
Hari ini adalah hari dimana Ivi datang kerumah sakit untuk mengunjungi Ayahnya. Tapi sebelum datang kesana, gadis itu terus mempersiapkan diri sebaik mungkin agar tidak terlihat sedih saat bertemu Ayahnya nanti. Dia berkaca lalu menepuk-nepuk pipinya perlahan agar mnejadi lentur dan terlihat selalu bahagia.
" Iya. Bagus Ivi, tersenyumlah seperti ini saat bertemu dengan Ayah mu nanti ya? " Ivi kembali berkaca dan mengatur senyumnya sedemikian rupa agar tetap terlihat manis. Maklum saja, Ayahnya adalah orang yang begitu pintar dalam mengartikan ekspresi wajah Ivi saat berbicara dengannya.
Ivi meraih tas selempang nya dan berniat untuk menjalankan kakinya keluar dari kamar minimalis dan sederhananya. Tapi langkah kakinya terhenti saat getar ponselnya terasa.
" Iya? siapa disana? " Tanya Ivi dengan nada jenaka karena dia mengira kalau itu adalah kakak atau Ibunya.
Hei ayam goreng! kau dimana?
Ivi menjauhkan ponselnya lalu melihat nomor yang tengah memanggilnya.
" Siapa ini? "
Nathan Rezef Chloe. Pria tampan yang terpaksa akan menikah dengan mu.
" Upin? "
Nathan Rezef Chloe. Panggil aku Nathan. Kan kita sudah menyepakati perjanjian kemarin.
Ivi memutar bola matanya jengah.
" Kalau saja aku tidak membutuhkan uang mu, aku tidak akan menuruti mu. "
Baguslah. Ayo cepat panggil namaku.
Ivi menggigit bibir bawahnya karena menahan kesal.
" Nathan."
Katakan kalau Nathan adalah pria paling tampan di dunia.
Ivi semakin sulit mengendalikan diri. Karena tida bisa memaki, akhirnya dia hanya bisa menggerakkan bibirnya bergumam tidak jelas. Tangannya juga terangkat membentuk kepalan seolah ingin sekali melayangkan pukulan itu.
" Na, Nathan adalah pria paling tampan sedunia. " Setelah mengatakan itu, Ivi terpaksa menutup mulutnya yang begitu tidak rela mengucapkan kalimat pujian untuk si raja narsis yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
Bagus, bagus sekali. Kau di wajibkan mengatakan itu setiap ada yang bertanya padamu tentang ku. Kau mengerti?
" Iya. "
Dasar orang gila! kau pikir kau siapa huh?! untung saja aku membutuhkan uang mu, kalau tidak, aku pasti akan menjahit mulut tidak tahu diri mu itu.
" Sudah dulu ya? aku mau menemui Ayah ku dirumah sakit. "
Rumah sakit apa?
" Rumah sakit X. "
Tunggu aku! aku akan pergi bersama mu.
Belum sempat Ivi menjawab, sambungan telepon itu sudah lebih dulu terputus.
" Dasar Upin! kau mau membuat Ayah ku kejang apa?! bisa-bisa kau pulang tinggal nama kalau sampai kau mengatakan pada Ayah ku, bahwa kita akan menikah. " Ivi menggaruk kepalanya yang gak gatal. Tapi titah dari Nathan kan tidak boleh dibantah.
" Ah, bilang saja kalau si Upin hanyalah pria yang tergila-gila dengan kecantikan ku. Jadi dia sembarangan bicara hanya untuk mendapatkan kepercayaan ku saja. " Ivi menjentikkan jarinya karena merasa jika pemikirannya adalah ide yang brilian.
***
Sammy yang baru saja masuk ke dalam ruangan Nathan kini tengah dibuat bingung dengan ekspresi Nathan yang seperti anjing gila yang sedang jatuh cinta. Sedari berbicara fi telepon sampai dia tiba-tiba bangkit semakin membuat Sammy keheranan.
" Mau kemana? " Tanya Sammy.
" Bagaimana penampilan ku hari ini? apa setelan jas ku kurang menarik? bagaimana dengan rambut ku? lihat baik-baik wajah ku. Apa berminyak? apa minyak wangi yang aku gunakan terlalu berlebihan? apa justru wanginya sudah hilang? "
Orang ini salah makan atau apa sih? kenapa tiba-tiba bertanya penampilannya? kan tadi sudah berkaca? pakai saja matamu sendiri!
" Sammy? " Panggil Nathan karena masih belum mendapatkan jawaban.
" Apa? " Jawab Sammy yang terlihat begitu tidak percaya dengan apa yang ditanyakan Nathan. Karena ini adalah kali pertama dia tida percaya diri dengan penampilannya.
" Bagaimana pendapat mu tentang penampilan ku hari ini? " Nathan membenahi jasnya dan memeriksa kancingnya agar tak ada yang kurang sempurna nanti nya.
" Biasa saja. " Jawab Sammy yang kini sudah menjadi malas.
Nathan mengeryit lalu menatap kesal Sammy.
" Apa kau mau bilang kalau aku tidak tampan? "
Mulai lagi kan? siluman kera ini benar-benar gila pujian rupanya.
" Maksud ku, seperti biasa. Kau tampan, rapih, wangi, setelah pakaian mu juga sangat keren. Kau benar-benar dewa ketampanan. " Sammy memaksakan senyumnya agar tak melihat tampang kesal Nathan lagi.
" Tidak perlu berlebihan memujiku seperti itu. Aku tidak terlalu memperdulikan penampilan kok. Meskipun aku memakai baju compang-camping, wajah tampan ku memang tidak akan luntur. " Nathan tersenyum, menepuk bahu Sammy beberapa kali dan pergi begitu saja.
Sammy mengendurkan dasinya, menaruh dokumen yang sebenarnya membutuhkan tanda tangan Nathan. Dia membuka kancing kedua lengan kemejanya lalu memukul angin beberapa kali untuk mengusir kekesalannya. Tentu saja kegiatan itu dia lakukan setelah Nathan pergi.
" Dasar siluman kera! raja iblis! bajingan tengik! " Sammy menarik nafas lalu menghembuskan perlahan. Menghadapi Nathan memang gapang-fampang susah. Jika di depan orang asing, dia sangat irit berbicara. Tapi kalau dengan lingkungan keluarga, atau orang-orang terdekat, dia akan menjadi gila dan susah di tebak apa maunya. Hanya satu yang Sammy pahami dari seorang Nathan. Yaitu, haus akan pujian. Padahal semua orang dengan jelas selalu memuji betapa tampan dan berkharisma seorang Nathan. Tapi siluman kera itu selalu haus pujian dari orang-orang dekat.
" Kalau saja wajahku lebih tampan darimu, sudah pasti aku akan menghina mu habis-habisan agar kau mengurangi sedikit saja level ke narsisan mu. "
" Aku tidak terlalu memperdulikan penampilan kok. " Sammy mengikuti gaya bicara Nathan.
" Cih! nyamuk teler saja sudah tahu kalau kau berbohong. "
***
Empat puluh menit waktu yang dihabiskan untuk menjemput Ivi di halte bus, akhirnya dia bisa satu mobil untuk menemui Ayahnya Ivi. Gadis itu Memang menolak saat Nathan ingin menjemputnya di rumah. Jadilah Ivi memintanya untuk menjemputnya di halte bus saja.
Sesampainya dirumah sakit, Ivi dan Nathan berjalan menuju ruangan di mana Ayahnya Ivi tengah mendapatkan perawatan. Nathan menenteng bingkisan buah dan Ivi memegang sebuket bunga yang sempat Nathan beli saat perjalanan tadi.
" Ayah.. " Panggil Ivi seraya membuka pintu ruang rawat Ayahnya.
" Ivi? " Ibu, Ayah dan Dodi kini tengah menatap Ivi bersamaan. Ivi menelan ludahnya sendiri. Bagaimana tidak? dia kira Ibu dan Kakaknya tidak berada disana.
Bagaimana ini? kalau sampai mereka melihat Upin, bagaimana aku akan menjelaskannya.
Nathan mendengus kesal karena Ivi berdiri di ambang pintu dan tak memberikan ruang untuknya agar bisa masuk kedalam. Nathan tersenyum licik lalu mendorong tubuh Ivi masuk, lalu di susul olehnya.
Ayah dan yang lainya kini melongo melihat pria tampan yang ada dibelakang Ivi dan tengah tersenyum manis kepada mereka.
" Selamat pagi semuanya? " Sapa Nathan. Sebenarnya ini adalah kali pertama bagi Nathan bersikap ramah seperti ini.
Ibu mengerjapkan matanya beberapa kali karena takut kalau apa yang dia lihat ini tidaklah nyata.
" Dodi, ada pangeran tampan di dekat Ivi. "
" Iya. Aku hampir jatuh cinta loh. " Ucap Dodi yang masih lekat menatap Nathan.
" Sialan! kenapa ada pria yang menyaingi ketampanan ku?! " Protes Ayah.
To Be Continued.