harus berdiri terlalu lama. Dia harus menghemat energinya agar tidak mudah lelah dan mempercepat proses penuaan batinnya.
To Be Continued.