
Nathan kembali ke rumahnya dengan perasaan galau. Bagaimana tidak? pria yang biasanya begitu percaya diri karena selalu merasa sempurna, justru mendapatkan penolakan dari Ayahnya Ivi. Memang sih, Ibu dan Kakak nya Ivi nampak antusias saat mendengar kalau Nathan benar-benar akan menikahi Ivi. Tapi yang membuat Nathan tidak habis pikir adalah alasan yang tidak masuk akal dari Ayahnya Ivi.
Tidak boleh! kau tidak boleh menikahi putriku. Kau terlalu kaya dan tampan. Itu semua sangat berbahaya.
Nathan menghela nafasnya beberapa kali setelah memarkirkan mobilnya. Merasa akan sesak, dia memilih untuk duduk terlebih dahulu dihalaman rumahnya yang ditumbuhi beberapa tanaman hias dan juga pohon buah tropis. Dia duduk lalu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan. Rasanya begitu aneh alasan yang dilontarkan Ayahnya Ivi.
" Kalau dia tidak memberi restu, bagaimana aku bisa menikah? masa aku harus menikahi wanita yang kemarin? ih! mengingat tatapannya waktu itu saja bulu kuduk ku merinding. " Gumam Nathan.
Nathan kembali berdecih sebal mengingat tatapan kesal dari Ayahnya Ivi. Bahkan dia juga tidak boleh mengantar Ivi pulang tadi. Entah mengapa, dia merasa kecewa karena tidak bisa mengantar Ivi pulang ke rumahnya. Cukup lama Nathan duduk hingga dia menemukan sebuah solusi. Dia meraih ponselnya dan mencari tutorial untuk meluluhkan hati calon Ayah mertua.
" Ck! apa-apaan sih? " Kesal Nathan saat membaca beberapa tutorial yang tidak masuk akal itu.
" Cara terampuh adalah memamerkan aset. " Nathan menghela nafasnya.
" Aku bahkan sudah mengatakannya. Tapi aku justru ditolak karena itu. Kalau tahu akan ditolak, lebih baik aku bilang saja kalau aku ini gelandangan yang menyedihkan. Dasar calon Ayah mertua aneh! bukanya beruntung ya memiliki menantu seperti ku? tampan, berkelas, kaya, tubuhku juga sempurna. Ayah dan Ibuku juga orang uang baik meskipun dominan menyebalkan. " Nathan memukul angin yang ada dihadapannya. Sungguh dia tidak mengerti, bagaimana bisa dia ditolak karena terlalu tampan dan kaya.
" Oh, jangan-jangan dia cemburu dengan wajah ku. Cih! pasti itu. Lagi pula, mana mungkin Ayahnya Ivi lebih tampan dariku waktu muda. Dia pasti banyak berkhayal. Lagi pula Ibunya Ivi juga terlihat sangat kesal dan tertekan saat Ayahnya Ivi bilang begitu. "
" Ckckck..... Jadi kau ditolak ya? hahaha " Sammy yang entah dari kapan berada dibalik punggung Nathan dan yang pasti sudah mendengar semua keluhan Nathan.
Nathan sontak bangkit dari duduknya dan memutar tubuhnya untuk menatap pria yang baru saja bersuara.
" Jangan sok tahu! mana mungkin pria sepertiku mendapat penolakan?! di dalam mimpi pun tidak akan terjadi. " Kesal Nathan tapi manik matanya tak berani menatap Sammy.
Sammy menghembuskan nafas kasarnya dan berjalan mendekati Nathan. Dia memang mendengar sebagian saja gumaman Nathan, tapi dari situlah dia bisa menyimpulkan jika Nathan mendapat penolakan. Tentu saja dia tahu kalau Nathan pasti akan murung karena ini adalah kali pertama baginya mendapatkan penolakan. Sammy mengajak Nathan untuk duduk kembali dengan menepuk sebelah ruang kosong disampingnya setelah ia duduk disana. Nathan kembali duduk tapi sekarang dia tengah mencoba menyembunyikan perasaan sedihnya.
" Nathan, aku bukan hanya anak buah mu saja, tapi aku juga teman yang sudah seperti saudara. Kita besar bersama selama dua puluh tahun ini. Selain orang tua dan adik kembar mu, aku juga sangat paham bagaimana dirimu. " Sammy menatap Nathan dengan senyum yang entah apa artinya karena Nathan memang tidak mengerti.
" Apa maksud ucapan mu itu? " Tanya Nathan dengan tatapan mata yang tak mau menatap Sammy. Lebih tepatnya karena dia tidak ingin ada orang yang tahu apa yang tengah terjadi sekarang ini. Kenapa? tentu saja karena ini sangat memalukan bagi dirinya.
" Nathan, jika kau jujur padaku dan memintaku untuk membantu mu, aku akan melakukan sebisa ku. " Ucap Sammy.
Nathan terdiam sembari menatap nanar kedua sepatunya. Mungkin ini adalah salahnya karena terlalu percaya diri. Dia pikir, semua orang akan luluh oleh wajah dan uangnya. Tapi semua itu tidak berlaku bagi Ivi dan Ayahnya. Kedua orang itu seolah tidak melihat seseorang hanya dari wajah dan hartanya saja.
" Iya, Ayahnya Ivi menolak ku. Dia bilang aku terlalu tampan dan kaya, semua itu berbahaya. Begitu katanya. " Ucap Nathan yang kini mulai menjebik karena menahan sesuatu seperti ingin menangis kesal.
Sammy tersenyum lalu merangkul pundak Nathan.
" Dengar, Ivi dan Ayahnya adalah orang yang berbeda. Nathan, mereka bukan orang yang gila akan uang, yah meskipun Ivi siap menikahi karena uang. Tapi baik kau dan aku sudah tahu alasan utamanya kan? kau tenang saja, aku akan membantu mu mendapatkan restu dari calon Ayah mertua mu. "
" Kau serius? " Tanya Nathan dan di angguki oleh Sammy.
" Ngomong-ngomong, apa kau jatuh cinta dengan Ivi? " Ledek Sammy.
Nathan menatap tajam Sammy seolah ingin membantah, tapi pipi yang bersemu merah itu mampu menjelaskan apa yang Nathan rasakan.
" Jangan sembarangan! " Bentak Nathan.
" Nathan, sebenarnya ada cara yang lebih mudah loh. " Usul Sammy.
Nathan mengeryit lalu menatap Sammy dengan tatapan penuh tanya.
" Apa? katakan padaku. "
Sammy kembali membenahi posisinya untuk tega dan menatap wajah Nathan dari sisi samping.
" Menikah saja dengan nona Salia Marhen. Kalau menikah dengannya, kau tidak akan repot-repot meminta restu kan? "
Nathan mengeryit kesal kali ini. Kalau saja Sammy tidak berjanji untuk membantu, sudah pasti Nathan akan menendang pantatnya sampai tulang ekornya patah.
" Tidak mau. "
Sammy menahan tawa tapi berhasil ia sembunyikan saat ia mengalihkan pandangan.
" Ya sudahlah, ayo kita masuk. Aku akan menyusun rencana untuk mendapatkan restu dari calon mertua. "
" Kau lupa ya? " Tanya Nathan kesal.
" Apa? "
" Yang mau menikah dengan Ivi kan aku. Kenapa kau menyebutnya calon Ayah mertua? " Protes Nathan.
Sammy menggaruk tengkuknya yang gak gatal karena baru menyadari jika dia salah bicara.
" Maksud ku, calon Ayah mertua mu. "
Nathan berdecih lalu lebih dulu melajukan langkah untuk masuk kedalam.
Ke esokkan paginya.
Sesuai dengan janji Sammy, Pagi ini dia menemani Nathan untuk datang kembali ke rumah sakit. Berbeda dengan Nathan kemarin yang sibuk membawa bunga dan bermacam buah-buahan. Sammy hanya menenteng beberapa buah dan suplemen untuk membantu menyegarkan tubuh. Sebenarnya Nathan sudah mengeluh tidak setuju, tapi rasa percaya Sammy begitu meluap-luap pagi ini.
" Selamat pagi? " Sammy mengucapkan salam dengan senyum manis yang dibuat sebaik mungkin.
" Selamat pagi. " Jawab Ayahnya Ivi dengan tatapan bingung menatap Sammy dan Nathan.
" Bagaimana kabar anda, Paman? apa sudah lebih baik? " Sammy berjalan mendekati Ayahnya Ivi lalu meraih tangan Ayah dan menciumnya hormat.
Ayah Ivi yang tadinya kebingungan, kini justru menjadi terlihat senang degan kesopanan Sammy.
" Benar-benar calon menantu idaman. " Ucap Ayah sembari tersenyum senang. Tapi sayang, ucapan itu justru membuat Nathan kesal hingga sudah mengambil ancang-ancang untuk memberikan pelajaran kepada Sammy.
To Be Continued.