
Lexi dan Devi, kini tengah bersanding di pelaminan. Beberapa saat yang lalu, mereka resmi menjadi pasangan suami istri.
Jangan tanya bagaimana mimik wajah mereka. Ya sudah pasti terlihat tidak bahagia. Untungnya, acara pernikahan ini tidak dihadiri banyak orang. Sesuai dengan permintaan Devi, hanya keluarga inti saja yang boleh menghadiri pernikahan mereka.
" Tersenyumlah, jangan cemberut begitu. Orang-orang akan mengira aku memaksamu untuk menikah. " Ujar Lexi setengah berbisik tapi, bibirnya dibuat seperti sedang tersenyum.
Devi melirik ke arah Lexi sesaat. " Aku tidak suka berpura-pura. Jika kau ingin terus memamerkan gigimu itu, ya terserah. Aku tidak akan membuang energi hanya untuk nyengir dalam kedukaan.
" Aku juga tidak suka berpura-pura! masalahnya, orang-orang terus saja melihat ke arah kita! tersenyumlah atau aku akan memperkosamu nanti malam.
Devi membulatkan matanya. Bibirnya bergerak bergumam entah apa tak jelas. Matanya sengit menatap Lexi.
" Aku tidak main-main dengan ancaman ku! " Ancam Lexi yang masih saja nyengir memamerkan giginya.
Devi menghela nafasnya. Dia mulai memaksakan bibirnya agar melengkung ke atas dan terlihat tersenyum. Sungguh, Devi benar-benar tidak bisa berpura-pura bahagia. Wajahnya malah seperti sedang menahan sakit.
Lexi hanya bisa menghela nafas. Dia menggeleng pelan melihat gadis yang sama sekali tak bisa berakting itu.
Sementara di sudut ruangan. Vanya, Sherin dan Kevin menatap bahagia pasangan baru itu. Mereka benar-benar tidak menyangka. Kalau pada akhirnya, gadis bermulut racun itu akan menikah juga.
Vanya mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan seseorang. Iya, Nath. Suaminya. Setelah kepergian Nath semalam, Vanya belum lagi bicara dengannya.
" Kevin, Nath tidak datang? " Tanya Vanya yang tetap tak mendapati suaminya itu.
Kevin menaikkan lengan bajunya untuk melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
" Harusnya dia sudah sampai.
" Kau yakin? Nath begitu memprioritaskan sahabat-sahabatnya. Kenapa dia begitu terlambat di hari pernikahan Lexi?
" Mungkin, ada sedikit kendala. " Ujar Kevin yang mencoba menenangkan Vanya.
" Itu dia datang. " Sela Sherin sembari menunjuk Nath.
Vanya melihat ke arah Sherin menunjuk begitu juga Kevin.
Deg.....
Vanya menatap sendu kedatangan Nath. Bukan hanya Nath saja. Tapi ada Gaby yang memeluk erat lengan Nath. Bibir gadis itu tersenyum cerah.
Vanya mengalihkan pandangannya. Entahlah, rasa sakit yang menyeruak dari hatinya itu, membuat matanya tak sanggup menatap Nath dan Gaby.
" Vanya, kau baik-baik saja? " Tanya Sherin yang merasa sedih melihat Vanya bersedih.
" Tentu tidak. " Jawab Vanya singkat.
" Kau butuh bahu untuk menangis? " Tanya Sherin yang tak tahu apa yang harus ia lakukan untuk menghibur.
Vanya menatap Sherin sebal. " Bahu digunakan untuk bersandar. Aku butuh pelukan yang membuatku tenang dan bebas menangis tanpa ada yang melihat.
" Oh? jadi aku salah ya? " Sherin hampir saja terkekeh. Maklum saja, dia tidak mengerti soal cinta-cintaan.
Beberapa saat
sebelum acara pernikahan Lexi dimulai.
Nath kini sudah gagah degan pakaiannya. Dia berjalan menuju garasi mobil. Tapi, saat melintasi ruang tengah, Gaby dan Ibunya Nath ternyata ada disana.
" Nath? " Sapa Ibunya Nath seraya bangun dari posisinya.
" Ibu? kenapa Ibu ada disini? " Tanya Nath bingung. Yang lebih membuatnya bingung adalah keberadaan Gaby.
" Kau mau menghadiri pernikahan Lexi, kan? " Tanya Ibunya Nath lembut.
" Iya. " Jawab Nath singkat.
" Ajaklah Gaby. Dia adalah tunangan mu. Kau tidak boleh lagi menghadiri acara seperti ini sendiri. Kau kan sudah memiliki pasangan?
" Ibu, acara ini diselenggarkan secara tertutup. Tidak boleh ada orang jauh, Ibu.
" Gaby bukan orang jauh! dia pasangan mu!
" Ibu!
Cukup lama perdebatan itu berlangsung. Hingga pada akhirnya, Nath mengalah dan mengajak Gaby untuk ikut bersamanya.
***
" Sayang, apa aku terlihat cantik? " Tanya Gaby setelah selesai memakai set dress berwarna maroon.
" Hem. " Jawab Nath malas.
" Sayang, kau sudah menyiapkan hadiah untuk Lexi? apa kita harus membelinya dulu?
" Tidak. Sudah ada. " Jawab Nath dengan wajah dinginnya.
Gaby mengepalkan tangannya kuat.
Sial! kalau saja kau bukan Nath, aku pasti sudah menampar wajah dingin itu.
***
" Vanya? kau baik-baik saja? " Tanya Kevin yang ikut merasa iba melihat Vanya mulai murung.
" Tidak! aku sangat sedih. Sangking sedihnya, aku ingin dipeluk dan ditenangkan oleh seseorang. " Ucap Vanya setengah emosi.
" Tolong lah, Dokter Kevin. Yang dibutuhkan sahabatku adalah pelukan dari pria. Aku tidak bisa memeluknya. " Ujar Sherin sembari menatap Kevin.
" Aku? kenapa harus aku? " Tanya Kevin yang merasa keberatan juga kesal. Vanya memang cantik sih, tapi kan, Kevin akan lebih suka kalau Sherin yang memeluknya.
Phak....!
Vanya menepak punggung Kevin beberapa kali dengan wajah kesal.
" Kau sama saja! tidak berperasaan. Jahat! bedebah! brengsek! sialan! babi buntung! anjing buntung! semua yang buntung adalah laki-laki! kenapa hanya karena hipnotis, bisa langsung lupa segalanya! kau ini jahat sekali! aku membencimu! aku akan membunuhmu! ah, tidak! sebelum aku membunuhmu, akan ku pangkas lebih dulu itu mu! akan aku cincang untuk menu sarapan mu! dasar bodoh! sialan! " Semakin lama, semakin sakit juga rasanya pukulan Vanya. Membuat Punggung Kevin menjadi nyeri.
Beberapa orang yang melihat adegan itu, kompak menatap Kevin benci. Mereka mengira, Kevin adalah laki-laki yang mempermainkan Vanya hingga membuatnya frustasi. Kevin hanya bisa tersenyum sembari menggeleng menatap tatapan sinis para tamu yang menghadiri pernikahan Lexi dan Devi.
" Vanya hentikan!
Mulut Vanya memang sudah berhenti mengoceh, tapi tangannya tetap lancar bergerak.
Grep...
Kevin menahan lengan Vanya. Menarik tubuh Vanya dan memeluknya.
" Cih! sudah jago sekali ya menjinakkan perempuan? " Sindir Sherin sembari melirik ke arah Kevin.
" Kau cemburu? " Tanya Kevin dari balik punggung Vanya.
" Tidak sudi! cemburu? menghabiskan energi ku saja. " Ujar Sherin.
Vanya kembali memukul punggung Kevin membuatnya kembali mengaduh.
" Apa tidak bisa konsentrasi menghiburku?! " Protes Vanya.
Kevin kembali menghela nafasnya. " Ok ok. " Kevin kembali menepuk pelan punggung Vanya.
Sementara di sisi lain. Nath semakin mengepal kuat. Ia benar-benar tidak tahan lagi melihat Vanya terus berada di pelukan sahabatnya itu.
Dia menepis tangan Gaby yang asik memeluknya sedari tadi. Tanpa berpikir lagi, Nath berjalan mendekati Vanya dan Kevin.
Dia menarik kuat lengan Vanya hingga terpaksa pelukan itu berakhir.
Nath menatap tajam Vanya dengan nafas berat menahan marah.
" Kau bilang, aku adalah suamimu. Lalu kenapa kau begitu betah berada di pelukan pria brengsek ini?! " Protes Nath tanpa melihat situasi lagi.
Kevin terperangah tidak percaya.
What? pria brengsek yang dia maksud itu aku? istrimu lah yang brengsek! dia yang memaksa ku untuk memeluknya. Hah? aku bahkan menerima makian yang seharusnya itu untukmu!
" Suami? kau bahkan tidak mengingat ku! Kau juga datang bersama wanita setengah gorila itu! dengar ya Nath. Aku sangat marah! " Ucap Vanya.
" Aku juga marah! " Balas Nath yang juga tak mau kalah.
" Kalau kau masih saja tidak mengingat ku, lebih baik kita bercer,...
Cup.....!
Ucapan Vanya terhenti saat Nath mendaratkan ciumannya.
Di sisi lain.
" Huh....! bagus sekali Vanya. Berkat dia, kita tidak lagi menjadi pusat perhatian kan? " Ujar Devi.
" Iya. Benar sekali.
" Ayo kita bertengkar. " Ajak Devi dengan wajah sinis nya.
" What?! kenapa kau mengajak bertengkar?memang apa tema pertengkaran kita? " Tanya Lexi.
" Semakin seru jika tidak memiliki tema. " Ujar Devi sembari menyeringai jahat.
Lexi menelan ludahnya sendiri.
" Mu,mulut kubangan! apa yang kau rencanakan?! " Lexi menyilangkan kedua tangannya untuk melindungi dadanya.
Devi semakin mendekatkan dirinya. Membuat Lexi ikut memundurkan wajahnya untuk berjaga-jaga.
" Bagaimana kalau kita kabur? " Ajak Devi dengan seringai di wajahnya.
" Ja,jangan mengada-ada! sebentar lagi penghujung acara! " Tolak Lexi.
" Cih! penakut. " Kesal Devi.
" Terserah!
Kembali ke Nath dan Vanya.
" Nath! " Bentak Gaby yang merasa geram dengan apa yang dilakukan Nath.
Nath dan Vanya sontak melepaskan kegiatannya.
" Wuah! siluman gorila mendekat. " Ucap Vanya lirih.
Setelah jarak mereka dekat. Gaby semakin menatap tajam Nath dan Vanya bergantian.
" Apa yang kau lakukan Nath?! " Tanya Gaby dengan tatapan tajamnya.
" Mencium istriku. " Jawab Nath dingin.
Gaby berdecih kesal. " Wanita itu pasti sudah meracuni otakmu. " Gaby menatap Vanya tajam.
" Aku? hahaha meracuni? tidak terbalik? hah?! " Bakas Vanya tak kalah tajam tatapannya.
Nath berniat membela Vanya tapi Vanya menghentikannya. Al hasil, Nath hanya bisa menontonnya saja.
" Dasar pel*cur! " Tuding Gaby kepada Vanya.
" Kau biangnya pel*cur! " Vanya.
Gaby semakin menahan kesal hingga bibirnya ikut gemetar.
" Kau, akan menyesal melawan ku. " Ancam Gaby dengan tatapan bengis nya.
" Tidak takut! wek.. " Vanya menjulurkan lidahnya dan menurunkan sebelah kelopak matanya.
Perempuan sialan! berani-beraninya mempermalukan ku begini. Padahal, aku berniat memberi sakit untuk hatinya. Laku kenapa aku yang merasakan sakit itu?
" Kita lihat saja nanti. " Kembali Gaby mengancam.
" Nanti? sekarang saja ah! bagaimana? aku ini tipe orang yang tidak sabaran. " Kali ini, Vanya berucap dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
***
" Menurutmu, siapa yang akan menang? " Tanya Lexi kepada Devi yang ikut menjadi salah satu penonton.
" Tentu saja Vanya. Dari dulu, dia hanya besar omong. Tapi tidak masalah. Dia punya banyak harta untuk membeli nyawa.
Setelah mengatakan itu, Devi kembali menyuap makanan ringan ke mulutnya. Begitu juga dengan Lexi. Entah sejak kapan mereka mengambil makanan untuk mendampingi mereka menonton pertunjukan yang di suguhkan oleh Vanya, Nath dan Gaby.
" Jangan merebut bagian ku! " Devi memukul tangan Lexi yang hampir saja megambil makanannya.
" Aku tidak sengaja! mataku kan melihat ke arah sana! " Protes Lexi yang tidak terima dibentak oleh Devi.
" Ngomong-ngomong, apa kau bisa membuat anak? " Tanya Devi.
To Be Continued.