
Ivi menggigit bibir bawahnya karena merasa begitu sebal tapi juga ingin menangis karena pria pujaannya digambarkan dengan kata-kata buruk seolah-olah kakak Bien yang tampan bak Leonardo Dicaprio itu sangat jelek. Memang Bien adalah orang yang begitu cuek dan dengan terang-terangan menolak Ivi tanpa pertimbangan. Bukannya minder, Ivi justru merasa tertantang untuk mengubah penampilannya perlahan-lahan agar sesuai dengan kriteria Bien. Bahkan dia juga pernah menghabiskan satu minggu full waktu luangnya untuk membuntuti Bien dan pacarnya agar bisa lebih paham seperti apa wanita yang disukai oleh Bien.
" Kau mana boleh menghina kakak Bien?! dia itu tampan dan sama sekali tidak sejelek yang kau pikirkan. Dia adalah pria paling tampan yang pernah aku lihat. " Bela Ivi untuk kakak Bien si pria pujaannya.
Nathan juga semakin kesal mendengar Ivi terus saja mengagung-agungkan pria yang jauh dari kata tampan baginya. Jika saja dibandingkan dengan artis Hollywood ternama atau Mega bintang besar, mungkin dia tidak akan marah atau kesal. Tapi curut mabuk disamakan dengan ketampanannya? What the hell?!!!! tentu saja dia tidak terima. Kalau boleh, dia ingin sekali mengobok-obok dunia saat mendengar Ivi terus menyangkal jika dia jauh lebih tampan dari pada curut mabuk itu.
" Kenapa itu disebut menghina? aku kan hanya menyampaikan padangan ku terhadap curut mabuk itu. "
Ivi menganga kesal mendengar kakak Bien tercintanya dipanggil curut mabuk. Tentulah dia akan membela Bien mati-matian meski sang pemilik nama begitu tidak perduli padanya.
" Jangan sembarangan memanggil nama kakak Bien ku! dasar Upin Ipin! "
" Kau juga sembarangan memanggil namaku. " Ujar Nathan tak mau kalah.
" Itu karena kau yang mulai! " Ivi.
" Kau yang duluan! " Nathan.
Ivi menaikkan sudut bibirnya dengan tatapan naik turun ke arah Nathan. Tapi tak berhenti di situ, Nathan juga melakukan hal yang sama seolah tidak mau mengalah dengan gadis yang ia anggap menyebalkan.
Dan di sudut ruangan, Nathalie dan Nathania terkaget-kaget hingga menganga. Sementara Sammy memegangi stop watch dengan wajah yang sumringah.
" Kakak kedua, berapa di rasinya? "
" Dua puluh dua menit, tiga puluh delapan detik. "
Nathalie dan Nathania menatap tak percaya. Mereka bahkan mengedip-ngedipkan mata lalu menggosok matanya agar memastikan apa yamg dia lihat itu adalah nyata.
" Hah? ini nyata Li. " Ujar Nathania. Nathalie mengangguk dengan tatapan yang masih belum percaya.
" Yes!! aku memang lagi. Hahaha.... "
Ternyata di saat Ivi dan Nathan mulai berargumen, Nathalie, Nathania dan Sammy memisahkan diri dan duduk di sofa ujung ruangan Sembari menonton pertengkaran mereka. Seperti biasa, mereka akan bertaruh dengan semangat.
Beberapa saat lalu.
" Kakak kedua, berapa taruhan mu? " Nathania bertanya lalu merebut makanan ringan yang sedang Nathalie makan.
" Lima puluh juta. " Nathalie dan Nathania kompak menoleh dengan tatapan kaget. Ini adalah taruhan paling mahal yang Sammy tawarkan. Karena biasanya dia hanya akan bertaruh satu atau dua jutaan, paling besarnya biasanya hanya sepuluh juta itupun bisa dihitung dengan jari jumlahnya.
" Kakak kedua, kau sedang bercanda? " Tanya Nathalie yang masih tidak percaya. Bagaimana mungkin si kikir Sammy akan membuang uang sebanyak itu hanya untuk taruhan. Sesaat Nathalie berpikir akhirnya dia memahami alasan itu. Tentu saja dia berani, kan dia lebih dulu kenal dengan Ivi dibanding mereka.
" Baiklah deal! " Ucap Nathalie.
Nathania semakin terkejut saat Nathalie menyetujui taruhan itu. " Li kau gila ya? kenapa membuang uang sebanyak itu hanya untuk taruhan? "
Nathalie mengedipkan sebelah matanya kepada Nathania. Ok lah, dia lebih memilih diam dan ikut menyetujui nya.
" Berapa menit taruhan kalian? " Tanya Sammy kepada Nathania dan Nathalie.
" Kakak kedua dulu sebutkan menitnya. " Pinta Nathania.
" Baiklah, tiga puluh menit. " Nathania dan Nathalie tersenyum saling menatap dan mengangguk setelahnya.
" Aku dua puluh lima menit. " Ucap Nathania.
" Kenapa durasi mu sangat banyak? biasanya kan kau langganan dua menit? kenapa durasi mu naik drastis? " Protes Sammy yang belum menyadari kebodohannya.
" Ok! aku tiga puluh lima menit. " Ucap Nathalie.
Meski belum memahami situasinya, Sammy hanya mengangguk setuju lalu mengatakan Deal agar memperjelas kesiapannya.
Setelah perdebatan seru itu terjadi, Sammy hanya bisa menelan pil pahit karena berhenti di menit dua puluh tiga saat Nathan dan Ivi kompak tak mau bicara lagi. Tentulah keuntungan itu milik Nathania.
" Yeay!!! " Nathania dan Nathalie bangkit laku saling memeluk bahagia. Ini adalah kali pertama mereka menang taruhan tentulah mereka bahagia karena akan mendapatkan lima puluh juta.
Menyadari adanya yang aneh, Ivi dan Nathan kompak menatap mereka bertiga.
" Ada apa? " Tanya Ivi yang merasa kebingungan. Sementara Nathan, dia memijat pelipisnya karena tentulah mereka tahu ketiga manusia jahanam itu tengah bertaruh.
" Oh tidak, tidak ada apa-apa kok, kaka ipar. Iya kan Lili? "
" Hahaha... iya, tidak ada apa-apa kok. " Nathania dan Nathalie kompak memaksakan tawanya agar tak membuat Ivi tersinggung dan merasa kesal.
" Hoi iblis kembar!, jangan berbohong. " Nathan menatap adik kembar lalu Sammy setelahnya.
" Hei, raja iblis! jangan berani-beraninya mengancam kami. " Tantang Nathania yang diangguki oleh Nathalie.
" Kalian semakin berani ya?! " Kesal Nathan.
" Hello, keberanian ini ada karena kami pengikut mu, Raja Iblis yang terkutuk. " Nathalie melengos saat Nathan melotot kesal padanya.
" Dasar saudara Iblis! " Maki Sammy dengan suara yang pelan.
" Ka kalian keluarga Iblis ya? " Ivi menatap mereka satu persatu dengan tatapan yang aneh. Bagiamna tidak? rasanya sungguh aneh karena mereka terus saja mengatakan Iblis untuk memberi gelar kepada satu sama lain.
Nathalie dan Nathania beranjak lalu memeluk Ivi bersamaan. Ini adalah kali pertamanya melihat Nathan, kakak kandungnya begitu betah berbicara dengan seorang wanita. Dari sekian banyak wanita, Ivi adalah satu-satunya yang bisa membuat Nathan menjadi begitu cerewet dan terlihat selalu ingin berargumen degan Ivi. Yah, meskipun isinya hanya bertengkar.
" Kakak ipar, yang tadi itu bukan apa-apa kok. Biasa, kami tadi sedang bermain game yang menghasilkan uang. " Ujar Nathalie dengan senyum yang mengembang sempurna di wajahnya.
" Game? " Tanya Ivi bingung.
" Iya. Hanya game. "
Sudahlah, Ivi tidak mau banyak berbosa-basi atau menghabiskan waktu lebih lama lagi dirumah yang isinya keluarga Iblis itu. Dia langsung meminta izin untuk pulang.
" Kakak aku tunggu besok malam ya? " Ucap Nathalie sembari melambaikan tangan kepada Ivi yang semakin menjauh darinya.
" Kenapa kau menunggunya? " Tanya Nathan kepada Nathalie.
" Memang kenapa? kalau tidak boleh datang ke rumah lagi ya sudah tidak apa-apa. Aku akan meminta kurir yang kain saja untuk mengantar Ayam goreng. " Ujar Nathalie.
Nathan memalingkan wajah.
" Aku kan tidak bilang kalau tidak boleh datang. Jangan mengganti kurir, aku tidak suka banyak orang asing yang masuk ke rumah kita. " Nathan langsung pergi menuju kamarnya setelah mengatakan itu.
Nathalie dan Nathania tersenyum karena tahu jika kakaknya tidak keberatan dengan adanya Ivi dirumah mereka. Jika Nathalie dan Nathania sedang bahagia, maka lain hal nya dengan Sammy. Pria itu justru sangat berduka karena sudah kehilangan lima puluh juta. Padahal, baru saja dia begitu gembira karena mendapatkan dua puluh juta, hanya dengan hitungan menit dia sudah rugi tiga puluh juta.
" Sialan! tabungan masa depan ku bersama Berly berkurang lagi gara-gara iblis kembar itu. "
To Be Continued.