
Pagi hari yang cerah. Sarapan pagi ini terlewat begitu saja tanpa disadari oleh sepasang anak manusia yang tengah kelelahan itu. Vanya dan yang lain sengaja tidak membangunkan Nathan dan Ivi, karena mereka beranggapan jika Ivi dan Nathan pasti sangat kelelahan. Hari ini mereka harus banyak istirahat karena nanti malam, acara ulang tahun Nyonya besar Chloe akan diselenggarakan di kediaman utama Chloe.
Hari berjalan sebagai mana mestinya. Nathalie dan Nathania pergi ke kantor mereka masing-masing, Sammy pergi ke perusahaan Chloe menggantikan Nathan. Vanya dan Nath hari ini juga absen untuk membantu persiapan acara ulang tahun di rumah mertuanya.
" Emh...... " Ivi menggeliat dengan kedua tangan terangkat ke atas. Sungguh tubuh nya terasa lelah dan pegal. Ivi mencoba kembali mencari posisi nyaman dengan merentangkan kedua tangannya.
" Ah! " Pekik Nathan karena merasakan tangan seseorang memukulnya. Benar saja, tangan Ivi berada di wajahnya. Dengan perasaan sebal Nathan menepis tangan Ivi.
" Aw! " Pekik Ivi lalu mulai membuka matanya.
" Nathan! pagi-pagi kenapa sudah melakukan tindakan kekerasan dalam rumah tangga?! " Protes Ivi.
Nathan menghela nafas sebalnya lalu ikut membuka matanya.
" Kau duluan yang memukul wajah ku. " Ujar Nathan dengan tatapan sebalnya.
" Cih! jangan asal bicara ya? " Saat Ivi mengakan itu, tanpa sadar selimut yang menutupi tubuhnya ternyata melotot sampai ke bagian bawah dada. Tadinya Nathan sudah akan memalingkan wajah, tapi tida tahu kenapa, rasanya matanya tertahan dan ingin lebih lama memandanginya.
Merasa tatapan Nathan begitu aneh, Ivi mengikuti arah pandang Nathan yang terarah ke dadanya.
" Ah....... ! " Dengan cepat Ivi menaikkan kembali selimut yang melorot tadi hingga ke bagian leher.
Dengan wajah yang terkejut, Ivi mencoba untuk mengingat lagi apa yang terjadi semalam. Sialan! dia kira dia hanya mimpi, dan ternyata ini benar-benar terjadi.
Nathan juga sama, dia mengira apa yang terjadi semalam hanyalah mimpi basahnya saja. Tidak tahu nya ini adalah sebuah kenyataan. Mesipun rasanya dia sangat bahagia, tapi tentu saja dia tidak akan menunjukkannya di hadapan Ivi.
" Nathan, semalam kita, itu? "
Tentu saja Natha tahu apa yang dimaksud Ivi. Tapi mengerjai Ivi sepertinya menyenangkan.
" Itu apa? "
" Itu, itu loh. "
" Apa? "
Ivi mengacungkan kedua jari telunjuknya, membuatnya saling bertemu dan menempelkannya beberapa kali.
" Begini... " Ivi mencoba memperjelas meskipun dia sendiri sangat malu untuk mengatakan yang ia maksud secara langsung.
Iya, tentu saja. Rasanya enak sekali ya? Haha...
" Apa yang kau maksud sih? aku tidak paham. "
" Ih! apa kau memperkosa ku semalam?! "
Nathan terperangah lalu seketika terduduk sembari menatap Ivi. Memperkosa? sialan! mana boleh pria setampan dan sempurna seperti dia memperkosa. Gila ya? kalau mau meladeni, dia bisa saja tidur dengan wanita yang dia inginkan.
" Siapa yang kau bilang memperkosa? kita kan melakukannya atas dasar mau sama mau. Kenapa ka bertingkah seolah-olah kau adalah korban pemerkosaan sih? "
" Tunggu! apa kau bilang mau sama mau?! istilah yang benar adalah, suka sama suka. Tapi aku kan tidak suka padamu! aku tidak bisa terima ini! " Tunjuk Ivi ke arah Nathan dengan tatapan yang terlihat tidak rela.
Nathan menghela nafas kasarnya lalu menatap Ivi kesal.
" Lalu, kenapa kau tida menolak saja semalam? "
Ivi mengeryitkan alisnya. Benar, kenapa dia tidak menolak ya? semalam itu, rasanya dia seperti menjadi orang lain. Entah kenapa dia merasa begitu tergoda oleh Nathan. Tunggu! dia ingat kalau dia pernah menolak Nathan sebelumnya.
" Aku sudah menolak mu! tapi kan kau terus memaksa. " Kilah Ivi.
Nathan mengusap wajahnya frustasi.
Sudahlah, melayani mulut Ivi tidak akan ada habisnya. Lebih baik dia tanya apa maunya agar selesai lebih cepat.
" Lalu, apa yang kau inginkan sekarang? "
" Pokonya aku mau lapor ke polisi! kau sudah memperkosa ku! kau harus bertanggung jawab! "
Nathan menggeleng heran lalu menoyor kepala Ivi pelan karena sudah merasa sangat kesal.
" Pergi saja sana! katakan pada polisi, bahwa suami mu sudah memperkosa mu. Aku yakin, kau akan langsung ditendang keluar. "
Ivi terdiam memikirkan apa yang di ucapakan Nathan. Memang benar sih, mana ada polisi yang akan menerima laporannya? ada juga dia akan dianggap gila kalau sampai benar-benar melakukanya.
Lelah melihat Ivi yang terus melamun, Nathan memutuskan untuk bangkit setelah melihat jika sekarang ini sudah hampiri jam makan siang. Nathan yang belum terbiasa bertubuh polos dihadapan Ivi, dia berniat membawa selimut itu sampai ke kamar mandi. Tapi sayang, Ivi juga menahannya karena tidak mau tubuhnya kembali terlihat oleh Nathan.
" Lepas! " Titah Nathan.
Nathan yang tidak mau kalah tentu saja ngotot agar Ivi menyerahkan selimutnya.
" Lepas! aku kan menuju kamar mandi, aku tidak akan bisa melihat tubuh mu."
" Ih! tidak mau! " Ivi menarik selimut itu sekuat tenaga. Nathan yang belum bersiap untuk hal itu kecolongan dan langsung saja tubuh polosnya terekspos sempurna.
" Ya ampun! apa itu? " Ivi membulatkan mata sesaat lalu dengan cepat dia menutup wajahnya menggunakan selimut.
Malu? tentu saja Nathan sangat malu. Tapi mau bagaimana lagi? toh sudah terlanjur terlihat semua. Melihat Ivi yang meringkuk di bawah selimut, Nathan berjalan mendekati Ivi.
" Apa kau mau lihat lagi? " Bisik Nathan tapi tak membuka selimutnya.
" Dasar cabul! sana pergi ke kamar mandi. " Sebenarnya Nathan masih ingin menggoda Ivi, tapi sudahlah. Ini sudah siang dan dia harus segera bergegas.
Ivi memegangi kedua pipinya yang masih terasa panas hingga menimbulkan rona merah disana.
" Gila! benda itu masuk ke itu ku? Ya ampun! kenapa semalam aku tidak tahu malu sekali sih?! " Ivi mengacak-acak rambutnya frustasi.
Ting....!
Suara pesan masuk membuyarkan suasana hatinya yang sedang dilanda rasa malu itu. Ivi meraih ponselnya, lalu membuka satu persatu pesan yang masuk ke ponselnya. Ivi menghela nafasnya setelah membaca pesan dari Ira. Bos ayam goreng mentega, tempat dimana ia bekerja.
" Benar juga, pernikahan ku sangatlah mendadak. Aku belum memberi kabar apa-apa. Huh....! dia pasti kesal sekali. " Gumam Ivi lalu kembali meletakkan ponselnya jauh darinya.
Setelah beberapa saat, Nathan yang sudah keluar dari kamar mandi langsung digantikan oleh Ivi. Hari ini dia harus cepat-cepat datang ke kios atau yang biasa anak jaman now kenal dengan kafe. Dia harus menjelaskan segalanya dan meminta maaf.
" Ah! " Pekik Ivi. Natha. yang saat itu sedang berpakaian terlonjak kaget dan berjalan cepat menuju kamar mandi.
" Ivi, kau baik-baik saja? " Tanya Nathan setelah beberapa kali mengetuk pintu.
" Perih! "
" Apanya? " Tanya Nathan polos.
Tak terdengar suara Ivi lagi, tapi dengan adanya suara gemercik air, itu berarti Ivi tengah baik-baik saja.
" Kau baik-baik saja? " Tanya Nathan saat melihat Ivi keluar dari kamar mandi. Langkahnya seolah tertahan seperti ada sesuatu yang tidak nyaman di bagian kakinya.
" Itu, perih. "
" Apa? "
Ivi memutar bola matanya jengah.
" Punya ku perih! "
Nathan menelan salivanya. Bodoh atau apa, entahlah. Nathan tida mengerti dengan apa yang dia rasakan.
" Ya sudah, istirahat saja. Aku akan membelikan obat untuk mu. "
" Tidak usah. Aku harus ke kios. "
Nathan mengeryit.
" Kios? "
" Iya. "
" Untuk apa? "
Ivi memutar bola matanya jengah.
" Untuk menemui pujaan hatiku, kakak Bien. "
" Apa?! "
" Cih! aku hanya bercanda. Aku hanya ada perlu dengan Bos Ira. "
" Aku akan mengantar mu. "
Kalau tidak, kau pasti lupa kalau sudah menikah. Pilihan untuk secepatnya punya anak sepertinya adalah ide yang bagus.
To Be Continued.