Touch Me!

Touch Me!
Nathan Putraku



Di malam hari, Nath membaringkan tubuhnya di ranjang tidurnya. Dia asyik berceloteh kesana kemari. Dia banyak bercerita dengan seseorang diseberang teleponnya.


' Kau tahu, Nathan? Ayah juga sepertimu saat kecil. Kita banyak memiliki kesamaan. ' Nath tersenyum mengingat wajah Nathan yang memang begitu mirip dengannya. Bahkan, saat berekspresi pun, benar-benar sangat mirip dengannya.


' Benarkah? apa aku harus merasa senang? " Nathan tersenyum. Iya,dia benar-benar bahagia. Dia sendiri tidak menyangka kalau pada akhirnya, dia sama seperti anak-anak yang lainya. Memiliki Ayah dan Ibu. Hanya saja, keadaan mereka yang belum dipersatukan oleh takdir.


' Apa kau tidak senang karena mirip Ayah? ' Nath.


' Aku tidak tahu. ' Nathan.


' Nathan, ayo kita bertemu besok. ' Nath.


' Dimana? ' Nathan.


' Ayah akan menjemputmu. Kita pergi ke Mall X. ' Nath.


' Untuk apa? ' Nathan.


' Ayo kita jalan-jalan dan membeli beberapa barang untukmu. ' Nath.


' Ibu ku akan curiga. Aku kan tidak memiliki banyak uang di celengan. Bagaimana jika Ibu bertanya? dari mana barang yang aku bawa pulang?


' Kau bisa bilang menang lotre kan? ' Nath.


' Apa Ayah pikir, Ibu ku sebodoh itu? ' Nathan.


' Ayo pikirkan alasan yang lain. ' Nath.


' Tidak perlu. Kita bisa pergi, tapi tidak perlu membeli barang. ' Nathan.


' Kenapa? apa Ibumu orang kaya? apa kau tidak kekurangan apapun? ' Nath.


' Ibuku memiliki tabungan yang lumayan banyak. Tapi tidak sekaya Ayah. ' Nathan.


' Benarkah? lalu bagaimana dengan makanan yang kau makan? ' Nathan.


' Semuanya tentangku sangat baik. Makanan, pakaian, pendidikan, lingkungan dan yang lainya, Ibu sangat mementingkan aku. Jadi tidak perlu kuatir. ' Nathan.


' Jadi begitu ya? syukurlah... Ternyata, Ibumu sangat menyayangimu. Ayah jadi merasa lega. ' Nath.


' Iya, Ibu menyayangiku lebih dari rasa sayang Ibu kepada Ayah. ' Nathan.


Nath terdiam sembari berpikir. Rasa sayang kepadaku? apa kami sedekat itu? pikirannya mulai melayang memikirkan dan mencari tahu apa yang terjadi di masa lalu. Bagian manakah yang Nath lupakan? jika bukan Mage? lalu siapa? Mage adalah wanita pertama yang pernah tidur bersamanya. Selain itu, Nath dengan jelas mengingat, tidak ada satupun wanita yang dekat dengannya selama ada Mage dihatinya. Selain dia yang menjaga jarak, Mage juga selalu disamping Nath. Jadi, mana mungkin ada wanita lain yang bisa melahirkan anaknya.


Lama Nath terdiam hingga tak sadar, jika putranya sampai tertidur dengan sambungan telepon yang masih terhubung. Nath tersenyum setelah beberapa kali mengucapkan kata, ' Hallo, hallo,...


" Selamat tidur nak. Mimpi yang indah. Ayah menyayangimu. " Nath mengakhiri sambungan teleponnya.


" Siapa? siapa Ibunya Nathan? bahkan, anak kandungku sendiri masih ingin merahasiakannya. Kevin bilang, bukan Mage. Lalu siapa? aku bahkan selalu menggunakan pengaman saat bersama Mage. Apa wanita itu mencuri benih ku?


Nath sontak bangun dari posisinya. " Iya, dia pasti mencuri benihku. Apa dia salah satu wanita gila yang mengejar-ngejarku di kampus dulu? kalau iya, kapan dia melakukan hal gila semacam itu?


Nath kembali menjatuhkan tubuhnya. " Apapun caranya, sekarang sudah ada Nathan dalam hidupku. Aku hanya perlu mengakuinya sebagai anakku.


Nath, perlahan mulai menutup mata. Tenang dan berdamai dengan kenyataan adalah pilihan paling tepat saat ini. Kalau tidak, tidak tahu kapan dia bisa menutup mata dan mulai melangkah ke indahnya dunia mimpi. Apalagi, ada Vanya yang hadir di mimpinya. Sudah pasti dia tidak mau bangun untuk kembali ke dunia nyata.


Esok harinya....


Nath menjemput Nathan di lokasi yang sudah Nathan tentukan. Dengan sigap, dia menghampiri putranya menggandeng tangannya dan membukakan pintu untuknya. Sikap seorang Ayah muncul secara tiba-tiba begitu melihat putranya.


" Kau sudah menunggu lama? " Tanya Nath sembari membantu Nathan memasangkan sabuk pengaman.


" Tidak. Aku juga baru sampai. " Jawab Nathan sembari menatap wajah Ayahnya yang begitu dekat. Debaran jantungnya juga semakin kencang. Setiap hari, dia selalu mencubit pipinya untuk memastikan, apakah dia bermimpi atau tidak? perasaan bahagia yang ia rasakan saat ini juga membawa rasa takut akan kehilangan.


" Nah, sudah selesai. Ayo kita berangkat. " Ucap Nath dengan senyum yang terlihat begitu bahagia.


Nathan juga tersenyum. Yang dia baca di artikel, Presdir Nath yang tak lain adalah Ayahnya, jarang sekali tersenyum. Tapi yang Nathan rasakan, dia justru tidak pernah melihat Ayahnya yang dingin seperti di katakan beberapa artikel itu.


Sesampainya di sebuah Mall. Nath dan Nathan memainkan beberapa permainan bersama. Hampir semua pasang mata tertuju padanya. Ayah dan anak yang terlihat sangat kompak. Apalagi, wajah mereka yang memang cenderung mencuri perhatian banyak orang.


Setelah lelah bermain, Nath dan Nathan memutuskan untuk membeli beberapa pakaian.


" Pilihlah,.. semua barang yang kau suka, akan Ayah bawa pulang. Ayah sudah menyiapkan kamar untukmu. Sebenarnya, sudah Ayah sediakan fasilitas selengkapnya. Tapi, Ayah ingin berbelanja bersamamu. Tidak apa-apa kan?


Nathan tersenyum dan mengangguk. Jujur saja, dia tidak terlalu menyukai tempat yang ramai seperti ini. Tapi, saat pergi bersama sosok Ayah, ternyata lumayan menyenangkan.


Ibu, seandainya juga disini, pasti akan lebih bagus lagi.


Nathan mulai memilih beberapa pakaian. Nath menatap nya dari jarak yang agak jauh. Melihat putranya sibuk dengan wajah yang amat serius, membuat bibirnya tak henti tersenyum.


Nak, entah bagaimana mengungkapkan perasaan Ayah saat ini. Yang pasti, terimakasih telah hadir di dunia ini. Terimakasih karena menerima Ayah dengan baik. Ayah akan membahagiakan mu. Dan semoga, kau akan menyukai Vanya sebagai Ibu tiri mu. Dia adalah wanita yang baik. Aku yakin, dia akan menyayangimu sama seperti dia menyayangi putranya sendiri.


" Nath,... " Suara seorang wanita mengalihkan fokusnya. Nath menatap sosok yang mulai berjalan mendekat.


" Mage? " Mage tersenyum saat jarak diantara mereka sudah dekat. Nampak dua tas belanja yang tengah Mage tenteng di tangan kanan dan kirinya.


" Apa yang kau lakukan ditempat pakaian anak-anak, Nath?


Nath terdiam sesaat. Akankah mengatakan yang sebenarnya? atau harus berbohong? " Menemani anakku membeli pakaian.


Akhirnya, dengan segenap pertimbangan yang sejenak ia pikirkan, ia memilih untuk mengatakan yang sebenarnya. Lagi pula, Nathan adalah putranya. Akan sangat menyakitkan jika ia tidak mengakuinya kan?


" Anak? " Mage menatap Nath bingung. Sorot matanya menuntut jawaban dari Nath


" Iya. Aku menemani putraku. " Nath kembali menatap putranya yang kini sedang mencoba kaca mata hitam. Nath tersenyum melihatnya.


Nathan menurunkan dan menaikkan kaca mata hitam yang bertengger di wajahnya itu beberapa kali.


" Apa dia memiliki sifat narsis seperti itu? " Gumamnya tanpa mengalihkan pandangan dari Nathan.


" Nath, apa kau begitu ingin menjauhiku? sampai-sampai kau berbohong?


To Be Continued.