
Setelah bertemu dengan Nyonya Marhen dan kedua anaknya, Ivi dan Nathan kembali ke rumah yang kini sedang mereka tinggali sembari menunggu paspor Ivi. Tidak ada yang mereka bicarakan selama berada di perjalanan pulang. Kedua nya sibuk dengan pemikiran masing-masing.
Lain hal dengan apa yang terjadi dengan Nathan dan Ivi. Sepasang manusia yang tak lain adalah Dodi dan Berly. Mereka benar-benar berada di suasana hati yang sangat berbanding terbalik. Setelah kejadian kemarin saat Dodi meminta Berly untuk menjauh, gadis cantik itu Justru semakin gencar mengejar Dodi. Biasanya dia akan menunggu Dodi di parkiran pasar, sekarang dia terus saja mengikuti kaki Dodi melangkah. Tentu saja banyak sekali orang yang menanyakan siapa gadis yang mengikuti dari belakang kepada Dodi. Sempat merasa bingung, akhirnya Dodi mengatakan jika gadis itu adalah saudara nya. Karena bukan lagi rahasia kalau Dodi mulai dari hari ijqni akan membuka tokonya sendiri. Jadi tidak mungkin dia mengatakan bahwa gadis itu adalah Bos barunya kan?
" Wah, calon suami. Rupanya kau sudah punya toko sendiri ya? " Tanya Berly lalu mengerling kan matanya.
Dodi benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Sedari pagi Berly terus mengikutinya dan memanggilnya calon suami. Risih memang, tapi mau bagaimana lagi? semakin Dodi meminta Berly untuk menjauh, gadis itu justru semakin lengket dengannya. Dia bahkan tidak segan-segan bergelayut manja di lengan Dodi.
" Nona, anda sudah lama terus mengikuti saya. Bisa anda tinggalkan saya? saya harus menyelesaikan display toko agar besok sudah bisa mulai berjualan. " Pinta Dodi.
" Tidak mau! pokoknya kalau kau belum menyetujui untuk kita berpacaran, aku tidak akan pergi apalagi menjauh dari mu. Pokoknya aku akan menempel seperti lintah. " Berly dengan cepat meraih lengan Dodi dan bergelayut disana. Bukan hanya satu dua orang yang merasa heran dengan mereka berdua. Tentu saja mereka akan berpikir, bagaimana bisa hubungan saudara begitu dekat seperti sepasang kekasih.
" No Nona Berly. Tolong jangan begini. " Dodi mencoba menjauhkan tangan Berly dari lengannya, tapi gadis itu seperti terlatih dan dengan cepat kembali dengan memeluk lengan Dodi.
" Jangan panggil aku Nona Berly! panggil aku My Be. "
Dodi menghela nafas panjangnya. Ternyata apa yang dia ucapkan memang tidak akan pernah di dengarkan oleh Berly. Lebih baik dia fokus dan kembali fokus dengan pekerjaannya.
***
Sammy menggerakkan pinggulnya ke kanan dan ke kiri karena merasa bagian itu sangatlah pegal. Satu minggu sudah dia di sibukkan dengan pekerjaan kantor, belum lagi di rumah dia juga harus mengurus dua iblis betina yang selalu membuat nya sakit kepala. Iya, dua gadis itu kini tengah, menjadi target perjodohan dari tiga keluarga sekaligus. Bahkan, hanya demi menolak di jodohkan, mereka meminta Sammy mengaku kepada semua orang bahwa diam-diam mereka menjalin hubungan. Bahkan mulut kurang ajar Nathania mengatakan untuk meminta Sammy mengakui ke semua keluarga besarnya bahwa mereka berdua hamil karena Sammy. Sudah gila kan? melakukan hal baik saja, dia selalu disalahkan oleh Nyonya besar Chloe. Sungguh tidak bisa di bayangkan apa yang akan terjadi kalau sampai dua iblis betina itu mengatakan kalau Sammy menghamili mereka. Bisa-bisa tongkat ajaibnya di potong persegi oleh mereka. Batin Sammy bergidik ngeri membayangkan itu.
Brak.....!
" Kakak kedua! " Panggil Zalia setelah membuka pintu dengan kasar. Dia juga berlari ke arah Sammy sembari mengais.
" Haih....! satu lagi Iblis laknat yang belum juga punah. " Gumam Sammy ya g merasa sebal karena melihat Zalia.
" Kakak kedua, boleh aku memeluk mu? " Tanya Zalia sembari mengusap ingusnya dengan tisu yang baru saja ia ambil dari meja Sammy.
" Tidak! dasar bocah ingusan! kenapa kau menangis? " Tanya Sammy.
Zalia mengambil posisi duduk lalu mencoba menenangkan dirinya sebelum mengatakan apa yang terjadi.
" Kakak kedua, dosen ku meminta wali ku untuk datang. "
Sammy menghela nafas. Hal seperti inilah yang paling dia tidak suka. Setelah dua pasang murid siluman kera itu lulus kuliah, kini giliran adiknya Zadet yang tidak henti-hentinya membuat ulah.
" Kali ini, siapa yang kau pukul? " Tanya Sammy yang sudah hafal benar bagaimana sifat Zalia.
" Aku kan belum bilang, kok kakak kedua sudah tahu? apa jangan-jangan, karena kakak di juluki siluman babi yang memiliki lubang hidung besar, jadi kakak punya indera penciuman dan insting yang bagus ya? " Zalia tersenyum manis setelah mengatakan itu.
Sammy kembali menghela nafas nya. Bukankah seharusnya anjing atau kucing yang punya penciuman bagus?
" Katakan dan jangan bertele-tele. "
" Aku memukul teman di kelasku. "
Sammy menatap kesal Zalia.
" Kau ini tida sadar apa? kau kan seorang wanita, kenapa suka sekali memukul orang? apa kau tidak bisa bersikap anggun sedikit?! hah?! "
Zalia mendesah sebal.
" Kakak kedua, kenapa sekarang kakak seperti Ibuku? "
Sammy memukul meja nya karena merasa kesal.
" Tentu saja! kau ini dilahirkan bukan tanpa otak. Mana ada gadis yang suka sekali memukul pria. Kalau kau begini terus, memang siapa yang mau menikahi mu?! "
Zalia berdecih sembari melirik Sammy sebal.
" Kan ada kakak kedua yang tidak laku-laku. Kalau aku tidak laku, ya menikah saja dengan kakak kedua. Begitu saja kok repot. "
Sammy memijat tengkuknya yang terasa sangat sakit. Sudah begitu pusing dengan pekerjaan kantor, sekarang ditambah lagi Zalia yang bermulut racun.
" Zalia, berhentilah omong kosong. Sekarang katakan, kenapa kau memukul orang lagi? apa kau tidak tahu resikonya? kau bisa saja dipenjara karena itu. "
" Aku kelepasan, kakak kedua. Tapi aku bersumpah. Aku hanya menepak kepalanya saja kok tidak lebih. "
" Apa kau tahu? menyentuh kulit saja bisa dipenjara, apalagi memukul. Sekarang katakan, apa yang membuat mu memukul dia? "
" Dia menaikkan rok teman ku. Saat itu teman ku hanya menggunakan penutup itu nya saja. "
" Apa?! " Sammy bangkit dengan mata melotot karena kesal.
" Kau ini bodoh atau apa sih? pria melakukan hal menjijikkan seperti itu kau hanya menepak kepalanya saja? otak mu dimana? kenapa kau tidak mencekik nya dan menginjak wajah nya?! kau ini teman macam apa hah?! kau benar-benar tidak setia kawan ya?!"
" Eh? " Zalia hanya bengong melihat Sammy yang begitu terlihat kesal hingga jarinya menujuk-nunjuk ke arah Zalia dengan tatapan marah.
" Sialan! aku saja belum pernah melakukan hal semacam itu saat kuliah. Berani-beraninya dia mengambil kesempatan langka begitu. Menyesal juga rasanya jadi mahasiswa yang baik. Kalau tahu akan menjadi tren, lebih baik aku juga melakukanya saat kuliah dulu. " Ucap Sammy yang sudah kembali tenang.
Zalia kini menggeleng heran. Padahal dia begitu mengagumi Sammy beberapa detik yang lalu, tapi lihatlah siluman babi yang tidak tahu diri itu. Bahkan dia iri degan pria yang sudah melihat penutup bagian dalam wanita.
" Tidak perlu iri begitu. Kalau kakak kedua sangat ingin melihat itu, menikah saja dengan ku. "
To Be Continued.