Touch Me!

Touch Me!
S2- Wedding Day ( Visual )




( Nath dan Vanya ) abaikan visual lamanya ya.... 🥰


Sesuai dengan yang sudah disepakati, hari ini adalah hari pernikahan Nathan dan Ivi. Tidak ada kemewahan sama sekali. Hanya ada orang tua Ivi, kakaknya, orang tua Nathan, Sammy, Nathalie dan Nathania. Memang ada beberapa orang luar sebagai saksi, dan itu adalah Lexi dan Kevin. Teman kedua orang tua Nathan. Semua berjalan lancar tanpa hambatan sedikitpun. Sungguh, ini bagaikan mimpi bagi kedua mempelai dan keluarga mereka.


" Akhirnya, putra kita menikah juga. " Ucap Vanya kepada suaminya yang berada tepat disebelahnya.


" Iya, syukurlah. "


Tapi masalah akan datang sebentar lagi, sayang. Ayah dan Ibu ku tidak hadir disini itu adalah sebuah pertanda buruk. Semoga saja Nathan dan Ivi bisa melalui ini bersama.


Nath menatap wajah putranya yang sedari tadi terus tersenyum. Ini adalah pertama kalinya dia bisa melihat wajah bahagia anaknya karena seorang wanita. Sungguh dia juga merasa sangat bahagia. Tapi jika mengingat bagaimana latar belakang Ivi, dia menjadi begitu khawatir jika Tuan dan Nyonya besar Chloe akan melakukan hal buruk kepada Nathan dan Ivi.


Nathan, Ayah berjanji akan membantu mu sebisa mungkin. Ayah berharap, kau akan terus merasa bahagia seperti hari ini. Tapi jika ada waktunya Ayah tidak bisa datang di saat waktu yang mendesak, tolong berjuanglah untuk melindungi wanita mu.


Vanya menatap wajah suaminya yang seperti sedang mengkhawatirkan sesuatu. Tentulah dia tahu apa yang kini menjadi uneg-uneg di hati suaminya. Meskipun sering berselisih paham, Nath adalah sosok Ayah yang begitu menyayangi anak-anaknya. Dia memang tidak bisa mengungkapkan secara langsung bagaimana dia mencintai anak-anaknya, tapi jangan pernah meragukan cinta Nath yang begitu luar biasa kepada anak-anakanya, yah... meskipun nama mereka ada di antrian nomor dua. Karena nama yang pertama masihlah tetap Vanya seorang.


" Sayang, semua pasti akan baik-baik saja. " Ucap Vanya lalu menggenggam tangan suaminya. Dua puluh lima tahun hidup bersama, Nath hanya membutuhkan hal kecil seperti itu untuk bisa merasa yakin. Genggaman dan senyuman dari Vanya, semua itu adalah sumber kekuatan yang tida akan ada duanya.


Nath tersenyum lalu mengangguk. Dia mengeratkan genggaman tangannya lalu mengangkat tinggi genggaman tangannya dan mencium punggung tangan Vanya berkali-kali. Bagai tak mengenal situasi, mereka justru begitu mesra hingga membuat banyak mata mengarah menatap mereka dengan tatapan iri dan ada juga yang menatap sebal.


" Dasar pak tua menyebalkan. Berani-beraninya bertingkah seperti ABG di pernikahan ku. " Gumam Nathan kesal.


" Wah, mereka benar-benar pasangan yang romantis ya? huh... aku jadi iri kalau melihat pasangan yang begitu mesra. Kapan ya aku bisa jadi orang ketiga di antara mereka? " Ucap Ibu sembari menatap Nath dan Vanya.


" Dasar tukang pamer! " Kesal Ayahnya Ivi sembari mendengus kesal. Kesal karena iri tentunya. Bagaimana tidak? kalau sedang berduaan saja dengan Ibu, boro-boro mau romantis. Yang ada Ibu akan memanfaatkannya hingga ingin membuatnya kabur menjauh sejauh mungkin. Padahal sudah selembut mungkin merayu Ibunya Ivi. Tapi tetap saja ujung-ujungnya dia harus mencuci piring, mencuci baju, membantu memasak, mengepel, dan banyak lagi hanya untuk memenuhi keinginan Ibu yang katanya sebagai bukti cinta Ayahnya Ivi kepada istrinya.


" Mereka sungguh membuat ku ingin menjadi pelakor. " Ucap Ibu lagi yang masih menatap nath dan Vanya penuh kekaguman.


" Tidak kah kau berpikir? pelakor adalah tindakan yang tidak baik. " Ayah mengingatkan dan tentu saja dengan nada lirih yang hanya bisa didengar oleh nya dan Ibu saja.


Ibu menatap sinis sesat lalu kembali ke Nath dan Vanya.


" Lagi pula tidak indah hubungan yang selalu romantis. Kan kalau ada orang ketiga di antara mereka, bisa menjadi pengujian cinta kan? "


Ayah mendesak sebal. Sudahlah, biarkan saja terompet istrinya berbunyi tidak karuan hari ini. Toh hanya akan berbunyi saja tanpa berani melakukannya. Dibanding bertengkar dengan istrinya, saat ini dia lebih tertarik kepada putri satu-satunya yang saat ini terlihat sangat cantik.


Nak, hiduplah bahagia dengan pria tengik sok ganteng itu ya? kalau sampai dia menyakiti mu, Ayah janji akan mengulitinya hingga tuntas.


" Gila ya? aku benar-benar iri dengan Ivi. " Ujar Dodi setelah berdecih beberapa kali.


" Apa yang membuat mu iri? " Tanya Ibu sembari menatap putranya yang berada di sisi kirinya.


" Lihatlah, Bu. Suaminya sangat tampan, kaya, mertuanya juga memiliki wajah yang sempurna. Apalagi adik kembarnya Nathan, mereka sangat cantik, Bu. Kalau aku jadi Ivi, aku tidak perlu keluar rumah untuk cuci mata.


" Kalau aku lahir sebagai Nyonya Vanya, aku benar-benar akan berjalan di atas bara sebagai rasa syukur ku yang tiada tara. "


" Mimpi saja! " Telak Dodi.


Disisi lain.


Sungguh hari ini Nathan benar-benar tidak bisa mengontrol wajahnya yang terus saja tersenyum bahagia. Padahal, seharian kemarin dia sudah berlatih dan tersenyum sepuasnya. Tapi kenapa pula dia tidak bisa menghentikan bibirnya yang selalu ingin tersenyum ya?


" Berhentilah tersenyum seperti itu, wahai suami bohongan. " Ucap Ivi dengan bibir tersenyum dan berucap lirih tanpa menatap Nathan.


Sialan! dia memperhatikan ku jiga rupanya.


" Aku hanya tidak ingin terlihat tertekan karena sudah menikahi wanita sepertimu. " Ucap Nathan.


" Terserah kau saja, suami bohongan. "


Lenyap. Lenyap sudah senyum manis yang sedari tadi menghiasi wajah Nathan. Kenapa? tentu saja karena Ivi menyebut suami bohongan hingga dua kali tentunya.


" Jangan memanggilku suami bohongan. Kita menikah memang bukan karena cinta, tapi status suami istri ini tidak bohong-bohongan. "


Ivi menatap wajah Nathan yang nampak sisi samping. Sungguh dia terkejut dengan ucapan Nathan barusan. Dia berpikir, Nathan adalah pria yang bisa saja berselingkuh dan bisa kapan saja mengganti istri karena pernikahan tidak sehat yang mereka langsungkan hari ini.


" Jadi, kita benar-benar suami istri? "


Nathan menoleh ke arah Ivi yang kini tengah menatapnya.


" Tentu saja suami istri sungguhan. "


Ivi menelan salivanya tapi tatapan matanya masih tertuju kepada manik mata Nathan.


" Jadi, apa malam pertama kita akan melakukan anu-anu? "


Nathan mengeryit mencerna ucapan Ivi. Seketika setelah dia menyadari apa maksud dari pertanyaan Ivi, dia langsung menatap ke arah lain. Bukan marah atau merasa keberatan, hanya saja dia merasa malu dan sudah pasti pipinya akan merona.


" Menurutmu bagaimana? " Tanya Nathan tapi masih tidak mau menatap Ivi.


" A aku, aku, " Entah apa yang terjadi dengan Ivi kali ini. Rasanya tenggorokan dan juga bibirnya menjadi kering kerontang seketika. Sungguh dia menyesal karena telah menanyakan pertanyaan gila ini.


Aduh, bagaimana ini? ah, begini saja, hari ini sampai minggu depan alasan datang bulan. Setelahnya, alasan sakit, setelahnya alasan lelah, setelahnya alasan, alasan apa lagi?


To Be Continued.