
Disebuah ruangan yang memiliki dekorasi modern klasik. Salah satu ruangan dari rumah mewah, Tuan Nath dan juga Nyonya Vanya. Rumah yang memiliki banyak sekali kenangan suka cita. Ruang keluarga. Ruang dimana udara seolah tengah tertekan dan membuat sesak saat ini. Ruang dimana Nathan, Ivi dan juga Tuan dan Nyonya besar Chloe berada.
Ivi menyatukan kedua telapak tangannya, membuat jarinya saling mengait satu sama lain. Bibirnya memaksakan sebuah senyum agar terlihat lebih ramah dan hangat. Sungguh, memang rasanya sangat menyesakkan saat tatapan tak suka jelas terlihat ke arahnya. Tapi Ivi yang sudah penuh keyakinan itu, tidak akan menyerah dan kabur dari keadaan ini sampai kapan pun.
Baiklah, mereka sudah jelas tidak menyukai ku. Maka aku hanya perlu terus menampakkan diri sampai mereka muak dan malas untuk bertemu dengan ku.
" Kami kembali kesini, karena ingin bertemu dengan orang tuamu. Bukan dengan gadis tidak jelas asal usulnya ini. " Sinis Nyonya besar Chloe setelah melirik sebentar ke arah Ivi.
" Nek, tolong jangan seperti ini. " Pinta Nathan. Sesadis apapun mulut neneknya itu, Nathan tentu saja tidak dapat membentak atau melawan seperti Ayahnya saat berdebat dengan neneknya. Kenapa? karena nenek dan kakeknya selalu memanjakan Nathan, dan memberikan apapun yang Nathan butuhkan. Mereka juga tidak segan-segan menunjukkan kasih sayang berlimpah ruah kepadanya.
Ivi kembali tersenyum. Iya, teruslah tersenyum dan jangan tunjukkan sisi lemah mu. Melihat tatapan sadis itu sedikit menghilang saat Nathan memohon, kini Ivi tahu, dia harus berlaku seperti apa.
" Nenek, kakek, apa kabar? ini adalah hari pertama kita bertemu. Maaf karena aku tidak memperbaiki penampilan ku dulu. Sebenarnya, aku tadi berlari ke sini karena aku merasa bahagia akan bertemu kalian. " Ivi tersenyum manis seolah kata-kata pedas sebelumnya tidak terdengar olehnya. Tentu saja Nathan terperangah tidak percaya. Jujur saja, kalau itu Nathan, dia pasti sudah memaki balik atau menunjukkan langsung wajah kesalnya.
Hebat sekali aktingnya? ya ampun! aku rasa Berly kalah saat berakting dibanding Ivi.
" Jangan menjadi pembohong! kau pikir, dengan kepura-puraan mu itu, kami akan luluh? bermimpi lah, karena bagi kami, orang sepertimu hanya cocok berada di dekat tong sampah. " Balas Nyonya besar Chloe sinis.
Ivi kembali tersenyum menanggapi perkataan Nyonya besar Chloe. Meski sejujurnya, jantungnya berdegup begitu kencang dan hatinya juga terasa sakit. Tapi apa yang terjadi di masa lalu mengingatkan Ivi. Makian seperti ini bukanlah apa-apa dibandingkan apa yang terjadi di masa kecilnya.
" Nenek benar, dan itulah kenapa aku sangat bahagia karena Nathan mau memungut ku dari sana. " Ivi kembali tersenyum setelah mengatakan itu.
" Ivi? " Entahlah, meski dia melihat bibir Ivi tersenyum, rasanya Nathan lah yang merasakan sakit. Seolah-olah dia yang sedang menerima hinaan itu.
" Jangan senang dulu, karena sebentar lagi, kami akan mengembalikan mu ke tempat asal mu. "
Senyum Ivi menghilang, tapi itu hanya sesaat. Setelah beberapa detik, dia kembali tersenyum. Bahkan, senyum itu lebih terlihat manis dari sebelumnya.
" Nenek, ternyata memiliki obsesi yang luar biasa ya? aku benar-benar kagum dengan nenek. Aku berharap, suatu haru nanti aku akan menjadi seperti nenek yang terlihat tangguh dan penuh obsesi. "
Demi Tuhan nek, kalau nenek adalah adikku, aku pasti sudah mencekik leher nenek sampai koid.
Nathan meraih tangan Ivi dan menggenggamnya. Tidak tahu dari mana ke beranian untuk melakukan itu berasal, tapi dia merasa jika Ivi sedang membutuhkan dukungan saat ini.
Aku tahu kau tidak baik-baik saja. Tangan mu sangat dingin. Semoga kau tetap seperti ini saat bertemu dengan mereka nanti.
Nathan menatap mata Ivi, begitupun sebaliknya. Setelah tangan mereka saling mengait, Ivi merasa jika ada kekuatan di dalam dirinya yang tiba-tiba membuatnya menjadi lebih berani. Ivi tersenyum tanpa sadar kepada Nathan, dan begitu sebaliknya.
" Ehem! " Tuan besar Chloe tiba-tiba merasa malu melihat Nathan dan Ivi yang terlihat jatuh cinta, ditambah lagi rona wajah yang memancarkan kebahagian.
Nathan dan Ivi kembali fokus dengan apa yang saat ini sedang terjadi.
" Dengar ya, gadis tidak jelas. Aku tidak menyetujui pernikahan ini. Calon istri untuk Nathan yang kami pilihkan, sangat cantik dan setara. Kau tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan dia. "
Ivi kembali tersenyum. Benar, tersenyumlah terus menerus sampai yang membencimu muka melihat nya dan memilih untuk pergi.
" Jangan sok baik, sangat menjijikkan! "
Kembali, bibir Ivi tersenyum kepada sang nenek yang lebih aktif menghinanya dibanding Tuan besar Chloe yang berwajah dingin itu.
" Nenek, tadinya aku sangat kagum dengan wajah cantik nenek. Tapi kalau dilihat dari dekat, ternyata nenek sudah memiliki banyak kerutan. Nenek, bisakah jangan terlalu sering marah-marah? kerutan di wajah nenek akan semakin banyak nantinya. "
" Diam kau gadis kurang ajar! "
Ivi sempat menutup mulutnya beberapa saat. Tapi hanya berselang beberapa detik, mulut Ivi kembali berucap.
" Oh, nenek. Apa nenek pernah melihat wajah seseorang yang banyak marah-marah? otot-otot di wajahnya akan menjadi lebih cepat kendur, padahal kakek masih terlihat sangat tampan. Perut kakek juga tidak gendut seperti kakek di luaran sana. Nenek, aku khawatir, nanti orang akan mengira nenek adalah kakaknya kakek. "
Lain respon dari Nyonya besar Chloe, Pria tua itu nampak tersenyum meski itu sangat tipis dan hampir tidak terlihat. Tapi seperti yang sudah bisa di tebak, Nyonya besar Chloe jadi semakin kesal karenanya.
" Dasar gadis tidak tahu malu! berani-beraninya mengatai ku begitu! "
Ivi menutup mulutnya menggunakan sebelah tangannya.
" Maaf nenek, aku mengatakan yang sebenarnya. Aku benar-benar tidak mau wajah nenek menjadi semakin banyak kerutan. Nenek aku sangat ngefans dengan nenek. Tolong jangan sering marah-marah. Aku tidak siap kehilangan wajah cantik nenek. "
Nyonya besar Chloe ingin sekali rasanya memaki Ivi lagi. Tapi saat matanya melihat suaminya yang benar seperti dibicarakan Ivi, tiba-tiba dia tersadar jika harus mengontrol dirinya. Benar, suaminya masih sangat tampan meski banyak rambut yang sudah memutih.
Sialan! mulut busuk gadis ini tiba-tiba membuat ku takut. Aku harus menemui Dokter kecantikan ku lagi setelah ini.
" Suamiku, ayo kita pulang. " Ajak Nyonya besar Chloe.
" Bukankah kau ingin menemui Nath dan Vanya? "
" Tidak! ada hal lebih penting yang harus aku lakukan. "
Aku harus tanam banyak benang di wajah ku. Barulah aku bisa menunjukkannya di depan gadis busuk itu!
Ivi dan Nathan berdiri, karena Nenek dan Kakeknya sudah ingin pulang. Tentu mereka bermaksud untuk mengantar kepergiannya.
" Jangan mengatakan kami! tidak butuh! "
Ivi lagi-lagi tersenyum. Dia dan Nathan memilih untuk berdiri di tempat.
" Sampa jumpa nenek, aku akan sangat bahagia bertemu dengan nenek. I love you, nenek. " Ivi melambaikan tangan dengan bibir yang tetap tersenyum manis.
Yes!!! akhirnya pergi juga.
To Be Continued.