
Acara ulang tahun nenek kini tengah dilengkapi dengan makan malam bersama. Bukan hanya keluarga Chloe saja yang ada di sana. Tapi keluarga Marhen juga masih berada disana seperti tidak tahu malu. Salia memang tidak terlalu menunjukkan bahwa dia sangat membenci tidak nyaman dengan adanya Ivi, tapi tentu saja Ivi tahu betapa palsunya senyum manis Salia itu. Ditambah lagi, tatapan sinis dari Nyonya Marhen yang menggetarkan bibir. Iya, bibir Ivi malah bergetar ingin memaki. Sayang sekali, dia harus bersikap imut dan menggemaskan saat ini. Kalau tidak, sudah habis Ivi cakar-cakar dan mengoyak tubuh wanita paruh baya itu.
" Ivi? " Panggil Nathan berbisik tapi tidak mendekatkan wajahnya karena berada d kegiatan makan.
" Apa? " Jawab Ivi kaku menyuapkan potongan kecil daging sapi ke mulutnya.
" Laki-laki itu terus menatap mu, apa kau mengenalnya? " Tanya Nathan yang jelas sekali itu adalah Salied Marhen.
Ivi terdiam sesaat lalu pelan menaikkan pandangan agar melihat ke arah Salied. Benar! pria itu memang tengah memperhatikan Ivi. Ivi memegang sendok dan garpunya kuat. Tatapannya juga mulai tidak fokus. Dia bahkan harus menggigit bibir bawahnya agar menjadi kuat. Melihat Ivi yang mulai gelisah, Nathan meraih tangan Ivi yang mulai dingin. Membawanya ke bawah meja dan menggenggamnya erat. Nathan memang tidak tahu apa yang sedang terjadi. Tapi dari reaksi Ivi, dia sadar jika Ivi sedang menyembunyikan sesuatu yang begitu menggoncang kan hati.
" Kau baik-baik saja? kalau kau tidak nyaman, kita bisa pulang terlebih dulu. " Ajak Nathan. Ivi menatap Nathan lalu menggeleng.
" Aku baik-baik saja. " Melihat tatapan Nathan yang begitu khawatir, entah mengapa rasanya begitu menyenangkan. Apalagi saat Nathan menggenggam tangannya seperti sekarang ini, seperti ada aliran kekuatan yang mengalir ke dalam tubuhnya dan membuat hatinya merasa kalau semua akan baik-baik saja.
" Kau yakin? " Ivi kembali mengangguk. Nathan akhirnya hanya bisa diam dan menunggu Ivi mengatakan apa yang membuat nya terlihat gelisah. Dia memang menduga kalau semua ini pasti ada hubungannya dengan Salia Marhen. Awalnya dia merasa bahagia dan bangga diri karena mengira kalau Ivi cemburu. Tapi melihat reaksi Ivi sekarang ini, gadis manis itu seperti memendam kebencian yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Setelah makam malam selesai, mereka melanjutkan acara dengan mengobrol dan menikmati macam-macam buah-buahan sebagai pencuci mulut. Selain buah, disana juga ada cake, desert, salad dan beberapa hidangan lainya.
" Salia, setelah lulus S2 ini, apa rencana mu? " Tanya Nyonya besar dengan nada ramahnya.
" Aku akan membantu kakak mengurus perusahaan milik Kakek kami, Nenek. " Jawab Salia dengan nada bicara yang begitu anggun.
" Cih! suaranya terlalu lembut. Kotoran ayam saja tidak akan berubah bentuk kalau di pijak wanita itu. " Gumam Ivi yang hanya bisa di dengar orang-orang terdekatnya. Seperti Nathan, Nana dan Lili. Iya, tentu saja mereka kompak menahan tawa.
" Kau benar-benar membanggakan sekali, ya? "
" Ah, tidak Nenek. Aku hanya baru ingin mencoba yang terbaik saja. " Jawab lagi Salia.
" Kau dan Nathan, sepertinya adalah orang yang cocok ya? " Ujar Nene tanpa mau menatap ke arah Ivi dan yang lainya. Tadinya Vanya dan Nah sudah akan bereaksi, tapi Ivi dengan cepat menatap mereka lalu menggelengkan kepala agar mertuanya itu tidak melakukan apapun sebagai pembelaan untuknya.
" Ah, Nyonya besar. Saya rasa tidak juga. Nathan adalah pria yang hebat. Dia tampan, dan bentuk tubuhnya sangat sempurna di penuhi aura kesuksesan pula. " Ujar Nyonya Marhen.
Ivi menarik nafas kaget dengan telapak tangan yang menutup mulut menganga nya.
" Nyonya Marhen, anda ini jangan suka memfitnah ya? " Ucap Ivi menatap Nyonya heran.
" Apa yang salah dari ucapan ku? " Tanya Nyonya Marhen bingung. Sementara Nenek dan ya g lain hanya menatap bingung.
" Tentu saja salah. Anda bilang tubuh Nathan sempurna? pft....! " Ivi menahan tawanya.
" Memang si tidak akan ada ya g tahu kecuali aku. "
" Apa maksud mu? " Tanya Nyonya besar Chloe tapi dengan nada bicara yang terdengar marah.
" Sebenarnya, tubuh Nathan tidak sesempurna yang kalian pikirkan kok. Karena, dia memiliki banyak sekali tanda lahir atau bintik coklat di tubuhnya. Dia juga sedikit buncit. Disela pahanya juga ada tanda lahir yang besar. Belum lagi di bokongnya. Huh....! ada banyak sekali tanda lahir yang menyeramkan. Bahkan, Nathan juga memiliki panu loh. " Nathalie, Nathania, Vanya dan Nath hanya bisa menahan tawa. Sedangkan Nenek dan yang lainya terlihat begitu kesal. Terutama, Salia Marhen. Dan Nathan, pria itu masih saja terperangah tidak percaya mendengar semua ucapan Ivi, yang sama sekali tidak ada satu pun terbukti benar.
" Tapi tenang saja, Sayang. Aku sudah menyetok banyak sekali salep penghilang panu. Oh iya, aku lihat bagian paha mu juga gatal-gatal ya? aku juga sudah memesan obat gatal untukmu. Jadi aku mohon, untuk sementara ini jangan terlalu dekat dengan siapapun dulu. Takutnya akan menular penyakit mu ini. Kalau aku kan sudah di suntik rabies. Jadi tidak ada masalah. "
" Ivi, kau tidak bercanda kan? lalu kenapa kau bisa suntik rabies jika suamimu hanya memiliki masalah kulit? kau menyamakan suamimu dengan kaki empat? "
" Eh? jadi aku salah ya? " Tanya Ivi yang sebenarnya memang tidak tahu mengenai rabies.
" Ivi, omong kosong apa yang kau bicarakan? kau ini sedang menggali lubang kubur mu sendiri ya? " Taya Nathan lirih dengan tatapan mengancam.
" Diam dan nyengir saja sudah. Ingat, kau membutuhkan kan ku untuk membuat anak. Jadi bantu saja aku. Kau mengerti? "
" Kenapa kau selalu mengancam ku dengan itu?! " Kesal Nathan tapi masih tak menggunakan nada bicara yang keras.
" Mau atau tidak? " Tanya Ivi dengan bibir yang tersenyum manis.
Nathan langsung memalingkan pandangan.
Sialan! sejak kapan dia menjadi lebih imut seperti ini? membuat jantungku berdebar kencang saja.
Diam. Nenek sama sekali tidak mau merespon ucapan Ivi yang seolah menyadarkan mereka bahwa dia dan Nathan adalah suami istri yang sah. Nenek memilih untuk berbincang dengan keluarga Marhen. Nathan, Kek, dan Nath memutuskan untuk berbicara sendiri karena ingin membahas masalah bisnis. Semetara Nathalie dan Nathania serta Ivi berada di taman keluarga Chloe yang begitu indah. Dan Vanya, dia sengaja berada di tengah-tengah Nenek dan Keluarga Marhen karena tidak mau kalau mereka sampai menggunjing menantunya.
" Kakak ipar, tunggu sebentar ya? aku dan Lili akan segera kembali. Kami ingin ke kamar mandi. Atau kakak mau ikut? " Tanya Nathalie.
" Tidak usah. Aku tunggu disini saja. "
Ivi memilih untuk tenang sejenak sembari menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan.
" Ah! lumayan menyegarkan. "
" Nona Ivi? " Panggil seorang pria sembari berjalan ke arah Ivi.
" Tuan Salied? ada apa? apa yang membuat anda sampai disini? " Tanya Ivi kaget.
Pria itu sungguh terlihat jauh berbeda dari Salia. Di nampak dewasa dan sopan.
" Nona Ivi, sebenarnya aku mendengar semua pertengkaran mu dan adikku tadi. "
Ivi mengepalkan kedua tangannya.
" Lalu? "
" Apa kita pernah bertemu? atau salah satu dari kami pernah melakukan sesuatu yang tidak kau sukai? dari ucapan mu, kau jelas sekali sangat membenci keluarga ku. "
Ivi tersenyum mengejek.
Benar, aku amat sangat membenci kalian semua.
To Be Continued.