
Salied mengetuk pintu kamar Salia beberapa kali karena masih belum mendapatkan jawaban. Beberapa saat lalu Ibunya menghubungi Salied bahwa Salia sudah seharian ini mengunci diri di kamarnya. Karena masih tak mendapatkan jawaban, Salied akhirnya memutuskan untuk membukanya dengan kunci cadangan yang memang selalu tersedia untuk setiap kamar. Setelah mendapatkan kunci cadangan itu, Salied dengan buru-buru membukanya.
" Apa yang terjadi dengan mu? " Tanya Salied karena mendapati Salia terduduk dilantai sembari memeluk kedua lututnya. Matanya juga terlihat bengkak. Sisa air mata juga masih berada di area matanya. Sesekali Salied melirik adiknya yang masih diam tak bergeming. Ditarik nya lagi nafas dalam-dalam agar bisa lebih sabar menghadapi adiknya yang beberapa hari ini begitu aneh.
" Kau masih tidak ingin bicara? " Tanya lagi Salied tanpa mengubah posisi tubuhnya yang masih berdiri lumayan jauh dari Salia.
" Kakak, kenapa aku tidak bisa mendapatkan balasan dari perasaan cintaku? padahal, aku selalu dikagumi banyak laki-laki. Kebanyakan laki-laki memuja ku dan meminta ku untuk menjadi kekasihnya. Tapi kenapa aku tidak bisa mendapatkan hati pria itu? " Salia mengalihkan pandangannya menatap jendela kaca yang ada di sampingnya. Sejenak dia menggerakkan satu tangannya untuk menyingkirkan horden agar bisa ia menatap ke arah luar.
Salied menghela nafasnya. Ditatapnya lagi Salia yang masih berada di tempat nya.
" Maksud mu Nathan? "
Salia terdiam. Mengingat satu nama itu benar-benar membuat dadanya seperti tidak rela dengan apa yang terjadi sekarang ini. Untuk pertama kalinya, dia begitu memiliki rasa tertarik yang luar biasa terhadap laki-laki. Tapi kenapa justru tidak mendapatkan sedikit pun simpati alih-alih balasan rasa cintanya. Salia kembali memeluk lututnya erat, menjatuhkan kepalanya disana. Rasanya benar-benar tidak rela. Bahkan dengan tidak tahu malunya, hati itu terus berkata bahwa Nathan harusnya menjadi miliknya.
"Salia, tidak semua laki-laki melihat mu cantik dan menarik. Begitu juga dengan cara mu melihat Silvia. Dari kecil, kau selalu membandingkan dirimu dengannya secara diam-diam. Kau merasa kau lah yang paling unggul dari banyak hal. Tapi, sebagian orang juga memiliki cara pikir dan menilai sendiri. Nathan tidak buta, tentu aja dia bisa membedakan mana yang cantik dan mana yang tidak. Tapi, Silvia adalah wanita yang paling cocok dengannya. " Salied berjalan mendekati Salia lalu mengusap rambutnya pelan.
" Kakak, sekarang kau beralih membela Silvia? kau seperti kembali menjadi dirimu saat kita kecil dulu. "
Salied menarik tangannya lalu memasukkannya ke dalam saku celananya.
" Lalu? kau ingin aku berkata apa? apa kau ingin aku menyemangati mu untuk merebut suami dari adik mu? "
Salia mulai terisak lalu mengeratkan kedua tangannya yang masih memeluk erat lututnya. Sadar, sungguh dia sadar bahwa Nathan adalah suaminya Silvia. Tapi, hatinya terus saja memberontak seolah melarangnya untuk menerima kenyataan ini.
" Salia, kakak tahu benar bagaimana hatimu saat ini. Tapi, kau juga tidak bisa memaksakan apa yang tidak seharusnya menjadi milik mu. Terkadang, sesuatu yang sama indah belum tentu cocok. Tolong utamakan akal sehat mu di bandingkan menuruti hati mu yang buta. "
Salia semakin terisak hingga tubuhnya tergerak mengikuti irama tangisan nya. Sungguh sulit untuk melakukan itu. Bahkan dia sendiri tidak yakin apakah bisa melakukanya.
" Kakak, kakak tidak akan tahu bagaimana rasanya menjadi aku. Hatiku selalu memberontak dan tidak mau menerima ini. Aku tahu kalau Silvia adalah adikku. Tapi tetap saja, hatiku terlalu sakit untuk bisa menerimanya. Aku tidak bisa, kakak. "
" Lalu kau mau apa? merebut Suami dari adik mu sendiri? " Salied menghela nafas menatap tegas Salia yang masih terisak.
" Salia, aku yakin kau sudah mencobanya kan? kau pasti tahu benar kalau Nathan tidak akan pernah melihat mu. Salia, tidak kah kau melihat bagaimana cara Nathan menatap Silvia? apa kau tidak bisa membandingkan perlakuan Nathan terhadap Silvia dan orang lain? " Salied memijat keningnya karena merasa pusing bercampur kesal.
" Salia, di mata Nathan hanya ada Silvia. Kau seharusnya lebih paha kan? Nathan begitu blak-blakkan kepada Silvia. Dia terlihat begitu nyaman bersama nya. Lalu bagaimana bisa kau menggantikan Silvia yang begitu spesial di mata Nathan? "
Salied terenyak lalu berjalan cepat mendekati adiknya. Dia bersimpuh lalu meraih tubuh Salia dan memeluknya erat. Tentu ini bukan apa-apa tapi Salied berharap pelukannya ini mampu membuat adiknya merasa lebih baik. Erat dan semakin erat karena Salia menjadi semakin tak bisa menahan tangisannya yang pecah menggema seisi ruangan.
" Sakit, kakak. " Rintihnya lagi sembari memegangi dadanya.
Salied yang merasa iba hanya bisa menahan tangis dan terus mengusap punggung Salia.
" Tidak apa-apa. Seiring berjalannya waktu, kau pasti akan baik-baik saja. Kau adalah gadis yang cantik. Pasti banyak pria tampan yang menanti mu. "
Di luar kamar.
Nyonya Marhen menutup bibirnya menggunakan telapak tangan. Tak kuasa dia menahan tangis karena mendengar semua ungkapan hati anak kedua nya. Perlahan dia mulai menjauh dari kamar Salia dan masuk kembali ke kamarnya. Sebagai seorang Ibu, tentu hatinya sangat lah hancur. Satu putrinya begitu terlihat enggan dengan nya, satu lagi putrinya tengah terluka hatinya.
" Apa ini hukuman untukku? lalu bagaimana dengan Ayah nya anak-anak ku? apakah dia juga mengalami hal yang sama? ataukah dia bahagia bersama keluarga nya? jika memang begitu, alangkah tidak adil nya dirimu, Tuhan. "
Nyonya Marhen mengalihkan pandangan menatap sebuah bingkai photo yang selama ini menemani tidurnya. Dia meraih bingkai photo itu dan mengusap satu persatu wajah yang ada di sana. Silvia, Salia, Salied dan juga mantan suaminya.
" Dulu kau begitu baik dan sangat menyayangi anak-anak kita. Lalu hanya karena satu wanita, kau membuang kami semua. Lihatlah, kami menjadi begitu menyedihkan karena ulah mu. "
Nyonya Marhen menyeka air matanya lalu kembali meletakkan bingkai photo itu.
Sementara di belahan dunia lain.
Nathan dan Ivi kini tengah menikmati pemandangan dari balkon hotel mewah yang kini ia tinggali. Ivi yang gak henti-hentinya tersenyum karena bahagia, kini tengah sibuk memotret beberapa penampakan Madrid di pagi hari. Tak lupa juga ada sandwich dan susu murni yang melengkapi paginya.
" Apa kau bahagia? " Tanya Nathan yang tentu saja dia sudah tahu jawabannya.
" Iya. Ini baru pertama kali aku ke luar negeri setelah dewasa. Aku bahkan tidak pernah memimpikannya. "
Nathan memeluk Ivi dari belakang lalu meletakkan wajahnya di pundak Ivi.
" Ivi, sekarang ini bagaimana aku di mata mu? "
To Be Continued.