
Setelah menemui Dokter, akhirnya Ivi dan Nathan memutuskan untuk kembali ke rumah. Tidak ada percakapan yang aneh, mereka hanya berbicara mengenai obat-obatan fan keluhan dari tubuh mereka masing-masing. Untunglah, mereka sudah sarapan tadi,dan sekarang waktunya untuk meminum obat dan kembali tidur. Tidak ada lagi yang memperebutkan antara ranjang tidur dan sofa duduk, mereka hanya akan tidur di ranjang tidur agar menghindari keparahan kondisi tubuh mereka yang memang sedang tidak sehat.
Sebelum tidur, Ivi menjengkali lebar kasur Nathan dan meletakkan guling di tenagh-tengahnya.
" Total panjang tempat tidur adalah tiga belas jengkal. Kau tujuh jengkal dan aku enam jengkal. Ini batasan nya ya? "
Nathan terperangah menatap guling itu dan Ivi bergantian. Rasanya ingin marah, tapi matanya sudah benar-benar mengantuk karena pengaruh obat yang ia minum tadi.
Terserah saja lah.
Tak butuh waktu lama akhirnya mereka mulai tertidur lelap.
Diruang keluarga.
" Kakak pasti sedang anu-anu ya Li? " Tanya Nathania yang sedari tadi celingukan menunggu Ivi dan Nathan keluar dari kamar.
" Sepertinya begitu. " Ujar Nathania.
" Tidak tahu berubah menjadi apa mereka saat sedang berada di atas ranjang. " Gumam Sammy dengan tatapan yang tengah menerawang penasaran.
Setelah hari semakin siang, Sammy kini merasa begitu kesepian. Bagaimana tidak? Nathania dan Nathalie tengah bertemu dengan teman-teman mereka, Ayah dan Ibu juga pergi berbelanja. Bisanya kan dia bersama Nathan bermain game atau membicarakan apa lah seperti biasanya. Tapi sekarang? dia seperti anak kutu yang tidak tahu apa yang harus ia lakukan dirumah sebesar ini. Mau main petak umpet, dengan siapa? mau main game online, tidak ada Nathan yang biasanya akan menjadi lawan yang sepadan dengannya.
" Nathan! "
Sammy terperanjak mendengar suara menggelegar bak raja petir yang menyambar gurun pasir yang tengah kering kerontang. Dengan langkah cepat dia berjalan menuju ke arah sumber suara.
" Selamat siang, Tuan dan Nyonya besar, Chloe. "
Seperti biasa, Tuan dan Nyonya besar Chloe menatap Sammy tak suka. Memnag lah sejak pertama kali Nath dan Vanya membawanya pulang, mereka adalah orang yang sama sekali tidak menyukainya hingga saat ini.
" Dimana cucu sulung ku? " Tanyanya dengan wajah yamg begitu angkuh.
" Sedang istirahat, Nyonya. "
" Suruh dia menemui ku. " Titah Nyonya Chloe yang seolah mewakili Tuan besar Chloe juga.
" Baik. " Tanpa berbosa basi, Sammy langsung berjalan untuk mengganggu Nathan dari enak-enaknya, iya mungkin saja.
Beberapa kali Sammy mengetuk pintu kamar Nathan, tapi masih juga tak mendapatkan jawaban. Tidak mungkin juga dia kembali tanpa Nathan, Sammy memutuskan untuk membuka pintu kamar Nathan perlahan-lahan dengan jantung yang berdegup kencang.
Semoga saja mereka sedang tidak bertelanjang.
" Eh? " Sammy semakin merasa malu saat melihat bagaimana cara tidur mereka yang begitu tidak biasa. Nathan memeluk kaki Ivi dan Ivi juga memeluk kaki Nathan. Bantal dan guling juga berjatuhan dilantai dengan tidak beraturan.
Ya ampun, apa sedahsyat itu?
Pelan-pelan Sammy berjalan mendekati Nathan agar tak menimbulkan suara. Entah apa si maksudnya, padahal kan dia memang mau membangunkan Nathan tidur, tapi mengapa terkesan tidak mau mengganggu tidurnya Nathan? dia bahkan sampai berjinjit saat berjalan tanpa dia sadari.
" Nathan! " Panggil Sammy setengah berbisik.
Tak juga bangun, Nathan malah semakin erat memeluk kaki Ivi bahkan mengecupnya mesra. Tentu saja Sammy bergidik ngeri melihatnya. Tapi dari pada memikirkan ini, lebih baik dia
fokus dengan tujuan awalnya. Karena kalau sudah urusan Tuan dan Nyonya besar Chloe, tidak boleh lagi main-main. Batin Sammy.
" Nathan! " Sekarang Sammy mulai menggoyangkan pelan tubuh Nathan agar lekas bangun.
" Em..... " Gumam Nathan tapi matanya masih saja terlihat enggan untuk terbuka.
Tidak ada pilihan lain, terpaksa sudah dia berbisik ditelinga Nathan.
" Em,..! usir saja! " Nathan berucap setengah bergumam, lalu mengubah posisinya menjadi membelakangi Sammy.
" Aduh, sialan! nanti aku yang akan kena getahnya kalau kau tidak bangun. " Sammy berpikir sejenak lalu tersenyum karena sepertinya cara ini ampuh untuk membuat mata Nathan terbuka lebar.
Sammy kembali mendekatkan bibirnya ke telinga Nathan.
" Nathan, kau tahu tidak? hari ini Ivi dan Kakak Bien kesayangannya itu akan bertemu diam-dian dibelakang mu loh. "
Benar saja, Nathan tersentak dan langsung bangkit dengan mata yang terbuka lebar dan terlihat kesal.
" Sialan! dimana mereka? berani-beraninya melakukan itu. Lihat saja aku pasti akan memaksa curut mabuk itu untuk minum racun tikus kalau berani menganggu istriku. "
" Berisik!! " Gumam Ivi sembari mengubah posisinya menjadi tengkurap.
Nathan tentu saja terkejut karena Ivi ternyata ada di tempat tidurnya. Tapi tatapannya tiba-tiba menjadi kesal saat melihat posisi tidur mereka yang bisa aneh begitu.
" Kau pasti yang mengubah posisi tidurnya ya? " Tanya Nathan kepada Sammy.
" Mana mungkin! saat aku masuk, kalian memang sudah tidur dengan posisi aneh seperti itu. "
" Aku akan memangkas habis tongkat ajaib mu kalau kau berani menyentuh istriku. "
Sammy terperangah karena begitu kagum dengan mulut Nathan yang begitu fasih meyebut istriku padahal baru kemarin dia menikah.
" Jangan membicarakan ini dulu, ada jal yang lebih penting sekarang ini. "
" Apa? " Tanya Nathan penasaran.
" Kakek dan Nenek Chloe datang. "
Nathan terdiam. Tentu saja dia tahu apa maksud dan tujuan mereka datang kerumahnya. Tapi, ini adalah hidupnya. Tidak ada yang boleh ikut campur tentang keputusan yang sudah ia pilih untuk masa depannya. Seperti itulah Nath saat menasehati Nathan.
" Baiklah, aku cuci muka terlebih duku. "
Sammy mengangguk paham dan cepat dia meninggalkan kamar Nathan yang sudah seperti tertabrak truk tronton.
" Kakek, Nenek. " Nathan seperti biasa, dia akan memeluk satu persatu dari mereka saat bertemu.
" Apa yang membuat Nenek dan Kakek datang? " Tanya Nathan sopan.
" Kau nekat menikahi wanita itu, apa kau tidak menganggap kami ada? '' Tanya Nyonya besar Chloe yang terlihat lebih tidak sabaran dan tidak suka berbosa basi.
" Nek, Kek, maaf kalau kesannya seperti itu. Tapi aku benar-benar hanya ingin menikahi Ivi. Tolong terima saja ya. " Bujuk Nathan dengan sikap manjanya yang biasa ia tunjukkan khusu untuk Kakek dan Nenek Chloe yang menyukai itu.
" Tidak bisa. Kau adalah pewaris Chloe satu-satunya. Kami tidak bisa membiarkan mu memilih istri sembarangan. "
" Nek, kek, Ivi adalah gadis yang baik. Aku yakin itu. Jadi tolong, restui saja pernikahan kami ya? "
" Tidak! bagaimana kau tahu kalau dia gadis yang baik? kau pikir, kami tidak memastikannya terlebih dulu? coba kau pikir, mana ada gadis baik yang tidak bisa di lacak masalalunya? gadis itu pasti menyembunyikan banyak hal. "
Nathan terdiam sesaat. Ini memang diluar perkiraan nya, karena saat mendapat restu dari Ayah dan Ibunya, dia sama sekali tidak memikirkan masa lalu tentang Ivi.
Tapi, dai keuangan kekuarga Ivi, mana mungkin dia bisa melakukan itu? apa mungkin, Ayah dan Ibu yang melakukanya? tapi untuk apa? kenapa Ayah dan Ibu menutup masa lalu Ivi?
To Be Continued.