Touch Me!

Touch Me!
Melupakan Jati Diri



Brak......!


Vanya membuka pintu Unit Sherin dengan kasar. Nampak Devi yang juga berada disana menatap bingung. Vanya meraih gelas yang kini tengah dipegang oleh Sherin.


" Apa-apaan sih?! " Sherin mendengus kesal. Benar-benar menyebalkan batinnya. Baru saja, dia selesai membuat jus apel dan baru akan meminumnya, Sekarang hanya tinggal tetes terakhir yang bisa ia ratapi.


Vanya ikut nimbrung di tengah-tengah Devi dan Sherin yang sedang duduk berdampingan. Mereka hanya bisa pasrah bergeser dengan wajah sebal.


" Vanya, kau ini kenapa sih? " Tanya Devi yang merasa kesal dengan tingkah laku Vanya.


Vanya melemparkan tas nya ke lantai dan mengipas dadanya dengan telapak tangannya. " Aku kesal.


" Lalu? " Tanya Sherin.


" Aku ingatkan kepada kalian berdua. " Vanya menatap Devi dan Sherin bergantian dengan mimik tegasnya.


" Jangan percaya dengan apa yang di ucapkan laki-laki. Dia berbicara manis berarti, akhirnya pahit. Jangan mencintai wajahnya karena dia tampan. Jika sudah tua, tidak akan ada yang namanya tampan. Jangan tergoda dengan kekayaanya. Karena uang, tidak menjamin hidup bahagia. Apalagi,...


" Apa? " Tanya Sherin dan Devi bersamaan. Wajah mereka menatap Vanya penuh tanda tanya. Mungkin salah minum obat. Batin mereka.


" Kalau dia, disukai banyak wanita. Laki-laki seperti itu, bagusnya digantung di Monas. Atau, dibuat celengan semar. Atau, bisa juga di awetkan dan disimpan didalam museum. " Ucapnya dengan wajah yang begitu kesal.


Devi dan Sherin saling menatap penuh tanya. Mereka hanya bisa menggeleng diakhir kesimpulan.


" Vanya, kau sedang bertengkar dengan Presdir Nath? " Tanya Devi yang langsung bisa menebak situasinya.


" Tentu saja! laki-laki itu benar-benar membuat amarah ku meluap-luap.


" Apa kau akan putus dari Presdir Nath? " Tanya Sherin.


" Hah! tentu saja. Laki-laki seperti dia, terbengkalai dimana-mana. Tidak perlu khawatir. " Jawab Vanya dengan nada ketusnya.


Devi dan Sherin, hanya bisa mengambil nafas dan menghembuskan perlahan. Kepalanya juga menggeleng heran.


Jatuh cinta itu mengerikan. Batin Devi dan Sherin.


Drt....Drt....


Ponsel Vanya berdering. Vanya meraih tasnya dan merogoh ponselnya. Sedikit terkejut sih, ternyata yang menghubunginya adalah Nath.


Vanya berdehem sembari mengelus tenggorokannya sebelum menerima panggilan itu.


' Hallo? ' Vanya.


' Sayang, apa yang sedang kau lakukan? ' Nath.


' Oh, tidak ada. ' Vanya.


' Kau masih marah? ' Nath.


' Tidak, kenapa aku marah? ' Vanya.


' Tentang tadi. Kenapa kau begitu cepat salah paham? ' Nath.


' Aku sudah tidak ingat. ' Vanya.


' Baiklah. Jangan marah lagi ya? ' Nath.


' Sudah kubilang aku tidak marah!!! ' Vanya.


' Iya. Iya, kau tidak marah. ' Nath.


'Mau jalan sebentar? ' Nath.


' Aku sedang bersama teman-teman ku. ' Vanya.


' Dimana? ' Nath.


' Apartemen. ' Vanya.


' Baiklah, besok pagi kita bertemu di tempat biasa ya? ' Nath.


' Baiklah. I love you, sayang. ' Nath.


' Itu,


' Apa? ' Nath.


' Em,.. Anu,.. I love you to


Tut....... Sambungan telepon langsung berakhir.


Vanya menggenggam teleponnya kuat dan meletakkannya di dadanya. Wajah yang tadi bersemu merah karena marah, kini sudah berubah menjadi semu kebahagiaan.


" Vanya, apa semua laki-laki cocok untuk di gantung di Monas? " Tanya Devi.


" Tidak boleh! mana bisa kau berbuat jahat begitu?


" Apa laki-laki seharusnya dijadikan celengan Semar saja? " Tanya Sherin.


" Kau gila ya?! kau anggap apa laki-laki itu?


" Apa Presdir Nath adalah orang yang menyebalkan? apa dia pernah membuat emosimu meluap-luap? " Tanya Devi kembali.


" Apa kau jadi putus? " Sherin menyelipkan pertanyaan.


" Jangan bicara omong kosong! Nath, adalah laki-laki paling baik. Dia paling tampan mempesona dan lucu. Ah, ada lagi. Dia kaya dan otot ditubuhnya, sangat menggoda. Mana boleh aku putus dengannya. " Vanya membayangkan saat melihat tubuh polos Nath. Ah,... seakan-akan kesal dengan waktu yang membuat momen itu cepat berlalu.


Devi dan Sherin semakin sebal dibuatnya. " Vanya, apa kau hari ini terjatuh? apa kepalamu terbentur? " Tanya Sherin dengan wajah khawatir. Dia bahkan, memeriksa kepala Vanya dengan mengacak-acak rambutnya.


" Ah.....! hentikan! " Vanya merasa kesal setelah rambutnya benar-benar berantakan.


" Aku tidak terjatuh. Memang kenapa sih? " Tanya Vanya yang kebingungan. Tangannya asik membenahi rambutnya yang berantakan.


" Kami khawatir. " Ujar Sherin dengan wajah yang di buat seserius mungkin.


" Apa?? " Vanya merasa bingung, kemana sih arah pembicaraan orang ini? batinnya.


" Kami takut, otakmu terjatuh dan tertinggal di jalan. " Saut Devi yang sedari tadi menahan kesal dengan tingkah sahabatnya ini. Jatuh cinta, membuat Vanya terlihat seperti orang yang menyebalkan dan tidak normal. Terkadang, dia senyum-senyum saat melihat ponsel. Lalu tiba-tiba juga merasa kesal tanpa alasan yang kurang jelas.


***


Nath melangkahkan kaki menuju pintu rumahnya. Rasanya lumayan lega setelah menghubungi Vanya. Apalagi, dari nada suaranya, Kemarahan Vanya sudah mulai mereda. Hingga tak terasa, senyum bahagia mengembang dibibirnya.


" Kenapa kau ada disini? " Langkah kaki Nath terhenti dengan tatapan mata yang tajam menatap sosok yang kini tengah berdiri didepan pintu rumahnya.


" Nath, aku ingin membicarakan sesuatu denganmu.


" Jangan mengatakan apapun, Mage. " Nath berucap tanpa ekspresi.


" Nath, aku benar-benar tidak bisa kalau kita begini. " Lagi-lagi, air mata Mage jatuh sebagai alat untuk meluluhkan hati Nath. Jika saja, itu adalah Nath lima tahun lalu, sudah bisa dipastikan. Nath akan langsung memeluk dan menghiburnya. Tapi tidak kali ini. Nath hanya terlihat diam tanpa keinginan untuk sekedar bertanya sebabnya.


" Berhentilah menangis. " Pinta Nath sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Bukan tanpa sebab, dia hanya takut tidak bisa mengendalikan tangannya nanti. Takutnya, tiba-tiba tangannya akan bergerak tanpa perintah. lebih baik di simpan dulu batinnya.


" Nath, kau benar-benar ingin melupakan ku? " Mage mengusap air matanya. Jujur saja, ada rasa kecewa yang begitu besar dihatinya. Air mata yang dulu menjadi senjata untuk meluluhkan hati Nath, kini benar-benar tak ada pengaruhnya. Laki-laki itu hanya diam tanpa terlihat perduli seberapa banyak air mata yang sudah Mage keluarkan.


" Bukan ingin, Mage. Tapi sudah. Aku sudah bisa melupakanmu dan juga rasa sakit yang kau berikan. Dan, semua itu karena Vanyaku. Jadi aku minta, berhentilah untuk mengungkit masa lalu. Aku ingin hidup di jalanku bersama Vanyaku.


Vanyaku? kau bahkan tidak pernah memanggil ku begitu dulu. Sehebat apa wanita itu? kenapa dia begitu penting bagimu?


" Mage, kau adalah orang baik. Aku harap, kau akan menjadi Mage yang baik hati seperti dulu.


Deg...


Mage terdiam dengan debaran jantung yang begitu kencang. Benar, dia hampir melupakan itu. Dia hampir menjadi egois dan ingin menyakiti orang lain. Dia hampir buta dan tidak bisa menerima kenyataan. Dia ingat, Nath lebih memilihnya dibanding Gaby. Karena ada satu hal yang membuatnya jatuh hati. Yaitu, Mage yang baik dan rendah hati.


Mage menjatuhkan tubuhnya dilantai dengan posisi duduk. " Nath, maaf.... Maafkan aku...


To Be Continued.