Touch Me!

Touch Me!
S2- Tidak Pantas



" Jangan terburu-buru, Nyonya. Lihat dan perhatikan dengan jelas. Lalu katakan, dengan siapa wajah ku mirip? "


Ibunya Sammy menatap dengan detail wajah putranya yang selama ini menghilang dari pandangannya. Uya, sudah dua puluh tahun lamanya hingga dia pernah mengira jika Sammy pasti sudah tiada. Dia juga pernah memikirkan bagaimana nasib putra nya meski dia sendiri tidak sanggup untuk menatapnya terlulu lama. Matanya yang saat ini menatap lurus mengamati wajah Sammy, lama hingga ia semakin yakin dengan siapa wajah Sammy mirip. Dia yang tak kuasa menahan tangis, akhirnya kembali menitihkan air mata. Tapi kali ini, bukan air mata karena mengingat hal menyakitkan tiga puluh tahun lalu tapi, air mata penyesalan.


" Kenapa anda menangis, Nyonya? apa anda sudah mengingat dengan jelas wajah ketiga laki-laki itu? meskipun aku masih kecil saat itu, tapi aku yakin jika aku adalah anak kandung dari suami mu. Tapi bagaimana anda sama sekali tidak pernah memperhatikan wajah ku untuk membandingkannya? anda memiliki waktu sepuluh tahun. Tapi anda tidak pernah menatap wajahku sampai satu menit. Nyonya, mungkin aku memang mengingatkan anda tentang kejadian memalukan itu. Tapi, apakah selama dua puluh tahun setelah kepergian ku anda tidak menyadari kenapa semua itu terjadi kepada anda? " Sammy kini terlihat begitu berani dengan tatapan matanya yang tegas. Sungguh berbanding terbalik dengan Sammy saat merengek dan memohon agar kehadirannya diterima di rumah itu. Tatapannya yang pilu, penampilan, bahkan cara bicara yang sekarang ini nampak berwibawa dan berkelas sangat jauh dari Sammy kecil.


" Bagaimana bisa aku menatap mu terlalu lama? waktu itu hatiku dan pikiran ku sangat kacau. Aku tertekan dan selalu kesakitan setiap kali melihat wajah mu. "


Sammy tersenyum miring.


" Sekarang anda menyadari dengan pasti kan? kalau wajah saya ini cukup mirip dengan suami anda saat itu. "


Ibunya Sammy tertunduk lalu mengangguk pelan. Tapi meskipun Sammy benar anak kandung mantan suaminya, tidak akan ada yang percaya satu pun dari anggota keluarga mantan suaminya. Terlebih, tuduhan perselingkuhan sudah begitu melekat padanya. Tentu dia menceritakan semua nya agar manatan suaminya mengerti dan memaafkannya, tapi yang ada dia malah mendapatkan lebih banyak cacian dan semakin di rendahkan. Suami yang dulu sangat mencintainya juga langsung saja berubah total. Berselingkuh dengan sahabatnya, setiap pulang kerumah selalu mabuk, menjadi suka memukul dan cara bicara yang kasar.


" Iya. Maaf. " Dua kata itulah yang kini bisa terucap dari bibir Ibu kandung Sammy. Kenapa? karena dia sendiri juga tidak bisa melupakan masalalunya. Dua puluh tahun lebih dia menikah dengan Tuan Ozi, dia selalu keguguran karena stres yang berlebihan akibat masa lalu yang selalu membayanginya. Sebagai seorang Ibu, tentulah dia juga ingin menjadi Ibu yang baik untuk Sammy. Tapi setiap kali dia ingin mencobanya, dia justru tidak sanggup saat melihat wajah Sammy.


" Nyonya, sebenarnya anda tidak akan seperti ini jika anda tidak terlalu lemah. Kalau itu terjadi pada Ibu ku, Vanya. Dia pasti akan memilih mengambil resiko besar dari pada membiarkan tubuhnya di gilir pria. Apalagi, anda menghabiskan waktu satu bulan bersama mereka. Kalau saja, anda lebih memilih untuk berterus terang saat mereka menodai anda pertama kali kepada suami anda, keraguan anda tentang darah siapa yang mengalir di tubuh ku juga tidak akan terjadi. Tapi, aku tetap bersyukur atas segala yang sudah terjadi. Karena kalau tidak, mungkin aku tidak akan pernah menjadi anak dari Ayah dan Ibuku. " Sammy tersenyum menatap Vanya yang kini duduk di sebelah kiri sembari terus menggenggam tangannya erat. Vanya juga tersenyum menatap bola mata Sammy yang terlihat sudah baik-baik saja dan tidak sepilu saat pertama kali sampai di rumah Tuan Ozi.


" Kau tidak pernah mengalami bagaimana berada di posisiku, maka kau tidak akan tahu bagaimana rasanya. Mudah bagimu untuk mengatakan kata jika. Masalahnya, kata jika sungguh tidak akan menjadi mudah untuk di lakukan. "


Sammy terdiam lalu menatap Ibu kandungnya yang tak bisa ia baca apa maksud dari ekspresinya. Tapi melalui kata-katanya barusan, yang sedang di hukum oleh masa lalu adalah Ibunya sendiri dan bukan dirinya. Sekarang Sammy hanya perlu bangkit dan bahagia bersama orang-orang yang menginginkannya.


" Satu hal lagi. " Ucap Nathan sebelum Sammy mengajaknya pergi.


" Sebentar lagi putraku Sammy akan di umumkan sebagai presdir baru di perusahaan VNS. Tolong, jika ada yang mencari tahu apapun tentang Sammy, pastikan anda sekeluarga tidak akan mengatakan apapun. Karena saat dia di umumkan menjadi Presdir, akan banyak reporter yang mencari tahu seluk beluk putraku. Maka, saya minta tolong dengan sangat, bila perlu anggap saja ini sebagai penebus luka yang kalian berikan kepadanya. Jangan membiarkan satu orang pun mendapatkan informasi tentang Sammy. Biarkan saja rahasia masa lalunya hanya menjadi masa lalu yang tidak akan terungkap ke publik. Bagaimana? " Ibu kandungnya Sammy mengangguk begitu juga dengan Tuan Ozi dan putrinya.


" Baiklah, terimakasih atas waktu yang anda berikan kepada kami. Selamat tinggal. " Ucap Nathan mewakili Vanya dan juga Sammy.


Hiduplah dengan bahagia nak. Meskipun Ibu mengabiskan dua puluh tahun untuk merindukan mu, tapi pertemuan kali ini benar-benar membuat Ibu bahagia. Ibu yang seperti ini sama sekali tidak pantas untuk menjadi Ibumu. Pergi dan terbang lah. Buktikan kepada Ibu, dan juga semua orang yang sudah menyakitimu merasa malu.


Ibu kandung Sammy menatap punggung putranya yang semakin menjauh darinya. Seluruh tubuhnya bergetar di iringi air mata yang terus menetes membasahi pipinya yang teramat tirus itu. Dua puluh tahun sudah dia menghabiskan hari dengan penyesalan karena tidak bisa menemukan putranya. Tapi setelah mengetahui keadaan Sammy sekarang, bahkan dia akan memilih untuk terlihat tidak menyayangi nya dan membiarkan dia hidup bersama orang tua angkatnya.


Mulai hari ini, jangan ingat bahwa aku lah yang melahirkan mu. Jangan ingat apapun tentang Ibu. Ibu akan menahan diri sekuat tenaga agar tidak. berlari dan memeluk mu. Biarkan Ibu kembali menjalani hari dan menghukum diri Ibu sendiri atas dosa masa lalu. Nak, terimakasih karena membuat ku melahirkan putra sepertimu. Sekali lagi bahagialah dan jangan berhenti untuk membenci Ibu.


" kenapa kau mengatakan itu? kenapa kau berkata seolah-olah kau tidak menginginkannya? kau sudah mencarinya selama ini. Apa yang kau pikirkan sebenarnya? " Tanya Tuan Ozi yang tidak paham dengan istrinya.


" Melihat putraku menggenggam erat tangan wanita yang selama ini merawatnya, aku menyadari banyak hal. Aku tidak pernah sekalipun menggenggam tangannya, aku tidak pernah tersenyum seperti Nyonya Vanya kepada putraku. Aku juga tidak pernah sekalipun membuat putraku tersenyum. Aku yang seperti ini, mana pantas menjadi Ibunya. Bisa melahirkannya saja, adalah sebuah keberuntungan untukku. "


To Be Continued.