
Hari berjalan sebagai mana mestinya. Rumah besar Chloe kini menjadi semakin ramai karena adanya Ele. Bukanya tidak mau hidup mandiri, hanya saja Vanya dan Nath tidak mengizinkan para menantu perempuannya tinggal jauh dan terpisah. Sudah cukup Nathania dan Nathalie yang ikut bersama suaminya, kalau mereka juga pergi ke rumah mereka masing-masing, akan jadi apa rumah besar itu. Vanya dan Nath juga masih juga suka berlibur bersama Devi, Lexi, Sherin dan Kevin. Jadi, mau tidak mau mereka menurut saja apa yang dikatakan Ibu dan Ayah mereka sampai mereka benar-benar mengizinkan untuk pindah kerumah mereka sendiri.
" El, kira-kira makanan apa lagi ya yang enak dimakan? " Tanya Ivi yang sekarang ini sudah hampir melahirkan. Perut besarnya benar-benar membuatnya susah bangun ketika sudah nyaman dengan satu posisi. Untunglah, Ele yang telaten dengan sabar membantu saudari iparnya. Meskipun dia sendiri tengah hamil muda.
" Ivi, apa tidak ada yang bisa di bahas selain makanan? aku benar-benar sedang mual. Bahkan, hanya dengan membicarakan makanan saja sudah membuat ku mual. " Ujar Ele sembari mengusap dadanya yang sudah terasa sesak dan tidak enak.
" Ele, kau tidak suka makan, tapi aku malah ingin makan terus menerus. Padahal, tubuh ku sudah seperti bola begini. " Ivi mendesah sebal. Iya, semenjak kehamilannya memasuki usia sembilan bulan, yang ada di pikiran Ivi hanyalah makan, makan, dan makan. Tidak tahu kenapa, tapi sepertinya anak nya benar-benar ingin membuat Ibunya menggendut dengan sempurna.
" Ivi, ngomong-ngomg Ayah dan Ibu kapan akan pulang? " tanya Ele.
" Nathan bilang, besok pagi mereka sampai ke bandara. "
" Mereka sangat suka berlibur ya? " Kekeh Ele yang merasa lucu sekaligus merasa kagum dengan kemesraan tiga pasang suami istri yang katanya sudah. bersahabat cukup lama.
" Kakak ipar! " Panggil Nathania dan Nathalie yang baru saja sampai. Mereka juga tidak hanya datang berdua, karena suami mereka juga ikut mengantar mereka berdua. Hubungan keduanya juga membaik dan terlihat lumayan mesra setelah beberapa bulan terakhir. Zadet yang dulunya kaku dan jarang bicara, kini mulai bisa berbaur dan sudah tidak canggung lagi untuk berbaur bersama. Keenan yang dulu suka sekali menggoda wanita, kini benar-benar menjadi pria baik hati yang selalu memperlakukan Nathalie bagai tuan putri. Bahkan, tidak sekalipun dia melirik wanita manapun lagi. Iya iya! itu semua karena Nathalie yang di kagumi nya selama ini telah menjadi istrinya.
Seperti biasanya, sebelum orang tua mereka kembali kerumah, semua anak-anak mereka beserta menantu akan berkumpul di rumah Vanya dan Nath. Menghabiskan waktu bersama, menceritakan banyak hal yang membahagiakan bersama. Tidak ada lagi kesedihan yang mendalam, bagi ke empat pasang suami istri itu. Tentu percekcokan akan selalu terjadi, tapi syukurlah mereka semua bisa melewatinya dengan kepala dingin dan selalu mengesampingkan ego mereka masing-masing sesuai nasehat orang tua mereka.
" Istriku! " Teriak Sammy sembari berjalan cepat menghampiri Ele. Seperti biasa, Sammy akan mencium Ele di semua bagian wajahnya lalu ditambah perutnya juga. Lebai memang, tapi mau bagaimana lagi? Sammy benar-benar begitu mencintai Ele hingga tidak pernah perduli di manapun dan siapapun yang melihatnya saat mereka begitu mesra seperti sekarang ini.
" Sayang? " Nathan memberikan kecupan di kening Ivi sembari mengelus perut istrinya. Dia tahu benar jika Ivi sulit untuk bangun, maka dari itu dia lah yang mendekati istrinya.
" Kau sudah makan? " Tanya Nathan lalu mengambil posisi duduk di samping Ivi. Tangannya juga kembali mengelus perut Ivi yang sudah sangat buncit itu.
" Ivi sudah makan lebih dari enam kali. Dia juga memakan banyak camilan dan juga es krim. " Ele cekikikan setelah mengatakan apa yang sebenarnya ia lihat hari ini. Sementara Ivi hanya bisa tersenyum malu karena Ele begitu detailnya sampai tahu apa saja dan berapa kali dia makan.
" Tidak apa-apa. Apa yang kau mau kau bisa memakannya. " Nathan tersenyum dan sama sekali tak menghentikan tangannya yang terus mengelus perut Ivi.
" Aku ikut. Aku akan menyiapkan baju mu laku mandi setelah itu. " Nathan mengangguk lalu membantu Ivi untuk bangun dari duduknya. Sungguh sudah seperti jompo Ivi diperlakukan oleh Nathan. Tapi jujur, ini semua benar-benar membuat mereka yang melihat merasa iri dengan Ivi.
Setelah sampai di kamar, Nathan bergegas menuju kamar mandi agar istrinya tidak terlalu lama sendirian. Setelah selesai mandi, Nathan langsung memaki baju yang sudah di siapkan oleh Ivi. Seperti biasanya, ketika sudah berada di posisi berdiri seperti sekarang ini, Ivi tidak akan duduk karena takut malas dan agak susah saat akan bangun. Tapi sekarang dia berdiri bukan karena itu. Tapi karena rasa sakit yang dirasakan olehnya. Awalnya tidak terlalu sakit, malah hanya seperti keram perut biasa. Tapi lama kelamaan rasa sakit itu begitu jelas terasa.
" Sayang? ada apa? " Nathan yang sudah berpakaian lengkap berjalan cepat menyambangi istrinya yang terlihat aneh sembari memegangi perutnya.
" Perut. "
" Perut? perutnya kenapa? " Tanya Nathan bingung dan juga panik.
" Sakit. " Ucap Ivi yang sekarang dengan jelas merasakan sakit tak tertahan kan dari perutnya. Nathan yang panik kebingungan dengan apa yang harus dia lakukan. Padahal, dia dengan jelas sudah menghafal catatan yang ia buat saat istri mengalami mulas atau kontraksi saat akan melahirkan.
" Nathan! bawa saja aku ke rumah sakit. Mau sampai kapan kau mondar mandir kebingungan?! kau mau membuat ku melahirkan disini?! "
" Maaf, Maaf sayang. " Nathan dengan segera membantu Ivi berjalan keluar kamar. Jangan tanya kenapa tidak di gendong, itu karena tubuh Ivi benar-benar sangat gendut sekarang. Selain takut tidak kuat, Nathan juga takut kalau nanti malah akan jatuh dari gendongannya dan mencelakai istri serta anaknya.
" Ada apa? " Tanya Sammy mewakili semua orang yang juga terlihat bingung dan khawatir melihat wajah panik Nathan dan Ivi.
" Istriku, dia akan beranak. " Jawab Nathan gugup. Bahkan, seluruh tubuhnya juga gemetar hingga mengeluarkan keringat dingin.
" Apa?! " Mereka semua kompak membantu Nathan dan Ivi. Sammy, mengambil mobil, Nathania, Nathalie membantu untuk memapah Ivi sampai ke mobil. Ele mengambil tas yang berisi perlengkapan melahirkan dan dibantu oleh Keenan untuk membawa tas itu. Zadet juga sudah menyiapkan mobilnya untuk mengawal ke rumah sakit. Setelah semua nya siap, Ivi akhirnya dengan segera di bawa kerumah sakit yang biasa berkonsultasi saat masa kehamilannya.
Sesampainya disana, Ivi menjalani beberapa serangkaian prosedur yang diwajibkan sebelum melahirkan. Tapi karena tekanan darah Ivi yang melonjak naik, maka operasi sesar adalah satu satunya pilihan terbaik yang sudah disetujui oleh Ivi dan Nathan.
To Be Continued.