
" Sayang, apa kau yakin? " Nath kembali menanyakan kesiapan istrinya. Memang, yang akan ditemuinya adalah orang tua Nath yang berarti mertua istrinya. Tapi entahlah, Nath takut jika Vanya akan menyesal nantinya. Apalagi, mereka juga harus membawa Nathan serta. Yang Nath khawatirkan saat ini, bagaimana jika orang tuanya hanya menerima Nathan tapi tidak menerima Vanya.
Nath terus mengikuti istrinya sejak ia keluar dari kamar mandi. Bukanya menjawab, Vanya hanya menatap sesaat wajah suaminya lalu menghela nafas. Memang apa yang bisa diartikan dengan tindakan itu.
" Sayang? " Panggil Nath yang masih setia mengekor kemana kaki istrinya melangkah. Sungguh, dia benar-benar membutuhkan jawaban dari pertanyaannya itu.
" Sayang? aku kan, " Kali ini, ucapan Nath berhenti saat manik matanya melihat apa yang sedang Vanya lakukan. Vanya menanggalkan kimono yang melekat ditubuhnya semenjak keluar dari kamar mandi. Vanya mengoleskan hand and body ditubuhnya dengan gerakan sensual. Tentu saja dia sengaja. Dari pada memikirkan hal itu, dan terus saja bertanya tanpa henti, bukankah lebih baik mereka membuat anak? sungguh, itulah yang ada di pikiran Vanya.
Nath menatap lekat tubuh istrinya yang menggoda itu. Dia menelan ludahnya beberapa kali. Tidak! dia tidak boleh melakukan itu sekarang. Ada hal yang lebih penting yang harus dibahas. Batinnya. Belum juga Nath pulih dari pikiran mesumnya, Vanya sudah membalikkan badan dan menmpakkan semua aset berharga miliknya. Nath semakin tidak bisa fokus. Dan sialnya, Vanya berjalan mendekat ke arahnya menempelkan tubuhnya dengan alasan mengambil baju dari lemari yang ada dibalik punggung Nath.
Hilang sudah kendalinya. Dia langsung membopong tubuh istrinya menuju tempat tidur. Dengan lembut dia menjatuhkan tubuh polos istrinya ke tempat tidur. Tidak ada penolakan apapun dari Vanya. Sudah pasti Nath bisa menebak, jika Vanya sengaja menggodanya. Masa bodoh dengan urusan penting tadi. Sekarang, lebih penting kegiatan membuat adik untuk Nathan.
Sementara di luar, Pak Miskana sudah mulai mengantuk karena yang ditunggu tak kunjung keluar dari kamar. Padahal, tadi itu dia belum selesai bicara. Tapi, Nath sudah membawa masuk Istri dan anaknya saat Vanya bertanya tentang kapan mereka harus datang. Dia benar-benar harus memberitahu waktunya kan?
" Sayang, mengenai yang tadi, " Nath mencoba untuk bertanya setelah keduanya sudah mencapai puncak kenikmatan.
" Diam! dari pada membahas itu, lebih baik kita lakukan sekali lagi. " Ujar Vanya sembari menatap tegas suaminya itu.
Nath mengecup singkat bibir Vanya. " Sepertinya, nyali mu sudah tidak perlu diragukan lagi ya? " Nath tersenyum dan kembali mencumbui istri tercintanya itu.
Setelah kegiatan itu selesai, Nath mendekap erat tubuh Vanya. Terkadang, ada perasaan takut yang mengintai hatinya. Tapi, Nath adalah anak keluarga Chloe. Tidak mungkin juga mereka akan melakukan hal yang berbahaya kan? lagi pula, mereka sudah tahu banyak hal tentang Vanya. Yang berarti, tidak akan mungkin bagi mereka melawan Vanya. Mengingat KBR Group jauh di atas Chloe. Nath memang bahagia karena Vanya ternyata adalah pewaris tunggal KBR Group. Bukan masalah harta, tapi dengan begitu, Vanya akan ada di posisi aman tanpa perlindungan darinya. Dan itu terbukti. Kevin pernah memberitahu perihal orang-orang yang dikirim untuk mencelakai Vanya, semuanya hilang tanpa jejak karena kendali KBR Group. Entahlah, yang paling jelas Nath rasakan adalah kelegaan sekarang ini.
" Sayang, aku tahu ini agak aneh untukmu. Tapi, maukah kau berjuang bersamaku untuk mendapatkan restu dari orang tuaku? mari kita luluhkan hati mereka. "
Vanya mengangkat kepalanya untuk menatap manik mata Nath. " Tentu saja. Aku tahu, kita tidak bisa menggunakan kekerasan atau kedudukan untuk memenangkan hati mereka. Jadi, percaya sama aku. Aku akan baik-baik saja. "
Nath tersenyum sembari menatap Vanya bangga. Jujur, dia tidak bisa membayangkan bagaimana jika Vanya tidak ada di hidupnya. Bisakah dia jatuh cinta setelah trauma masa lalu? apakah dia bisa begitu menggilai seorang wanita seperti dia menggilai Vanya? jika ada yang bertanya padanya, siapa yang paling ia cintai, maka jawabannya Vanya. Vanya, Vanya, dan Vanya. Wanita yang memiliki ikatan dengan dirinya. Tanpa sadar, takdir terus menyatukan mereka meski banyak orang yang ingin memisahkan. Vanya adalah hidupnya. Vanya adalah segalanya. Kenapa tidak Nathan jawabannya? entah bagaimana Nath bisa seperti itu. Baginya, Vanya adalah hal yang paling penting. Adanya Nathan, tentu saja penting baginya. Tapi, Vanya adalah yang nomor satu dihatinya.
" Sayang, " Panggil Nath sembari menangkup wajah Vanya.
" Em? " Vanya juga menatap Nath dengan tatapan yang sama.
" Aku mencintaimu. " Ucap Nath sembari menatap manik mata istrinya lembut.
" Aku juga mencintaimu.
Kembali, mereka membenamkan bibir. Entah sudah berapa kali mereka melakukannya. Bagi Nath juga Vanya, mereka hanya ingin sama-sama membahagiakan. Jadi apapun itu, selama mereka bahagia, baik Nath atau Vanya, akan melakukannya.
Pagi hari.
Vanya menggerakkan pinggangnya ke kanan dan ke kiri. Jangan tanya kenapa, tentu saja karena pergulatan panas bersama suaminya semalam.
" Ibu...! " Panggil Nathan setelah membuka pintu. Dia tersenyum sumringah sembari berjalan setengah berlari menuju Vanya.
Vanya merentangkan tangannya untuk menyambut putra tersayangnya itu. " Good Morning, my boy. "
" Ayah kemana bu? "
" Dia sedang mandi. " Jawab Vanya. Tangannya aktif mengelus rambut tebal putranya itu.
Vanya memeluk tubuh Nathan yang berada dipangkuan nya. Mencium harum tubuh bocah kecil yang selama ini menemaninya berjuang hidup dan bergantung satu sama lain. Nathan yang hidup dari kasih sayang Vanya dan Vanya yang hidup karena semangat yang Nathan berikan lewat senyumannya. Rasanya, baru kemarin dia menggendong bayi mungil seberat seribu sembilan ratus gram. Hanya dengan hitungan hari, bayi kecil yang dulu lahir di usia kandungan tujuh bulan, sudah begitu berat. Dia juga sangat pandai dan tampan. Untung saja, Tuhan selalu memberikan kebahagiaan yang diluar dugaan Vanya. Mulai dari hadirnya Nathan, lalu datangnya Nath, seolah takdir begitu baik padanya.
" Sayang, " Vanya menatap mata Nathan serius tapi juga penuh kasih sayang.
" Dengarkan Ibu. Hari ini, kita akan menemui Kakek dan Nenek. Ibu ingin meminta bantuan mu, kau mau? "
Nathan tersenyum dan mengangguk.
" Berjanjilah untuk bersikap baik agar mereka menerima kita. Kau anak yang pintar. Kau tahu apa yang harus kau lakukan kan? "
" Em! " Nathan mengangguk dengan semangat.
" Anak pintar. " Vanya mencium pucuk kepala Nathan.
Aku tahu ibu. Tenang saja, aku adalah cucu mereka. Tidak mungkin aku tidak diterima. Selain pintar, aku kan tampan. Rugi besar kalau mereka menolak ku.
Beberapa jam kemudian.
Nath, Vanya dan Nathan, mereka sudah berada di kediaman Chloe. Nath menghembuskan nafas karena merasa gugup. Dia meraih tangan Vanya dan menggenggamnya erat. Dia juga meraih tangan Nathan sehingga mereka berjalan dengan tangan saling menggenggam. Vanya melihat betapa gugup suaminya saat ini. Ada rasa ingin tertawa, tapi dia sendiri juga sangat gugup. Jadi, mana bisa tertawa?
Langkah mereka terhenti saat sudah berada di ruang utama. Nampak Nyonya dan Tuan besar Chloe sudah menunggu mereka. Tatapan mereka dingin. Tapi, sedikit berubah saat menatap Nathan.
" Selamat pagi?, Ayah Ibu. " Sapa Nath yang sedikit gugup. Tentu saja gugup. Dia menikahi Vanya dan memiliki anak tidak memberi tahu kepada orang tuanya. Entah apa yang sedang mereka pikirkan batin mereka.
" Hem..." Jawab Ayahnya Nath singkat.
" Duduklah. " Nath mengandeng tangan kedua orang tercintanya untuk mengikuti langkah kaki Nath. Tapi, Nathan tiba-tiba melepas genggaman tangan Nath dan berlari ke arah orang tua Nath.
" Nenek! Kakek! " Nathan berlari menuju orang tuan Nath dan langsung menubruk mereka secara bersamaan. Untung saja, Tuan dan Nyonya Chloe duduk berdampingan.
Nath dan Vanya membulatkan matanya karena terkejut. Mereka benar-benar sangat takut jika tubuh Nathan akan di tepis dan membuatnya terjatuh. Nath sudah mengambil aba-aba untuk berlari dan menyangga tubuh Nathan kalau sampai terpental. Tapi, diluar dugaan.
" Cucuku, dia sangat tampan. Dia mirip Nath. " Ucap Nyonya Chloe pelan. Dia juga mencubit pelan pipi Nathan.
" Hoh, akhirnya kita bisa bertemu, cucu tampan ku. " Ujar Tuan besar Chloe.
" Eh? " Vanya dan Nath saling menatap bingung. Bukanya orang bilang, orang tua Nath sangat menakutkan? bahkan, Nath sendiri juga mengatakan hal yang sama. Lalu, apa ini?
To Be Continued.