
Suara bel pintu apartemen Kevin membuyarkan obrolan diantara Vanya, Kevin dan Sherin.
Kevin bangkit untuk melihat siapa yang datang.
" Nath? " Ucap Kevin saat pintu rumah apartemennya telah terbuka.
Nath menatap Kevin kesal. " Kenapa kau berbohong?
Dia tahu ya?
" Maksudnya? " Pura-pura bodoh saja lah. Batin Kevin yang lebih memilih untuk terlihat tak tahu apapun.
" Kau bilang, kau sedang tugas malam ini, kan?
Kevin menggaruk tengkuknya. Dia hanya bisa tersenyum kelu. " Masuklah dulu.
Nath mengikuti langkah kaki Kevin. Namun, langkahnya terhenti saat manik matanya bertemu dengan Vanya.
Dia? ada apa dia disini? Kevin berbohong untuk menemui Vanya? atau, wanita yang ada disebelah Vanya?
" Duduklah, Nath. " Kevin mempersilahkan Nath yang tengah menatap Vanya intens.
Nath menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikirannya.
" Katakan, ada apa kau datang malam-malam begini? " Tanya Kevin yang melihat kegundahan diwajah Nath.
Vanya terdiam. Saat ini, debaran jantungnya lah yang mengekspresikan betapa gugupnya dia. Dari mana? dan bagian mana yang harus ia sampaikan kepada Nath? apakah Nath bisa menerimanya? apakah Nath akan baik-baik saja? apakah Nath benar-benar mencintainya dan akan menerima Vanya seperti sebelumnya?
Vanya menelan ludahnya saat mencuri pandang ke arah Nath. Sialnya, laki-laki itu juga tak henti-henti menatapnya.
Ah, Nath! aku benar-benar gugup. Bagaimana aku bisa menjelaskan padamu?
" Nath? " Panggil lagi Kevin. Ia tahu benar, Nath selalu tidak bisa berkonsentrasi jika yang ada dipikirannya adalah Vanya.
" Hem? " Nath menatap ke arah Kevin. Iya, dia sudah cukup sadar saat ini. Ternyata, dia lumayan lama menatap Vanya tanpa henti.
" Jadi, apa yang ingin kau bicarakan? " Tanya lagi Kevin.
Yang ingin aku bicarakan? mana mungkin aku bicarakan di depan orangnya? huh.....! tahan Nath.
" Lexi akan menikah lusa. " Untung saja, ada pembahasan lain yang seolah-olah sangat penting. Kalau tidak, tidak tahu harus bagaimana beralasan kan?
" Apa?!!!! " Vanya, Sherin dan Kevin kompak terkejut.
" Dengan siapa? " Tanya lagi mereka secara berbarengan.
" Devi. " Nath berucap dengan wajah bingung.
Memang seheboh itu ya kalau Lexi menikah? heh....! apa mereka akan menyalahkan aku? aku kan merebut wanita pujaannya itu? yah,.. meskipun aku juga tidak tahu, kenapa aku bisa bertunangan dengan dia.
" Ya ampun! bujang lapuk dan gadis jomblo menahun itu akan menikah?! " Ucap Sherin yang masih tidak percaya.
" Sungguh menyedihkan. " Vanya berucap sembari memasang wajah sedihnya.
Kevin, Nath dan Sherin menatapnya bingung.
" Kenapa? " Tanya Nath yang tidak mengerti apa maksud dari kata menyedihkan dari sudut pandang, seorang Vanya.
Vanya menghela nafasnya. Dia tahu benar, seperti apa sahabatnya itu. Pastilah pernikahan ini terjadi karena Ibunya Devi. Iya, Vanya kenal betul siapa Ibunya Devi. Dia adalah Ibu pemikat para bapak-bapak di sekolahnya dulu. Tidak jarang, para bapak-bapak terpesona oleh Ibunya Devi. Tapi sayangnya, kepribadian Devi sangat bertolak belakang dari sang Ibu. Devi adalah sosok yang tidak mudah di dekati. Dia juga bermulut tajam. Bukan tidak ada laki-laki yang mau mendekatinya, hanya saja, Devi terlalu menjaga jarak karena pemikirannya. Devi selalu berpikir, laki-laki hanya akan membuat hatinya sakit. Dan yang paling penting, dia tidak suka merasa terlindungi. Dia hanya terlalu membiasakan dirinya untuk tidak bergantung pada laki-laki. Jadi, kalau sampai mereka menikah akan seperti apa? apakah mereka akan sering tawuran? huh.. Vanya menghela nafasnya lagi. Sungguh, rumit sekali jika semakin memikirkannya.
" Apa yang kau pikirkan? " Tanya lagi Nath yang tidak juga mendapatkan jawabannya.
" Vanya, apa kau baik-baik saja? " Tanya Sherin sembari menepuk pundak Vanya.
" Hah? " Vanya tersadar karena tepukan dari Sherin.
" Beruntung sekali ya, Devi? calon suaminya kan tampan dan cerdas. Lexi juga selalu menggunakan parfum yang enak dihirup. Bahkan, Wangi nya masih tertinggal meski Lexi sudah menjauh. " Ujar Sherin yang sebenarnya, dia tanpa sadar mengatakan apa yang memang dia pikirkan tentang Lexi.
Vanya manggut-manggut tanda menyetujui ucapan Sherin.
" Benar, Ah,....! bau tubuhnya memang sangat Cool. Aku bahkan bisa menghirupnya meski jarak kami cukup jauh. Aku jadi penasaran, bagaimana kalau bisa menghirup aromanya dengan jarak yang sangat dekat. " Vanya benar-benar tak memperdulikan adanya Nath dan Kevin. Dia hanyut memikirkan aroma tubuh Lexi yang memang benar-benar Maskulin. Hingga tanpa sadar, rona wajahnya merona.
Begitu juga dengan Sherin. Dia juga hanyut memikirkan wajah Lexi dan aroma parfum yang selalu ia gunakan. Aroma yang membuatnya ingin selalu dekat dengan Lexi. Bukan jatuh cinta, dia hanya mengagumi Lexi yang tampan dan berkharisma. Tak bisa mengelak, aroma parfum Lexi memang benar-benar memikat. Rasanya, parfum itu terngiang-ngiang di kepalanya.
Sementara Nath dan Kevin, mereka memandang wanita pujaanya dengan tatapan kesal. Kesal sekesal kesalnya lah pokoknya. Hingga, tangan mereka mengepal erat. Pikiran mereka hanya satu saat ini. Menghajar Lexi.
Sialan! kenapa wajah Vanya sampai merona hanya karena membicarakan Lexi? Kurang ajar! Lexi, aku berdoa, agar pernikahanmu dilancarkan secepatnya. Dan aku berdoa, semoga kau akan terbelenggu oleh istrimu itu! Batin Nath.
Kurang ajar! berani-beraninya Sherin mengagumi Lexi di hadapanku? Lexi, demi Tuhan. Aku ingin sekali mencekik mu sampai mati. Lihat saja, aku akan memastikan pernikahan mu dilangsungkan dengan lancar tidak ada satu pun hambatan. Batin Kevin.
" Jadi, Vanya. Menurut mu, laki-laki tampan seperti Lexi, apa cocok dengan teman kita yang memiliki racun di mulutnya itu? " Tanya Sherin yang kini tidak lagi memperdulikan adanya Kevin dan Nath di hadapannya.
" Ah, iya. Sayang sekali. Padahal, Lexi adalah salah satu tipe idaman ku. " Ujar Vanya dengan tatapan polosnya menatap Sherin saat berucap.
Sherin menganggukkan kepalanya. " Aku benar-benar iri. Apa masih ada ya laki-laki yang seperti Lexi?
" Tentu saja tidak ada! " Vanya mendekatkan wajahnya di telinga Sherin.
Sherin terperangah menatap Vanya. " Apa?! sialan! kenapa gadis mulut beracun itu sungguh beruntung?
" Hem.. Aku juga sangat iri. " Timpal Vanya.
" Iya. Aku apalagi? " Ujar Sherin dengan wajah cemberutnya.
" Apa sudah selesai? " Tanya Kevin dengan tatapan kesalnya.
Eh?
Vanya dan Sherin menatap dua pria yang kini menatapnya kesal. Mereka benar-bnar lupa dengan kedua pria itu.
" Apa Lexi begitu sempurna? " Tanya Nath sembari menatap Sherin dan Vanya bergantian.
" Mau jujur atau bohong? " Goda Sherin.
" Tentu saja yang sejujurnya! " Saut Kevin.
" Kalau mau jujur, memang Lexi itu PERFECTTO. " Sherin membentuk jari telunjuk dan jempol ya menjadi bentuk bulatan dengan ketiga jari tegak disampingnya.
Vanya mengangguk. " Memang wanita mana yang tidak tertarik dengannya? " Vanya menimpali dengan polosnya.
" Hanya sahabat kita yang bodoh itu yang mau menolaknya. " Sherin merasa Devi benar-benar buruk selera, karena mati-matian menolak Lexi.
" Aku bahkan belum sempat membayangkan betapa indahnya menjadi pasangan Lexi. Devi benar-benar beruntung bisa merasakan tubuh sempurna Lexi. " Vanya kembali berdecih. Tapi kali ini, dia hanya berusaha menggoda suaminya itu.
" Apa tubuh kekar pria begitu menggiurkan? " Tanya Sherin penasaran. Maklum saja, dia terlalu biasa melihat tubuh pria tua maupun muda. Dia bahkan bingung, tubuh kekar seperti apa yang di maksud Vanya.
" Tentu saja! kau penasaran?
Sherin mengangguk.
" Aku akan mengenalkan mu dengan salah satu kolega Bibiku. Dia masih muda dan tubuhnya, " Vanya menjeda ucapannya karena merasa malu dengan ucapannya sendiri.
" Ada apa dengan tubuhnya? " Sherin benar-benar penasaran dengan kalimat berikutnya yang akan keluar dari mulut Vanya.
Vanya mengigit bibir bawahnya.
" Sangat kekar dan bidang. Aku tidak sengaja melihatnya saat mengunjungi rumah Bibi ku.
Jeder!
Kedua laki-laki yang dari tadi menatapnya kesal, kini semakin dibuat kesal lagi. Sudah seperti Sambaran petir tiap pujian mereka kepada laki-laki bertubuh kekar.
Hallo?? apa mereka tidak bisa melihat kedua pria dihadapan mereka?
" Apa kami tidak cukup kekar? " Sela Kevin yang benar-benar merasa tida tahan lagi mendengar percakapan Sherin dan Vanya.
" Kami kan belum melihatnya. " Jawab Vanya.
" Apa perlu ku tunjukkan kepada kalian? " Tanya Kevin dengan wajah yang begitu serius.
" Tidak perlu! " Tolak Sherin yang justru merasa aneh jika Kevin melakukan hal gila semacam itu.
" Aku mau! tunjukkan saja padaku! " Tantang Vanya. Dia benar-benar tidak bisa lagi menyembunyikan wajah antusiasnya.
Kevin yang sudah cukup kesal, kini mulai membuka kancingnya.
" Jangan berani-beraninya menunjukkan tubuhmu disini! " Cegah Nath.
Kalau Vanya melihatnya, bisa-bisa sekarang dia akan jatuh hati kepada Kevin kan?
" Diam lah Nath! aku hanya ingin menunjukkan saja. Tubuh Lexi belum ada apa-apanya dibandingkan tubuh ku!
" Dari pada melihat tubuh mu, bukankah akan lebih menarik jika melihat tubuh ku? " Nath tersenyum sinis.
Me,mereka gila! Batin Sherin.
Bagus sekali! ah, yang mana ya kira-kira yang lebih kekar? aku penasaran nih..
" Biar aku saja Nath. " Kevin melanjutkan tangannya yang akan membuka kancing keduanya.
" Tidak! aku saja yang akan melakukanya. " Nath.
" Tidak! aku saja. " Kevin.
" Aku saja! " Nath.
" Ck,Ck. Kalian buka saja baju bersamaan. Biarkan kami memanjakan mata kami.
Sherin terperangah menatap Vanya yang justru merona wajahnya.
To Be Continued.