Touch Me!

Touch Me!
Wellcome back...



" Apa kau sudah mengingatnya? " Tanya Vanya setelah Nath menutup pintu kamarnya. Tidak mungkinkan, tidak ingat setelah dengan percaya dirinya membawa Vanya ke kamar lalu mengunci pintunya.


" Belum! " Bantah Nath sembari menatap Vanya serius.


Huh...! Vanya hanya bisa menghela nafas. Apa begitu sulit ya pengaruh hipnotis itu?


" Maka, tugasmu adalah mengingatkan ku kan? " Ucap Nath sembari melangkahkan kaki menuju Vanya. Senyum di bibir Nath mengembang dengan indahnya.


" Me, Mengingatkan apa? " Tanya Vanya bingung. Bingung dengan apa yang mau di ingatkan dan juga bingung dengan senyum mesum Nath yang tiba-tiba itu.


" Aku tidak sedang bercanda! " Nath kembali serius menatap Vanya.


Serius ya? tapi, kenapa tadi wajahmu begitu mesum? aneh! membuat grogi saja.


" Pertama, ingatkan aku kapan kita bertemu. " Titah Nath.


Vanya memutar bola matanya jengah. Mengingatkan Saja kan? tida usah menjelaskan tindakan selanjutnya kan? batin Vanya menebak-nebak.


" Di rumah sakit saat kau koma. " Vanya membulatkan matanya. Terkejut dengan ucapannya sendiri. Kenapa? dengan bodohnya dia menjawab pertanyaan itu dengan jujurnya.


" Koma? " Tanya Nath bingung.


Vanya berdehem beberapa kali sembari menggaruk tengkuknya. Sebenarnya, tindakan itu adalah salah satu ciri khas seorang Vanya saat sedang berpikir untuk mencari alasan agar bisa menipu.


" Se, sebenarnya, aku salah masuk kamar. Tapi, setelah itu kita sering bertemu setelah kau sadar. Beberapa waktu setelah itu, kau mengajakku berkencan. Iya iya. Berkencan. Kau loh yang mengejar-ngejar aku. Padahal, saat itu aku memiliki seseorang di hatiku. Tapi, karena kau begitu gigih, aku terpaksa menerima mu menjadi kekasih ku. Kau, kau! kau juga yang memaksaku untuk membuat Nathan. " Ucap Vanya yang gugup tanpa berani menatap Nath.


Nath tersenyum. " Oh, benarkah?


Vanya menatap Nath tegas. Yah, walaupun agak kikuk dia melakukan itu. " Iya! tentu saja! kenapa kau terlihat tidak percaya?! aku kan sudah mengatakan yang sebenarnya.


" Aku adalah orang yang enggan mengejar wanita terlebih dulu loh, " Ujar Nath sembari berpikir.


" Itu kenyataannya! " Bantah Vanya yang tak mau aibnya diketahui oleh Nath yang sedang tidak mengingat apapun tentang dia.


" Benarkah? lalu, dimana pertama kali kita membuat Nathan? " Tanya Nath yang semakin menatap Vanya dengan tatapan menyelidik.


Sialan! bagaimana aku harus menjawabnya? tidak mungkin aku bilang di rumah sakit kan?


" Kenapa kau diam? " Tanya Nath lagi.


" Bukan urusan mu! " Ucap Vanya lalu pergi menjauh dan menjatuhkan tubuhnya ditempat tidur. Dia menyembunyikan tubuh serta wajahnya dibalik selimut tebal.


Nath tersenyum. Dia menghampiri Vanya dan merebahkan tubuhnya didamping Vanya. Dia ikut meringkuk dibalik selimut dan memeluknya erat.


" Ku beri tahu jika kau lupa. Kau, memperkosaku saat aku setengah sadar dari koma. Lalu kau kabur setelah melakukan itu. Dengan jahatnya, kau mencuri benihku begitu saja. Setelah benih itu berkembang, lalu jadilah Nathan. " Bisik Nath ditelinga Vanya.


Vanya sontak menyingkirkan selimut tebal yang menyembunyikan seluruh tubuhnya. Dia bangun dari posisinya dan menatap Nath dengan tatapan terkejutnya.


" Kau, kau, kau sudah ingat? " Tanya Vanya yang masih menatap tak percaya.


" Ingat. Bahkan, saat kita melakukan rekontruksinya, aku juga ingat. " Jawab Nath santai.


Vanya masih terperangah tidak percaya.


Nath menekan dagu Vanya ke atas agar menutup bibirnya. " Jangan begitu terkejut.


Bugh.....!


Vanya memukuli dada bidang Nath dengan kuat. Dia juga terisak sembari terus mengoceh.


" Dasar jahat! kenapa kau melakukan ini padaku dan Nathan?! kenapa kau menyebalkan?! pulang dengan keadaan gila! kau pikir aku bisa tidur nyenyak?! aku akan membunuh mu! dasar jahat!


Nath membiarkan Vanya puas memukulinya meski sesungguhnya, pukulan-pukulan itu terasa lumayan sakit juga.


Setelah beberapa saat, Vanya sudah bisa mengendalikan dirinya lagi. Dia sudah tidak terisak dengan kesal lagi. Nath menjatuhkan tubuh Vanya ke pelukannya.


" Maaf, sayang. Semua yang terjadi ini, tidak akan terulang lagi. Kau, aku dan anak kita, tidak akan terpisah lagi. Aku janji padamu. " Nath menciumi pucuk kepala istrinya yang sangat ia rindukan itu.


" Jangan memberikan janji lagi! "


" Baiklah maaf. " Nath.


" Kapan kau mengingat semuanya? " Tanya Vanya sembari mendongakkan wajahnya untuk menatap Nath.


" Kemarin. Saat kau mencium ku. " Jawab Nath yang tak henti-hentinya mengelus rambut Vanya.


" Lalu, kenapa kau datang bersama si Geboy itu kalau kau sudah ingat?! " Protes Vanya.


" Maaf, aku tidak punya pilihan. Aku janji, tidak akan ada lain kali.


" Baiklah, maaf. Lalu, apa yang harus aku berikan agar kau mau memaafkan ku? " Tanya Nath sembari menatap manik mata Vanya yang juga terus menatapnya.


Vanya tersenyum. " Bagaimana, kalau kau memberi adik untuk Nathan?


Nath terkekeh. " Berapa yang kau mau?


" Satu cukup. Hanya saja, cara membuatnya yang harus banyak. " Bisik Vanya. Huh....! wajahnya benar-benar merona kali ini.


" As you want, sayang. " Jawab Nath sembari mengubah posisi agar lebih leluasa memulai kegiatan suami istrinya.


***


Lexi memiringkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Sungguh dia benar-benar tidak bisa tidur. Kamar yang Ia dan Devi tempati, sungguh aneh. Sebentar-sebentar panas, kemudian, tiba-tiba menjadi sangat dingin.


Lexi menoleh ke arah samping.


Si mulut kubangan kenapa bisa begitu mudah tidur? apa kulitnya sangat tebal dan tidak bisa merasakan hawa di ruangan ini? Oh, ya ampun. Air liurnya menetes! itu menjijikan sekali!


Satu jam berlalu. Lexi masih saja tidak bisa tidur. Kenapa? itu karena suara dengkuran Devi yang begitu menusuk gendang telinga. Dia sudah menekan hidung Devi beberapa kali, tapi tetap saja, gadis itu bagai mati suri dia sama sekali tidak terganggu tidurnya.


Larut, dan semakin karut malam itu. Perlahan, Lexi mulai terbiasa mendengar dengkuran Devi. Dia sudah mulai merangkak menuju ke alam mimpi.


Bugh....!


Lexi kembali membuka matanya lebar-lebar saat tubuhnya serasa di tindih sesuatu yang berat. Lexi hanya bisa menahan tangisnya karena kesal. Separuh tubuh Devi menindih tubuhnya.


Ya Tuhan,... aku ingin sekali mencekik siluman ini. Kenapa kau menikahkan aku dengan mulut kubangan ini, Ya Tuhan?apa boleh minta tukar tambah istri?


Lexi menghempaskan dengan kasar tangan dan kaki Devi yang mengekang tubuhnya.


" Kalau saja, kau bukan perempuan, aku pasti akan.." Ucapan Lexi terhenti saat tak sengaja melihat gaun tidur Devi tersingkap ke atas. Karena gara-gara suhu ruangan yang aneh, akhirnya Devi mengganti pakaian tidurnya dengan Dress tidur.


Ya Tuhan,... aku harus senang atau apa sih melihat ini? tapi, mataku bahkan tidak mau berkedip. Kira-kira, seperti apa isi dalamnya ya? hihihi....


Fajar yang hampir tiba, di saat itulah Lexi baru bisa memejamkan mata. Setelah dengan susah payah mengendalikan tongkat ajaibnya yang tidak mau tidur saat melihat bagian terlarang Devi yang masih berbalut kain tipis itu.


(Maaf Lexi, kamu yang pengantin baru, tapi Nath dan Vanya yang malam pertamaan. Malam pertamamu akan segera datang kok. Sabar ya. Hehe...)


" Bangun.....! " Devi berteriak di telinga Lexi untuk membangunkan suaminya itu.


" hah?!! bagaimana bentuk bagian dalamnya?! " Ucap Lexi setengah sadar sembari bangkit dari tidurnya.


Devi menatap Lexi yang menatapnya kikuk.


" Bagian dalam apa? " Tanya Devi yang ikut bingung.


" Hah? ti, tidak bukan apa-apa. " Lexi mengalihkan pandangan.


" Apa yang sedang kau pikirkan? " Tanya Devi menyelidik.


Sialan! aku bahkan sampai terbawa mimpi gara-gara mulut kubangan ini.


" Cih! pagi-pagi begini sudah gila. Ayo cepat, kita harus sarapan. Aku sudah kelaparan menunggu mu bangun.


Dengan malas, Lexi bangkit dari tempat tidurnya. Dia berjalan menuju kamar mandi. Tapi langkahnya terhenti saat sudah memegang handle pintu kamar mandi.


Lexi menatap Devi yang kini duduk sembari memainkan ponselnya.


" Hei! mulut kubangan! besok-besok, jangan pakai lagi gaun tidur sialan mu itu. " Ucap Lexi lalu berlalu dan memasuki kamar mandi.


Devi mengerutkan dahinya bingung. Baju tidur sialan? kenapa? kenapa mengatai baju tidur mahal itu sialan? cih! dasar homo! kalau laki-laki lain, dia pasti akan langsung menyergapku. Untung saja kau tidak tertarik dengan perempuan. Mau aku telanjang pun, itu tidak masalah. Kalau begitu, aku tidak akan segan mulai sekarang. Mandi di hadapan mu pun, aku tidak keberatan.


To Be Continued.


To Reader ku tersayang,...


Thanks buat support dari kalian ya...


Dan, maaf lagi karena gk bisa bales komen kalian satu persatu. Yang pasti, aku sudah baca kok komennya.


Maaf, untuk eps kemarin yang sedikit gk nyambung di akhir. itu dikarenakan mata othor yang susah sekali fokus beberapa hari ini. Jadi, teks untuk Vanya dan Nath salah paste.


Tapi, karena like dan baca komen-komen dari kalian, othor jadi semangat up tiap hari. Yah, meskipun tubuh othor ini bener-bener berasa ringsek dan susah konsentrasi.😭


Happy reading pokoknya. Tetap jaga kesehatan. Dan lopek you all..