
Ivi menggeliat laku memutur tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Menggeliat malas dia tas tempat tidur sederhana yang sudah lama ia gunakan. Kamar yang minimalis tapi rapih dan bersih. Iya, rapih dan bersih, karena Ibu lah yang selaku merapihkan kamar Ivi. Bukanya malas, hanya saja Ivi terlalu lelah untuk melakukanya. Untunglah Ibu adalah orang yang paling pengertian dan hampir tidak pernah mempermasalahkan hal sepele seperti itu. Karena Ibu juga tahu bagaimana Ivi dan Dodi begitu bekerja keras untuk menggantikan sosok Ayah yang biasanya melakukan itu semua.
Ivi menggerakkan tangannya meraba dimana letak ponsel yang sedari tadi bergetar. Matanya masih terpejam meski otak sudah mulai bekerja, merencanakan kegiatan yang menghasilkan uang hari ini.
" Hem? " Ucap Ivi setelah menemukan ponsel dan langsung menerima panggilan telepon itu dengan mata yang mengeryip malas.
Bangun! kau ini seorang gadis bukan babi!
Ivi perlahan membuka matanya lebar untuk melihat dengan jelas siapa yang memakinya di pagi hari.
" Upin atau Ipin nih? " Tanya Ivi malas.
Baiklah, panggil aku Ipin si ganteng alias Sammy, laki-laki terimut di era modern ini.
" Mimpi! "
Bisa kita bertemu?
" Untuk apa? "
Kau tidak mau uang?
Mendengar kata Uang, Ivi langsung bangkit dan duduk dengan tegap.
" Mau! "
Bagus, kapan kita bisa bertemu.
" Sekarang juga boleh. "
Hei hei! kenapa kau begitu transparan sekali? mata duitan boleh-boleh saja, tapi jangan terlalu jelas begitu.
" Memang kenapa? "
Setidaknya kau perlu menjaga image kan?
" Menjaganya untuk siapa? "
Eh? benar-benar tidak anggun.
Ivi berdecih tak lagi berniat ingin membalas sindiran dari Sammy. Entah mengapa rasanya sangat malas meladeni Sammy. Berbeda saat bertengkar dengan Nathan, dia seolah tida kenal lelah untuk meladeni mulut sialan yang suka sekali menghina pria tampan yang menjadi idolanya saat ini.
Setelah memutuskan dimana mereka akan bertemu nanti, Ivi kembali beringsut dan meringkuk di balik selimut yang membuat tubuhnya menghangat lalu kembali memejamkan mata. Karena masih dibutuhkan satu jam lebih untuk bertemu dengan Sammy nanti.
***
" Kenapa harus satu jam tiga puluh menit lagi? kenapa tidak sekarang saja? " Tanya Nathan kepada Sammy karena saat menghubungi Ivi, Nathan juga ikut mendengarkannya.
Sammy tentu saja menghela nafas kasarnya. Dia bahkan membuang kotoran di matanya saja belum, bagaimana mungkin mengajak. ketemu orang dengan penampilan seperti itu? Kesal sekali! batin Sammy menggerutu. Pagi-pagi tadi, Nathan sudah mengetuk kamar Sammy berkali-kali untuk membangunkannya. Mesipun tidak secara langsung mengatakannya, tentulah Sammy sudah tahu apa maksud uacapan Nathan.
Hei, tukang tidur! nanti aku harus bertemu seseorang. Bisa diskusikan dengan gadis ayam goreng itu sebelum aku pergi?
Benar-benar tidak masuk akal! sejak kapan Nathan akan sok sibuk? padahal ini kan hari minggu? lagi pula siapa yang mau dia temui? bahkan keluarga nya saja kalau mau menemui dia harus membuat janji dulu.
Sudah tidak sabar rupanya.
" Aku harus mandi dan bersiap, Oh my prince devil. "
Nathan menaikkan sisi bibirnya kesal. Matanya masih tajam menatap Sammy dari dia bangun sampai selesai mandi. Sebenarnya agak aneh bagi Sammy karena Nathan begitu betah berada di dalam kamarnya. Matanya juga masih intens mengikuti kemana Sammy melangkah kan kaki. Sampai-sampai Sammy merasa gugup saat akan memakai pakaian. Dan pada akhirnya, Sammy memutuskan untuk mengganti pakaian di dalam kamar mandi. Iya lah! memang siapa yang tidak takut melihat tatapan intens seperti itu. Takutnya Nathan tiba-tiba khilaf dan memperkosa nya bagaimana?
" Lama sekali! kau ini orang atau bekicot? " Protes Nathan saat Sammy keluar dari kamar mandi setelah memakai pakaian gantinya.
Sammy terus saja menggerakkan bahunya karena bulu kuduknya yang tak henti-hentinya berdiri karena merinding ngeri. Semakin lama, Sammy semakin tidak tahan dan memutuskan untuk menghentikan tindakan Nathan yang aneh degan terus menatapnya.
" Nathan. " Panggil Samy seraya memutar tubuhnya menatap dan menghadap ke arah Nathan.
" Hem? " Nathan menjawab singkat, tapi matanya juga masih sama tak ada ubahnya sedikit pun.
" Apa menurut mu aku cantik? " Tanya Sammy.
Nathan sebenarnya tidak tahu apa maksud pertanyaan Sammy, tapi kalau menggodanya juga bukan masalahkan?
" Yah,lumayan. "
Sammy terperangah, lalu menyilangkan dadanya menutupi dadanya.
Apa dia begitu stres karena perjodohan ini sampai otaknya beku dan konslet?
" Dengar ya, Nathan. Meskipun kau tampan, aku tidak akan sudi menjadi gila sepertimu. "
Nathan menghela nafas kasar karena menyadari kemana arah pembicaraan Sammy yang tidak masuk akal. Doa menyilangkan lengan menutupi dada nya seolah-olah dia sedang memerankan tokoh gadis yang takut akan dilecehkan? mimpi pun tidak akan sudi Nathan melalukan hal itu.
" Aku hanya ingin kau bersiap degan cepat. Jangan berpikir macam-macam. "
Sammy menggaruk tengkuknya yang gak gatal.
Jadi salah paham ya? lagi pula siapa yang tidak berpikir macam-macam kalau caramu menatap ku seperti itu?
" Tenang saja, aku sudah siap kok. Kau pergi saja menemui orang. Yang mau bertemu dengan Ivi kan aku. " Ujar Sammy yang sebenarnya merasa sebal harus di buru-buru.
" Mana bisa begitu?! kan kau yang memaksa ku menikah dengannya. Mana bisa aku tidak datang? lagi pula kalau ada hal yang tidak aku suka bagaimana? kalau pernikahan ini terjadi, mau tidak mau pasti ada perjanjian hitam di atas putih kan? "
" Itu bisa dibicarakan nanti. Sekarang aku menemui Ivi untuk memastikan saja. " Sammy kembali memutar tubuhnya ke arah cermin lalu memperbaiki penampilannya.
" Apa-apaan?! tidak boleh! aku harus ikut! titik! "
" Nathan, kau bisa bertemu dengan dia saat sudah pasti. "
" Tidak mau! aku harus ikut. "
Padahal aku sudah siap dari jam empat subuh. Sekarang dia bilang aku tida boleh ikut? kurang ajar sekali.
Sammy hanya bisa menghela nafas pelan. Dari penampilannya, pastilah Nathan sudah bersiap sedari tadi.
Nathan, kau benar-benar menyukai Ivi ya? aku tidak menyangka, jadi selera mu yang tomboi begini? tapi baguslah. Bebe kesayangan ku akan aman
hehe
Waktu berlalu, Nathan dan Sammy juga sudah berada di sebuah tempat makan untuk menunggu Ivi. Kurang lebih lima belas menitan mereka menunggu, akhirnya yang mereka tunggu datang juga. Gadis degan celana jeans pendek dan kaos polos berwarna putih yang terlihat kebesaran di tubuhnya. Rambut sebahu dan wajah polos tanpa sapuan make up kini berjalan mendekat ke arahnya.
Nathan sebenarnya hampir saja tersenyum karena merasa lega gadis yang ditunggu telah datang, tapi namanya juga Nathan, tentulah tidak sulit mengendalikan ekspresi wajahnya.
" Dasar bekicot! kau membuang waktu berharga ku. " Ucap Nathan sembari melengos ke arah lain.
" Aku juga banyak membuang waktu untuk ke sini. Tolong jangan terlalu menghakimi. " Ivi menarik kursi dan duduk berseberangan dengan Sammy dan Nathan.
" Ivi kau sudah sarapan? " Tanya Sammy lembut. Iya lembut, entah apa tujuan pria itu. Sementara Nathan langsung saja melotot kesal.
To Be Continued.