
Nathan menghempaskan tubuhnya di tempat tidurnya. Hari ini sungguh melelahkan baginya karena bekerja dan terus mengomel dari pagi sampai malam tiada henti. Sebenarnya dia juga merasa asing dengan sosok seperti itu, tapi membayangkan dirinya disamakan dengan pria jelek membuatnya sebal dan marah tidak jelas. Apalagi nenek dan kakek dari Ayah dan Ibunya yang tidak berhenti menghubunginya membuatnya semakin kesal saja. Apalagi kalau bukan untuk menemui wanita yang mereka pilihkan untuk Nathan. Syukurlah Ibunya sedang berlibur bersama Ayahnya. Kalau tidak, dia juga pasti akan membujuknya dengan air mata dan membuat Nathan mengiyakan meski sebal.
" Kenapa mereka ingin sekali aku menikah? bahkan Berly selalu mengompor-ngomporiku untuk segera menikah. Memang dia tidak memikirkan dirinya sendiri yang begitu betah bergonta-ganti pacar tapi tidak kunjung menikah? "
Nathan menghela nafas nya. Sebenarnya bukanya tidak ingin menikah, hanya saja menemukan wanita yang cocok dengannya benar-benar sulit. Berly memang membuatnya nyaman, tapi perasaan nyaman itu hanyalah sebatas sahabat saja. Apalagi Berly sudah menjadi bintang top sekarang. Dia semakin sibuk dan jarang mengunjungi Nathan. Nathan juga pernah meminta Berly menikah dengannya, tapi gadis itu malah menertawakannya tiada henti.
Baru saja ingin bangkit dan mandi, Ponsel Nathan kembali berdering. Awalnya dia tidak ingin mengangaktanya, tapi karena Ibunya yang menghubunginya, dia tentu akan menerima telepon itu.
" Ibu? "
Halo sayangku yang paling tampan.
Nathan menghela nafasnya dalam. Bukanya tidak menyukai ucapan manis Ibunya, hanya saja sudah bisa Nathan tebak jika Ibunya pasti akan meminta dia melakukan sesuatu yang tidak ia sukai.
" Firasat ku tiba-tiba buruk, Bu. "
Jangan begitu anak tampan ku.
" Ada apa? "
Kakek dan nenek mu meminta mu untuk menemui seorang gadis. Bagaimana kalau kau temui walau sebentar?
" Tidak mau! " Sudah ku duga, batin Nathan.
Tolong lah, anak tampan ya? mau ya?
" Tidak mau! "
Dasar kau raja iblis! kau sialan! Apa yang kau katakan?! kenapa istri cantikku menangis?! aku akan menjitak kepalamu kalau pulang nanti!
Nathan menjauhkan ponsel dari telinganya. Tentu saja dia malas mendengar ocehan Ayahnya yang laknat itu. Setiap kali hanya bisa memakinya dan mengatai lalu berakhir dengan ancaman. Nathan menyumpal telinganya dengan jari kelingking dan langsung memutuskan sambungan teleponnya. Tentu saja dia tahu kalau Ibunya hanya berpura-pura menangis. Tapi demi Ibunya dia akan memenuhi keinginan Ibunya. Dia mengirim pesan kepada Ibunya bahwa dia akan menemui gadis pilihan keluarga besarnya itu.
Setelah beberapa saat, Nathan kembali ke luar dengan setelah pakaian yang begitu keren. Meski dia enggan melakukan ini, tapi sepertinya tidak ada pilihan lain. Apalagi kalau harus mendengar makian Ayahnya yang seolah menggambarkan bahwa putranya adalah penjahat se galaxi bima sakti. Sudah cukup rasanya julukan-julukan aneh yang dia sandang di mata Ayahnya.
" Ehem! " Suara seorag gadis membuat langkah kaki Nathan terhenti dan menoleh ke arah sumber suara.
" Lili? " ( Nathalie )
" Mau kemana kak? " Tanya Nathalie sembari menatap dengan tatapan menyelidik.
" Pasti menemui calon pacar. " Satu lagi suara Devil girl yang muncul dari balik punggung Nathalie.
" Jangan suka menebak-nebak! "
Nathalie dan Nathania menatap Nathan sesaat lalu mereka saling menatap sembari meringis.
" Kau mau taruhan? " Tanya Nathalie. Dan di angguki oleh Nathania.
" Menurutmu berapa lama kakak pertama akan bertahan disana? "
Nathan mendengus kesal mendengar kedua adiknya dengan terang-terangan membicarakannya.
" Yah, paling lama dua menit. Kakak pertama kan sangat udik dan ketinggalan zaman. "
" Jangan memanggil ku kakak pertama! aku bukan Sun Go Kong! " Protes Nathan yang paling benci dengan panggilan kakak pertama.
Nathalie dan Nathania Memang sempat menatap Nathan sesaat yang marah. Tapi bukanya takut dan berhenti membicarakannya, mereka malah semakin tertarik untuk menggunjingnya.
" Menurut mu, apa ada wanita yang mau dengan kakak pertama? "
" Apa yang kalian bicarakan? " Sammy datang dengan sebotol yogurt di tangannya.
" Apa kalian tidak melihat mata kakak kalian melotot seperti akan loncat dari tempatnya ke arah kalian? "
Nathania dan Nathalie mana mungkin merasa takut.
" Jangan cerewet kakak kedua. Kami sedang mendiskusikan sesuatu yang penting. " Ujar Nathania.
" Ih! jangan memanggilku ku kakak kedua! aku bukan Cu Pat Kay! " Protes Sammy.
Nathalie dan Nathania hanya berdecih lalu kembali berdiskusi. Melihat Nathan yang semakin terlihat kesal dengan sudut bibir yang tergerak naik turun, sudah pasti obrolan gadis kembar itu sangat menarik. Dengan wajah yang penasaran Sammy mendekati mereka dan mendengar gadis kembar itu berbisik.
" Kalian sedang apa sih?! " Tanya Sammy yang masih belum paham dengan apa yang menjadi obrolan dua gadis kembar itu.
Nathania menghela nafas sebelum memberi tahu.
" Kakak pertama akan pergi berkencan. "
Sammy melongo lalu menutup mulutnya saat menatap Nathan. Nathan yang menyadari tatapan terkejut sahabatnya itu, langsung bereaksi dan berwajah melas. Dengan harapan bahwa Sammy mau menggantikannya seperti beberapa kali sebelumnya.
Sayang semua hanyalah harapan Nathan semata. Sammy justru bergabung bersama Nathalie dan Nathania untuk ikut bertaruh.
" Jadi kau berapa menit? " Tanya Nathalie.
" Dua menit. Dua menit sudah banyak. " Jawab Nathania.
" Aku ikut! aku bertaruh satu menit. "
" Bagus! aku dua menit setengah, Nana dua menit, kakak kedua satu menit. Deal? "
" Deal! " Ucap mereka kompak.
" Berapa uangnya? " Tanya Sammy.
" Sepuluh juta. " Jawab Nathania yakin.
" Ok! Deal. "
Nathan semakin mendengus kesal dan pergi meninggalkan tiga manusia jahanam itu. Dia memasuki mobil dan menutup pintu mobilnya kuat. Apalagi alasannya kalau bukan karena dia kesal. Baginya menikah bukanlah sebuah keharusan, tapi bagi keluarga besarnya keturunan di dalam hubungan yang sah adalah hal yang dianggap sangat penting. Dia memang sudah sepenuhnya mewarisi Chloe seperti keinginannya ketika usia nya menginjak dua puluh lima. Tapi kalau tahu akan seperti ini, lebih baik tidak usah saja. Apalagi Nathalie yang sekarang ditetapkan sebagai pewaris selanjutnya sari KBR, dan Nathania sebagai pewaris dari Dirgantara. Adik-adiknya menjadi sangat berani dan terang-terangan adu kelicikan saat sedang berbicara. Kalau saja tahu mereka akan melawannya begini, lebih baik mengirim mereka ke panti asuhan saat bayi.
" Sialan! wanita gila mana lagi yang akan aku temui sekarang? Rasanya kesialan hari ini benar-benar tidak berhenti. "
Nathan mulai melajukan mobilnya menuju ke sebuah restauran yang sudah di tentukan. Sesampainya disana Nathan mencari nomor meja dan sudah ada gadis cantik yang menunggunya. Gadis itu tersenyum saat melihat Nathan dan bangkit dari duduknya. Nathan dengan berat hati mulai melangkahkan kaki mendekat.
" Hai Nathan. " Sapa Gadis itu. Nathan mengangguk dan tersenyum meski tampak sekali kalau dia malas.
" Perkenalkan, namaku Salia Marhen. " Salia mengulurkan tangannya.
" Nathan. " Jawabnya singkat setelah menerima uluran tangan Salia.
Belum juga satu menit dia duduk bersama wanita itu, rasanya dia ingin sekali pergi dan kabur dengan secepat kilat. Dia sudah bangkit, tapi kembali lagi duduk karena mengingat ketiga manusia jahanam yang menjadikan ini taruhan.
Aku akan bertahan disini lebih dari dua menit setengah agar kalian semua kalah. Aku akan bertahan minimal tiga menit. Yah! aku pasti bisa! Nathan yang gagah perkasa, ayo berjuang untuk tiga menit ini.
To Be Continued.