Touch Me!

Touch Me!
S2- Ibu Mertua yang Mesum



Makan malam keluarga Chloe kini tengah berlangsung. Tidak ada yang berbicara, hanya ada suara dentingan sendok dan suara dari pergerakan tubuh saja. Semuanya nampak fokus dan menikmati makanan mereka. Tapi ada satu orang yang terlihat kurang nyaman. Siapa lagi kalau bukan Ivi. Selain dari tatapan aneh Ibu mertuanya, Ivi juga tidak tahan harus setenang ini sangat makan. Padahal biasanya kalau dirumah orang tuanya, dia pasti akan makan sembari mengomel, mulai dari lauk nya yang tidak sesuai selera, masakan Ibunya yang terlalu asin juga kadang terlalu hambar, kadang juga dia sangat suka merebut lauk favorite nya dari piring Ayah, Ibu atau kakaknya saat miliknya habis. Tapi disini? boro-boro lauk habis, yang ada lauk pauk nya melimpah ruah, minumnya pun ada air putih, jus, dan susu. Dulu Ivi pernah mendambakan hidup seperti ini, tapi saat mengalaminya langsung, dia jadi merasa kalau hidup sederhananya lebih terasa menyenangkan. Apalagi yang paling penting, dia tidak bisa mengangkat kakinya seperti saat makan dirumah orang tuanya.


Ah!! makanannya sungguh enak. Tapi kakiku gatal nih! mereka ini benar-benar sangat sopan. Makan tidak bersuara, duduk ya rapih sekali, sedikit saja kena noda bumbu di bibir, mereka akan langsung menyeka nya dengan tisu. Kalau saja dirumah, Ibu ku pasti akan mengomel karena menghamburkan tisu seperti itu. Oh ya ampun, aku benar-benar merindukan Ibu ku yang cerewetnya setengah mampus.


Ivi mulai kembali menikmati makanannya karena merasa tidak enak kalau tidak menghabiskannya. Sudahlah, mungkin jiwa miskinnya belum terbiasa, pelan-pelan pasti akan terbiasa.


Setelah makan malam selesai, Vanya mengajak Ivi untuk mengobrol. Tadinya Nathania dan Nathalie ingin ikut, tapi dengan tegas Vanya melarangnya. Dengan bibir yang cemberut, gadis kembar itu akhirnya memutuskan untuk pergi ke kamar mereka.


Disebuah taman bunga yang berada tak jauh dari pelataran rumah besar Chloe, di sanalah Ivi dan Vanya duduk disebuah bangku panjang berwarna putih yang sudah tersedia di sana.


" Bagaimana perasaan mu Ivi? ini adalah hari ke tiga kau menjadi istri Nathan dan menjadi anggota baru keluarga kami. Apa ada yang membuat mu tidak nyaman? " Tanya Vanya, bibirnya tersenyum dengan wajah yang begitu penuh kasih sayang.


Ivi yang masih canggung dengan Ibu mertuanya itu mencoba untuk tersenyum. Memang masih terlihat memaksakan diri, tapi mau tidak mau dia kan tidak boleh seperti ini terus menerus. Dia juga harus belajar menjadi anggota keluarga yang akur dengan mertua dan adik-adik iparnya.


" Aku nyaman dan bahagia, Ibu. Tidak perlu khawatir. "


Vanya tersenyum mengangguk.


" Ivi, Nathan adalah pria yang tidak mudah di dekati wanita. Jadi, Ibu berharap kau tidak menyia-nyiakan kesempatan ini ya nak? "


Ivi mengeryit bingung. Ditatapa nya Ibu mertuanya dengan tatapan bingung.


" Maksud Ibu? "


Vanya menghela nafas nya terlebih dulu. Tentu saja dia bisa dengan jelas melihat jika menantu dan putra sulungnya itu sama sekali belum melakukan hubungan suami istri. Tapi jujur, dia bisa melihat adanya ketertarikan dari Nathan untuk Ivi. Tapi sayangnya, menantu pertamanya itu sama sekali tidak terlihat tertarik dengan putra sulungnya. Dua hari belakangan ini dia terus berpikir, apa yang membuat Ivi tidak tertarik dengan Nathan? jelas-jelas Nathan begitu tampan, untuk masa depan juga terjamin. Dan saat mengamati Ivi dengan seksama, ternyata Ivi adalah gadis polos yang tidak terlalu memikirkan penampilan dan masa depan cerah. Gadis itu masih begitu kosong pengalaman mengenai cinta.


Maka aku harus membuat otak bersih dan polos mu itu sedikit kotor, menantu ku sayang.


" Apa kau menikahi Nathan hanya untuk main-main saja. " Tanya Vanya dengan tatapan menyelidik. Iya, tentu saja Vanya sudah mengetahui semuanya. Karena sebelum menikahkan Nathan dengan Ivi, dia sudah mencari tahu semua tentang Ivi. Dan mereka jugalah yang menyembunyikan masa lalu Ivi demi kelancaran hubungan Ivi dan Nathan.


Ivi membulatkan matanya lalu menelan salivanya yang terasa begitu sulit untuk masuk dan membasahi kerongkongannya.


Matilah, bagaimana aku menjawabnya? memang Nathan pernah bilang, kalau dia tidak main-main dengan pernikahan ini. Tapi orang kaya kan suka berbohong dan punya banyak wanita simpanan. Itu sih, menurut pengalaman ku karena banyaknya sinetron yang aku tonton. Kalau salah, ya salahkan saja sinetronnya.


" Kenapa diam? " Tanya Vanya dengan wajah yang dibuat penasaran dan mencurigai.


" Anu, ibu mertua. Tidak kok. Aku tidak main-main. "


Tapi bohong! haha...


" Kalau begitu, berikan bukti kepada Ibu. Kau juga sudah berjanji kan? bahwa kau, akan bersikap hormat dan baik kepada Ibu dan Ayah? "


Ivi mengangguk lalu kini menatap Ibu mertuanya penuh tanya.


" Bukti apa, Ibu mertua? "


Vanya tersenyum entah apa maksudnya karena Ivi tidak bisa mengartikan ekspresi macam apa itu.


" Berikan Ibu cucu. "


" Hah?! " Ivi terperangah setelah mengatakan kata Hah.


" Kenapa? bukanya wajar-wajar saja kalau Ibu mertua menantikan cucu dari anaknya? "


Masalahnya, aku tidak tahu cara membuat cucu untukmu, Ibu mertua. Dan lagi, mana mungkin aku membuatnya dengan anak mu yang menyebalkan itu.


" Sa satu bulan, Ibu mertua? " Tanya Ivi yang terlihat sangat kaget.


" Iya, jadi kalian harus melakukanya setiap malam agar cepat hamil. "


Hamil? hamil? dengan anak mu itu? hah!.


" I Ibu mertua, bagaimana ya aku mengatakannya. Sebenarnya, kita, "


" Kau tidak tahu caranya? "


Ivi terperangah lagi-lagi mendengar pertanyaan Ibu mertuanya yang sungguh seperti tidak kenal rasa malu.


Meskipun aku tidak tahu bagaimana caranya, tapi bukan itu yang mau aku tanyakan loh.


Vanya merapatkan posisinya sampai tubuh mereka menempel.


" Dengar, laki-laki itu kadang-kadang berpura-pura saja tidak mau. Jaman sekarang, wanita lebih liar dari pria itu biasa. Kau tahu apa alasannya? "


Ivi menggeleng.


" Karena laki-laki lebih suka wanita yang liar dan berani. Coba kau lihat! mana ada perusak hubungan orang yang begitu pendiam luar dan dalam. Jadi menantu ku sayang, kau harus bisa menaklukan pria mu sebelum pria mu di taklukan oleh wanita di luar sana. "


Ivi kembali menelan salivanya. Tapi yang berbeda, pipi gadis itu kini tengah merona malu.


" Bagaimana caranya, Bu? " Tanya Ivi yang tanpa sadar dia tertarik dengan obrolan aneh mereka.


" Gampang saja. Kau hanya perlu bertingkah berani. Sentuh bagian-bagian sensitif pria mu perlahan dengan lembut dan tatapan liar mu tidak boleh hilang. "


Astaga! Ibu mertua, kenapa aku malah ingin buang air kecil sekarang?


" Bagian-bagian sensitif itu seperti apa? "


Vanya kembali tersenyum.


" Leher, telinga, bibir, lengan, dada, bagian perut, tentu saja bagian tengah pahanya tidak boleh ketinggalan. "


Ivi menutup bibirnya dengan pipi yang begitu merah merona karena malu.


" I Ibu mertua, aku memegang tangan Nathan saja baru hari ini. Kalau aku memegang bagian yang lain, Nathan pasti akan menendang ku sampai ke planet Pluto. " Elak Ivi. Sejujurnya, entah mengapa ucapan Ibu mertuanya membuat jantungnya berdegup kencang. Bahkan otaknya juga tanpa sadar membayangkan bagaimana kalau dia benar-benar melakukan itu kepada Nathan.


Vanya terkekeh.


" Nathan adalah anak kandung Ibu. Tentu saja Ibu tahu bagaimana perangai nya. Dengar ya Ivi. Kalau kau memberikan kami bayi, kau akan mendapatkan restu dari kakek dan nenek. Dan yang paling penting, kau akan mendapatkan segala apa yang kau inginkan. Ah, sebagai hadiah. Ibu akan mengirim Ayah mu ke rumah sakit terbaik khusus kangker agar ayah mu cepat pulih, dan sel kangkernya tidak akan pernah kembali lagi ke dalam tubuh Ayah mu. "


" Bagaimana kalau aku gagal, Ibu? "


Vanya melingkarkan lengannya di pundak Ivi.


" Yang penting, kau rajin membuatnya. Itu sudah lebih dari cukup. Dan ingat, kau harus lebih liar dan ganas di atas ranjang. Oh iya, pertama-tama memang sakit. Tapi kedua, ketiga, sampai berjuta-juta kali, kau pasti akan mendesah nikmat. "


Ivi semakin merona malu mendengar ucapan Ibu mertuanya yang begitu cabul itu. Untung saja Ibu mertua, kalau bukan, sudah pasti akan Ivi jahit mulut mesum sialan itu.


To Be Continued.