
Di sebuah gedung hotel, pesta pernikahan tengah diselenggarakan dengan begitu privat. Hanya ada Vanya , Nath, Lexi dan Devi sebagai Saksi. Mereka sengaja menyembunyikan pernikahan mereka. Sama seperti Nath dan Vanya, dan juga, Lexi dan Devi. Pernikahan sederhana yang penting bagaimana menjalaninya.
Pernikahan berjalan mulus tanpa kendala, membuat wajah Kevin tak henti-hentinya tersenyum. Lain hal nya dengan Sherin. Gadis itu nampak gugup disepanjang acara. Padahal, pernikahannya hanya dihadiri oleh para sahabatnya, tidak bisa dibayangkan jika mereka mengadakan pesta besar-besaran.
Vanya menatap sahabatnya dari kejauhan. Dia memang terlihat cuek dengan Kevin, tapi Vanya bisa melihatnya, gadis itu sudah lama memiliki perasaan untuk Kevin. Mungkin, hampir sama dengan Devi. Mereka sekuat tenaga membohongi diri mereka sendiri dengan mengatakan, tidak tertarik. Sungguh tidak terduga. Mana ada yang bisa menebak sebuah takdir? dua sahabat baik suaminya, menikahi dua sahabat baiknya. Vanya menghela nafasnya.
Akankah kami hamil berjamaah nantinya?
" Sayang? " Panggil Nath sembari meraih pinggul istrinya.
Vanya menatap Nath yang kini merengkuh tubuhnya. Laki-laki itu selalu tersenyum lembut padanya. Vanya yang dulu begitu ingin menghindarinya, justru jatuh semakin dalam pada perangkap cinta Nath. Entah bagaimana caranya menjelaskan kebahagiaan Vanya saat ini. Rasanya, kebahagiaan tak henti-hentinya datang setelah kelahiran Nathan. Anak kecil yang lahir dari rahim Vanya. Anak yang membawa berjuta kebahagiaan, memberi semangat dan keyakinan, penopang energi saat Vanya merasa lelah dan terpuruk.
" Nath? " Vanya melingkarkan tangan di pinggang Nath dan menatapnya.
" Em? "
" Terimakasih untuk semua yang kau berikan padaku. Terimakasih karena, memberikan seorang Nathan, terimakasih karena mau menjadi suamiku, terimakasih untuk ketulusan cintamu untukku, terimakasih untuk kerelaan mu menerima segala kekuranganku. "
Nath menggelengkan wajahnya. " Tidak, Sayang. Aku yang seharusnya berterimakasih. Kau mengalami kesulitan di kehamilan Nathan hingga empat tahun setelahnya. Aku begitu banyak kekurangan. Aku hanya punya cinta yang amat besar untukmu. Hanya itu yang aku punya. Aku mencintaimu, karena hanya kau yang pantas untuk aku cintai. "
Nath dan Vanya berciuman mesra tanpa perduli dengan sepasang mempelai yang menatap mereka sinis.
Lexi menggeleng keheranan. Dia memang paling sebal dengan si budak cinta satu itu. Dimana pun tempat tidak perduli. Memang dia saja yang bisa begitu. Lexi menatap sinis kedua orang yang tengah berciuman mesra.
Devi menyikut lengan Lexi. " Mau mencoba? "
" Serius? kau mau? " Devi mengangguk. Tentu saja, Lexi langsing meraih tengkuk Devi dan mencium bibirnya. Dia benar-benar tidak mau kalah dari Nath. Dia juga punya pasangan sekarang loh, jadi bisa sombong.
Kevin menghembuskan nafas kasarnya. Dia benar-benar jengah melihat sahabatnya yang sungguh kurang ajar. Sherin yang masih melotot melihat dua pasang sahabatnya, hanya bisa menelan ludah sembari keheranan.
" Sialan! " Kevin melepas kedua sepatunya, yang satu ia lemparkan ke arah Nath, dan yang satu ia lemparkan ke arah Lexi. Untunglah lemparannya meleset. Kalau tidak, sudah bisa dipastikan kalau dua kepala sahabatnya itu pasti sudah bocor.
Pernikahan telah usai, Sherin dan Kevin memasuki kamar yang sudah di siapkan. Sementara Lexi dan Devi, mereka memilih untuk menginap di kamar yang tak jauh dari Kevin dan Sherin. Ingin tahu kenapa? itu karena Lexi ingin melakukanya dengan tenang tanpa takut diganggu oleh siapapun. Bahkan, dia juga sudah memutuskan untuk pindah di gedung apartemen yang sama dengan Vanya dan Sherin.
( Maaf kesayangan, sekali lagi othor sampaikan. Untuk Sherin dan Kevin, othor tidak mendetailkan disini. Karena rencananya, othor akan memisahkan kisah mereka. Judulnya apa? tunggu Touch Me! end ya... )
Ke esokkan paginya.
Vanya membantu Nath untuk bersiap. Mulai memilihkan setelan baju, menyiapkan sepatu, memasang dasi dan masih banyak ha lainya.
" Sudah? " Tanya Vanya sembari menatap suaminya yang terlihat begitu gagah hari ini.
Nath mengangguk lalu mengacungkan jari jempolnya. Hari ini adalah hari bahagia untuk mereka. Karena tepat di hari ini, Nath akan menghadiri acara penyerahan penghargaan sebagai pembisnis termuda dengan inkreditas terbaik.
" Kau dan Nathan jadi menemani kan? "
Vanya mengangguk. Dia mencubit kedua pipi suaminya itu. " Tentu saja, sayang ku. Aku akan datang bersama Ayah dan Ibu. "
Nath mengeryitkan dahinya. " Ayah dan Ibu mu juga hadir? "
" Bukan, Ayah dan Ibu Chloe maksudnya. "
Nath memeluk erat istrinya. Sungguh dia begitu bahagia sekarang. Ayah dan Ibunya juga sudah bisa menerima Vanya dengan baik. Lebih tepatnya, ini semua karena pengaruh Nathan yang akhir-akhir ini berubah menjadi manja dan bermulut manis saat bersama nenek dan kakek Chloe. Nathan yang dulu pendiam, kini berubah menjadi perayu dan mudah merengek kepada nenek dan kakeknya.
Untunglah, Tuan dan Nyonya Chloe begitu menyayangi Nathan. Jika dulu mereka begitu menjaga Nath dari dunia luar, maka sekarang, mereka selalu menemani Nathan menikmati dunia luar. Mereka juga tak segan mengunjungi taman bermain hanya untuk membahagiakan cucunya. Siang dan malam mereka habiskan untuk bersama cucunya. Entah apa yang membuat orang tua Nath begitu membatasinya. Yang jelas, Nath tidak bisa menyalahkan mereka. Karena didunia bisnis, tidak mengenal sahabat atau keluarga. Semua yang merugikan akan dianggap musuh. Jika sekarang mereka begitu berani keluar dari rumah, itu karena orang yang melindungi Nathan berasal dari tiga sumber. Sudah pasti akan baik-baik saja kan?
***
Nath dan Lexi sudah berada diperjalanan menuju gedung dimana acara penghargaan itu digelar. Sementara Vanya, Nathan, Tuan dan Nyonya Chloe datang bersamaan. Mereka memang belum terlihat akrab, tapi Vanya tahu. Mereka sudah memberikan restu kepadanya. Itu terbukti dari cerita Nathan yang mengatakan bahwa, Tuan dan Nyonya Chloe selalu menanyakan kapan adik Nathan akan lahir.
sesampainya disana, Tuan Dan Nyonya Chloe yang memang menjadi tamu spesial di acara itu, berada di bagian paling depan. Tidak lupa, mereka membawa Nathan serta. Sementara Vanya berada di bagian tengah.
Nath mencari-cari keberadaan istrinya saat melihat Ayah dan Ibunya serta putranya ada di bagian depan.
Tatapannya terhenti saat menemukan dimana istrinya berada. Vanya membalasnya dengan senyum yang manis dan tak lama, Nath kembali fokus kepada acaranya.
" Apa dia melihat ke arahku? " Bisik wanita disebelah Vanya.
" Aku justru melihat dia tersenyum ke arahku. " Ucap Wanita yang ada dibelakang Vanya.
Vanya hanya bisa tersenyum miring mendengarnya.
Percaya diri sekali kalian! tentu saja aku! biarpun aku tenggelam di dasar kubangan, aku akan terlihat bersinar. Itulah mengapa dia bisa menemukan ku di manapun aku berada.
Setelah beberapa saat acara berlangsung, Vanya sudah mulai menguap dan mengelangkan kepala beberapa kali karena hampir tertidur.
Sialan! ngantuk sekali! acara ini masih lama atau tidak sih? MC itu dari tadi berbicara terus, dia pembawa acara apa menjual cireng? bersisik tapi membuatku mengantuk.
" Hai,... "
" Kenalkan, namaku Burhan. " Pria itu mengulurkan telapak tangannya.
" Vanya. Hoam.... " Lagi-lagi Vanya menjawab lalu menguap.
" Kau butuh ruang istirahat? "
Vanya menggeleng sembari mengangkat kedua alisnya agar matanya ikut terbuka.
" Kau sudah memiliki pacar? "
Vanya yang sudah sangat mengantuk hanya bisa mengangguk dan menggeleng. Pria itu kembali tersenyum.
" Aku jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihatmu. Maukah menjadi pacarku? "
Vanya cukup terkejut mendengarnya hingga rasa kantuknya sedikit menghilang.
" Tidak mau! "
" Kenapa? "
" Tidak mau saja! tidak ada alasan. "
" Kau tenang saja, aku adalah calon pewaris peusahaan Ayahku. Aku punya banyak uang, kok. "
" Tapi aku lebih kaya darimu. "
Pria itu mengeryit. Perusahan minuman kaleng milik Ayahnya adalah perusahaan besar, bagaimana bisa ada uang menyepelekannya.
" Kau jangan berbohong, Vanya. "
Vanya menatap pria itu lalu tersenyum miring.
" Terserah kalau tidak percaya. "
Pria itu merasa dijatuhkan harga dirinya dan mulai menyombongkan apapun yang dia miliki.
" Lalu, apa kau memiliki mobil sport sepertiku? "
" Bugatti Divo. Dan ada beberapa yang dibawah itu. "
Tapi itu milik Nath. Aku tidak kepikiran mau beli mobil sport. Lagi pula, nath sudah punya banyak. Untuk apa aku beli lagi?
Pria itu terperangah tak percaya. " Kau berbohong ya? "
" Tidak! aku tidak suka berbohong. "
Pria itu menelan ludahnya sendiri. " Bagaimana dengan jet pribadi? aku bisa mengajak mu pergi liburan menggunakan itu. "
Vanya menghela nafasnya. " Aku bahkan bebas menggunakan tiga unit jet pribadi jika aku mau. "
Pria itu benar-benar sudah sangat kesal. Ini pertama kalinya dia begitu rendah di mata seorang wanita. Padahal, biasanya dia bisa dengan mudah berganti wanita kayaknya menggunakan tisu toilet.
" Sombong sekali! "
" Sombong kalau punya, ya tidak apa-apa. "
" Memang siapa orang tuamu?! "
Vanya menghela nafasnya. Lumayan menarik juga pamer harta batinnya.
" Aku anak dari pemilik Dirgantara foundation, cucu satu-satunya dari KBR Group, dan istri dari Nathan Chloe. "
Pria itu terkekeh mendengar ucapan Vanya. Meskipun penampilan Vanya terlihat begitu berkelas, akan sangat mustahil jika gadis dihadapannya itu ada hubungan erat dengan tiga perusahaan besar.
" Kau sedang bermimpi ya? " Ledeknya.
Vanya mendesah sebal lalu meraih ponselnya. Vanya membuka GGL dan menunjukkan beberapa artikel tentang dirinya.
" Look! it's me! " Ucap Vanya sembari tersenyum percaya diri.
Pria itu terdiam sembari terperangah tak percaya.
" Sayang! Vanya! " Vanya mencari sumber suara, matanya terkejut saat melihat Nath sudah berdiri di podium sembari menatapnya dengan tangan yang terulur seolah menyuruhnya untuk mendekat.
Ah gila! gara-gara pamer harta aku sampai lupa dengan tujuanku datang kesini.
To Be Continued.