Touch Me!

Touch Me!
S2- Bujuk aku!



Hari ini adalah hari yang menambah semangat bagi seorang gadis yang tak lain adalah Silvi atau yang biasa dipanggil Ivi. Setujunya sang Ayah untuk dirawat, membuatnya semangat untuk mencari uang. Syukurnya, mulai dari hari ini dia juga mendapatkan pekerjaan paruh waktu yang hanya memakan waktu tiga jam saja. Pekerjaan yang hanya harus membagikan brosur dan tidak terlalu menguras tenaga.


" Ayah, semoga semangat untuk Ayah sembuh, sama seperti semangat kami untuk mencari biaya pengobatan Ayah. " Ivi tersenyum lalu mulai menjalankan sepeda motornya. Dia memang sudah menyepakati perjanjian lisan dengan Sammy, tapi dia juga tidak mau mengandalkan Sammy yang belum menghubunginya lagi.


Bukan hanya Ivi, kali ini juga Dodi sebagai anak pertama apalagi dia adalah seorang laki-laki yang seharusnya mengambil peranan yang lebih penting dalam hal ini. Sama seperti Ivi, Dodi juga mulai mencari pekerjaan sampingan untuk mendapatkan penghasilan yang lebih dari biasanya. Entah itu akan menyita banyak waktu untuk istirahat, baik Dodi ataupun Ivi tidak memperdulikannya lagi. Karena ada hal yang jauh lebih penting dari appaun. Yaitu, kesembuhan Ayah.


Seperti biasa, hari ini Ivi menjalankan pekerjaannya dengan semangat yang membara. Dia bahkan tidak menolak satupun tips yang diberikan customer kepadanya. Karena biasanya Ivi tidak pernah menerima uang tips yang diberikan kepadanya.


Hari yang semangat juga menjadi milik Dodi kali ini. Pekerjaannya sebagai seorang marketing memang membutuhkan kesabaran dan kerja keras yang luar biasa. Tapi untunglah, semangat dan kesabarannya bertambah banyak karena keadaan yang memaksa nya.


Jika Ivi dan Dodi melalui hari dengan semangat, tapi tidak untuk seorang pria tampan yang kini tengah merengut sebal.


" Hei, Nathan! mau sampai kapan bibir mu mengerucut? sudah seperti anak gadis yang sedang patah hati saja. " Ujar Sammy yang juga sudah mulai sebal. Bagaimana tidak? hari ini Tuan dan Nyonya besar Chloe datang untuk membahas perjodohannya dengan Salia Marhen. Wanita yang terakhir kali Nathan temui.


" Terserah aku dong! mau mengerucut, atau apapun itu memang apa urusannya dengan mu?! kau kan tidak berada di posisi sulit seperti ku, mana mungkin kau bahagia harus dipaksa menikah dengan gadis asing. " Jawab Nathan kembali menatap sebal dinding yang terbuat dari kaca.


" Nathan, bagaimana kalau kau menikahi Ivi? "


Nathan memutar kursinya menatap Sammy dengan tatapan terkejut.


" Tukang ayam goreng itu? "


Sammy mengangguk dengan wajah yang tersenyum manis.


" Kau gila ya?! "


Sammy menghela nafas kasarnya. Memang sulit untuk menyadarkan Nathan apa yang sebenarnya hatinya rasakan. Dia masih belum menyadari jika sebenarnya dia tertarik dengan Ivi. Bertengkar lama pun dia sampai tidak menyadari kan?


" Kalau tidak mau ya sudah. Aku juga tidak memaksa kok. Itu hanya usulan, jangan terlalu di ambil hati. Lagi pula dia juga tidak menyukai mu Kok. " Sammy duduk dengan tenang lalu mengeluarkan ponselnya agar terlihat sibuk.


" Kau ini kenapa begitu frontal dalan berkata-kata. Bagaimana mungkin dia tidak menyukai ku?! " Protes Nathan.


" Ya sudah, tida usah dibahas lagi ya? kalian kan sama-sama tidak suka. Jadi tidak ada yang perlu di pertimbangkan lagi. " Ucap Samy tanpa mau menatap wajah Nathan.


Nathan menarik nafasnya dengan perasaan marah dan kesal. Dia sudah menggerakkan bibirnya mengomel tidak jelas. Tapi hanya sebatas itu, karena sebenarnya Nathan berharap kalau Sammy akan merayunya dan memohon. Dengan begitu kan dia bisa terlihat terpaksa menyetujuinya.


Sialan kau siluman babi! harusnya kau membujukku lebih keras lagi! kenapa kau seperti enggan membujuk ku? ini kenapa tidak seperti dirimu yang biasanya kan?!!!


Sammy sebenarnya ingin sekali menahan tawa. Tapi dia pun ingin sekali merasakan bagaimana Nathan akan memohon padanya seperti kucing yang tengah mengemis tulang ikan. Didalam imajinasi Sammy saat ini adalah Nathan yang memegangi ke dua kakinya dengan wajah memohon, mata yang digenangi air mata, bibir yang menjebik sedih, hidung yang mengeluarkan ingus, rambut yang berantakan, bahkan dia sampai mencium sepatunya.


Gila! hanya dengan membayangkannya saja, rasanya begitu membahagiakan. Ah! aku bersumpah akan menjadi biksu kalau itu benar-benar terjadi.


Sammy sejenak mengangkat kepalanya untuk mencuri pandang. Tapi sial! tatapannya tak sengaja bertemu dengan tatapan tajam Nathan. Nathan mengangkat sebelah alisnya sembari menatap penuh harap kepada Sammy. Tentulah dia tahu apa maksud dari tatapan itu.


Cih! dia pasti sedang menungguku untuk memohon, kan? mimpilah sana! dasar kampret busuk!


Nathan semakin lama menjadi semakin tidak sabar. Dia bahkan sudah mengeraskan rahangnya karena kesal menunggu Sammy yang tak kunjung membujuknya.


Nathan menatap Sammy dengan tatapan menunggu, bibirnya juga hampir tertarik untuk tersenyum girang karena sebentar lagi, Sammy pasti akan segera membujuknya untuk menikahi Ivi.


" Bagai mana kalau kau mencoba untuk berkencan dengan Salia Marhen itu. Lama kelamaan pasti akan tumbuh cinta. " Sammy tersenyum di akhir kalimat lalu kembali fokus dengan ponselnya.


Sungguh, ini benar-benar membuat Nathan semakin kesal dan kesulitan menahan diri untuk tidak marah. Tapi dari pada marah, bukankah lebih baik menggertak si siluman babi yang s semakin lancang itu?


Nathan tersenyum menatap Sammy yang masih berpura-pura sibuk dengan ponselnya. Dengan santainya Nathan membenahi duduknya dan tersenyum ke arah Sammy. Dia mengeluarkan ponselnya. Semetara Sammy mengeryit karena tak terdengar lagi suara Nathan atau bahkan suara nafas kesal Nathan yang biasanya menderu dan terdengar di seluruh ruangan.


" Selamat siang, Be. "


Sammy sontak mengangkat kepalanya dan menatap Nathan kaget. Karena Be yang Nathan sebut, adalah Berly. Wanita pujaannya yang belum bisa ia raih meski tenaganya sudah hampir terkuras habis.


" Be, kau tahu? aku masih saja dipaksa menikah. " Nathan tersenyum menatap Sammy yang kini sudah menatap dengan tatapan memohon.


" Kau adalah sahabat terbaikku. Kita pernah saling mencintai di masa kecil. Meskipun kau menyebutnya hanya cinta monyet, bisakah kau membuatnya menjadi cinta kingkong? maksud ku, cinta manusia begitu. "


Sammy langsung merebut ponsel Nathan dan mengambil alih pembicaraan mereka.


" Halo Bebe ku sayang, jangan percaya ucapan siluman kera itu ya? kau tahu kan? selain dia siluman kera, dia adalah raja iblis. Kau tidak boleh mempercayainya, halo? halo? Be?!! " Sammy menahan tangis sembari menatap ponsel Nathan yang sambungan teleponnya sudah diputus oleh Berly.


Nathan tersenyum melihat Sammy yang begitu sedih. Inilah salah satu kebahagian yang tidak bisa Nathan beli dengan uang. Melihat Sammy tak berdaya karena cinta yang bertepuk sebelah tangan. Haha! itu menyenangkan sekali. Batin Nathan senang.


Perlahan-lahan Sammy merosot kebawah dengan lutut yang menyentuh lantai untuk menopang tubuhnya. Sammy mengatupkan kedua telapak tangan, matanya menatap pilu, hidungnya juga kembang kempis menahan tangis, bibirnya juga mencebik sedih. Terpaksa sudah dia memohon seperti biasanya agar Nathan tidak melakukan hal yang tentulah akan mematahkan hatinya meskipun memang sudah sering dipatahkan oleh Berly.


" Nathan, kau adalah manusia yang paling baik dan pengertian. Kau tahu kan? aku sangat mencintai Berly? aku mohon jangan menikah dengannya. Ya? please....


Nathan menghela nafas dengan wajah yang ia buat seolah tengah berpikir mempertimbangkan permintaan Sammy.


" Berly adalah gadis yang tida asing bagiku. Aku tidak memiliki pilihan lain selain dia. "


" Ada! ada gadis lain yang sesuai dengan selera mu, Nathan yang paling tampan sejagad raya. "


" Siapa? "


" Ivi! dia memang masih asing. Tapi aku yakin sejuta persen, kalau kau pasti akan cocok dengannya. "


" Bagaimana ya? " Nathan berpura-pura berpikir tapi sengaja dia memperlihatkan ekspresi keberatan.


Sammy langsung menyentuh kedua kaki Nathan dan terus saja memohon dengan begitu menyedihkan. Ya ampun, Nathan benar-benar bahagia karena itu. Dia memang sahabat terlaknat ya?


" Baiklah, karena kau terus memaksa, aku akan memikirkannya. "


Dasar siluman kera! ini kan yang kau mau?


To Be Continued.