
Hari telah berganti minggu, dan minggu telah berganti bulan. Siksaan demi siksaan kepada para suami yang harus menghadapi istri hamil semakin menjadi.
" Menjauhlah, Nath! aku tidak mau melihatmu! aku membencimu! "
Vanya melempari Nath dengan bantal dan guling. Membuat laki-laki tampan itu menjauh dengan perasaan sedih. Sudah lima bulan dia sering tidur di sofa. Kadang-kadang, Nath merasa menyesal karena telah membuat bayi untuk mereka. Bukanya semakin saling mencintai, tapi dari bulan ke bulan Vanya malah semakin membencinya.
Dasar bayi sialan! belum lahir saja sudah membuatku menderita! kalau sudah lahir nanti, akan ku pukul kepalamu saat membuat ulah.
Seperti biasa, Nath akan membaringkan tubuhnya di sofa yang tak jauh dari tempat tidur mereka. Kebiasaan Vanya adalah menangis ditengah malam karena menyesali perbuatannya. Iya, kebiasaan ini terjadi mulai dari kandungan Vanya yang menginjak dua bulan.
" Sayang,.... " Panggil Vanya sembari menangis.
Sudah kuduga. Mungkin bayi-bayi sialan itu sudah tidur. Jadi tidak lagi membuat Ibunya membenci Ayahnya.
Nath bangkit dan beranjak menuju tempat tidur. Dia memeluk erat tubuh istrinya yang masih terisak.
" Maafkan aku, Nath. Aku bersalah dan sangat jahat padamu. Aku benar- benar tidak sengaja. "
Nath hanya bisa memaklumi sembari memaksakan senyumnya. Mungkin ini adalah salahnya karena membuat dua bayi hidup didalam perut Vanya. Sungguh, sebenarnya dia sangat sebal karena dua janin yang selalu membuat Vanya membencinya. Tapi mau bagaimana lagi? bayi-bayi iblis itu adalah anaknya.
Lihat saja kalau kalian sudah lahir, aku akan membuat perhitungan dengan kalian.
***
" Honey, aku ingin ke toilet. " Pinta Lexi yang kini sedang menahan panggilan alamnya.
" Tidak boleh! " Devi semakin mengeratkan pelukannya. iya, inilah ujian untuk Lexi. Semenjak hamil, Devi sama sekali tidak membiarkan Lexi jauh darinya. Kemanapun Lexi pergi, maka disitulah Devi berada. Nath bahkan hampir setiap hari mendengus kesal melihat Lexi dan Devi yang bagai perangko dimana pun mereka berada.
Tapi tunggu! Lexi juga tidak bahagia. Kenapa? disaat-saat seperti ini dia semakin tersiksa. Setiap malam dia harus menahan diri untuk tidak pergi ke kamar mandi. Padahal tau sendiri kan? menahan sesuatu yang harus dikeluarkan itu sakit? tapi entahlah. Devi seakan tak perduli dan tidak mau tahu. Satu senti meter saja Lexi menjauh, Devi pasti akan langsung menyadarinya lalu memaki Lexi seenaknya. Mula dari suami jahat, tidak pengertian, suami pengecut, suami tidak punya hati, dan yang paling membuat Lexi mendengus kesal adalah kata-kata Devi yang selalu berdengung di telinganya.
Kalau tahu begini, lebih baik aku hamil bersama anjing kesayanganku saja! dasar tidak bertanggung jawab! kau yang menghamili ku, maka kau harus menuruti semua keinginan ku dan anak kita!
" Honey, aku tidak tahan lagi, nanti kalau aku ngompol bagaimana? " Rintih Lexi sembari memegangi miliknya.
Rasanya dia benar-benar ingin marah. Tapi melihat wajah Lexi yang merah karena menahan sesuatu, akhirnya dia mengizinkan Lexi turun dari tempat tidur dan tentunya, dia juga akan ikut ke dalam kamar mandi. Tentu saja Lexi setuju. Dari pada menahannya sampai pagi, lebih baik ditonton oleh istrinya sendiri kan?
***
" Sayangku, apa ini belum cukup? "
Kevin menahan tangis dengan apa yang dilakukan Sherin padanya. Setiap hari, wajah tampannya akan dipoles dengan tebalnya make up dan selalu diunggah ke media sosial oleh istrinya sendiri. Awalnya Kevin menolak dengan tegas. Tapi saat Istrinya mulai murung lalu uring-uringan, dia menjadi tak tega dan membiarkan untuk sekali saja. Sayang, itu bukan kegiatan sekali saja, tapi kegiatan rutinitas setiap hari sebelum tidur atau saat mereka tengah berlibur.
" Bagaimana? ini cantik kan? " Sherin dengan bangganya memamerkan kelima jari kuku Kevin yang baru saja ia cat dengan warna kuning terang.
Menghapus make up ini saja bisa berjam-jam. Lalu apa lagi ini? mengerikan sekali. Sherin, aku ini anggota mafia terbesar dari Eropa loh. Tapi kau menjatuhkan martabat ku sampai seperti ini? untunglah aku mencintaimu. Kalau tidak, aku pasti sudah menggantung lehermu di monas.
" Kenapa diam saja? kau tidak suka ya? padahal aku sudah melakukan yang terbaik. " Sherin kini sudah mulai mengerucutkan bibir dengan air mata yang mulai menggenang.
Kevin menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan. Mau marah dan menghancurkan dunia, tapi si pembuat marahnya adalah istrinya sendiri. Kalau tidak marah ya dongkol dihati. Harus bagaimana? mau menyenangkan hati istri dengan mengatakan, Oh iya bagus sekali. Yang ada, Sherin akan semakin semangat melakukannya.
" Kau benar-benar tidak suka? " Sherin kini sudah menangis sesegukan sembari menutupi wajahnya.
Ya ampun! kalau saja ini bukan kau, Sherin. Aku pasti sudah menendang bokongku sampai tulang ekor mu patah! untung lah, untung kau wanita yang aku cintai.
Sampai mati kesal pun aku tidak akan menyakitimu.
" Maaf, sayangku. Aku hanya bingung mau mengatakan apa. Aku terlalu menyukai ini. Jadi tidak bisa berkata-kata lagi. "
Sherin langsung menghapus air matanya dan memeluk sang suami dengan erat.
" Aku tahu kau akan mengatakan ini. Kalau begitu, sebagai ucapan terimakasih aku akan mengecat semua kuku di jarimu. Lagi pula kau sangat menyukainya kan? "
" Iya. " Jawab Kevin sembari menahan tangis.
Benar-benar sialan! setelah ini, aku benar-benar tidak mau punya bayi lagi.
***
Pagi harinya.
Nath dan Nathan tengah menikmati sarapan. Sementara Vanya, Ibu hamil itu hanya bisa membuka mata setelah pukul sepuluh pagi.
" Ayah, sepulang sekolah, Kakek Rudi akan menjemput ku. Aku akan menginap semalam disana. Lusa, Kakek dan Nenek Chloe yang akan menjemput ku. Lalu tiga hari ke depan, Nenek cantik KBR akan mengajakku menginap disana. "
Nath menghela nafasnya dalam-dalam. Beginilah dia sekarang, bagaikan sebatang kara tak memiliki sanak keluarga. Ayah dan Ibunya lebih menyayangi Nathan, sementara istrinya selalu marah dari pagi sampai malam kalau di dekati olehnya. Dan anaknya? dia benar-benar seperti Aktor yang memiliki banyak kegiatan.
" Apa kau tidak ingin menghabiskan waktu bersama Ayah saja? apa kau tega melihat Ayah menyendiri disudut ruangan yang hampa penuh derita? " Nath memelas menatap penuh mohon kepada putranya.
Nathan menatap Ayahnya sebal. Sebenarnya dia sengaja membalas Ayahnya yang dulu sering memintanya pergi saat sedang bersama Ibunya. Tapi melihat Ayahnya yang sampai memelas begitu, membuatnya menjadi tidak tega dan memilih untuk menemani Ayahnya sementara waktu ini.
" Apa setelah ini Ayah akan mempunyai bayi lagi? "
" Tidak! tidak mau! dua bayi yang ada di perut Ibumu sangat menyiksa Ayah. Kalau ada bayi lagi, bagaimana nasib hati Ayah? "
Nathan tersenyum miring.
Bagus! bagus sekali! ada empat bayi yang akan segera lahir. Tapi, lebih bagus lagi kalau enam kan? Ayah, setelah ini saingan mu untuk merebutkan perhatian Ibu bukan hanya aku. Tapi ada dua setan kecil yang akan membantuku.
Setelah pulang bekerja, Lexi, Kevin dan Nath berada di sebuah kafe yang berada didekat rumah Lexi. Mereka saling membagi suka duka, oh tidak! duka! bagi mereka menghadapi kehamilan istrinya.
" Aku benar-benar masih ingin disini. " Ujar Kevin sembari menyimpan kembali ponselnya setelah mengubah menjadi mode pesawat.
" Aku juga. " Ujar lexi yang melakukan hal yang sama.
" Aku malah ingin cepat pulang, tapi istriku pasti mengusirku. Dia tidak mau kalau aku dekati sebelum tengah malam. " Nath menatap layar ponselnya yang tak juga mendapat pesan dari sang istri yang selalu ia rindukan.
Mereka kompak menghela nafas bersamaan. Sungguh rumit dunia wanita hamil.
" Aku takut terkena infeksi saluran kemih kalau begini. " Ujar Lexi lalu menyeruput kopinya.
" Aku sekarang benar-benar sangat takut saat melihat alat-alat make up. Aku takut ini menjadi trauma bagiku. "
" Aku malah ingin merasakan apa yang kalian rasakan. Dipeluk sepanjang malam, menghabiskan waktu dengan istriku meskipun harus memakai make up. " Nath masih berandai-andai.
Lexi dan Kevin menggeleng bersamaan.
" Aku malah ingin sepertimu, Nath. " Ujar Kevin dan Lexi.
To Be Continued.