
Setelah hampir dua jam menghabiskan waktu di tempat kerja lama Ivi. Sekarang mereka sudah di dalam perjalanan untuk kembali. Tapi karena Nathan mengingat jika tak jauh dari sana ada sebuah pantai, maka Nathan memutuskan untuk membawa Ivi kesana. Sesampainya di sana Nathan dan Ivi berjalan bergandengan memanjakan mata dengan pemandangan pantai yang luar biasa indah. Ditambah lagi sekarang sudah mulai sore, jadi mereka memutuskan untuk singgah sembari menikmati terbenamnya matahari nanti.
" Kau suka tempat ini? " Tanya Nathan sembari menuntun Ivi untuk duduk di sebuah kursi yang tersedia di sana. Maklum saja, pantai itu adalah tempat wisata yang cukup populer, jadi ada banyak sekali pengunjung dan pedagang di sana.
" Iya, aku suka. Disini juga banyak sekali bule tampan. " Nathan mengeryit lalu menatap tajam Ivi.
" Eh! maksud ku, bule di sini kan tampan dan cantik. " Ivi meringis malu karena sepertinya Nathan masih tidak mau percaya dengan apa yang menjadi alasan Ivi.
" Em, tapi sayang sekali ya? di antara bule bule yang berserakan di sini, tidak ada satu pun yang bisa menyaingi ketampanan suamiku. " Gumam Ivi dengan sengaja agar wajah kesal itu menghilang. Memnag sih, apapun ekspresi Nathan dia akan tetap terlihat tampan. Tapi alangkah lebih baik kalau jangan memasang wajah kesal itu. Ibunya bilang, jika tidak ingin anaknya mirip dengan Ayah nya nanti, maka dia tidak boleh membenci Nathan. Hah! membayangkan memiliki anak perempuan yang cantik seperti dirinya benar-benar bahagia. Eh, tunggu! apa Ivi cantik? kan hanya Ayahnya yang mengatakan jika dia cantik.
" Benarkah apa yang kau katakan barusan? " Tanya Nathan antusias. Sungguh, dia sangat bahagia mendengar ucapan Ivi. Sejujurnya, Nathan adalah orang yang selalu percaya diri. Atau bisa di bilang, dia terlalu percaya diri sepanjang waktu. Tapi ketika dengan Ivi, dia jadi rendah diri dan merasa takut jika Ivi tidak menganggap tampan seperti kebanyakan orang melihatnya.
" Memang tadi aku mengatakan apa? "
" Yang barusan. " Tuntut Nathan yang masih membutuhkan kata iya dari Ivi. Tidak tahulah, rasanya pengakuan dari Ivi sangatlah berarti baginya.
" Barusan? memang aku mengatakan apa? "
Nathan menghela nafas nya. Sudahlah, sepertinya Ivi memang tidak mau mengaku. Lagi pula, yang penting dia sudah mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Ivi tadi.
" Wah, indah sekali. " Ucap Ivi menatap indahnya matahari yang mulai tenggelam.
Nathan tersenyum lalu menatap Ivi.
Tapi senyummu jauh lebih indah.
" Nathan, eh maksud ku, sayang. Kau harus sering membawa ku kesini saat sore hari ya? " Ucap Ivi lalu menoleh ke arah Nathan yang sedari tadi duduk di sampingnya.
Deg...
Pandangan mata mereka bertemu. Entahlah, rasanya tidak ada satu pun yang mau mengalihkan pandangan mata mereka saat ini. Indahnya matahari terbenam juga tak dapat membuat mereka beralih pandang. Dekat, dan semakin dekat wajah mereka lalu berciuman. Beberapa detik mereka menikmati sentuhan bibir mereka, setelah itu mereka saling menatap kembali dengan jarak yang begitu dekat. Nathan menyentuh wajah Ivi lembut tanpa mengalihkan pandangannya.
" Ivi, bolehkah aku bertanya? " Tanya Nathan yang entah mengapa masih betah berada di posisi sekarang ini. Bahkan, dia malah ingin mencium kembali bibir Ivi tanpa perduli banyak nya orang yang ada disana. Entah melihat mereka atau tidak, dia benar-benar masa bodoh tentang itu.
" Apa? "
Nathan menelan ludahnya sendiri. Gugup memang, tapi dia tidak ingin menundanya lagi apa yang ingin dia ketahui.
" Apakah, apakah hatimu sudah ada aku? "
Jujur, Ivi benar-benar tidak tahan dengan debaran jantungnya kali ini. Rasanya begitu kencang hingga terasa ingin meledak. Tapi saat matanya kembali menelusur tatapan mata Nathan yang begitu lembut, entah dari mana rasa itu muncul, Ivi merasa begitu tenang.
Nathan menangkup wajah Ivi.
" Katakan padaku. Aku tidak bisa mempercayai nya kalau kau tidak mengatakan padaku. Katakan, katakan padaku yang sejujujur nya. "
" Aku, bagaimana dengan mu? " Heh! ini namanya kan menyatakan cinta? kenapa dia duluan yang melakukannya. Dimana-mana seharusnya laki-laki kan? meskipun Ivi hanya cantik di mata Ayah dan dirinya sendiri, seharusnya dia tidak membiarkan dirinya terlihat murah seperti barang obralan kan?
" Aku, " Nathan tampak berpikir sejenak. Bukan berpikir karena bingung mengetahui perasaannya, tapi bingung Bagaiamana caranya menyampaikan perasaannya tanpa terlihat terlalu jelas.
" Tentu saja aku harus mencintai mu. Kau kan istriku. Apa bisa aku mencintai wanita lain kalau ada istri? "
Ivi terperangah lalu menepis tangan Nathan. Sialan! memang nya sebegitu tidak pantas kah dia dicintai secara suka rela. Ivi kini terlihat kesal dan jadi malas untuk bicara lagi. Padahal tadi dia sempat terpesona oleh muka tampan sialan itu. Hah! dasar siluman kera yang tidak punya hati. Batin Ivi kesal.
Melihat reaksi Ivi, Nathan jadi merasa tidak enak. Tapi bagaimana lagi? dia belum bisa mengalahkan gengsinya dan mengakuinya secara langsung.
" Setelah anak kita lahir, aku benar-benar akan berkelana menyusuri lautan, daratan, pegunungan, lembah, tebing, dan apapun yang ada di dunia ini untuk menemukan pria yang mencintai ku secara suka rela. "
Nathan menatap kaget. Belum apa-apa niatnya sudah sangat menyeramkan seperti itu batinnya.
" Jangan asal bicara! memang kau tidak mau membesarkan anak kita bersama? "
" Membesarkan anak tentu saja aku mau. Tapi tentang cinta, tentu saja aku juga mau. "
" Tentu saja itu perlu! aku kan meencintaimu, lalu apalagi yang ingin kau cari? "
Ivi tersenyum senang karena tanpa sadar, Nathan sudah menyatakan perasaan yang sesungguhnya. Hah! luar biasa memang, harus dipancing dulu baru mengaku. Coba kalau tidak dipancing dan menunggu Nathan mengatakan dengan sendirinya, yang ada sampai lebaran kingkong juga tidak akan mungkin dia mengatakan apa yang hatinya rasakan. Cinta? hah! luar biasa sekali bisa dicintai oleh pria tampan dan kaya seperti Nathan.
" Nathan, aku juga mencintai mu loh. "
" Apa?! " Nathan mengeryit bingung juga kaget. Dia kembali mengingat-ingat apa yang dia katakan tadi sehingga Ivi mengatakan Juga. Hah? benar, dia sudah mengakui perasaannya secara langsung.
" Ja jadi? kau benar-benar mencintai ku? " Tanya lagi Nathan yang tidak berani menatap mata Ivi dan memilih menatap ke arah yang berlawanan.
" Iya, aku cinta pada mu loh. " Bisik Ivi ditelinga Nathan. Tentu saja sang empunya bergidik karena bisikkan Ivi itu terasa sampai ke tengkuknya. Sontak Nathan menatap wajah Ivi yang kini dekat dengan wajahnya.
" Ivi, aku juga begitu. " Ya sudahlah, mungkin mulut Nathan akan ambeien kalau sampai mengatakan cinta secara sadar. Yang paling pentingkan Ivi sudah paham apa maksudnya.
" Kalau begitu, kita tidak boleh saling memaki lagi ya? " Ivi tersenyum melihat bagaimana Nathan bersikap malu-malu sembari mengangguk setuju.
To Be Continued.