
Jadwal kembali berubah kali ini. Dia hanya bisa mengikuti instruksi Nathan yang membawanya kembali masuk ke dalam pusat belanja. Tentu saja untuk membeli beberapa barang dan juga ke super market untuk membeli buah dan yang lainya sebelum menemui Ayahnya Ivi di rumah sakit. Ivi hanya bisa menggeleng heran melihat Nathan berbelanja. Awalnya dia bilang hanya ingin membeli buah, roti gandum, susu, dan makanan ringan untuk Ayahnya Ivi dirumah sakit. Tapi karena Ivi juga akan mengunjungi rumah orang tuanya, Nathan berniat membeli kebutuhan pokok untuk rumah orang tua Ivi. Apa yang dibeli Nathan sih memang wajar-wajar saja, tapi yang membuat Ivi keheranan adalah banyaknya yang Nathan beli sangat keterlaluan. Mulai dari kentang sepuluh kilogram, kemudian sayur-sayuran yang hampir sekeranjang besar setiap macam nya. Ditambah lagi buah-buahan yang entah berapa banyak kilogram yang dia beli. Belum ternasuk telur, tepung terigu, gandum, beras, bahkan entah apa saja Ivi sampai tidak ingat.
" Apa yang ingin kau beli? " Tanya Nathan yang merasa sebal dengan Ivi. Bagaimana tidak? sedari tadi Ivi terus mengomel dan melarangnya untuk membeli dalam ukuran banyak. Kan kalau dia hanya membawa sedikit, bisa-bisa mertuanya mengatai dia menantu yang pelit. Pokonya tidak boleh ada cela untuk mertuanya tidak menyukainya.
" Ha hanya pembalut saja kok. " Sebenarnya masih banyak yang ingin Ivi beli. Mukai dari shampo, sabun mandi, handbody, dan pakaian dalam. Tapi melihat banyaknya barang yang Nathan beli, dia sampai tidak bisa berpikir lagi. Bahkan, beberapa pegawai supermarket sampai berbaris membantu membawakan kereta belanjanya. Luar biasa kan? tak lupa juga, Nathan membelikan tempat tidur baru untuk Ivi. Maklum saja, waktu pertama kali tidur di tempat tidur Nathan, Ivi bergumam jika tempat tidur di kamarnya sudah sangat rapih dan juga kecil.
Tunggu! jangan lupakan Nathan yang sekarang ini sedang menatap sinis ke arah Ivi. Kenapa? itu karena Ivi mengatakan bahwa dia ingin membeli pembalut. Tentu saja dia tahu apa gunanya pembalut. Tapi masalahnya terbesar, amat besar, dan super besarnya adalah, mereka kan sudah membuat janji untuk kikuk-kikuk nanti malam.
" Ivi, jangan bilang kau sedang datang bulan. "
" Eh? apa yang kau bicarakan? dayang bulan ku masih sekitar satu mingguan lagi. " Jawab Ivi tanpa sadar dia telah membuat bibir Nathan tersenyum karena merasa sedikit lega.
" Lalu kenapa ingin membeli pembalut? " Tanya Nathan yang merasa aneh. Di kini sedang menuduh Ivi sedang mencari alasan agar rencana kikuk kikuknya gagal.
" Memangnya kenapa sih? datang bukan itu kan datangnya sangat tidak tahu diri. Dimabapun dan kapan pun, dia kan keluar seusai dengan keinginannya. Bukanya lebih baik bersiap saja dulu?
" Oh, baguslah. "
Ivi mengeryit bingung. Baguslah? apa yang bagus? dari mana bagusnya? kalau saja dia adalah Tuhan pencipta alam semesta ini, maka datang bulan juga tidak akan dia adakan. Membuat repot wanita saja tiap bulan.
" Ada lagi yang ingin kau beli? " Tanya lagi Nathan.
" Nathan, lebih baik kau pikirkan saja cara membawa pulang belanjaan mu yang banyak sekali ini. Mobil mu sangat kecil dan hanya muat untuk kita berdua. Apa kau yakin bisa meletakkan semua barang-bafang itu di atas mobil mu? "
Nathan menghela nafasnya lalu mendorong pelan dahi Ivi.
" Kau ini hidup di zaman purba ya? kita kan bisa sewa mobil pickup. "
Ivi menaikkan sisi bibirnya menatapnya sinis Nathan sesaat.
" Kau benar sekali. Aku datang kemari menggunakan mesin waktu. "
Setelah selesai berbelanja, Nathan dan Ivi juga sudah memesan mobil pickup untuk mengantar semua belanjaan ke rumah orang tuanya Ivi. Terkecuali bua-buahan yang kini sedang Ivi pegang. Karena buah itu akan ia bawa kerumah sakit untuk mengunjungi ayahnya Ivi.
Satu jam diperjalanan, akhirnya mereka sampai di sebuah rumah sakit terbaik untuk kanker. Sungguh sangat berbeda dengan rumah sakit yang duku pertama kali Ayahnya di rawat. Tempat yang jauh lebih lega dan kamar rawat yang hanya ada Ayahnya Ivi seorang. Entah seberapa mahal rumah sakit ini, tapi tentunya itu berkat Nathan dan keluarganya. Sejujurnya di saat seperti ini Ivi merasa kalau dia begitu beruntung karena bertemu pria yang perduli dengan keluarganya. Cukup membahagiakan juga rupanya hidup Ivi sekarang ini.
" Selamat siang, Ayah. " Sapa Ivi sembari mendorong pintu agar si pintu terbuka. Ayah langaung menoleh ke arah sumber suara.
" Ivi? " Ayah perlahan bangkit dan merentangkan tangan untuk memeluk putrinya yang sudah hampir satu bulan tidak menjenguknya.
" Dasar anak durhaka! kau sudah hampir satu bulan tidak menemui Ayah. Ayah hampir saja mengutuk mu menjadi bulu babi. "
Ivi mengeratkan pelukannya. Iya, inilah pelukan yang sudah hampir satu bulan ia rindukan. Harum aroma tubuh Ayah yang selalu membuat hatinya tenang, dan semua beban seolah hilang entah kemana.
" Maaf, Ayah. "
" Eh? " Ivi melerai pekukannya lalu merengut menatap Ayah.
" Ayah, Ayah tahu kan seberapa menyeramkan nya Ibu saat marah? "
Ayah menghela nafas panjangnya.
" Tahu, tentu saja Ayah tahu. Tapi ucapan Ayah yang barusan hanya bercanda loh. "
Hei aku juga datang menemui mu!
Batin Nathan kesal karena sama sekali tidak di anggap kehadirannya.
" Oh iya, Ayah. Nathan sudah membawakan buah dan kue kesukaan Ayah. "
" Selamat siang, Ayah mertua. " Sapa Nathan.
Sebenarnya Ayah nya Ivi bukan tidak menyukai Nathan, hanya saja dia tidak rela harus kehilangan putri nya. Seperti ini misalnya. Ivi jadi jarang mengunjunginya. Padahal sebelum menikah, Ivi selalu ada di sisinya setiap hari. Kalau boleh memilih, dari pada di urus oleh istrinya yang bawel itu, ataupun anak laki-lakinya yang selalu mengajak nya berdebat, tentu saja Ivi adalah pilihan satu-satunya.
" Terimakasih. " Ucap Ayah.
Ivi tersenyum menatap Ayahnya yang terkihat membaik. Wajahnya juga terlihat lebih segar dari yang terakhir dia lihat. Tida tahu lah, air mata kini toba-tiba memenuhi pelupuk matanya.
" Ada apa? kenapa kau mengis? " Tanya Ayah khawatir.
" Tidak ada Ayah. Aku hanya bahagia karena Ayah terlihat lebih baik. " Ivi meraih tangan Ayahnya dan membuatnya saling menggenggam.
" Ayah, aku sangat menyayangi Ayah. Tolong cepatlah sembuh Ayah. Aku tidak ingin kehilangan pria terbaik di dunia ini. " Ivi kembali memeluk tubuh Ayahnya erat. Erat, dan sangat erat hingga membuat Ayah berpikir.
Ivi, apa yang terjadi dengan mu? apa kau bertemu dengan salah satu dari mereka?
" Sudah, jangan menangis lagi. Pergilah ke kamar mandi dan basuh wajah mu. Ayah akan baik-baik saja. Dokter bilang, perkembangan kesembuhan Ayah sudah melewati ekspetasi. "
Ivi mengangguk paham.
" Baiklah, aku ke toilet dulu.
Setelah kepergian Ivi, Ayah menatap Nathan.
" Nathan, baru tahu aku. Siapa saja yang sudah Ivi temui beberapa waktu ini? terutama saat Ivi terlihat aneh, dia habis menemui siapa? "
To Be Continued.