Touch Me!

Touch Me!
S2- Menyelesaikan pekerjaan



Nathan dan Ivi kini tengah berada di perjalanan menuju kantor. Setelah hari kemarin yang Nathan batal untuk datang, akhirnya sekarang harus menyempatkan diri sebelum kepergiannya besok. Iya, jadwal liburan yang sebenarnya untuk bulan madu itu juga harus mundur satu hari dari jadwal yang sudah di tentukan. Sudah tidak ada kecanggungan lagi di antara mereka. Semua berjalan dan mengalir degan alami tanpa di buat-buat. Nathan yang masih saja suka menghina dan gengsian, Ivi yang selalu menempatkan diri sebagai wanita sempurna alias narsis. Eh tunggu! kalau membicarakan masalah narsis, sepertinya mereka berdua juga berada di tingkat kenarsisan yang sama tingginya.


" Nathan, nanti turunkan aku di pinggir jalan saja ya? aku mau membeli makanan yang ada di pinggiran jalan. " Pinta Ivi sembari membenahi lipstik nya yang kurang rapih.


" Kau mau mencemarkan nama baik ku ya? " Tanya Nathan sebal. Ita tentu saja sebal, baru kali ini kan seorang Presdir menurunkan istrinya di jalanan dan membiarkan dia makan di pinggiran jalan.


Ivi menaikkan sebelah sisi bibirnya dengan lirikan mata yang tak kalah kesal.


" Aku malah tidak tahu kalau nama mu sebaik yang kau pikirkan. "


" Ivi! " Kesal Nathan.


" Nathan! " Ivi yang tak mau kalah juga melakukan hal yang sama.


" Aku ini suami mu, kau lupa? "


" Aku juga adalah istrimu, apa kau juga lupa? "


Nathan menghela nafas nya.


" Maksud ku, sebagai seorang istri, seharusnya kau menuruti apa kata suami mu kan? "


Ivi berdecih sembari menatap Nathan sebal.


" Aku ini adalah istrimu yang harus kau bahagiakan. Memang kenapa kalau kau adalah suami ku? "


" Apa kau pernah mendengar istilah suami adalah raja? "


Ivi membelalak kan matanya yang jelas kalau dia tidak menyetujui ucapan Nathan.


" Suami adalah raja? maksud mu, istri mu adalah budak begitu? "


" Eh? " Nathan menggaruk tengkuknya bingung.


" Kalau suami adalah raja, maka istri adalah ratu. Ratu adalah wanita yang di agungkan dan selalu di bahagiakan oleh rajanya. Benar tidak? "


Nathan menghela nafas kasarnya.


" Ya sudah, kau menang. " Ucap Nathan yang sudah tidak mau lagi berbicara.


Ivi tersenyum manis lalu mengacak rambutnya.


" Nathan, kalau kau seperti ini, kau benar-benar terlihat tampan. Aku rasa, ketampanan mu ini akan bertahan sampai dua puluh turunan. "


Biarkan saja apa yang mau di katakan Ivi. Menjawab juga percuma saja.


Sesampainya di Perusahaan Chloe, Ivi berjalan mengikuti Nathan dengan wajah sebalnya. Bagaimana tidak? padahal tadi dia sudah menunjuk jalan dimana dia akan berhenti untuk membeli makan kesukaannya, tapi yang ada malah Nathan semakin cepat melajukan kendaraannya. Ternyata kata-katanya di mobil yang seolah dia mengalah hanyalah kebohongan saja.


" Perbaiki wajah aneh mu itu. Kau ini tidak cantik, tapi kau malah memasang wajah seperti itu. Orang-orang pasti akan mengira aku berjalan sembari menggembala babi. " Ucap Nathan pelan.


Babi? kenapa sepertinya babi adalah teman terdekat dalam hidup mereka.


" Dengar ya, seharusnya kau menurunkan babi betina ini ke jalanan tadi kalau kau malu. "


" Lalu bagaimana kalau aku membutuhkan mu? " Tanya Nathan tersenyum penuh arti. Tidak tahu dari mana asalnya, tapi sekarang Nathan benar-benar sangat mesum. Bahkan saat tidur tak sengaja tersenggol tingkat ajaibnya oleh Ivi, langsung saja dia beraksi.


" Benarkah? ngomong-ngomong, ************ siapa yang ada di wajah ku? "


Ivi terperangah kesal tapi juga tidak bisa melakukan apapun karena sekarang sudah ada beberapa orang yang memperhatikan mereka.


" Aku benar-benar akan akan menggadaikan mu setelah ini. "


Nathan hanya tersenyum. Dari pada terus berdebat untuk hal sepele seperti ini, lebih baik dia segera mengerjakan beberapa hal sebelum dia pergi untuk liburan besok. Nathan meraih jemari Ivi, membuatnya saling menggenggam, dan menuntun langkah kaki Ivi untuk mengikuti kaki nya melangkah.


Bukan hanya satu dua orang yang melihatnya, tapi banyak sekali hingga tidak tahu seberapa banyak yang memperhatikan mereka. Tentu saja Ivi merasa aneh dan malu. Tapi untunglah, genggaman tangan Nathan yang hangat itu selalu memberinya keberanian dan kekuatan agar ia bisa percaya diri di manapun asalkan bersama Nathan.


Setelah sampai ke ruangan kerja Nathan, Ivi hanya bisa duduk di sofa dan menunggu sarapan yang sudah di pesan oleh Sammy untuk mereka berdua. Tak berapa lama setelah itu, makanan yang di pesan sudah datang. Tidak mau membuang waktu lagi, mereka langsung menikmati makanan itu. Tiga luluh menit setelahnya, Nathan akhir ya sudah mulai bekerja.


Ivi yang sudah mulai jenuh dengan ponselnya, kini tanpa sengaja menatap ke arah Nathan yang sedang serius bekerja. Tampan. Satu kata itulah yang tanpa Ivi sadari telah ia ucapkan di dalam hati. Bibirnya tersenyum, bola matanya juga tak teralihkan dari wajah serius Nathan. Sungguh semua ini tidak pernah ia bayangkan walau hanya di dalam mimpi. Menikah dengan Nathan yang kaya dan tampan, memiliki mertua yang baik, adik ipar juga baik, semua terasa baik dan membuatnya begitu beruntung.


" Nathan? " Panggil Sammy setelah membuka pintu. Dia juga menenteng beberapa amplop yang akan dia sedangkan untuk Nathan.


" Hai, kakak ipar? " Sapa Sammy lalu berjalan mendekat ke arah Ivi.


" Halo, kakak kedua. " Ivi tersenyum sembari mengangkat telapak tangannya menyapa Sammy.


" Kakak ipar, sepertinya kau semakin cantik ya? kau juga terlihat berisi sekarang. " Ucap Sammy lalu memeluk singkat Ivi. Sungguh dia memang sangat bahagia dengan adanya Ivi di sana. Karena kalau tidak, Nathan pasti akan mengoceh lalu menebar semua kertas dokumen yang tidak ia setujui ataupun adanya kesalahan ketik.


Ivi yang mendengar dirinya di puji tentu saja merasa bahagia. Seperti itulah Ivi. Dia sangat mudah bahagia saat ada orang yang memujinya meski itu adalah pembohongan.


" Cu Pat kay? " Panggil Nathan dengan suara yang begitu dingin.


Tapi sayang, Sammy sedang asik mengobrol hingga tidak mendengar Nathan memanggil. Padahal itu sudah ke empat kalinya.


" Siluman babi! " Panggil Nathan kesal. Tentu saja Sammy dan Ivi terperanjak kaget. Tapi karena memang tidak tahu, mereka hanya bisa melongo dan saling tanya melalui tatapan mata.


" Ada apa, kakak pertama ku yang tampan. " Jawab Sammy seraya bangkit dari posisinya dan berjalan mendekati Nathan.


" Ambil ini. Dan pergilah! "


Sammy mengeryit.


" Pergi? "


" Iya pergi. Pergilah ke ujung dunia. Bila perlu, pergi saja ke planet Pluto. " Jawab Nathan sebal.


" Nathan, apa kau sedang kesal? " Tanya Sammy bingung.


Dasar siluman babi sialan! bedebah sinting yah tidak tahu malu. Kau memeluk istriku di hadapan ku, dan kau tidak sadar dimana salah mu? perlu di sasak tongkat ajaib mu rupanya.


" Ya ampun, apa yang sedang dia gumam kan di dalam hati ya? " Ucap Sammy lirih seraya berjalan meninggalkan ruangan Nathan.


Setelah Sammy keluar, seorang security mengetuk pintu dan memberi tahu bahwa ada yang ingin bertemu. Tentu saja Nathan langsung menyetujuinya agar apapun urusannya untuk segera selesai hari ini.


" Nona Salia? Tuan muda Salied? " Nathan dan Ivi menatap mereka berdua yang baru saja masuk ke dalam ruang kerja Nathan.


To Be Continued.