
Setelah kepergian Tuan dan Nyonya besar Chloe, Nathan dan Ivi akhirnya bisa tersenyum dengan perasaan lega. Tapi beberapa saat kemudian, mereka tersentak kaget karena tangan mereka masih saling menggenggam dengan mesranya. Sontak mereka langsung kompak melepaskan tangan mereka dan membuang wajah.
" Jangan terlalu percaya diri. Tadi itu, aku kasihan melihat mu. Saat berbicara dengan nenek dan kakek ku, kau seperti pantat ayam, hanya bisa kembang kempis. Berpura-pura tersenyum, tapi tanganmu sangat dingin. Tadinya aku sangat takut saat menyentuh tangan mu. Aku kira, kau ini mayat. Mana tangan mu berminyak lagi. " Gerutu Nathan lalu menggosok-gosokkan telapak tangan di kain yang melapisi lengan Ivi.
Ivi meniup udara yang berasal dari mulutnya. Matanya terbuka dan membulat menatap Nathan kesal. Sungguh, dia ingin sekali menjahit mulut sialan Nathan menggunakan senar pancing agar tidak mudah terbuka.
" Dengar ya siluman kera, tutup mulut mu dan jangan berani-berani menghina wajah atau apapun dari ku. "
Nathan menatap kesal, bibirnya bergerak menggerundel entah apa juga tak jelas.
" Apa?! " Ivi memajukan wajahnya menantang Nathan.
Deg....
Melihat wajah Ivi yang begitu dekat, entah mengapa jantung Nathan tiba-tiba menjadi kurang ajar dengan berdegup kencang.
" Ka kau menantang ku?! " Nathan yang sudah bisa mengendalikan dirinya juga ikut mendekatkan wajahnya dengan tatapan menantang.
Ivi menggerakkan bibirnya memaki tanpa suara.
" Memang kenapa?! kau pikir aku takut dengan mu?! "
" Kau tidak boleh berkata kasar terhadap ku! kau lupa ya? selain aku suamimu, kau juga banyak berhutang banyak uang dariku. "
Bukanya sedih dengan perkataan Nathan, Ivi justru semakin terpancing untuk membalas ucapan Nathan.
" Memang apa ruginya?! lagi pula, memiliki istri sepertiku adalah kebahagian dunia akhirat. Aku cantik, aku manis, aku imut, aku pintar, aku kuat, aku adalah wanita terWOW seabad. " Bukanya menjauhkan wajahnya, Ivi malah semakin mendekatkan wajahnya di depan wajah Nathan.
Sialan! dia imut sekali.
" Ka kau bilang apa?! cantik? manis? imut? pintar? apa selama ini kau berkaca di pasir? wajah menyebalkan sepertimu, hanya cocok untuk mengusir dedemit. "
" Heh! benar, dan kau adalah raja dedemit yang ingin aku usir. " Ivi kini menaikan kedua alisnya semakin menantang Nathan.
" Jangan lupa, kau adalah istri dari dedemit itu. " Nathan menyeringai tak mau kalah.
" Gadis cantik seangkasa raya kau sebut istri dedemit? heh! lucu sekali. Apa kau pernah menonton film beauty and the beast? itu adalah gambaran yang paling cocok. Aku adalah wanita cantiknya, dan kau adalah pria menyeramkan yang kasar. "
" Aku orang sibuk. Aku tida memiliki banyak waktu luang seperti, kakak Bien mu yang mirip curut mabuk itu. "
Ivi kini semakin kesal, tanpa memikirkan apapun lagi, dia meraih tengkuk Nathan dan mencengkram nya kuat.
" Sekali lagi kau menghina pria tampan itu, aku akan mematahkan leher mu. "
" Coba lakukan. Memangnya tangan kecil mu ini bisa melakukannya? dalam sekali gerakan saja, aku bisa meremukkan tulang di tanganmu ini. "
" Dasar jahat! aku ini adalah istri mu! mana boleh kau menyakitiku, apalagi mau membunuh. "
" Kau lupa ya? tadi kau berniat mematahkan leher ku? "
" Aku, aku, aku tadi hanya mengajak mu bercanda kok. " Kilah Ivi.
Sementara tak jauh dari mereka, Sammy sedari tadi menggeleng heran. Merasa sudah muak, dia berjalan mendekati Nathan dan Ivi yang masih saja bertengkar. Padahal, hanya tinggal memajukan beberapa sentimeter saja wajah mereka, sudah pasti mereka akan berciuman. Sammy dengan wajah tidak sabarnya meraih tengkuk Nathan dan Ivi bersamaan lalu mendekatkan jarak mereka, dan cup...?
Mulut mereka yang sedari aktif saking mengejek dan memaki itu seketika berhenti karena ulah Sammy yang membuat bibir mereka bersentuhan.
" Kau ini apa-apaan sih?! " Protes Ivi sembari menutup bibirnya menggunakan punggung tangannya.
" Kalau aku tidak melakukan ini, kalian akan terus menerus berisik. " Ucap Sammy santai.
" Lagian kalian kan suami istri, yang lebih dari ini kan sudah kalian lakukan. " Ujar Sammy.
" Tentu saja membicarakan kikuk kikuk. " Ucap Sammy sembari mengadu dua jari telunjuknya.
" Kikuk kikuk? ih! jangan sembarangan! " Kesal Ivi lalu berjalan menuju kamarnya. Entahlah, pipinya tiba-tiba merona dan merasa malu sendiri.
Sammy mendengus menatap kepergian Ivi. Lalu setelah itu, dia menatap Nathan yang masih saja diam seperti lalat mabuk.
" Kenapa kau diam? " Tanya Sammy Heran. Iya tentu saja heran, kenapa juga dia tiba-tiba jadi pendiam begitu?
Nathan yang mendengar Sammy bertanya sontak menatapnya tanpa ekspresi.
" Apa? kenapa? " Tanya Samy yang kebingungan mengartikan tatapan datar Nathan kepadanya.
" Sammy? " Panggil Nathan sembari memegang pundak Sammy.
" Apa sih? kau ini kenapa? apa nyawamu sedang mengembara? kenapa kau jadi bodoh seketika? "
" Sammy? " Panggil Nathan lagi.
Sammy yang kesal langsung saja menepis tangan Nathan.
" Sekali lagi kau memanggil namaku tanpa bicara, aku akan akan pergi ke kuil dan menjadi biksu hari ini juga. "
" Sammy,... " Baru saja Sammy hendak membuka mulut untuk memaki Nathan, tapi pria itu mengatakan kata singkat yang membuat Sammy seperti orang bodoh sekarang.
" Terimakasih. " Ucap Nathan seraya berjalan cepat meninggalkan Sammy yang terperangah karena bingung.
" Mereka benar-benar pasangan aneh dan gila. Hari ini aku baru sadar, Nathan memang orang yang hebat. Buktinya, dia sukses menemukan istri yang sama-sama gilanya dengan dia. "
***
Didalam kamar, Ivi memegangi bibirnya yang tadi bersentuhan dengan bibir Nathan. Memang singkat, tapi rasanya benar-benar sulit dilupakan. Bahkan, hangat bibir Nathan begitu terasa di bibirnya. Ya ampun..! mungkin ini adalah hal biasa saja bagi anak muda jaman sekarang. Tapi mau bagaiman lagi? mereka berdua sama-sama tidak memiliki pengalaman semacam itu. Terlebih lagi Nathan. Pria tampan itu selalu membatasi diri dengan tembok yang begitu tebal dan tidak ada yang berhasil sebelum Ivi.
" Gila ya? meskipun bukan dengan kakak Bien, tapi biarkan saja lah. Setidaknya aku tidak memalukan. Sekarang aku tidak perlu rendah diri lagi karena sudah pernah berciuman kan? " Ivi tiba-tiba tersenyum bahagia. Iya, jika berkumpul dengan teman-temannya, Ivi hanya bisa menghela nafas kesal karena tidak bisa nimbrung pembicaraan teman-temannya yang tak jauh dari berciuman. Syukurlah, sekarang dia sudah tidak perlu malu lagi.
" Apa yang kau lakukan? " Tanya Nathan yang baru saja masuk ke dalam kamar. "
" Ehem! ti tidak ada. " Jawab Ivi sembari membenahi mimik wajahnya.
" Kau mau tidur lagi? " Tanya Nathan yang sebenarnya sulit mengatasi rasa canggungnya.
" Kenapa memang? "
" Kan Dokter sudah bilang, kita harus banyak istirahat. " Ujar Nathan seraya melangkah menuju tempat tidur.
" Tidur saja kalau mau tidur. Aku sudah tidak mau tidur. "
" Kenapa? kau harus tidur! itu demi kebaikan mu. "
Ivi menjebik kesal.
" Kenapa kau takut sekali kalau aku tidak tidur? "
Kalau kau tidak tidur, aku akan semakin gugup.
" Itu, supaya kau cepat pulih. "
" Oh, aku kira kau takut kalau aku menidurimu. " Ucap Ivi.
To Be Continued.