Touch Me!

Touch Me!
Truth Or Dare



Sesuai dengan rencana mereka, akhirnya ketiga wanita cantik itu setuju dengan permainan Truth of dare. Meski Vanya sempat menggerutu, tapi Nath berhasil merayunya.


" Jadi, kita gunakan botol kosong ini untung memilih targetnya ya? " Ucap Nath sembari meletakkan botol bekas Wine.


Ketiga wanita itu hanya Hem dan tak ada lagi yang ingin dia bicarakan. Sebenarnya, ada rasa gugup bagi Lexi saat melihat ekspresi Devi yang terlihat tidak setuju.


Semoga saja dia tidak mengamuk dirumah.


Nath memutar botol ketika posisi mereka sudah membentuk lingkaran. Nath disamping Vanya, Lexi disamping Devi, Kevin disamping Sherin. Putaran pertama jatuh ke Kevin.


Nath dan Lexi menyeringai licik menatap Kevin seolah ingin menghancurkan kepercayaan dirinya. Kevin menata dua sahabatnya bergantian karena merasa dirinya terancam.


" Truth or dare? " Lexi bertanya dengan tatapan mengancam.


Sialan! mereka bilang, ini akan menguntungkan kita kan? kenapa tatapan mereka seolah ingin melucuti harga diriku.


" Dare. " Tegas Kevin yang menghindari untuk berbicara jujur.


Lexi dan Nath menghela nafas sebalnya mendengar jawaban dari Kevin, benar-benar menghindari kejujuran batin mereka.


" Baiklah, apa tantangan untukku? " Tanya Kevin dengan nada bicara serta mimik wajah yang meyakinkan.


Vanya tersenyum menatap suaminya yang juga tersenyum menatapnya.


" Say, I love you kepada Sherin. " Ucap Vanya sembari mengacungkan jari jempolnya.


Kevin tersenyum sembari mengangguk. Tentu sajalah dia bahagia, dia bukan hanya kali ini saja menyatakan cinta kok, jadi sudah tidak asing lagi bagi Sherin mendengarnya. Untung saja ada Vanya yang begitu pengertian batinnya.


" Sherin, I love you... " Ucapnya dengan wajah yang merona. Mungkin, ini akan dianggap seperti bualan, tapi bagi Kevin, ini benar-benar mewakili apa yang hatinya rasakan bagi sosok Sherin.


Sherin hanya berdecih tak berniat membalas ucapan Kevin.


Putaran kedua, kali ini jatuh kepada Sherin. " Apa-apaan sih? aku yakin kau sudah merencanakan ini kan? " Tanya Sherin sedikit kesal kepada Nath. Maklum saja, Nath memang yang bertugas memutar botolnya. Padahal, awalnya sudah diberi masukan, agar yang ditunjuk sebelumnya yang memutar botol, tapi pria itu dengan kekeh nya tak mengizinkan. Bukan tanpa alasan, Nath sengaja tak mau bergantian karena ia sangat pintar memerhitungkan kekuatan ditangannya agar bisa menunjuk korbannya.


" Mana mungkin! " Vanya dengan tegas membela suaminya itu, iya meskipun benar, mana mungkin mengaku, iya kan?


" Berisik! apa tidak bisa fokus saja dengan permainan sialan ini?! " Protes Devi yang sudah merasa kesal. Sungguh, dia paling tidak menyukai hal-hal yang membuang waktu.


Semua orang terdiam sesaat, lalu kembali fokus dengan permainan mereka. Mulut Devi memang begitu, ketika tidak suka, maka dia akan langsung mengatakannya.


" Truth or dare? " Tanya Nath dan sudah menyiapkan dua opsi yang pasti akan menguntungkan sahabatnya, Kevin.


" Truth! " Jawab Sherin.


Vanya dan Nath tersenyum saling menatap.


" Ok, aku ingin kau berkata jujur tentang tipe pasangan mu.


Sherin menyunggingkan senyumnya. Hanya itu? batinnya. " Ok.


" Aku suka pria yang sering kau ceritakan, Vanya. "


Vanya mengerutkan keningnya bingung menatap Sherin. " Aku? pria yang mana?


" Heh? kau lupa? pria yang tampan dan pintar, dia juga cekatan, tubuhnya tinggi dan bidang, dibagian perutnya ada garis yang menyerupai roti sobek, tubuhnya wangi dan terkesan gagah. Rambutnya hitam berkilau menambah kesan tampan diwajahnya. "


" Hah? itu kan suamiku. " Ujar Vanya sembari menggaruk tengkuknya.


Sialan! Sherin kau kurang ajar! jangan bicara macam-macam! Ancam Vanya dengan tatapan tajamnya.


Heh! enak saja mau mengerjai ku! memang aku tidak tahu tujuan mu, Vanya? rasakan ini! Sherin melengos enggan perduli dengan tatapan tajam dari Vanya.


Nath dan Kevin kompak menatap Vanya mencari kebenaran dari ucapannya tadi. Kalau sampai dia menjadi tipenya Sherin, serigala Amazon di hadapannya itu akan langsung mencabik-cabiknya batin Nath melirik Kevin sekilas.


" Maksud mu, Nath? begitu? " Tanya Lexi kepada Sherin yang tak mengiyakan ucapan Vanya.


" Tentu saja bukan! laki-laki yang sering kami kagumi, adalah kau, Lexi. " Jawab Sherin sembari mengacungkan jari telunjuknya dihadapan Lexi.


Duar......!


Mungkin, kalau laki-laki lain akan bangga di kagumi dua wanita cantik, tapi tidak dengan Lexi, dia hanya bisa beringsut ketakutan karena Kevin dan Nath menatap nya tajam, seolah-olah sedang mengintai mangsanya dan siap mengoyak tubuhnya.


" Ck! " Devi menatap Lexi yang justru ketakutan dan malah merapatkan tubuhnya dan membuat tubuh mereka saling menempel.


" Jadi dibelakang ku kau mengagumi pria lain? " Tanya Nath kepada Vanya dengan tatapan tajamnya.


Vanya yang kehilangan suaranya hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan cepat. Sementara Kevin, tatapan mata yang tajam tak juga beralih dari Lexi. Pria yang selama ini selalu meresahkannya karena wanita yang ia cintai terus mengaguminya. Kevin pikir, awalnya Sherin hanya bercanda menanggapi Vanya yang memang somplak otaknya, tidak disangka, dia juga ikut hanyut mengagumi Lexi.


" Ti tidak kok! " Jawab Vanya gugup.


" Bohong! " Sherin menyela dengan tatapan mengejek.


Vanya melotot menatap Sherin seolah memperingatinya. Tapi, Sherin yang sudah ketularan somplak, jelas tida mau dia mengalah meski dia tahu arti dari tatapan Vanya.


Lexi, aku ingin membunuhmu! Nath menatap tajam Lexi.


Lexi, aku tidak akan sungkan lagi memberimu banyak makan mulai sekarang. Semakin kau gendut, akan semakin tentram duniaku. Batin Kevin.


" Berhentilah membuang waktu! lanjutkan saja permainan konyol ini! aku sudah ingin pulang. " Ucap Devi yang merasa sudah sangat lelah membuang-buang waktu.


Nath kembali memutar botolnya. Dan kali ini, botol itu mengarah kepada Devi. Gadis itu menyeringai, tentu saja dia tahu, kalau Nath sengaja melakukan itu. Tapi bagaimana lagi? dia adalah Presdir di tempatnya bekerja, pura-pura bodoh saja lah batinnya.


" Truth or dare? " Tanya Nath.


" Dare. " Jawab Devi.


" Baiklah, cium Lexi di bagian bibir. " Pinta Nath sembari melirik Lexi sesaat.


Aku masih berbaik hati kan? Batin Nath.


Dasar licik! cium di bibir? hah! konyol! dia pikir aku tidak berani? maaf saja, aku sudah terbiasa mencium anjing ku, tidak jadi masalah mencium Lexi. Anggap saja dia Moko, anjing kecilku yang manis itu.


Tak banyak berkata lagi, Devi mendekati Lexi yang masih menatap bingung dan, Cup.....


Vanya dan Sherin terperangah melihatnya, kecuali Nath dan Kevin.


Lexi terdiam karena masih terkejut. Dia ingin sekali rasanya menyentuh bibirnya, ini adalah kali kedua bibir mereka bersentuhan, tapi kenapa rasanya membuat jantungnya berdetak sangat cepat kali ini?


Sebenarnya, ini mimpi bukan sih? tapi kenapa hanya menempel saja? apa tidak bisa lebih lama lagi ya? Nath sengaja ya membuatku kecewa? ciuman kan yang hot itu seperti di drama kan? kok ini cuma menempel saja? Batin Lexi.


Putaran selanjutnya adalah Lexi yang menjadi sasaran.


" Truth or dare?


" Dare. Dare lah, siapa tahu bisa cium Devi, hahahaha


Nath tersenyum miring melihat ekspresi sahabatnya itu. Tentu saja dia tahu apa yang tengah dipikirkan Lexi.


" Jitak kepala Devi. " Titah Nath.


" Apa?! kau gila ya?! " Protes Lexi yang tak terima. Bukan dia membela Devi, tentu saja dia mencari aman untuk dirinya sendiri, kalau sampai mulut kubangan itu marah, bisa-bisa babak belur dia nantinya.


" Lalu? kau mau apa? " Tanya Kevin.


Lexi menatap Devi yang sedari tadi hanya diam. Dia berdehem beberapa kali untuk mengusir rasa gugupnya. Dia memberanikan diri menyentuh wajah Devi dan mengecup pipinya singkat.


Tentu saja yang merona adalah pipi Vanya dan Sherin.


" Oh, iri sekali aku rasanya. " Vanya tersenyum sembari memangku wajahnya.


" Aku juga. " Sherin mengangguk setuju.


Nath menghela nafasnya laku membuka kancing lengannya dan menggulungnya hingga hampir mendekati sikutnya, kegiatan ini juga dilajukan Kevin bersamaan dengan Nath.


" Lexi, ikutlah bersama kami. " Pinta Nath dan Kevin.


" A aku tidak mau! itu bukan salah ku! " Lexi kembali memeluk lengan Devi karena merasa terancam.


To Be Continued.