Touch Me!

Touch Me!
Mengakhiri



Vanya dan Nath memutuskan untuk berjalan-jalan memutari rumah mewah milik Dirgantara itu. Nathan kini sedang bermain bersama Ayahnya Vanya dan keluarga. Sudah beberapa tahun dia tidak menghirup taman bunga Ibunya yang masih terawat dan selalu dalam keadaan bersih. Tentu saja Vanya tahu siapa yang terus merawatnya. Meski enggan mengakuinya, tapi ibu tirinya adalah orang yang baik. Sebenarnya ada hal yang masih mengganjal dihatinya, bagaimana orang baik seperti dia begitu tega merusak hubungan seseorang? Vanya menghela nafasnya karena begitu sulit menemukan jawaban itu.


Nath yang terus menatap wajah istrinya hanya bisa ikut menghela nafas saat Vanya menghela nafas.


" Sayang? " Nath menghentikan langkahnya yang otomatis membuat Vanya juga berhenti karena tangan mereka saling menggenggam.


Vanya yang kebingungan karena sedari tadi sibuk melamun, kini gelagapan melihat tatapan Nath yang seperti sedang mencari tahu.


" Ada apa? "


Nath mendekatkan tubuhnya lalu menangkup wajah istrinya itu. " Aku ada bersamamu. Jangan merasa terbebani. Aku mengajakmu kesini bukan untuk membuat mu murung. Tanyakan apa yang mengganjal di hatimu, aku hanya ingin kau bebas tanpa luka. Memaafkan bukan berarti harus merajut hubungan, aku hanya ingin kau melepaskan luka ditempat kau terluka. Akhiri lukamu disini dan jangan pernah membawanya pergi. Lepaskan kedukaan itu, setelah kau bisa melepaskannya, tidak masalah jika kau tidak mau lagi datang ke rumah ini. "


Vanya mengangguk dengan genangan air mata yang mulai memenuhi pelupuk matanya. Vanya menguatkan dirinya lalu kembali melangkahkan kaki menuju sebuah kamar yang dulu menjadi kamarnya. Sesampainya disana, Vanya dan Nath begitu terkejut. Matanya mulai berair karena kamar yang sudah hampir enam tahun ia gunakan tetap rapih, bahkan hampir sama seperti sebelum ia memutuskan untuk hengkang dari rumah itu. Yang lebih membuat Vanya terkejut adalah, kedatangan seorang asisten rumah tangga yang menyatakan bahwa, kamar Vanya selalu dirawat dan dibersihkan setiap hari. Tuan Rudi atau Ayahnya Vanya, tidak memperbolehkan siapapun masuk kesana kecuali asisten itu dan juga dirinya. Bahkan asisten rumah tangga itu juga sering mendengar Ayahnya Vanya menangis menyebut nama Vanya.


Vanya kembali fokus pada keadaan kamarnya serta banyaknya bingkai photo yang memenuhi ruangan Vanya. Photo masa kecilnya bersama Ayah dan juga Ibunya. Sungguh, Vanya tidak menyangka jika Ayah yang dulu begitu galak bisa melakukan hal ini. Semua photo dari mulai Vanya baru lahir hingga sebelum ia meninggalkan rumah itu tersusun rapih dan nampak begitu bersih. Vanya bahkan ragu dengan keberadaan debu disana.


" Sepertinya, Ayahmu tidak sejahat yang kau pikirkan, Sayang. " Nath meraih photo Vanya saat kanak-kanak. Pria itu tersenyum dan mengusap wajah pada photonya.


" Kau benar-benar sangat cantik, baik dulu ataupun sekarang. "


Vanya membalikkan tubuhnya menatap Nath yang masih fokus memandangi photonya.


" Terimakasih, Nath. " Vanya mendekati punggung pria Nath dan memeluknya dari belakang.


Nath meletakkan bingkai photo lalu membalikkan tubuhnya. " Terimakasih untuk apa, Sayang? " Nath juga menghujani pucuk kepala Vanya dengan kecupan sayang.


" Terimakasih karena sudah membawaku kesini. "


Nath mengurai pelukannya dan menatap manik mata istri tercintanya itu. Sebenarnya di hanya ingin Vanya menyelesaikan persoalan yang masih mengganjal dihatinya. Tentu saja Nath tahu, apa yang di batin istrinya itu. Setelah banyaknya Drama didalam hidup mereka, Nath kini hanya ingin menjadi sosok yang terlihat seperti bayangan. Ada selalu bersama dalam keadaan apapun.


" Sayang, setelah ini terserah padamu. Mau melanjutkan mencari tahu jawaban dari pertanyaan mu, atau mengakhirinya. "


Vanya mengeratkan pelukannya, aroma tubuh Nath benar-benar membuatnya tenang dan merasa kuat. Sungguh dia begitu beruntung memiliki Nath yang tak pernah mengenal lelah untuk kebaikan dan membahagiakannya.


" Ayo temui Ayahmu. " Ajak Nath yang langsung diangguki oleh Vanya.


" Iya. " Ujar Nath sembari menuntun istrinya agar hati-hati ketika mengambil posisi untuk duduk.


Ayah begitu bahagia melihat Vanya yang diperlakukan layaknya seorang ratu oleh seorang pria yang terkenal sangat pendiam dan tidak hampir tidak ada rumor buruk tentang wanita. Bukan hanya menebak, rumor tentang Nath sudah meluas semenjak dia remaja. Apalagi barusan Nathan banyak mengeluhkan sikap Ayahnya yang begitu tegas saat ingin berduaan dengan Ibunya.


" Bolehkan aku meminta segelas jus alpukat? " Nath menatap Ibu tiri dengan tatapan sopan.


" Tentu saja. " Ibu tiri bangkit dan memanggil pelayan untuk membuatkan jus alpukat.


Beberapa saat kemudian, Jus alpukat itu diantar oleh seorang pelayan dan diletakkan di meja. Nath mengucapkan terimakasih lalu memberikannya kepada Vanya.


" Sayang, minumlah. " Nath memberikan Gelas itu dan diterima oleh Vanya dengan senyum yang merekah dibibirnya.


" Terimakasih. " Balasnya.


Tristan menatap Kedua manusia itu dengan tatapan cemburu. Dulu saat bersamanya, bukankah dia tidak menyukai jus alpukat? lalu kenapa dia begitu menyukainya? hampir saja mulutnya kelepasan tadi, dia hampir mencegah Nath untuk memberikannya kepada Vanya. Karena nyatanya, gadis pujaannya itu menenggak jus alpukat itu tanpa terlihat terpaksa.


Vanya, semua hal tentangmu begitu berubah saat ini? apa pria itu yang mengubah mu? dulu aku selalu menjagamu dan memperlakukan mu dengan lembut, sama seperti suamimu. Apakah tidak ada secuil kenangan tentangku? kenapa kau sama sekali tidak pernah melihat ku walau sejenak?


Rina yang kini sedang memangku putrinya menatap Nath. Sungguh dia terpesona oleh Nath. Pria itu nampak gagah dengan setelan jas yang membalut tubuhnya. Wajah dinginnya benar-benar membuatnya semakin terlihat tampan, senyum yang sesekali terlihat diwajahnya juga menambah kesan sempurna untuk penampilannya. Meski dia mencintai Tristan, tapi dia juga bisa goyah karena melihat Nath. Apalagi caranya memperlakukan Vanya, dia justru berandai-andai jika dia yang berada di posisi Vanya.


Bukankah bagus jika aku yang menjadi istrinya?


Nath yang tak sengaja melihat ke arah Tristan, benar-benar merasa kesal. Ingin sekali dia menusuk dua bola mata nakal itu. Berani sekali menatap istrinya seperti singa menatap bongkahan daging segar. Nath meraih pinggang istrinya dan merapatkan posisi duduk mereka. Dia takut jika tiba-tiba Vanya di comot saat dia lengah.


Tristan semakin kesal melihat Nath yang begitu melindungi Vanya dari tatapannya. Dia hanya menatap dan bukan menyentuh kan? kenapa begitu berlebihan? batinnya menggerutu.


Nath yang menyadari tatapan Tristan mulai kesal, dia menyunggingkan senyum kemenangan.


Makanya jangan kurang ajar kalau punya mata! istriku memang sangat cantik, tapi tidak boleh kau berfantasi dengannya! aku tidak akan membuat istriku kekurangan apapun. Baik materi atau urusan ranjang. Jadi kau atau pria manapun tidak akan aku berikan celah untuk masuk dan menghancurkan kami. Huh....! sepertinya memberikan Nathan adik sudah harus secepatnya ya?


To Be Continued.