Touch Me!

Touch Me!
S2- Pasangan



Nathan memeluk Ivi dari belakang lalu meletakkan wajahnya di pundak Ivi.


" Ivi, sekarang ini bagaimana aku di mata mu? "


Ivi tersenyum lalu dengan perasaan bahagia. Tidak bisa di pungkiri, dia masih saja tidak biasa dengan sikap manis Nathan yang seperti ini. Cara dia berbicara, kecupan hangat yang ia berikan, cara dia menangkan, semuanya seolah begitu membuatnya berdebar bahagia. Rasanya juga masih seperti mimpi menikah dengan Nathan. Tentu saja Ivi paham perasaan seperti adalah perasaan suka yang menjurus ke arah cinta.


" Bagaimana apanya? selain mulut mu yang kadang-kadang menyebalkan, aku tidak ingat yang lainya. "


Nathan menghela nafasnya. Memang benar sih kalau mulutnya kadang-jadang menyebalkan. Tapi entahlah, bersama dengan Ivi membuatnya merasa nyaman dan bebas mengatakan apa yang sedang di pikirkan.


" Apa hanya itu? kita sudah menikah dan sudah melalukan kegiatan suami istri berulang kali. Apa kau masih belum sadar kalau aku jauh lebih tampan dari si curut mabuk itu? apa di mata mu aku masih tetap kalah jauh? "


Ivi tersenyum tapi tak berani menunjukkan nya kepada Nathan. Sungguh bodoh sekali kalau di masih mau beranggapan seperti dulu. Setelah di pikirkan lagi, Nathan tentu saja jauh lebih tampan dari pada Kakak Bien. Tapi tidak tahulah, mulutnya seakan begitu enggan mengakuinya.


" Kau kan rajanya percaya diri. Kenapa juga kau membutuhkan pendapat ku. "


" Tentu saja, kau adalah istriku. Sangat penting bagiku untuk memuaskan mu dari berbagai aspek. Aku tidak mau kalau sampai melirik pria lain karena kekurangan ku. "


" Pft.....! " Ivi menahan tawanya karena benar-benar tidak tahan lagi mendengar Nathan berbicara. Cicak sekarat saja pasti akan mengakui jika Nathan adalah pria yang tampan dan tentu saja dia jauh lebih tampan dari pada Kakak Bien.


" Kenapa kau tertawa? " Nathan mengeratkan pelukannya lalu mencubit pelan perut Ivi.


" Aw! sakit, Nathan! "


" Itu hukuman dari ku karena kau masih saja tidak bisa membedakan siapa tampan dan siapa yang mirip curut mabuk. "


Ivi menghela nafasnya. Nathan kalau tidak di ladeni pasti akan merembet kemana-mana nantinya. Belum lagi kalau dia tidak puas dengan jawaban Ivi, yang ada dia akan menjadi bayi kecil yang seharian penuh hanya mengerucutkan bibirnya.


" Ivi, kalau kau masih saja bodoh, aku akan mencongkel keluar otak mu dan menggantinya dengan yang memiliki kualitas bagus. "


Ivi mengurai dekapan Nathan dan membalikkan tubuhnya agar berhadapan dengan Nathan. Bibirnya melengkung tersenyum indah sembari menatap bola mata indah pria yang kini menjadi suaminya.


" Nathan, kau sendiri sudah sering mengatakan jawabannya. Kenapa juga aku harus mengatakannya lagi? "


" Maksud mu? " Nathan menatap manik mata Ivi dengan dahi yang mengeryit bingung.


" Kau sendiri sudah tahu kalau kau jauh lebih tampan dari pada kakak Bien. Kenapa harus mendengarnya dari mulut ku? "


" Benarkah? " Nathan sebenarnya ingin tersenyum bahagia, tapi sekuat tenaga dia mencoba untuk menahannya agar tidak terlihat senyum itu.


" Jadi kau mengakui kalau aku jauh lebih tampan dari curut mabuk itu? "


" Iya, kau memang lebih tampan dari kakak Bien. "


" Panggil dia curut mabuk! memang mulut mu tidak gatal apa memanggil namanya dengan begitu mesra?! "


Ivi kembali menghela nafas sebal. Seperti inilah Nathan.


" Baiklah, curut mabuk. "


Heh! hadiah macam apa ini?


***


" Sayang, kau mau makan? apa kau mau minum? kau makan makan buah? apa kau lelah? apa kau mau aku pijit bahunya. " Berly kini tengah menemani Dodi menjaga tokonya. Seperti biasa, Berly akan menggunakan masker wajah dan kaca mata hitam. Pada awalnya semua pelanggan Dodi yang kebanyakan adalah Ibu-Ibu, semua malah menjadi fokus kepada Berly yang terlihat begitu mencolok dengan pakaian mahalnya. Tidak sedikit dari Ibu-Ibu yang membujuk Berly untuk menjual apa yang dia kenakan. Al hasil, Dodi lah yang di buat pusing karena para pelanggannya meminta Dodi membuatkan replika baju ataupun tas yang digunakan oleh Berly.


" Sayang, kalau kau lelah, bagaimana kalau kita tutup saja dulu tokonya. Lagi pula, uang yang kau dapat hari ini sudah banyak kan? "


Dodi terdiam sesaat sembari melihat catatan penjualan hari ini. Luar biasa memang omset penjualan saat Berly bersamanya. Bahkan keuntungannya beberapa hari terakhir semakin naik drastis hingga Dodi sendiri merasa tidak percaya.


" Tapi ini baru jam dua siang, Be. Masih belum waktunya pulang. "


Berly mendesah sebal. Bukanya merasa bosan, dia hanya ingin berduaan dengan Dodi lebih lama. Kalau menunggu sampai jam pulang seperti biasa, yang ada hanya tiga jam saja mereka menghabiskan waktu untuk berduaan.


" Kalau kau merasa lelah, pulang saja ya? "


" Sayang, kau mengusir ku ya? "


Dodi menghela nafas. Semenjak kejadian pada saat itu, Dodi benar-benar tidak memiliki waktu bersantai sendiri sedikit pun. Bukan hanya di toko, tapi juga di rumah dia masih saja bergelayut manja tak perduli situasi. Untung saja, Ibunya selalu menemani Ayahnya belakangan ini. Kalau tidak, sudah pasti tongkat ajaib Dodi sudah di tebas habis oleh Ibunya. Habis mau bagaimana lagi? Berly selalu saja mengikuti kemana dia pergi. Bahkan kalau tidak dilarang, dia juga pasti akan ikut ke kamar mandi saat Dodi pergi ke sana.


" Be, apa kau begitu luang akhir-akhir ini? aku mohon, jangan hanya karena gara-gara aku kau meninggalkan dunia mu. "


Berly memeluk lengan Dodi lalu meletakkan kepalanya disana. Sungguh dia begitu bahagia hingga tidak tahu harus bagaimana.


" Aku tahu, aku sudah melalukan sesuatu yang seharunya tidak aku lakukan. Aku juga berjanji akan bertanggung jawab padamu, Be. Tapi saat ini aku harus sukses terlebih duku agar aku memiliki kepercayaan diri untuk menghadapi orang tua mu. "


Berly menghela nafas nya. Seandainya kalau Dodi tahu bagaimana kacau nya keluarganya. Tapi sudahlah, baginya memiliki kakak seperti Sherin adalah sebuah keberuntungan.


" Tidak perlu mengkhawatirkan keluarga ku. Tidak akan ada masalah apapun. Aku menikah saja sudah seperti sebuah berkah bagi mereka, jadi mereka tidak akan mempertanyakan berapa banyak harta yang kau punya. Selama kau mencintai ku dan tidak mengenal lelah untuk membahagiakan aku, mereka justru akan sangat bahagia. "


Dodi sejenak terhenyak memikirkan ucapan Berly. Apa benar orang kaya jaman sekarang begitu tidak memikirkan kasta? orang tuanya Nathan juga begitu terbuka kepada Ivi. Lalu keluarga Berly juga begitu?


" Tapi tetap saja, aku tidak mungkin membiarkan mu tinggal di rumah Ibu ku. Setidaknya tunggu aku memiliki rumah, baru kita pikirkan soap pernikahan. Bagaimana? "


Berly mendesah sebal.


" Aku kan sudah punya rumah, kalau ka beli rumah lagi, bagaimana dengan rumah ku. "


" Lalu aku harus bagiamana? " Tanya Dodi pasrah.


" Tidak usah banyak berpikir. Kau hanya perlu menegakkan bagian bawah mu, dan kita- "


" Berly! "


To Be Continued.