
Berhubung banyak yang minta Visual, akhirnya othor kasih deh....
NM: Nathan Rezef Chloe
STAR...
Tok...! Tok...!
Suara ketukan pintu yang sudah Vanya tunggu, akhirnya terdengar juga. Vanya menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya perlahan. Dia tidak dapat menyingkirkan rasa gugup yang menyelimuti keberaniannya.
Setelah beberapa saat, Vanya mulai mendekati pintu untuk membukanya.
" Nath? " Vanya berpura-pura terkejut dengan kehadiran Nath di hadapannya.
" Bisa kita bicara? " Tanyanya sopan.
Vanya tersenyum dan mengangguk. " Masuklah.
Serius? dikamar? apa akan baik-baik saja nantinya? aku takut, bukan mulut kami yang bicara, tapi tubuh!
Nath melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar Vanya. Matanya mengelilingi tiap sudut ruangan. Lagi, detak jantung itu benar-benar tak bisa dikontrol. Nath semakin tidak bisa menahannya. Dia sudah berusaha mengingat. Namun ingatan yang tersabotase itu tak mengizinkannya. Nath beralih menatap Vanya yang berjalan semakin mendekat.
Tuhan,... tolong. Jangan membuat harapan indah jika, akhirnya kau menamparku dengan kenyataan yang menyakitkan.
Vanya tersenyum menatap Nath. Jangan tanya bagaimana suasana hatinya. Dia juga sama. Debaran jantungnya benar-benar sangat cepat. Manik mata yang seolah tak bisa lepas, membuat Vanya kehilangan rasa percaya dirinya.
Mungkinkah dia akan mengingatku? mungkinkah dia akan memeluk dan mengatakan cinta meski dia tidak mengingatku? akankah dia sama seperti Nath beberapa waktu lalu? Atau mungkin, dia akan menjauhiku karena kenyataan yang tak sesuai dengan harapannya? akankah adanya Nathan tidak akan mempengaruhinya?
Vanya masih tersenyum menatap Nath yang juga menatapnya tanpa henti.
" Maaf jika aku mengganggumu. " Ucap Nath setelah mendapatkan kembali konsentrasinya.
Vanya menggelengkan kepalanya. " Tidak. Tidak sama sekali.
" Kau baik-baik saja? " Tanya Nath yang merasa Vanya sedikit berbeda dari Vanya yang sebelumnya ada di ingatannya.
" Em. " Vanya mengangguk.
" Maaf, aku tidak sopan karena masuk ke kamar mu. " Ujar Nath sembari mengalihkan pandangan ke bawah.
" Ini juga kamar mu. " Jawab Vanya dengan wajah sendunya.
Nath kembali menatap Vanya. Kali ini, tatapan itu lebih menuntut. Seolah meminta penjelasan yang sejujurnya.
" Sebenarnya, apa yang terjadi? " Tanya Nath yang sudah tidak sabar lagi menghadapi kebingungan yang selama ini mengganggu pikirannya.
Vanya semakin mengikis jarak diantara mereka. Vanya menatap mata Nath dengan tatapan yang terlihat jujur. Dia juga meraih kedua tangan Nath dan menggenggamnya.
" Karena aku dan kau, adalah satu. " Jawab Vanya yang lekat menatap Nath tanpa berniat beralih pandangan.
" Apa maksudnya?
Vanya mengalihkan pandangannya. Dia tersenyum sembari menunjuk sebuah photo yang terletak di dekat meja riasnya. Nath otomatis mengikuti kemana arah tatapan Vanya.
" Itu? " Nath menatap Vanya untuk mendapatkan jawabannya.
Vanya kembali menatap manik mata suaminya itu.
" Kau, aku dan Nathan.
" Bagaimana bisa? " Nath masih tidak percaya meski banyak bukti yang begitu nyata.
" Karena sebuah insiden, kau melupakan kami. " Vanya membumbui ucapannya.
" Aku, tidak mengerti. Kalau itu benar aku, kenapa tidak ada sedikitpun kenangan tenteng mu?
" Tutup matamu! " Titah Vanya.
" Apa?
" Tutup matamu dan kenali aku. " Nath tidak lagi bertanya. Dia memilih mengikuti apa yang dikatakan Vanya.
Cup...!
Bibir Vanya mendarat di bibir Nath. Seketika, Nath membuka matanya karena terkejut. Tapi anehnya, dia tidak memiliki niat sedikitpun untuk menjauhkan bibirnya.
Benarkah perasaan ini adalah perasaan yang aku miliki padanya? aku tidak bisa menjauhkan diriku darinya. Jika memang orang yang dia maksud adalah aku, maka biarkan aku menikmati keindahan ini.
Nath kembali menutup matanya dan menikmati sentuhan itu.
Setelah beberapa saat Vanya mengakhiri ciuman itu. Dia memegang pipi Nath dengan kening yang masih saling menempel.
" Kenapa kau tidak menolak? " Tanya Vanya sembari menjauhkan wajahnya agar bisa lebih leluasa menatap Nath.
Nath terdiam sesaat. " Aku,
" Kau tidak bisa?
Deg...
Iya. Aku tidak bisa melakukanya. Jika aku bisa jujur, aku ingin lebih dari itu.
Nath masih terdiam dengan tatapan datarnya.
" Pelan-pelan, Nath. Aku yakin, suatu hari nanti, Nath yang mencintaiku dan yang aku cintai, akan kembali. " Ucap Vanya sembari tersenyum penuh keyakinan.
Nath masih terdiam. Perlahan, dia mencoba mencerna tiap kata yang keluar dari mulut Vanya. Sungguh, dia tidak ingin membantah kebenaran ini. Tapi, begitu menyakitkan rasanya tidak mengingat apapun tentang Vanya.
Vanya tersenyum. Tentu Nath merasa ragu. Terbukti dari kalimat terbata-bata yang keluar dari bibirnya.
" Nathan Rezef Chloe. Kau sendiri yang menambahkan nama Chloe untuk Nathan.
" Kenapa kau memberi nama yang sama untuk anak kita?
Ya Tuhan,... kenapa begitu lancar aku menyebut nama ana kita?
" Itu, panjang sekali ceritanya. Jika kau ragu, kau bisa memastikannya sendiri. Dia benar-benar anak kita.
Nath kini fokus dengan masalah adanya Nathan.
Panjang? kenapa membuatku penasaran? aku tidak perlu membawanya untuk uji DNA. Melihat wajahnya saja, aku yakin dia anakku. Tapi kenapa tiba-tiba aku punya anak yang sudah besar? apa saat bersama Mage aku berselingkuh dengan Vanya? ini aneh sekali.
" Apa aku berselingkuh dari Mage saat itu? " Tanya Nath.
" Tidak! " Bantah Vanya.
" Lalu, kapan aku dan kau berhubungan? " Tanya Nath.
" Tentu saja sudah lama. " Jawab Vanya ketus.
" Bisa jelaskan? " Tanya Nath yang masih saja penasaran.
" Tidak mau! " Tentu saja tidak akan mau. Tidak mungkin kan? dia harus mengakui perbuatan bejatnya lagi? sungguh mustahil. Mau ditaruh dimana muka Vanya kalau harus mengakui asal usul Nathan disaat Nath tidak mengingat apapun.
" Tolong... aku benar-benar penasaran. " Semakin Vanya menolak, Nath justru semakin penasaran.
" Kembalikan ingatan mu tentang ku dan anak kita. Baru aku akan memberi tahu tentang itu. " Tantang Vanya sembari tersenyum.
" Kenapa harus menunggu ingatan ku kembali? kau bisa memberitahu ku sekarang, aku akan mencoba memahami dan menerima kok. Jangan khawatir.
Jangan khawatir? mana mungkin! sampai kiamat pun aku tidak akan mengakui kejadian memalukan yang waktu itu. Heh! ujung-ujungnya, aku harus mempraktekkan lagi kan?
***
Devi dan Lexi berada si sebuah taman kota yang suasananya mulai sepi. Mereka tidak mau bertemu di restauran atau tempat-tempat yang begitu banyak orang.
Awalnya, Lexi menyarankan pergi ke hotel jika sama sekali tidak ingin terdengar oleh orang lain. Namun sayang, reaksi Devi justru begitu berlebihan. Dia hampir saja menelan Lexi hidup-hidup karena berniat membawanya kesana.
Lexi kini memegangi pipinya yang terasa sakit. Apalagi kalau bukan karena pukulan dari Devi.
" Kau ini gila atau apa sih? kenapa memukul ku tanpa sebab?! " Protes Lexi yang merasa sangat kesal. Untung saja, yang memukul adalah wanita. Kalau saja dia pria, sudah pasti tidak akan Lexi beri ampun.
Devi menatapnya tajam. " Tanpa sebab? kau membicarakan tentang hotel denganku. Kau ini laki-laki macam apa?!
Lexi terperangah tak percaya. Ternyata hanya karena itu? batinnya.
" Kau marah untuk apa? kau pikir, aku ingin menyentuh mu begitu? dalam mimpi pun itu tidak akan pernah terjadi. " Kesal Lexi.
" Jangan lupa! kau sudah mencium ku! " Devi mengingatkan dengan wajah sangar.
" Aku terpaksa! memangnya kau pikir, aku mau mencium mulut kubangan seperti mu? cih! kalau mengingatnya, aku benar-benar ingin mencuci bibirku dengan air dua puluh dua sumur. " Ujar Lexi yang tak kalah sebal.
" Hoho!!! mari kita lihat! siapa yang akan merengek mengatakan cinta nantinya. " Devi menaikkan sebelah alisnya sembari melirik Lexi.
" Jangan membicarakan tentang cinta. Aku curiga, kau tidak pernah merasakan cinta kan? " Ejek Lexi.
Devi semakin bersungut mendengar ucapan Lexi.
" Jangan lupa juga! kau adalah jomblo menahun yang sudah karatan! lebih baik, kau pikirkan saja anu mu! aku takut, anu mu sudah tidak berfungsi.
" Apa?!
Karatan? aku? sialan! ingin sekali rasanya aku menunjukkan padamu.
" Hentikan perdebatan ini. Fokus kepada alasan kita bertemu malam ini. " Ujar Lexi yang tidak mau lagi bertengkar dengan ratunya keras kepala itu.
Devi menghela nafasnya sejenak lalu menatap Lexi.
" Bagaimana pendapatmu tentang pernikahan ini? " Tanya Devi.
" Tidak tahu. Menolak pun tidak ada gunanya. Semakin menolak, semakin gencar juga mereka memaksa.
" Jadi? " Devi bertanya tentang kesimpulan Lexi.
" Dengan berat hati. Dan dengan sejuta kesedihan yang amat dalam, aku sangat dan sungguh terpaksa menerima pernikahan ini.
Dengan berat hati? sejuta kesedihan yang mendalam? sungguh? sangat? terpaksa?
Devi menatap Lexi dengan tatapan marah yang luar biasa.
" Jangan merasa sok sempurna! kenapa kau begitu berduka?! kau pikir, aku bahagia?! jika boleh memilih, antara kau dan kerbau, maka aku lebih memilih menikahi kerbau asal kau tahu! "
To Be Continued.
Hallo para Reader....
Selamat membaca ya.. Jangan lupa kasih othor semangat melalui like komen gift atau vote ya..
Semoga menghibur dan maaf kalau belum bisa membalas komen kalian satu per satu ya?
Jangan lupa jaga kesehatan ya.. sebisa mungkin untuk menarik diri dari keramaian ya para kesayangan.. bahkan othor yang sudah mencoba sebisa mungkin tetap juga terpapar.
Mohon doanya para kesayangan. Semoga diberikan kesembuhan. Dan Covid-19 segera menghilang dari dunia ini.
Stay healthy , Lopek ku....