
Sammy hanya bisa mengutuk nasibnya sendiri karena merasa jika dia begitu tidak beruntung. Belum juga selesai masalah hamil bohongan dua gadis kembar itu, sekarang muncul lagi gadis yang mengaku pacar nya. Halo? bisa bayangkan bagaimana pendapat empat orang tua itu tentangnya?
" Kau sudah gila ya Sammy?! " Tanya Kakek Rudi kesal. Iya tentu saja kesal karena ada tiga gadis yang mengaku pacarnya. Kalau benar mereka semua pacarnya, berapa indahnya memiliki tiga wanita kan?
" Bukan, kakek. Sumpah bukan seperti itu. " Sammy menahan tangis karena sudah tidak tahu harus bagaimana lagi. Ke empat orang tua itu kan bukan seumurannya yang bisa di toyor kepalanya lalu mengatai nya sesuka dengkul sendiri kan? ma mengucapkan satu kata saja dia harus hati-hati karena tida ingin mengundang kemarahan.
" Lebih baik kau katakan saja yang sebenarnya. Kalai kau sampai berbohong, kami akan mengirim mu ke pegunungan Himalaya. " Ancam Tuan besar Chloe.
" I iya, Tuan besar. Tapi tangan kakek Rudi terlalu kuat mencengkram leher ku. Aku takut mati sebelum mengatakan yang sebenarnya. "
Kakek Rudi berdecih lalu menurunkan tangannya dengan wajah kesalnya.
" Kakak kedua, kalau kau tidak mau membantu kami, kami akan membuat mu di hukum oleh Ayah dan Ibu. " Ancam Nathalie pelan dan hanya di khususkan untuk Sammy saja.
Cih! lebih baik di hukum oleh Ayah dan Ibu. Paling-paling hanya akan diceramahi atau di jewer.
Zalia dan Zadet juga sudah ikut bergabung. Mereka memberikan salam kepada empat orang tua itu dengan sopan dan ramah.
" Begini, Nathania dan Nathalie hanya berbohong kok. "
" Untunglah. " Saut Zadet yang membuat Sammy reflek memukul ya. Heh! akhirnya dia memiliki seseorang yang bisa ia gunakan untuk melampiaskan segala kekesalannya yang sedari tadi ia tahan.
" Syukurlah biji matamu! coba saja kau melamar Nathania lebih cepat. Mana mungkin dia menyeret ku dan menempatkan ku dalam situasi bahaya seperti ini. Kau tidak tahu ya? barusan itu aku hampir saja di terkam oleh empat beruang ganas. " Kesal Sammy. Lega, sungguh lega karena sudah melampiaskan kemarahannya. Ditambah lagi, dia sudah menepak kepala Zadet lumayan kuat.
" Ehem! " Empat orang tua itu menatap Sammy karena merasa tersinggung dengan gelar beruang ganas yang dengan jelas di tujukan kepada mereka.
" Eh? " Sammy nyengir malu sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Gila! dia benar-benar kelepasan saat marah barusan. Tanpa sadar dia mengoceh tanpa mengingat kalau yang membuatnya kesal adalah empat orang yang berdiri tak jauh darinya.
" Ma, maksud ku ya Nathalie, Nathania, lalu Zalia dan juga Zadet yang seperti beruang ganas. "
Nathania dan Nathalie merengut sebal tanpa mau menatap Sammy sedikit pun. Zadet yang mendapat imbas dari kemarahan Sammy juga tengah menatapnya tajam seolah bersiap menunggu waktu untuk membalasnya. Sementara Zalia, gadis itu justru tersenyum manis semanis empedu dan hampir saja membuat Sammy kejang karena merasa kesal.
" Nana Lili, apa kalian benar-benar berbohong? "
" Tidak! " Nathania dan Nathalie.
" Iya! " Tegas Sammy secara bersamaan dengan Nathania dan Nathalie.
Sumpah demi apapun, aku akan membuat mu berdiri dan hormat di halaman rumah saat Ayah dan Ibu kembali. Batin Nathania dan Nathalie yang tengah kesal.
Mereka berempat menatap Sammy, Nathania dan Nathalie tajam.
" Sebenarnya kalian ini sedang menguji kesabrannya kami atau apa?! "
Nathania dan Nathalie terdiam lalu saling mencolek satu sama lain untuk menunjuk mewakili salah satu dari mereka.
" Baiklah, melihat kalian yang seperti ini, kami bisa menyimpulkan kalau kalian berbohong. "
Plak.....!
Kakek Rudi memukul bahu Sammy karena merasa sebal.
" Kau bukanya tidak pernah mempermainkan wanita, karena kau adalah pria yang takut dengan wanita. Aku malah penasaran, apa pusaka mu itu berguna? "
Sammy terperangah menatap kakek Rudi yang selalu saja menghina nya yang masih jomblo.
***
Salia kini tengah duduk di lantai kamarnya sembari menaangis pilu. Sungguh rasanya sangat sakit melihat kemesraan Nathan dan Ivi. Jujur, saat ini hati dan otak ya terus berlawanan. Hatinya terus menginginkan Nathan, tapi akal nya mengatakan jika Nathan adalah milik adiknya. Memang dia harus bisa mengutamakan akal nya terlebih dulu. Tapi sungguh sangat sakit kalau di ingat kembali. Apalagi saat mendengar langsung dari mulut Nathan, hancur dan remuk hatinya benar-benar tak terhindarkan.
Satu hari yang lalu.
Saat Ivi dan Salied menuju rumah Salied yang sengaja ia bangun untuk Ivi, Salia mengambil keuntungan untuk turun di tengah jalan dengan alasan sesuatu mendesak terjadi. Salia menghentikan sebuah taksi lalu kembali ke perusahaan Chloe. Tentu saja tujuannya untuk bertemu dengan Nathan dan memperjelas semuanya.
Sesampainya di perusahaan Chloe, Salia kembali menemui Nathan setelah beberapa saat menunggu. Degan keberanian dan kenekatan, Salia beranjak masuk ke dalam ruangan Nathan.
" Nathan? " Panggil Salia sembari menatap Nathan yang sepertinya terpaksa menghentikan kegiatan itu karena kedatangan Salia.
" Nona Salia? silahkan duduk. " Ucap Nathan yang dengan formal memperlakukan Salia seolah dengan jelas memberikan batasan yang cukup luas diantara mereka.
" Apa ada yang tertinggal? " Tanya lagi Nathan setelah Saia duduk di hadapannya.
Salia terdiam sesaat sembari meremas kedua jemarinya yang tengah bertumpu di pangkuannya.
'' Boleh aku menanyakan sesuatu? " Tanya Salia.
Ya ampun! baru saja Salia bertanya, Nathan sudah merasa waktu yang dihabiskan dengan wanita itu cukup lama.
" Katakan dan tolong di peringkat saja. " Ucap Nathan sembari meraih selembar kertas. Bukan tanpa alasan, berada di hadapan Salia membuat tubuhnya seperti merasakan sesuatu yang membuatnya ingin cepat lari dari sana. Kalai saja pekerjaannya tidak banyak, Nathan pasti akan memilih untuk nongkrong santai saja di toilet. Di toilet dia bisa melamun kan Ivi, melamun kan masa depan cerah secerah sinar matahari, membayangkan memiliki banyak anak. Hah! luar biasa. Tapi sayang, wanita di hadapannya benar-benar membuatnya tidak bisa melamun kan hal indah sedikit pun.
" Nathan, apa kau benar-benar menyukai Silvia? "
Nathan menatap tajam manik mata Salia. Entah mengapa, pertanyaan Salia ini benar-benarembuat telinganya sakit.
" Nona Salia, apa maksud dari pertanyaan anda? "
" Kau dan Silvia menikah karena kau menghindari perjodohan dengan ku kan? sekarang aku sudah tidak mungkin lagi bisa bersama mu. Apa kau akan tetap bersama Silvia? "
Nathan menatap Salia dengan tatapan datar.
" Dengar, Nona Salia. Benar, aku menikahi Ivi karena aku ingin menghindari perjodohan kita. Tapi alasan utama aku menikah dengannya bukan hanya karena itu. Tapi aku merasakan sesuatu di hati ku yang tidak bisa aku jelaskan. Tapi seiring berjalannya waktu, aku menyadari satu hal. Aku ingin selalu bersama Ivi. Aku ingin bersamanya sampai kami tua. Aku juga pernah berpikir, kalau sepertinya akan indah kalau kami mati bersama saat tua nanti. "
To Be Continued.