
Setelah melihat Ivi yang tersenyum menatapnya, Nathan menjadi salah tingkah. Tentulah Nathan tahu kalau senyum itu bukan senyum karena terpana dengan ketampanan nya yang amat mengagumkan itu. Tapi mau bagaimana lagi kan? nasi sudah menjadi bubur, mau tidak mau dia hanya bisa melanjutkan berbohong. Dia kembali menatap Sammy seolah bertanya dia harus bereaksi seperti apa sekarang ini? sayang, Sammy si bocah terkutuk alias siluman babi itu malah melengos dengan kurang ajarnya.
Dasar siluman babi! lihat saja, aku akan membuatmu semakin jauh dari Berly. Lagi pula, hanya aku satu-satu nya orang yang akan didengarkan pendapatnya.
" Nathan.. " Panggil Salia yang merasa bingunh dengan situasi ini. Bagaimana tidak? tiba-tiba ada empat orang yang bersembunyi dan mendengarkan obrolan dengan Nathan tadi.
" Ah,! jangan memanggilku dengan nada mengerikan begitu. Lihatlah! " Nathan menunjuk ke arah Ivi yang tengah bengong karena dia tidak tahu menahu apa yang sebenarnya terjadi. Pertama-tama dia diminta untuk datang oleh Nathalie dan Nathania. Lalu tiba-tiba dia di ajak bersenbunyi di sana.
" Lihatlah, gadis itu adalah pacar ku. " Tunjuk Nathan untuk memberi tahu Salia agar cepat menghentikan aksi gilanya yang keramat itu.
" Apa yang kau katakan, Nathan? jelas-jelas nenek dan kakek Chloe bilang, kalau kau tidak memiliki kekasih sama sekali. "
" Punya! mana mungkin pria tampan sepertiku tidak punya pacar. Kalau siluman babi itu, ya menang dia tidak laku. " Lirik Nathan kepada
Sammy, dan hanya mendapat decitan sebal dari bibir Sammy.
" Aku juga sudah mencari tahu tentang mu. Kau selalu menolak semua gadis yang mendekati mu kan? "
Nathan menghela nafas kasarnya. Sungguh dia merasa kesal dengan nenek dan kakek nya itu. Bagaimana mungkin dia menceritakan hal memalukan kepada Salia? hancur sudah kepercayaan dirinya. Tapi tenang lah, Nathan adalah Nathan yang tidak akan mau mengalah oleh siapapun dan di manapun dia berada.
" Kau tidak akan tahu apapun tentang informasi pribadi yang aku lindungi dengan baik. Memang sih, Ivi tidak cantik, dia bawel, tukang protes, galak, tidak bisa membedakan mana pria tampan dan mana pria berwajah curut mabuk, dia juga hobi sekali membantah semua ucapan ku. " Nathan menghela nafasnya sebelum melanjutkan ucapannya.
" Tapi dia wanita yang baik dan penyayang. Dia tidak mudah tergoda hanya karena wajah dan uang. " Nathan terdiam karena mengingat sesuatu.
" Tidak! tidak! dia memang tergiur dengan uang, tapi dia tidak mata duitan kok. "
" Omong kosong apa yang kau bicarakan, kotoran la- " Nathalie dengan cepat membungkam mulut Ivi. Bukan tanpa alasan, kalau sampai Ivi terlalu kelepasan, itu akan menjadi angin segar bagi Salia dan juga nenek kakek Chloe untuk semakin menekan Nathan.
" Jangan membahayakan siluman kera ku. Eh, maksud ku kakak kami yang tercinta itu. " Nathania nyengir malu karena hampir saja dia menjelek-jelekkan kakaknya sendiri.
" Tolong bekerja samalah dengan baik. " Timpal Nathalie.
Ivi melepaskan bungkaman tangan Nathalie lalu mengangguk.
" Aku bahkan sangat jago berakting. Lihat saja aktingku yang mampu mengalahkan Angelina Jolie. "
Ivi berjalan mendekati Nathan dengan wajah cemberut manja yang tentulah itu hanyalah kepura-puraan saja.
" Kakak, kenapa kau diam-diam menemui wanita lain? aku bahkan harus bersembunyi untuk memergoki mu. " Setelah jarak mereka yang begitu dekat, Ivi melingkarkan lengannya di lengan Nathan lalu bergelayut manja disana.
Apa, apaan sih dia?
Nathan terdiam dengan rona merah yang nampak jelas di pipinya. Entah bagaimana pula dia menyukai tingkah Ivi yang begitu manis itu. Apalagi saat dia merengut seperti benar-benar cemburu, rasa-rasanya Nathan ingin sekali mencubit pipi Ivi hingga memerah. Oh, bukan mencubit, tapi mencium sepertinya lebih tepat.
" Kakak, apa matamu sudah tidak buta lagi? apa kau sudah bisa melihat wanita mana yang cantik? "
Nathan tersenyum miring. Baiklah, kau ini mau main rayu-rayuan dengan ku rupanya.
Nathan menatap Ivi lalu mencubit hidungnya pelan.
" Tidak kok. Aku akan tetap buta dan terus menganggap mu yang paling cantik di alam semesta ini. " Nathan mengakhiri ucapannya dengan senyum yang begitu manis. Entah itu kekaguman atau apa, tapi Ivi merasa senang.
Tidak! aku tidak boleh terpesona dulu. Mari lanjutkan akting ini.
Sialan! dia mengatai ku ab normal?
" Kau ini bisa saja. Aku sebenarnya juga heran, bagaimana bisa aku jatuh cinta dengan mu? padahal, kau inikan pendek, terlalu kurus, galak, menyebalkan, dan masih banyak ke anehan yang lainya lagi. "
Kurang ajar! jujur itu memang baik, tapi kalau menyakitkan begini ya lebih baik jangan jujur.
" Oh, kakak. Apa kakak sudah minum obat? " Tanya Ivi dengan senyum yang gak bisa Nathan artikan apa maksudnya.
" O obat apa? "
" Sudahlah kak, tidak perlu malu-malu. Kakak kan punya penyakit kadas, kurap, kutu air, badan kakak saja masih banyak panunya. Kakak, bahkan kakak juga sering sekali bau ketek. Tapi tidak tahulah, aku malah semakin menyukai kakak. "
Nathan terperangah tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut Ivi.
Kadas, kurap, kutu air, panu, di dan bau ketek? gadis gila ini tidak sadar apa kalau sudah menghancurkan ku seperti debu?
" Oh, Ivi. Bukankah aku tertular darimu? apa punya mu sudah mulai sembuh? " Nathan memutar tubuh Ivi berpura-pura memeriksa.
" Sepertinya sudah sedikit menghilang. "
Kurang ajar!
" Aduh, kakak. Bagaimana aku bisa sembuh, kakak saja jorok. Padahal kaka sudah besar, tapi masih suka mengompol di celana. Pola hidup seperti itu kan memperparah keadaan ku, kak. "
Dasar gadis sinting!
" Ah, maaf ya Ivi. Habis mukamu mengingat kan ku dengan kloset. Aku jadi selalu ingin buang hajat saat melihat mu. "
Sialan! mana ada wajah yang mirip dengan kloset?!
" Apa sekarang kaka sedang ingin membuang hajat? perlu ku bantu? takutnya berceceran seperti biasa, kak. "
" Wah, sepertinya itu ide yang bagus ya? "
Nathan dan Ivi berjalan bersama menuju ruang tengah tanpa perduli lagi bagaimana tercengangnya mereka yang tertinggal di ruang tamu.
Sammy, Nathalie dan Nathania masih saja terperangah tanpa suara mendengar Ivi dan Nathan berbicara.
" Tadi itu mereka sedang apa sih? " Tanya Nathania yang masih saja dengan wajah syok nya.
" Merayu atau menghina? " Tanya Nathalie yang juga terlihat syok dan bingung.
" Dibandingkan merayu, siluman kera jantan dan siluman kera betina itu malah terlihat saling menghina. " Sammy menjawab dengan wajah yang tak kalah syok dengan gadis kembar di sampingnya itu.
" Sungguh siluman kera yang serasi. " Ucap Nathalie dan Nathania bersamaan.
Sementara Salia, gadis itu mengepalkan kedua tangannya kuat dan langsung meninggalkan kediaman Nathan dengan wajah marahnya.
Lihat saja, aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan. Dan kau gadis gila! aku akan membuatmu menderita hingga takut mendekati Nathan lagi. Karena Nathan adalah milikku.
To Be Continued.