
(21+)
Please buat kalian yang agamais pake banget, tolong skip aja. Aku gak mau di komplain lagi gara-gara terlalu fulgar. Tolong maafkan buat kesayangan aku yang kurang nyaman dengan adegan seperti ini. Soalnya naskah ini sudah aku siapkan sampai tamat. Kalau ada yang di hapus, aku bikin barunya takut gak sesuai. Mohon di maklumi ya?
Nathan dan Ivi masih saling menikmati gelora rasa yang muncul dari tubuhnya. Tak perduli berada di ruang tamu dengan dinding yang terbuat dari kaca, Nathan terus menyesap bibir Ivi dengan begitu rakus. Tidak tahu jurus dari mana, tapi baik Nathan dan Ivi begitu lihai memainkan bibir dan juga lidah mereka. Sesaat mereka mengentikan kegiatannya, lalu kembali melanjutkan tautan bibir itu. Manis, dan membuat ketagihan. Itulah yang mereka rasakan. Bukan manis rasa bibirnya, tapi perasaan yang timbul dari sebuah ciuman itu yang begitu terasa manis. Nathan mulai memundurkan tubuh Ivi ke sebuah meja yang berada di dekat jendela. Mereka benar-benar terlihat begitu bergairah malam ini. Perlahan tangan Nathan mulai turun dari tengkuk Ivi dan menyentuh bagian dada Ivi. Merasa kurang puas, Nathan menggunakan kedua tangannya untuk memijat bagian dada Ivi. Heh! dia benar-benar semakin ahli rupanya.
" Emh...! " Keluh Ivi yang sudah tidak bisa menahan lagi untuk menutup rapat bibirnya agar tak mengeluarkan suara aneh yang membuatnya begitu merinding sendiri.
Sepertinya, malam ini adalah malam yang begitu menguntungkan bagi Nathan. Bagaimana tidak? selain di tempat yang tidak mungkin ada pengganggu, Ivi juga mempermudah segalanya karena memakai dress pendek yang tentu saja begitu mudah untuk di tanggalkan. Tapi Nathan sepertinya masih kurang bisa melatih kesabaran. Dia justru lebih memilih untuk mengangkat tubuh Ivi dan mendudukkan nya di meja yang lumayan tinggi itu. Syukurlah tidak ada pajangan di sana malam itu. Nathan merenggangkan kedua kaki Ivi dan mulai menyentuh bagian intinya setelah berhasil menyingkirkan kain penutup di bagian terlarang itu.
Seperti yang ia tonton dari video dewasa, Nathan benar-benar melakukanya dengan benar dan sudah pasti dia membuat Ivi terbuai.
" Na Nathan,... ! " Ivi mengeryit menahan sesuatu yang seolah di aduk-aduk tidak jelas karena tidak bisa mendeskripsikan dengan kata-kata.
" Ah! " Pekik Ivi sembari mencengkram kuat bahu Nathan.
Merasa sudah sulit di kendalikan dirinya, Nathan mulai melucuti pakaiannya lalu disusul pakaian Ivi. Mereka kembali berciuman dan langsung melakukan penyatuan. *******, erangan, semua nya benar-benar begitu natural terjadi. Tidak ada lagi kesedihan yang beberapa saat mereka rasakan, tidak ada lagi apapun kecuali fokus dengan apa yang sedang mereka lakukan.
Sementara tak jauh dari rumah itu. Sammy, Zadet dan Keenan yang mengikuti mereka karena khawatir, kini hanya bisa membalikkan tubuhnya karena tidak mau melihat raja mereka sedang kikuk kikuk.
" Kakak pertama benar-benar seperti serigala ya? " Ujar Keenan. Tentu saja dia tidak menyangka kalau Nathan akan bisa sebuas itu. Padahal kan tidak pernah berpacaran, apa diam-diam dia belajar secara manual? batin Keenan.
Sementara Sammy memegangi dadanya yang bergerumuh seolah semua organ dalamnya ingin runtuh.
" Nathan benar-benar gila. Bagaimana bisa dia melakukan itu di ruang tamu? apa dia tidak ingat kalau ruang tamu semua dindingnya dari kaca. "
Zadet juga tak kalah terkejut. Tapi dibanding banyak bergerundel, dia lebih suka berdiam dan membangun saja di dalam hati. Sungguh wajahnya sudah sangat memerah karena malu melihat kakak pertama mereka menciumi seorang gadis sampai begitu rakusnya. Jujur saja Zadet begitu penasaran ingin melihat, tapi sepertinya tidak pantas karena belum tentu mereka masih berpakaian.
" Kakak kedua, apa aku boleh melihat sedikit? " Tanya Keenan yang penasaran. Dia memang sudah pernah tidur dengan beberapa gadis, tapi dia tetap saja penasaran. Apakah cara yang ia gunakan sama atau tidak dengan cara yang kakak pertama nya gunakan.
" Jangan gila kau Keenan. Mereka pasti tidak memakai baju. "
Keenan menghela nafas begitu pun Zadet. Sammy mengeryit begitu juga dengan Keenan saat Zadet menghela nafas seperti curiga.
" Kenapa kau menghela nafas? " Tanya Sammy yang penasaran.
" Tidak. " Jawab Zadet. Sialan! padahal dia tidak sadar tadi kalau dia juga ingin melihatnya.
" Jadi, apa kita perlu menghitung durasinya? " Tanya Keenan.
Sammy tersenyum laku menjentikkan jarinya tanpa menyetujui jika ide Keenan adalah yang terbaik.
" Jadi, berapa waktu taruhan mu? " Tanya Sammy yang sudah mulai bersiap dengan ponsel nya.
" Tiga puluh menit. " Keenan.
" Baiklah, aku dua puluh menit. " Ucap Sammy yang membuat Keenan berdecih sebal. Kalau tadi dia bilang tiga puluh menit dia mengira menghina Nathan, lalu bagaimana dengan waktu nya?
" Bagaimana dengan mu Zad? " Tanya Sammy dan Keenan.
Zadet menghela nafasnya. Jujur saja dia tidak tahu akan menebak berapa. Tapi dari pada tidak menebak dan ketahuan kalau dia masih perjaka, bisa malu juga kan?
" Satu jam. " Jawab Zadet.
" Baiklah, mari kita hentikan waktunya sampai suara, ah, ih, uh, eh, oh, ini berhenti. " Ujar Sammy.
Keenan benar-benar ingin melihat kebelakang, tapi Sammy ada disampingnya. Mau tidak mau dia hanya bisa merinding sedap mendengar suara-suara keramat nan angker menggoyahkan iman si tongkat ajaib yang tersimpan rapih di balik resleting.
Bukan hanya Keenan saja yang begitu merona wajahnya karena suara itu tak kunjung berhenti. Tapi Zadet yang biasanya diam dengan ekspresi dingin juga ikut merona mendengarnya. Jujur saja, dia lebih memilih melakukan perjalanan bisnis di daerah berhantu dari pada berada di situasi sekarang ini. Padahal dia mengendari mobilnya sampai ngepot, dan hampir saja jungkir balik karena merasa khawatir dengan Nathan dan Ivi. Malah sekarang dia justru harus mengkhawatirkan dirinya sendiri.
" Apa belum juga? ini kan sudah tiga puluh menit? mereka ini sedang kikuk kikuk apa main rolercoaster sih? " Gerutu Keenan yang jadi sulit menahan diri.
" Keenan, lebih baik hentikan kaki mu! " Ujar Sammy kesal karena kaki Keenan terus saja bergerak.
" Kakak kedua, punya ku juga ikut upacara. Bagaimana ini? "
Sammy dan Zadet kompak menatap Keenan heran. Meskipun mereka juga merasakan yang sama, tapi apa tidak bisa jangan terlalu berterus terang?
Beberapa saat kemudian.
" Sudah berhenti. " Ucap Sammy dan lansgung menyetop timer yang ada di ponselnya.
Mereka kompak memggeleng melihat berapa waktu yang dihabiskan Nathan dan Ivi untuk berkembang biak.
" Kakak pertama, dia benar-benar hebat. Dia benar-benar cocok dengan jukukan raja iblis. " Ujar Keenan salut.
" Satu jam enam belas menit. " Ujar Sammy sembari menggeleng heran.
" Apa pinggang Kaka pertama baik-baik saja? " Tanya Zadet.
" Sepertinya dia akan memesan jamu encok besok pagi. " Ujar Keenan.
" Nathan, dia beruntung sekali ya sudah kikuk kikuk. Terus aku kapan? " Tanya Sammy dengan wajah sedihnya.
" Cari dulu babi betina nya. " Ujar Keenan.
To Be Continued.