Touch Me!

Touch Me!
S2- Bride's first night



Malam pertama, adalah malam yang paling dinanti-nanti kan bagi sepasang suami istri yang baru saja menikah. Biasanya, mereka akan saling mengungkapkan rasa cinta dengan cara mereka sendiri. Saling membelai memberikan sentuhan-sentuhan hangat penuh cinta, dan saling merona karena malu menghadapi malam pertama pernikahan. Tapi, sepertinya tidak berlaku bagi pasangan yang satu ini.


" Satu, dua, tiga! "


" Yes!!!! aku memang! " Nathan tersenyum bahagia. Kenapa? karena mereka sedang melakukan suit untuk merebutkan antara sofa dan ranjang untuk mereka tidur.


Ivi terperangah kesal. Ita tentu saja dia kesal. Karena dia harus tidur di sofa yang ada di dekat jendela.


" Ah! tidak mau! ayo kita ulangi lagi! "


" Tidak mau! " Nathan lekas membaringkan tubuhnya dengan posisi miring membelakangi Ivi. Tal lupa juga dia merah selimut tebal untuk melindungi tubuhnya dari suhu ruangan yang begitu dingin tidak seperti biasanya.


Ivi dengan berat hati berjalan menuju sofa. Dia juga membawa selimut tebal untuknya melindungi tubuhnya ya g belum terbiasa tidur dengan ruangan yang sedingin itu.


Jeder.......!


Baru saja Ivi akan memejamkan mata, suara petir yang menggelegar mengiringi hujan yang deras datang membasahi bumi. Ah, sialnya ruangan ber AC itu terasa sangat dingin. Bahkan Ivi mengira jika kamar Nathan adalah lemari pendingin raksasa.


Perasaan takut, juga dingin yang amat sangat menyakitkan kulit, akhirnya perlahan Ivi berjalan menuju tempat tidur Nathan yang masih tersisa banyak ruang kosong. Dia sempat melihat Nathan terlebih dulu, dan untunglah, si pria menyebalkan itu sudah tertidur pulas.


" Ah....! nyaman dan hangat. " Ujar Ivi setelah membaringkan tubuhnya disamping Nathan dan sudah berada di balik selimut yang sama.


Hujan sederas ini, kenapa harus datang bersamaan dengan petir yang begitu menakutkan?


Ivi mencengkram kuat selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Biasanya, saat hujan seperti ini, Ayah dan Ibunya Ivi akan datang dan menemaninya tidur sembari mengatakan, Semua baik-baik saja, sayang. Tapi hari ini, mereka tidak ada disampingnya.


Ayah, Ibu dan kakak, kalian pasti mengkhawatirkan ku. Meskipun aku ingin mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku baik-baik saja, tapi aku tetap takut. Ayah, Ibu, siapa yang akan mengatakan kata-kata itu sekarang?


Ivi menoleh lalu memiringkan tubuhnya menghadap punggung Nathan. Terbesit di dalam hatinya, apakah pria menyebalkan yang katanya adalah suaminya itu bisa menggantikan apa yang dikatakan oleh kedua orang tuanya di saat seperti ini?


Jeder..... Jeder......


Ivi semakin meringkuk ngeri. Sudah mencoba untuk selalu mengatakan kepada dirinya bahwa semua akan baik-baik saja. Tapi sayang nya, kata-kata itu tidak mempan untuk dirinya sendiri. Suara petir semakin bersahutan hingga Ivi tidak tahan lagi lalu memeluk Nathan dari belakang dengan erat.


Nathan tersenyum tapi tidak berani terlalu berani membuat pergerakan. Sebenarnya, sedari tadi dia tidaklah bisa tidur. Rasanya ingin meminta Ivi untuk tidur disampingnya, tapi dia takut kalau Ivi akan salah paham dan menganggapnya mengharapkan sesuatu. Yah, meskipun benar begitu, tapi kan gengsi Nathan masih lah terlalu tinggi.


Ivi semakin erat memeluk Nathan saat petir terus saja menggelegar seraya derasnya air hujan yang tumpah membasahi tanah.


Apa dia takut petir?


Nathan akhirnya mengalahkan egonya dan membalikkan tubuhnya. Benar saja, Ivi kini tengah menutup nata hingga dahinya mengkerut karena terlalu kuat memejamkan mata. Ivi yang sedang ketakutan tak menyadari jika Nathan kini tengah menatapnya meski dia tahu Nathan sempat bergerak.


" Tidak apa-apa. Ini hanya hujan dan petir. Tidak usah takut. Semua akan baik-baik saja. "


Sontak Ivi membuka matanya. Dia benar-benar tidak menyangka kalau manusia menyebalkan yang kini menjadi suaminya itu bisa mengatakan apa yang memang ingin dia dengar.


" Dengar ya, aku pinjam tubuh mu malam ini saja. Ingat! aku hanya meminjam saja. " Ucap Ivi dan langsung beringsut ke dalam tubuh Nathan dan memeluknya erat.


Apa-apaan ini? jantungku, jantungku kenapa berdebar seperti ini?


" Nathan, dada mu mengeluarkan bunyi. "


Nathan yang merasa malu langsung saja menjauhkan tubuh Ivi darinya.


" Omong kosong! jantung ya sudah pasti berdetak. Kau pikir, aku ini Vampir apa? " Protes Nathan. Untunglah, lampu utama sudah dimatikan. Jadi tidak akan terlihat rona merah di wajah Nathan.


Ivi mendengus tapi tal berniat lagi membantah karena Nathan sudah langsung memunggungi nya lagi.


" Nathan, " Panggil Ivi sembari menoyor punggung Nathan. Sayang, yang dipanggil memilih untuk diam dan memejamkan mata meskipun dia tidak mengantuk.


" Nathan? " Panggil lagi Ivi dan menepuk pundak Nathan. Tapi lagi, pria itu masih tak mau bergeming. Ivi menghela nafas kasarnya. Dia menatap tajam punggung Nathan, menaikkan sebelah alisnya, lalu menyunggingkan sisi bibirnya.


Plak...!


" Ah....! sakit! " Pekik Nathan sembari memegangi pantatnya yang di tepak oleh Ivi.


" Kau sudah gila ya?! " Protes Nathan seraya bangkit lalu menatap tajam Ivi.


" Salah mu sendiri! aku kan sudah memanggil mu dengan lembut tadi. " Ujar Ivi yang tentu saja tak mau kalah dari Nathan.


" Seharusnya, kau paham kalau aku malas menyahut panggilan mu. " Nathan berucap sembari terus mengusap bagian yang terasa panas karena pukulan dari Ivi.


" Ya sudah, maaf. Sini, biar aku saja yang mengusap pantat mu. "


" Pantat? ba bagaimana kau bisa mengatakan hal semacam itu dengan begitu santai?! " Pekik Nathan yang entah mengapa dia merasa malu sendiri.


" Memang kenapa? hanya mengusap pantat, itukan bukan masalah. "


Nathan kembali terperangah membayangkan bagaimana rasanya jika Ivi benar-benar menguap pantatnya. Ah....! tidak! tidak! Nathan langsung menggelengkan kepala untuk mengusir pikiran kotor itu.


" Bagaimana? " Tanya Ivi.


" Apanya?! "


" Mau ku usap pantat mu? "


" Diam! " Bentak Nathan yang justru membuat Ivi bingung.


" Tidurlah! ini sudah malam. "


" Aku tidak bisa tidur. "


" Lalu? "


" Temani aku ya? please...."


Nathan menghela nafasnya.


" Apa yang akan kita lakukan sekarang? "


" Me melakukan apa? " Tanya Ivi yang justru merasa gugup.


Nathan mendekatkan wajahnya di wajah Ivi. Tentulah Ivi kaget dan melotot tapi anehnya, dia tidak memundurkan wajahnya.


" Bagaimana kalau kita bertarung? "


" Ber bertarung? apa maksudnya? "


" Tenang saja, kita akan bertarung di atas ranjang. "


" Hah? " Ivi melongo membayangkan apa yang dimaksud Nathan dengan kata Bertarung di atas ranjang. Sekarang Ivi tengah membayangkan Nathan yang perlahan melucuti bajunya. Mulai dari tubuhnya, dan sialnya, tubuh Nathan yang ada di bayangannya benar-benar sempurna. Hingga pada akhirnya Nathan hendak membuka celananya.


" Ah, terus! terus! cepat! cepat! "


" Apa yang kau katakan? " Tanya Nathan yang bingung kenapa Ivi tiba-tiba mengatakan itu.


" Hah?! " Ivi menelan salivanya sendiri karena malu dengan apa yang ada di dalam otak kotornya tadi.


" Bu, bukan apa-apa. "


" Lap dulu air liur mu! " Titah Nathan.


Ivi menyentuh bibirnya, dan iya. Begitu memalukan sekali karena benar-benar ada air liur disisi bibirnya.


" Ini. " Nathan mengajak Ivi untuk bermain Ludo bersama.


Hah? jadi ini yang dia maksud bertarung di atas ranjang? sialan! aku yang salah paham atau dia yang salah menyebutkan sih?!!!


" Dengar, siapa yang kalah, akan mendapat cubitan di lengan. Kau mengerti? " Ivi mengangguk.


" Ah! sakit Nathan. Yes, akhirnya masuk. Ah! ayo kita main beberapa ronde lagi!. Ah, ini tida cukup!. Aku belum masuk!. Ayo lakukan sekali lagi!. Bagaimana kalau sampai pagi saja?. Itu ide bagus. "


Dan pada akhirnya, suara dari permainan Ludo itu disalah artikan oleh beberapa orang yang mencuri dengar dibalik pintu kamar Nathan.


" Kakak pertama menyeramkan sekali ya? " Ujar Nathalie.


" Sepasang siluman kera itu kenapa begitu semangat sih? aku sampai merinding. " Ujar Sammy sembari memegangi dadanya karena masih tidak percaya akan mendengar semua itu.


" Aku jadi ingin cepat menikah deh. " Ujar Nathania.


" Ayo ke kamar, sayang. " Ajak Nath kepada istrinya.


To Be Continued.