
Rencana hari ini ternyata berubah setelah Ivi mempertimbangkannya. Tadinya dia ingin langsung mengunjungi Ayahnya lalu melihat rumah orang tuanya yang sudah hampir sebulan tidak ia kunjungi. Tapi mau bagaimana lagi? tiba-tiba Sammy meminta Nathan untuk cepat berangkat ke kantor karena akan ada rapat pagi ini. Sesuai dengan titah Nathan, Ivi mengubah jadwal paginya ke pusar belanja sampai Nathan selesai rapat. Kalau saja ada Nana dan Lili, belanja seperti ini pasti seru. Batin Ivi bergerundel. Iya, dua adik ipar kembarnya itu juga sangat sibuk. Di usianya yang masih muda, mereka sudah menjadi pemimpin perusahaan besar. Sungguh membuat Ivi begitu kesepian. Kesepian ya? bukan malu karena tidak memiliki kemampuan seperti Nathan, Sammy, Nathalie dan Nathania. Untunglah, Ivi di lahir kan dengan urat malu yang putus nyambung, jadi cara bekerja urat malunya sudah memburuk. Kalau tidak, dia pasti akan sangat rendah diri ketiga berada di lingkungan orang-orang hebat. Eh! tapi tunggu dulu, Ivi juga termasuk hebat loh, buktinya dia bisa mengambil hati siluman kera yang begitu susah itu.
Kaki Ivi berjalan mengikuti mata nya yang masih tak menemukan apa yang dia inginkan. Sesekali Ivi memeriksa keranjang belanja nya dan mengingat apa yang belum ia beli.
" Ah! pembalut! aku sampai melupakannya. " Ujar Ivi sembari mencari keberadaan barang yang tengah ia cari.
" Wah, ini dia. " Ucap Ivi sembari memilih pembalut mana yang ingin dia beli. "
" Tidak di sangka, ternyata kita bertemu di sini ya? anak seorang mantan narapidana. "
Deg.......!
Ivi memutar tubuhnya untuk mencari pemilik wajah dari suara menyebalkan itu. Sial! rasanya dia ingin mencekik leher wanita jahanam yang tadi mengatakan suatu untuk menyindirnya. Ivi terdiam dengan tangan yang mengepal kuat. Matanya juga tajam ke arah dua orang wanita yang kini berdiri berdampingan menghadap ke arahnya.
" Jaga mulut sialan mu itu, Nona Salia. " Iya, ternyata itu adalah Salia dan juga Ibunya. Kedua wanita itu tersenyum seolah-olah begitu jijik melihat Ivi.
" Kau yang jaga mulut! setiap kali kau selalu memaki ku se enak mu. Apa kau pikir kau pantas? kau hanyalah anak dari mantan narapidana. " Salia berjalan mendekat ke arah Ivi. Dia juga tersenyum mengejek dengan tatapan sinis yang tidak teralihkan barang sebentar.
" Kenapa kau diam? kau pikir, dengan menyimpan rapat-rapat masa lalu mu, dan juga keluarga mu, kau akan aman? jangan lupa. Aku adalah Salia Marhen. Anak dari keluarga Marhen yang memiliki banyak koneksi di negara ini. "
" Lalu? kau pikir aku akan merasa takut? jangan mimpi! cari saja apa yang ingin kau cari tahu dari ku. Tapi satu hal yang harus kau ingat. Semakin banyak kau tahu, semakin besar juga luka yang akan kau dapatkan. " Ivi masih menatap Salia dengan tatapan dingin. Benar, dia sama sekali tidak merasa takut jika ada yang mengetahui masa lalunya dan juga status salah satu orang tuanya sebagai mantan narapidana.
Salia mengepalkan tangannya kesal. Padahal sudah susah payah selama ini meminta orangnya untuk mencari kelemahan Ivi. Tapi sepertinya gadis itu benar-benar tidak terlihat takut. Malah sebaliknya, saat Ivi mengatakan jika semakin banyak tahu, maka akan semakin banyak luka yang akan dia dapat, hatinya terasa bergetar. Tidak tahu dari mana asal keberanian Ivi yang luar biasa itu. Tapi satu hal yang tida akan bisa dia terima, yaitu kalah dari gadis miskin tidak tahu diri, ditambah lagi hanyalah seorang anak dari narapidana.
" Kau bisa saja tidak takut. Tapi bagaimana dengan Nathan dan keluarganya? kau pikir mereka akan menerima mu setelah mengetahui ini? " Sinis Salia lalu tersenyum mengejek.
" Pft.....! " Ivi menahan tawanya karena merasa jika ucapan Salia sangatlah tida masuk akal.
" Dengar, Salia. Ayah dan Ibu mertuaku jauh lebih berpengaruh dibanding keluarga mu. Jika kau saja bisa menemukan secuil dari rahasia masa lalu ku, bagaimana mungkin Ayah dan Ibu mertua ku tidak tahu? "
" Sudah lah, Nak. Perempuan seperti dia tidak akan paham dimana tempatnya. Kita hanya perlu mengembalikan dia ke habitatnya saja. "
Habitat? Ivi manatap tajam Nyonya Marhen yang tak kalah menyebalkan dari anak nya itu. Bagaimana bisa dia menggolongkan Ivi dengan binatang? hah! tidak bisa dibiarkan ternyata mulut orang tua itu. Batin Ivi bergerundel.
" Nyonya Marhen yang terhormat, hari ini saya benar-benar menyadari sesuatu. Ternyata, hanya nama keluarga anda yang terhormat, tapi mulut dari pemilik nama itu sungguh sangat jauh dari kata terhormat. Anda itu kan sudah tua, jangan terlalu banyak membuang waktu untuk hal seperti ini. Sudah tua harus tahu diri juga loh. "
Tentu saja Nyonya Marhen kesal mendengarnya. Meskipun Ivi mengucapkannya dengan bada bicara yang biasa, tapi kata-katanya sungguh luar biasa mengaduk emosi.
Bukanya marah, Ivi justru semakin terbahak-bahak hingga sisi matanya mengeluarkan air mata.
" Dasar gila! Ibu mu di hina, dan kau masih bisa tertawa? " Salia menggeleng heran.
" Awalnya aku tidak tahu bagaimana mendeskripsikan tentang Ibu kandungku. Tapi berkat anda, saya jadi bisa menggolongkannya. Ibu tidak tahu diri, tidak tahu malu, menjijikkan, dan apa lagi ya? " Ivi sama sekali tidak terlihat marah. Dia malah sibuk mencari kata-kata hinaan untuk Ibunya sendiri.
" Aku rasa, Ibu mu pasti menyesal telah melahirkan mu. " Ujar Salia yang tidak bisa paham. Bagaimana bisa seorang anak malah tertawa bahagia
saat Ibunya di hina?
Ivi kembali menatap Salia dan Nyonya Marhen bergantian. Sungguh, rasanya dia ingin sekali menarik rambut dua orang itu, memutarnya tubuhnya di udara seperti kincir angin dan melemparkannya ke angkasa.
" Kau salah, Nona Salia yang katanya sih terhormat. Jika ada penyesalan, maka aku adalah orang yang paling menyesal, Karena telah dilahirkan oleh Ibu yang sama sekali tidak tahu diri. "
" Wah, bagus sekali. " Salia mengeluarkan ponsel. Ternyata sedari tadi dia merekam pembicaraan mereka bertiga.
" Menurut mu, Bagaiamana pendapat Nyonya besar Chloe kalau mengetahui sifat asli mu? "
Ivi tersenyum mengejek lagi-lagi.
" Apa kau sedang mengancam ku? ku beri tahu ya? bahkan memukul mu di hadapan nenek saja aku berani. "
" Kau benar-benar monster! " Ucap Salia kaget dan juga marah. Padahal sudah sejauh ini, tapi Ivi sama sekali tidak bisa diancam.
" Oh, kau tidak tahu ya? sebenarnya, aku dilahirkan oleh seorang monster. " Ivi menyeringai setelah mengucapkan itu.
Nyonya Marhen menatap Ivi heran sembari menggelengkan kepala.
" Kalau kau adalah putriku, aku pasti akan menampar wajah mu sampai kau sadar. "
Ivi menatap tajam manik mata Nyonya Marhen.
" Menjijikkan! mendengar kata-kata mu aku sangat jijik. Untunglah, aku bukan putrimu, dan tidak akan pernah mnejadi putri mu. "
To Be Continued.