
Setelah perbincangannya dengan nenek dan kakeknya, Nathan memilih untuk diam dan memikirkan semua ini dengan baik. Nathan menghela nafas nya beberapa kali karena benar-benar tidak paham dengan semua ini. Nathan semangat mengeryit saat kembali mencoba berpikir, tapi lagi-lagi dia hanya bisa mendesah sebal karena tidak ada yang bisa ia dapatkan dari usahanya berpikir.
" Ckckck.... wajah muram begitu, apa ada kotoran kerbau yang menutupi wajah mu? " Sindir Sammy yang sedari tadi memperhatikan Nathan dari kejauhan.
" Wajah ku sangat bermartabat. Mana mungkin sampai ada kotoran kerbau yang berani menempel di wajah ku? kuman saja sungkan. "
Sammy menaikkan sisi bibirnya dengan tatapan kesal. Dia tahu benar apa yang dipikirkan Nathan saat ini. Tapi entahlah, rasanya dia begitu yakin menerima Ivi sebagai istri dari kakak angkatnya itu.
" Kau memikirkan ucapan Nenek dan Kakek mu? " Tanya Sammy seraya mengambil posisi duduk di samping Nathan.
Nathan menghela nafas kasarnya.
" Tentu saja. "
Sammy tersenyum, tapi tidak menatap Nathan karena pandangannya lurus ke arah jendela yang ada di hadapannya.
" Nathan, percayalah pada Ayah dan Ibumu. Mereka adalah orang baik, mereka tidak akan sembarangan menikahkan putra satu-satunya jika mereka merasa wanita itu tidak pantas. "
Nathan tersenyum, iya benar sekali. Sebenarnya, dia sama sekali tidak perduli bagaimana masa lalu Ivi. Karena dia yakin, Ivi adalah gadis yang baik dan memiliki keunikan tersendiri.
Tapi masalahnya, nenek dan kakeknya pasti tidak akan membiarkan saja hal itu terjadi. Siap tidak siap, dia juga harus bisa membuat nenek dan kakeknya menerima Ivi sebagai istrinya.
" Menurutmu, seberapa besar peluang nenek dan kakek ku akan menerima Ivi? " Tanya Nathan kepada Sammy.
" Tidak tahu, aku merasa aneh kalau di memberikan peluang itu. Nenek dan kakek mu adalah orang yang mengkastakan kedudukan seseorang dari nominal dan. pengaruh di dunia bisnis. Jika melihat Ivi, bagaimana bisa dia akan menerimanya begitu saja? "
" Kau benar, tapi tidak ada salahnya mencoba kan? "
" Iya, lusa adalah ulang tahun kakek. Aku yakin, mereka tidak akan membiarkan Ivi ikut bersama mu untuk datang kesana. "
Nathan menginginkan senyum nya.
" Memang bisa melarang ku datang bersama istriku? "
Sammy tersenyum dengan tatapan menghina.
" Kau menyepelekan mereka ya? kau tidak tahu betapa mengerikan mereka saat mereka mengatakan ' Tidak! ' "
" Cih! hanya tinggal bersikap sok imut dan manja, biasanya mereka kan akan langsung luluh. " Ujar Nathan santai.
Sammy terperangah sembari menggeleng heran.
" Benar-benar siluman kera yang gila dan suka berpura-pura. "
Nathan bangkit dan berniat untuk kembali ke kamar. Tapi sayang sepertinya dia tidak bisa melanjutkan niatnya. Katena saat ia bangkit, Nenek dan Kakek nya entah mengapa kembali datang. Jujur, meski merasa malas, Nathan tetap menyambutnya dengan hangat.
" Nenek, kakek? ada apa? kenapa kembali lagi? " Tanya Nathan seraya berjalan ke arah mereka.
" Kenapa? apa kau tidak suka kalau kami kembali? " Tanya Nenek sedikit sinis nada suaranya.
Iya sih, tapi mana mungkin aku mengaku.
" Bukan begitu, aku hanya bertanya saja kok. "
Tuan dan Nyonya besar Choe kembali duduk di sofa.
Kenapa malah duduk sih? kan tadi sudah pamit, kenapa duduk lagi? apa tadi itu cuma prank saja?
" Iya memang sih, Eh! bukan! maksud ku, aku tidak begitu. " Nathan nyengir setelahnya karena kehilangan kontrol untuk berbicara. Dari kejauhan Sammy hanya bisa menahan tawanya. Benar, dari dulu hingga sekarang, Tuan dan Nyonya besar Chloe sama sekali tidak menyukai dirinya. Setiap berada satu ruangan yang ada Sammy, mereka selalu akan mengatakan tidak nyaman. Setelah mendengar itu langsung, hingga kini Sammy terus menjaga jarak dan menjauh saat mereka datang. Dia juga sama sekali tidak pernah ikut ke rumah utama Chloe setelah itu.
Nathan mau tidak mau kini harus menemani kakek dan nenek nya yang entah apa mereka tunggu.
" Nathan? " Panggil Ivi. Sebenarnya dia mencari Nathan untuk menanyakan dimana dia menaruh vitamin yang Dokter berikan tadi.
" Ivi? " Sammy menoleh ke arah Ivi saat mendengar suara Ivi memanggil Nathan.
" Ada apa? " Tanya Sammy.
" Nathan ada dimana? "
" Di ruang keluarga. "
Ivi mengeryit bingung.
" Siapa yang datang? "
" Nenek dan Kakek nya Nathan. "
Ivi tersenyum mengangguk lalu berniat melangkah kan kaki untuk menuju ruang tamu.
" Tunggu! " Cegah Sammy sembari menahan lengan Ivi.
" Kenapa? "
" Kau mau pergi menemui mereka? " Ivi mengangguk mengiyakan. Tentulah Sammy menggelengkan kepala dengan cepat.
" Jangan! mereka bukanlah mertua mu. Mereka sangat berbeda dari Ayah dan Ibunya Nathan. "
Ivi tersenyum, meraih tangan Sammy lalu menggenggamnya. Saat pertama kali memutuskan untuk mempercepat hari pernikahan, Ivi sudah membaca berbagai berita tentang keluarga Chloe. Begitu juga dengan nenek dan kakek nya Nathan yang sudah bisa ia simpulkan, bahwa mereka akan sulit menerima nya. Tapi Ivi juga yakin, meskipun itu batu, lama kelamaan pasti akan terkikis jika sering terkena air. Kalaupun itu besi, bukankah akan merapuh karena karatan?
" Aku tahu, kakak kedua. " Ivi tersenyum seolah mengatakan jika dia akan baik-baik saja. Jujur, Sammy memang takjub dengan keberanian Ivi. Tapi entahlah, untuk menghilangkan kesan menyeramkan pada Tuan dan Nyonya besar Chloe sangatlah sulit baginya.
Ivi dengan percaya diri melangkahkan kaki menuju ruang keluarga. Benar saja, mereka ada di sana. Menyadari kedatangan Ivi, Tuan dan Nyonya besar Chloe menatap sinis dan dengan terang-terangan menunjukkan wajah keberatan mereka.
" Selamat siang menjelang sore, kakek dan nenek. " Sapa Ivi, tersenyum manis dan memasang wajah ramahnya.
" Ivi? " Nathan bangkit menatap Ivi dengan tatapan terkejut. Sungguh dia tidak ingin Ivi berada di sana sekarang. Dia tidak mau melihat Ivi diperlakukan buruk dan direndahkan di depan matanya. Nathan menelan salivanya lalu berjalan mendekati Ivi.
" Kau sudah bangun? bukankah Dokter menyuruh mu untuk banyak istirahat? ayo kembali ke kamar. Aku akan mengantar mu. " Nathan dengan wajah paniknya meraih tangan Ivi agar segera keluar dari ruang keluarga. Tapi sepertinya, Ivi menolak karena membuat tangan Nathan terhenti dengan menhanannya.
" Aku baik-baik saja, Nathan. " Ivi tersenyum lalu mengangguk.
" Ivi, " Nathan berhenti berucap saat melihat manik mata Ivi yang seolah meyakinkan Nathan bahwa semua akan baik-baik saja.
" Apa aku tidak boleh menemui kakek dan nenek? mereka kan juga sudah menjadi keluarga ku sekarang. " Nathan terdiam karena tak bisa mengatakan apapun. Benar, semakin menghindar, itu juga tidak akan baik. Tapi melihat wajah Ivi dan tatapan penuh keyakinan itu, Nathan merasa bahwa Ivi adalah gadis yang kuat.
" Baiklah, ayo duduk. " Nathan mengajak Ivi untuk duduk di sampingnya.
" Kami kembali karena ingin bertemu dengan orang tuamu. Bukan dengan gadis tidak jelas asal usulnya ini. " Sinis Nyonya besar Chloe setelah melirik sebentar ke arah Ivi.
To Be Continued.