Touch Me!

Touch Me!
S2- Agresif



Setelah kedatangan kakak nya Ivi, Berly tak henti-hentinya menatap wajah Dodi. Iya, Dodi memang tidak begitu tampan seperti Nathan, tapi dia memiliki kharisma tersendiri. Wajah tegas yang seolah menandakan jika ia pekerja keras dan pantang menyerah, senyum yang terlihat menawan dan macho, semua yang ada pada diri Dodi, benar-benar membuat Berly terpesona. Bahkan dia tidak henti-henti nya tersenyum menatap Dodi yang kini tengah berbicara kepada Nathan dan Ivi.


" Kakak, apa akan langsung pulang? " Tanya Ivi.


" Iya, besok pagi-pagi sekali, aku harus mengantar barang pelanggan. " Jawab Dodi.


" Baiklah, hati-hati di jalan. "


Mendengar pria yang ia sukai akan segera pergi, Berly sontak bereaksi dan memintanya untuk tinggal.


" Tunggu! "


Ivi, Nathan dan Dodi menoleh ke arah yang sama dimana Berly kini sudah berdiri.


" Kau baru saja datang, kenapa terburu-buru sekali? tidak mau duduk dulu sebentar? "


Dodi tersenyum ramah. Iya, padahal dia hanya tersenyum, tapi Berly benar-benar meleleh dibuatnya.


" Terimakasih, Nona cantik. Tapi aku harus segera kembali. Ada beberapa hal yang harus aku kerjakan. "


Berly kini semakin merona bahagia karena Dodi dengan jelas menyebutnya cantik. Tapi, dia masih tidak rela kalau membiarkan pria macho itu pergi.


" Duduk dan istirahat saja dulu, aku akan membuat kan teh untuk mu. "


Sammy, Nathania dan Nathalie hanya bisa menatap penuh tanya.


" Kak Be, memang kakak bisa membuat teh? " Tanya Nathania dengan wajah polosnya.


Berly tetap tersenyum meski sembari memaki pelan Nathania.


" Diam! kau tidak boleh membuat citra ku buruk! "


" Terimakasih, Nona cantik. Lain kali saja aku akan datang lagi. Aku benar-benar harus segera kembali. "


" Bagaimana kalau aku mengantar mu pulang? " Berly tersenyum penuh harap. Iya, setidaknya dia bisa tahu dimana rumah pria itu kan?


" Biarkan aku saja yang mengantar mu. " Sammy menyela dan langsung menawarkan diri. Tentu saja dia tidak rela membiarkan Berly semobil dengan kakak nya Ivi. Ditambah lagi, dia juga kesal karena sedari tadi Berly nampak malu-malu saat Kakak nya Ivi datang.


" Diam! " Berly meraih kerah belakang Sammy, menariknya dan menjuhkan tubuhnya.


" Bagaimana? tenang saja, aku pandai mengemudi kok. " Tanya lagi Berly untuk memastikan. Walau bagaimanapun, dia sangat berharap bisa mengantar Dodi pulang ke rumahnya.


Dodi kembali tersenyum. Sebenarnya dia merasa agak aneh sih, kenapa juga wanita secantik itu bersikeras ingin mengantar nya pulang ke rumah? nanti kalau sudah tahu bentuk rumahnya, dia pasti akan langsung mundur dan tidak ada kabar sama sekali. Sudah beberapa kali sebenarnya Dodi di dekati wanita, hanya saja semuanya tidak bisa menerima keadaan Dodi yang lahir dari keluarga kurang mampu.


" Terimakasih banyak, Nona. Tapi aku tidak memerlukannya. Aku sudah terbiasa menggunakan angkutan umum. "


Ivi mengeryit karena mendengar kalau kakaknya memakai angkutan umum.


" Kakak, kemana motor ku? kenapa kakak memakai angkutan umum? "


" Motor mu kemarin menabrak badan jalan. Kau tahu bagaimana Ibu kan? dia menekan lampu sen ke kiri, tapi beloknya ke kanan. Salip sana salip sini menyamakan dirinya seperti Valentino Rossi. Dia bahkan menabrakkan motornya ke badan jalan gara-gara di salip oleh salah satu tetangga kita. " Dodi menghela nafasnya. Memang seperti itulah Ibunya. Bukan hanya kepada anak-anaknya saja dia sembrono, tapi ke semua orang dia memang seperti itu. Ditambah lagi tetangga yang sangat suka menggunjing keluarganya, tambah semangat saja Ibu-Ibu bringas itu bereaksi.


Ivi merengut kesal mendengar cerita kakaknya. Pantas saja tadi siang dia tidak melihat si matic ungu kesayangannya.


" Dasar Ibu durhaka! dia tidak tahu apa aku sampai seperti ulat bulu hanya untuk membeli motor itu? aku bahkan ke hujanan, kepanasan, kebanjiran, kekeringan, melawan tsunami, menerjang badai dan ombak, mendaki gunung, melewati lembah, dan dia se enak nya saja menabrakkan motor hanya karena kesal sudah tersalip? " Ivi mengambil nafas pelan lalu menghembuskan perlahan.


" Sudahlah, aku akan membelikan yang baru untuk mu. " Nathan mengusap punggung Ivi pelan. Iya, meskipun di dalam hatinya begitu susah menerima ucapan Ivi tadi. Segala menerjang ombak, dan banyak lagi kata-kata aneh seolah dia adalah pahlawan di masa lampau.


" Bukan masalah uangnya, tapi perjuangan ku untuk membeli si matic ungu tercinta ku itu. "


Berly mengatupkan tangannya lalu membuatnya saling mengait dengan tatapan penuh kekaguman.


" Eh?! " Ivi dan Dodi kompak menatap ke arah Berly dengan tatapan aneh.


Dia itu gila ya? kalau kau merasa Ibu ku keren, bagaimana kalau kau mencoba jadi anaknya? aku akan bersujud dengan kaki tegak kalau kau masih menganggapnya keren.


" Ivi, gadis ini agak aneh ya? " Bisik Dodi yang juga bisa Nathan dengar.


" Iya, selain aneh, dia juga sangat menyebalkan. Apa kakak tahu? selera untuk mencari suami saja sangat sulit. Jangan-jangan dia ingin menikahi dewa kematian. " Bisik Ivi.


" Ckckck......! aneh sekali ya? padahal dia terlihat cantik, ramah dan sangat menawan. "


" Kakak suka? " Tanya Ivi yang terlihat kesal. Ya iyalah dia kesal. Selama ini dia sama sekali tidak pernah di sanjung seperti itu oleh Dodi.


" Kalaupun suka, aku cukup tahu diri. "


Ivi tersenyum.


" Bagus! lebih baik kau menikah saja dengan janda di seberang rumah kita. Dia punya banyak harta kak. "


" Jangan gila! apa kau lupa, beberapa waktu dia berulang tahun yang ke lima puluh enam? "


" Oh benarkah? "


" Jadi, bagaimana kalau aku antar kau pulang saja? tidak baik pria macho yang menggoda sepertimu berada di jalanan malam-malam begini. Tenang saja, aku tidak sebuas yang kau pikirkan kok. " Berly kembali tersenyum.


" Oh, sungguh tidak perlu kok. "


" Jangan malu-malu. " Berly langsung berjalan mendekati Dodi. Meraih tangannya dan mengajaknya keluar.


" Ayo. Kita mengobrol lagi besok ya, adik ipar. " Ucap Berly kepada Ivi. Setelah lumayan jauh, Berly melambaikan tangannya dengan senyum yang mengembang sempurna. Sementara Dodi, pria itu hanya kebingungan dengan sikap wanita cantik yang begitu agresif.


" Adik ipar? siapa yang dia sebut adik ipar? " Tanya Ivi bingung. Pasalnya saat berpamitan tadi, jelas mata Berly terarah padanya. Tapi Nathalie dan Nathania berada di arah yang berlawanan.


" Tentu saja kau. " Jawab Nathan yang tentu saja menyadari jika Berly menyukai Dodi. Nathan tersenyum karena mengingat saat pertama bertemu Berly, gadis itu sangat berani mendekatinya dengan agresif. Sama seperti hari ini.


Setelah kepergian Berly dan Dodi, Sammy tak henti-hentinya sesegukan karena begitu patah hati melihat Berly yang lagi-lagi menolak cintanya. Dengan wajah kesal dia meninggalkan ruang tamu dan masuk ke kamarnya.


" Kenapa lagi siluman babi itu? " Tanya Ivi.


" Tentu saja patah hati. Kakak Berly jelas sekali tertarik dengan kakaknya kaka ipar. " Jelas Nathalie.


" Aneh. Kenapa dia menyukai kakak ku yang menyebalkan itu? " Gumam Ivi. Tentu saja dia bingung. Padahal beberapa saat lalu, tipe Berly sangat susah dicari di muka bumi ini. Lalu kenapa dia menyukai Dodi si mulut sadis itu?


" Oh iya, kakak pertama dan kaka ipar. Lusa adalah hari ulang tahun kami. Nenek sudah menyiapkan pesta untuk kami di sebuah hotel terkenal di pusat kota ini. Tapi masalahnya, "


" Apa? " Tanya Nathan.


" Nenek pasti akan mengundang keluarga Marhen. Dia pasti merencanakan sesuatu. " Timpal Nathania.


" Iya, Nenek selalu menyiapkan momen untuk mendekatkan kalian. " Tambah Nathalie.


" Kalau begitu, kita tidak usah datang saja. " Ujar Nathan.


" Tidak! kita harus datang. " Ujar Ivi.


Mereka pasti sudah menyiapkan rencana untukku. Baiklah, kita lihat saja, apakah rencana itu akan menguntungkan kalian? atau aku yang akan mendapatkan keuntungan.


To Be Continued.