
TIGA HARI KEMUDIAN.
Kevin, Lexi, Sherin dan Vanya, kini mereka sedang berada di apartemen Sherin. Berly dititipkan di Unit Vanya. Selain bersama Nathan, Unit Vanya, adalah tempat yang paling aman. Jadi tidak perlu khawatir meninggalkan adik cerewetnya disana. Maklum saja, semua orang yang menjaga Nathan, adalah orang-orang hebat.
" Jadi, apa yang sebenarnya terjadi dengan Nathan? " Tanya Vanya yang masih menunggu kabar dari kedua pria yang duduk berseberangan dengannya dan Sherin.
" Nath, mungkin tidak akan sama seperti Nath yang sebelumnya. " Ujar Lexi. Dia mencoba berbicara dengan nada yang begitu lembut. Maklum saja, wanita dihadapannya ini sangat menakutkan. Iya, menakutkan. Karena Vanya, dapat mengendalikan seorang Nath. Sosok yang selalu membuatnya melatih kesabaran setiap hari.
" kenapa? " Tanya Vanya yang semakin bingung.
" Kemungkinan besar, dia tidak akan mengingat mu. " Timpal Kevin.
" Apa sih maksudnya? " Vanya malah semakin bingung dengan penjelasan yang tidak masuk akal.
" Nath, dia ditipu oleh kedua orang tuanya. Mereka mencuci otak Nath. Atau yang kita kenal dengan hipnotis.
Vanya terdiam lemas. Sungguh, dia benar-benar terkejut hingga tak mampu mengekspresikan dengan wajahnya.
" Vanya, aku tahu kau sangat sedih, tapi,
" Aku bukan sedih! tapi aku marah! " Pangkas Vanya yang langsung membungkam mulut Lexi. Benar-benar, Lexi sudah tidak mau lagi melanjutkan kata-katanya lagi.
" Jadi Vanya, ini saatnya kau berjuang membawa Nath kembali. Kembali, ke sisi mu. " Ujar Kevin.
Vanya menatap Kevin tegas. Membuat orang yang mendapatkan tatapan semacam itu langsung terdiam.
" Dasar kurang kerjaan! Cih! mereka pasti sangat mengagungkan aku ya? " Kesal sih, tapi Vanya bukan orang yang akan membabi buta saat merasa kesal.
" Maksudmu? " Tanya Sherin yang tidak mengerti arti ucapan Vanya.
" Iya, mereka sangat takut denganku. Sampai-sampai melakukan tindakan bodoh seperti itu.
Mereka mengangguk tanda menyetujui.
" Lalu, Vanya. Apa rencana mu selanjutnya? " Tanya Kevin yang sudah mulai bisa mengkondisikan suasananya. Ternyata, Vanya adalah sosok yang kuat. Kevin pikir, Vanya akan menangis tersedu-sedu. Oh, bahkan Kevin pikir, Vanya akan berguling-guling di atas air matanya.
" Rencana ku ya pikirkan besok saja. " Jawab Vanya yang sedari tadi menjawab dengan wajah kesal.
" Vanya, kenapa kau kesal? bukankah, seharusnya kau sedih? " Tanya Sherin yang merasa aneh dengan tanggapan Vanya.
Vanya menghentakkan kepalan tangannya di meja. Membuat gelas yang berada di atasnya berbunyi serempak.
" Andai saja.... " Ucap Vanya.
" Andai saja, apa? " Tanya lagi Sherin yang penasaran.
Vanya menatap Sherin tegas. " Andai saja, sebelum Nath berangkat aku memotong tongkat ajaibnya!
Kevin dan Lexi kompak menelan salivanya yang terasa sangat sulit untuk ditelan. Perlahan, Lexi menurunkan tangannya dan menutupi bagian tongkatnya. Benar-benar ngeri sekali ucapan Vanya barusan.
Sherin menutup bibirnya yang terperangah karena terkejut.
" Tidak akan ada laki-laki yang bisa di hipnotis kalau pikirannya sibuk memikirkan tongkat ajaibnya yang terpisah dari tubuhnya kan? " Tanya Vanya yang masih saja terlihat kesal.
Semoga, istriku nanti tidak seperti Vanya. Batin Kevin dan Lexi.
" Lalu, kapan Nath kembali? " Tanya Vanya lagi.
" Sudah kembali. Tadi sore. " Jawab Kevin.
" Apa?! " Vanya menatap Kevin kesal. Memang siapa yang tidak sedih dan kesal kalau suaminya dihipnotis agar melupakan istrinya?
" Lalu kau baru memberi tahuku sekarang?! " Kesal nya semakin bertambah. Dia istrinya, tapi kenapa dia menjadi orang terakhir yang diberi tahu? batinnya.
" Itu, maaf. " Ujar Kevin yang nampak pasrah.
" Maaf untuk apa? " Vanya.
" Nath kembali, bersama dengan Gaby. Kami hanya ingin menjaga perasaanmu.
" Cih! wanita siluman ini benar-benar keterlaluan! memang tidak ada laki-laki lain di dunia ini?! "
Lexi dan Kevin hanya bisa bertukar pandangan. Mereka lebih memilih diam dari pada menanggapi Vanya.
Saat pagi tiba....
Hangatnya sinar matahari mulai menyinari bumi. Burung yang berkicau membawa kedamaian dan semangat pagi. Seperti biasa, Vanya kini tengah mempersiapkan kebutuhan sekolah Nathan.
" Ibu, apa Ayah belum akan kembali? " Tanya Nathan sembari mengunyah sarapannya.
Vanya terdiam sesaat. " Keadaan disana, tidak memungkinkan untuk Ayah kembali.
" Berapa lama lagi? Ibu, aku rindu Ayah. "
Ibu juga. Tapi nak, Ayah mu sekarang, tidak mengingat kita. Bersabar nak. Ibu akan membawa Ayah kembali ke rumah ini. Karena Ayah, adalah milik kita.
" Bersabar nak. Ayah pasti merindukan kita juga. " Vanya memilih berbohong kepada putranya. Dia merasa tidak tega jika putra yang baru saja merasa bahagia karena sosok Ayah yang ia sayangi, kini melupakan mereka.
Setelah beberapa saat. Nathan dan Berly sudah berangkat ke sekolah. Dua pengawal yang menjaga mereka juga selalu bersama mereka.
Vanya terduduk di pinggiran ranjang tidurnya. Kini, ia telah menggunakan setelan baju kantor.
" Nath, sejujurnya aku takut. Bagaimana aku bisa menghadapi orang tuamu? aku bisa saja kembali kepada Ayahku. Aku yakin, dengan latar belakang Ayah, aku bisa menghadapi orang tuamu. Tapi, aku tidak mau lagi tersiksa dengan mengingat masa lalu.
Ditambah lagi, aku baru menyadari, Jika Bibi, adalah orang yang sudah membuat keluarga ku hancur. " Vanya semakin frustasi. Sejujurnya, dia hanya takut akan satu hal. Kehilangan Nathan. Dalam mimpi pun, Vanya bisa gila memikirkannya. Di dunia ini, Vanya hanya memiliki Nathan sebagai kelurganya. Jadi, Vanya benar-benar harus hati-hati. Karena keselamatan Nathan, adalah hal utama yang harus ia pikirkan.
Tok....Tok.....
Vanya bangkit dan membuka pintu saat seseorang mengetuk pintunya.
" Selamat pagi, Nyonya. " Sapa salah satu pengasuh Nathan.
" Iya, selamat pagi. Ada apa?
" Di luar ada seseorang yang ingin bertemu.
" Baiklah. " Vanya berjalan menuju ruang tamu. Entah, dia saat ini tidak perduli siapa yang datang. Karena pikirannya hanya tertuju oleh dua hal. Nath, dan Nathan.
" Vanya? " Sapa wanita paruh baya yang kini tengah bangkit dari posisinya.
Vanya yang sedang tidak fokus, hendak menjawab sembari menatap lawan bicaranya. " Selamat, pa
Deg.......!
Ucapannya berhenti saat manik mata mereka bertemu. Vanya mengerjapkan matanya beberapa kali. Dia menggosok juga matanya untuk memastikan apa yang dia lihat benar atau salah.
Iya, ini nyata. Vanya terdiam sembari menatap wanita paruh baya itu. Vanya memandanginya dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Perlahan, air matanya sudah memenuhi pelupuk matanya. Sosok yang sangat mirip dengan Ibunya kini tengah berdiri dihadapannya. Hanya saja, wanita itu terlihat sedikit menua dari Ingatan wajah Ibunya saat usia Vanya lima tahun.
" I, I Bu? " Vanya terbata-bata. Dia juga tidak mampu melanjutkan langkah kakinya yang butuh dua atau tiga langkah lagi untuk sampai di sofa duduk.
Wanita paruh baya itu tersenyum. Ada genangan air mata yang memenuhi pelupuk matanya. Wajah cantik itu tetap mencoba selalu tersenyum meski tengah menahan diri untuk tidak menangis.
" Meski aku benci mengakuinya, tapi aku bukanlah Ibu mu, Vanya. " Ujar Wanita paruh baya itu. Dia masih tetap tersenyum. Meski Vanya bisa melihat. Dia sedang menahan diri untuk tidak menangis.
To Be Continued.