Touch Me!

Touch Me!
Meminta Pendapat



Sherin yang sudah menunggu kedatangan Vanya akhirnya bisa bernafas lega setelah pemimpin geng itu mengetuk pintu.


" Kenapa kau lama sekali?! " Protes Sherin sembari meraih tangan Vanya dan mengajaknya untuk duduk.


Vanya hanya bisa mengikuti kemana Sherin akan membawanya.


" Kau ini kenapa sih?! " Tanya Vanya yang merasa kesal dengan temannya itu.


Sherin mengajak Vanya untuk duduk dan mendengarkan apa yang akan ia ceritakan.


" Dengar, Ibuku memaksaku untuk menikahi anak sahabat suaminya. Aku sudah menolak dengan keras, tapi tidak berguna. Dia justru meneror ku siang malam. "


Vanya mendengarkannya dengan seksama sembari mengangguk-anggukkan kepalanya.


" Kau tahu kan? kencan buta ku selalu gagal? "


Heh! tahu lah, itukan perbuatan si Kevin.


" Lalu? " Tanya Vanya.


Sherin menarik nafasnya sejenak. " Kevin menawarkan bantuan padaku. "


Dasar licik! aku penasaran, Bantuan macam apa yang akan di dapatkan oleh gadis polos ini.


" Dia, dia bilang, " Sherin yang ingin menyampaikan usulan Kevin benar-benar merasa tidak sanggup untuk mengatakannya. Gadis itu lagi-lagi menghela nafas sembari berpikir, apa harus menceritakan bagian ini atau tidak? kalau tidak diceritakan, bagaimana caranya Vanya bisa memberi saran? ah..! mau tidak mau lah.


" Dia bilang apa? apa dia akan memenggal kepala Ibumu? atau Ayah tiri mu? atau calon suamimu? "


Vanya berucap sembari mencengkram kedua pundak Sherin. Matanya bulat setengah melotot dengan tatapan yang penuh pertanyaan. Sherin yang hanya bisa diam karena tubuhnya digoyang-goyangkan itu hanya bisa kebingungan menanggapi pertanyaan Vanya. Memenggal? apa Kevin seseram itu?


" Vanya? apa Kevin pernah memenggal kepala manusia? "


Vanya memutar bola matanya sembari berpikir. Dia sendiri sih tidak tahu, tapi yang Nath pernah ceritakan, Kevin sudah berada di dunia mafia semenjak dia beranjak dewasa. Sungguh lucu kan? dia pintar menutupi sisi garangnya dengan menjadi Dokter? oh sungguh penyamaran yang totalitas.


" Sejauh ini sih belum. "


Sherin mendesah lega.


" Katakan padaku! apa yang di tawarkan? "


Sherin menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Mau mengelak juga rasanya percuma. Vanya paling ahli dalam hal beginian kan?


" Dia bilang, kalau aku hamil, mereka pasti akan berhenti menjodohkan ku. "


Vanya melongo sembari menatap Sherin.


Kurang ajar! hamil?! dia mau menghamili Sherin?! sialan kau dokter cabul! kenapa kau berniat menodai gadis suci nan bloon ini?! lihat saja kau ya? akan ku remuk kan tulang ekor mu!


" Va Vanya, bagaimana menurutmu? "


Vanya menatap Sherin tajam. Dia mengacungkan jari telunjuknya sembari menoyor-noyor kening Sherin.


" Bodoh sekali kalau kau setuju! kalau dia mau menghamili mu,ya harus menikah! kenapa tiba-tiba merencanakan untuk hamil?! apa di otakmu ada keinginan untuk menyetujuinya?! hah?! "


Sherin menahan telunjuk Vanya karena rasanya sudah mulai sakit di keningnya.


" Aku kan sedang bertanya pendapat mu. " Ujar Sherin yang merasa malu sendiri. Memang ia sebelum ini hatinya sudah menyetujui usulan Kevin.


" Dengar ya, hamil itu tidak semudah yang kau pikirkan. Hamil berarti kau memiliki seseorang yang hidup dari dalam dirimu, bagian penting di hidupmu. Jika kau berniat hamil, miliki dulu suami. Kau bisa hamil dan besarkan bayimu bersama suamimu. Mungkin kau belum paham, tapi hamil tanpa pasangan sungguh sangat menyakitkan. "


Sherin menunduk malu. Benar, Vanya adalah orang yang sudah mengalami fase itu. Yang ada dipikiran Sherin, adalah bagaimana perjodohan itu bisa batal tanpa perduli yang lainya.


" Diam disini! aku akan menemui Kevin. "


Sherin hanya bisa mengangguk dan menyaksikan punggung sahabatnya menjauh dari pandangannya.


Dia benar-benar merasa bodoh karena tidak memikirkan ini. Untunglah, Vanya adalah sahabat yang begitu memperdulikannya. Dengan begini dia bisa lebih cerdas dalam mengambil keputusan.


Vanya mengetuk pintu unit Kevin yang bersebelahan dengan unit Sherin. Setelah beberapa kali mengetuk pintu, akhirnya terbuka juga.


Vanya menelan ludahnya sendiri saat Kevin membuka pintu dengan bertelanjang dada. Kevin yang merasa aneh dengan tatapan Vanya, dengan segera dia menutupi tubuhnya dengan menyilangkan kedua lengannya.


" Kenapa kau menutupi tubuhmu! meskipun aku terpesona, aku tidak berniat dengan tubuhmu! " Kesal Vanya saat melihat Kevin menutupi tubuhnya. Memangnya dia secabul itu? padahal sedang asik-asiknya mengagumi tubuh Kevin.


Siapa yang tahu kan? wajahmu saja seperti anjing gila yang akan menerkam daging. Wajar saja aku takut.


" Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu. "


Kevin hanya mengangguk dan mempersilahkan Vanya masuk ke apartemen nya. Tapi setelah dia melihat Vanya duduk, dia mengambil ponselnya dan menghubungi Nath. Dia hanya berjaga-jaga agar Nath tidak salah paham.


" Ada masalah apa? " Tanya Kevin sembari meraih kaos yang tadi ia hempaskan di sofa duduk miliknya.


" Kevin! " Nath menatap Kevin tajam.


Vanya memutar kepalanya untuk melihat ke arah sumber suara. " Nath? ada apa? "


Nath langsung berjalan dan mencengkram leher Kevin.


" Apa yang kau lakukan?! kenapa kau membuka bajumu di hadapan Istriku?! "


Vanya yang sempat terkejut dan bangkit dari posisinya, kini hanya mendesah sebal dan kembali duduk. Tidak mungkin kan Nath membunuh Dokter cabul itu?


Kevin mendorong kuat tubuh Nath lalu terbatuk-batuk sembari memegangi lehernya.


" Kau mau membunuhku ya? " Tanya Kevin yang merasa kesal.


" Iya! "


" Diamlah, Nath. Ini tidak seperti yang kau kira. Aku baru dua menit disini, mana mungkin sempat berbuat macam-macam. Yah, meskipun aku kurang yakin dengan stamina Kevin, aku rasa dia bisa lebih dari dua menit untuk itu kan? "


Sialan! bisa lah! dua menit? dua jam juga aku mampu! kalau saja kau bukan istrinya Nath, oh bukan! kalau saja kau bukan pewaris KBR dan Dirgantara, aku akan mencekik mu dan menjadikanmu makanan buaya laut.


" Lalu kenapa dia membuka baju? " Tanya nath sembari menunjuk Kevin.


" Saat istrimu datang, aku sedang mandi. Aku pikir itu kau atau Lexi, jadi aku langsung membuka pintu. Kau masih beruntung karena aku sudah menggunakan celana. " Ujar Kevin yang masih terlihat kesakitan dan memasang wajah sebal.


" Hentikan perdebatan ini! aku ingin membicarakan hal yang lebih penting sekarang. "


Nath langsung berjalan cepat dan duduk disamping istrinya. " Sayang maaf ya, aku sudah salah paham. "


Kevin terperangah tak percaya melihatnya. Dia yang dicekik dan kesakitan, dan meminta maafnya kepada Vanya? benar-benar tidak punya perasaan! batin Kevin.


" Apa yang ingin kau bicarakan? " Tanya Kevin dengan wajah sebal. Dia juga sudah mengenakan kaos polosnya sekarang.


" Tentang Sherin. "


Vanya menatap tajam pria yang kini duduk berseberangan dengannya. Jika mengingat apa yang dikatakan Sherin, rasanya ia ingin mengkebiri si Kevin ini.


" Ada apa? apa Ibunya masih menghubunginya? "


Vanya menghela nafasnya karena jengah.


" Kau berani-beraninya ingin menghamili Sherin! kenapa kau sangat licik?! kau bisa membantunya dengan cara lain kan? kenapa kau mengajaknya membuat bayi?! kau pikir itu mudah?! setidaknya, nikahi dulu Sherin. Baru bisa kau menghamilinya! "


" Itu memang rencana ku. Tapi kalau Sherin ingin membuat bayi terlebih dulu, aku sih tidak keberatan. "


To Be Continued.


Hallo kesayangan.....


Untuk kisah Sherin dan Kevin Aku gk bisa mendetailkan nya ya? soalnya nanti akan ada kisah sendiri buat mereka. Jadi disini aku cuma ambil pokok pentingnya aja.


semoga menghibur....


Selalu jaga kesehatan dan jangan lupa bahagia ya kesayangan aku ❤️