
Mata Zie membola ketika melihat Marvin dan Zio berkelahi di depan matanya. lebih tepatnya Marvin yang tiba tiba menyerang Zio. ia baru ingin mendekat dan melerai keduanya tetapi hal itu di cegah oleh dua lengan kekar yang memeluknya erat dari belakang dan membawanya menjauh dari Marvin dan Zio.
"Kak Dev....., lepas...!! gue harus melerai mereka kak." ucap Zie meronta meminta di lepaskan dari pelukan Dev.
"Enggak......, lo jangan deket deket mereka. bahaya.....!! Takutnya nanti lo kena pukul mereka apalagi lengan lo masih terluka gini." jawab Dev yang masih setia memeluk Zie dari belakang agar tidak mendekat kearah Marvin dan Zio.
"Kak Lepas.....!! mereka harus di lerai....kalau enggak Zio bisa masuk rumah sakit gara gara di hajar Marvin tanpa ampun." ucap Zie lagi tapi Dev tetap tidak mau mendengarkan ucapan Zie.
"Biarkan saja...., Biarkan pecundang itu di hajar oleh Marvin.!! dia pantas mendapatkannya karena sudah membuat lo dalam bahaya." jawab Dev. ia juga sebenarnya merasa sangat kesal dan ingin sekali menghajar Zio tapi hal itu ia urungkan karena sudah ada Marvin yang mewakilinya untuk menghajar Zio.
Sekuat apapun Zie meronta mencoba melepas dari pelukan erat Dev tapi hal itu tetap tidak berhasil. tenaga Zie jelas kalah dengan tenaga Dev yang berbadan tinggi dan kekar. apalagi ada luka di lengannya yang bisa kembali terbuka jika ia terus meronta dan salah bergerak.
"Nicoo......., cepat lerai mereka. jangan diem aja!!! Zio bisa mati nanti". Teriak Zie yang di tujukan untuk Nico.
melihat ada ribut ribut di area parkir cafe, dua petugas keamanan yang zie pekerjakan di AK cafe pun berlari mendekat. Zie bernafas lega karena Nico berhasil melerai Marvin dan Zio dengan di bantu kedua petugas itu. Dev melepas pelukannya dari tubuh Zie bagitu perkelahian Zio dan Marvin dudah terhenti.
"Marvin....., kenapa lo nyerang Zio.?". tany Zie bejalan mendekati keduanya.
saat ini Zio sedang di pegangan oleh Nico sedangkan Marvin di pegangi oleh dua petugas keamanan karena Marvin masih terus memberontak ingin menghajar Zio kembali.
"Dia pantas mendapatkannya Zie. bagaimana bisa di berbuat setega itu sama lo. gue nggak rela lo di perlakuan seperti ini sama Dia. lo bahkan terluka karena nolong dia tapi apa balasannya?? ." ucap Marvin sambil menunjuk kearah Zio.
masih jelas terlihat kemarahan Marvin dari sorot matanya yang tajam ketika menatap Zio.
"Cukup Vin...., ini bukan sepenuhnya kesalahan Zio. namanya juga musibah, kita semua tidak tau akan terjadi seperti ini." jawab Zie. " Nic....lebih baik bawa zio kerumah sakit sekarang agar luka lukanya segera di obati." perintah Zie kepada Nico.
"iya Zie..., "jawab Nico memapah Zio masuk kedalam mobil dan pergi.
kini gantian Zie yang memandang tajam kearah Marvin yang membuat nyali Marvin menciut seketika.
tanpa mengeluarkan kata kata, Zie langsung masuk kedalam mobil yang pintunya sudah terbuka sedari tadi. melihat itu, Marvin buru buru mengikuti Zie dan masuk juga kedalam mobil yang sama dengan Zie. sedangkan Dev dan dua penjaga keamanan kembali bekerja ketika mobil Zie sudah beranjak pergi.
"Maaf Zie....., tadi gue lepas kendali." ucap Marvin takut takut karena sedari tadi masuk kedalam mobil Zie mendiamkannya hingga mobil sampai di rumah mereka.
selama mengenal Zie, baru kali ini Zie bersikap seperti ini padanya. Zie yang sudah melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam kamarnya pun terhenti mendengar ucapan Marvin. iya menoleh dan memandang datar kearah Marvin, tidak ada senyum manis yang biasa terukir di wajah Zie saat ini.
"Harusnya lo minta maaf sama Zio bukan sama gue, karena dia yang sudah lo bikin babak belur." ucap Zie tanpa ekspresi.
"iya..., nanti gue minta maaf sama dia." jawab Marvin menunduk. Zie menghela nafasnya sesaat.
"Gue tau lo ngelakuin ini semua buat gue, makasih lo udah peduli sama gue. tapi cara lo salah Vin, nggak seharusnya lo menghajar Zio seperti tadi. kasihan...., lagian dia juga udah mengakui kesalahannya dan meminta maaf sama gue, itu aja udah cukup buat gue." ucap Zie tanpa meninggikan suaranya dan Marvin pun mengangguk kepalanya.
Zie seperti sedang menasehati anak kecil dengan nada rendah agar kata katanya bisa di mengerti. Zie sudah hafal betul bagaiman sifat Marvin yang akan melunak jika di nasehati dengan kata kata yang lembut. begitulah cara mereka berdua saling mengerti dan melengkapi satu sama lain. jika yang satu sedang di kuasai amarah maka yang satunya akan mengalah ibarat kata saat ini Zie seolah menjadi air yang siap memadamkan api yang sedang berkobar.
"(lo emang sangat baik Zie..., lo bisa dengan mudahnya memaafkan kesalahan orang lain yang jelas jelas sudah ngecewain lo dan membahayakan diri lo sendiri. gue salut sama lo. lo emang adik kebanggaan gue )" ucap Marvin dalan hati.
"Zie...., apa lo masih mencintai Zio??". tanya Marvin. siapa tau Zie memaafkan Zio begitu saja karena ia masih cinta sama Zio.
"dengan kejadian kemarin, gue bisa lihat dimana posisi gue di hati dia Vin. Dia sangat mencintai Cerry sehingga melupakan keberadaan gue. gue peduli sama dia tapi dia tidak peduli sama gue. apa menurut lo gue akan terus menyimpan rasa itu buat dia yang jelas jelas dia sendiri sudah tidak ada rasa buat gue??. hati ini lebih sakit dari pada luka sayatan pisau ketika melihat dia mengacuhkan gue dan meninggalkan gue begitu saja. meskipun sulit..., gue akan terus berusaha membuang jauh jauh rasa itu. gue yakin, tuhan sudah menyiapkan jodoh yang tepat buat gue jadi gue nggak mau menjadi wanita bodoh yang terus mengharapkan cinta seseorang yang jelas jelas sudah menjadi milik orang lain." jawab Kenzie tersenyum getir. Marvin langsung membawa tubuh Zie kedalam pelukannya.
setelah melepas pelukan mereka Zie pun masuk kedalam kamarnya begitupun Marvin yang juga masuk kedalam kamarnya sendiri. kini Zie merebahkan dirinya di ranjang king Size miliknya.
"(seandainya gue tau mencintai akan terasa sangat menyakitkan, gue akan lebih milih tidak mengenal cinta dari pada harus merasakan sakit seperti ini.)". gumam Zie dalam hati.
...,____,____,____,...
Di tempat lain tepatnya di sebuah klinik yang tidak terlalu besar. Zio sedang menjalani penanganan atas luka luka yang baru di dapatnya.
sesuai perintah Zie, Nico membawa Zio pergi untuk mengobati lukanya tetapi ia tidak pergi ke rumah sakit melainkan hanya keklinik terdekat saja.
"Bos....., apa perlu kita laporin Marvin kepolisi??, ini sudah termasuk tindakan kriminal. dengan surat keterangan dari dokter, Marvin pasti bisa langsung di jebloskan kedalam penjara." ucap Nico mengemukakan pendapatnya.
Zio baru saja selesai diobati oleh dokter. Nico merasa tak tega melihat wajah Zio penuh lebam dan memear sana sini. beruntung tidak ada luka yang serius dari penyerangan Marvin tadi.
"Nggak Perlu Nic....., kalau gue lapor polisi pasti Zie juga ikut kebawa bawa. lagian gue emang pantas dapat ini semua karena sudah membuat Zie dalam bahaya kemarin. beruntung Zie selamat meskipun mendapat luka di lengannya.". jawab Zio.
Zio berharap dengan begini, Zio bisa mengurangi rasa bersalahnya kepada Kenzie. dia rela mendapatkan pukulan dan cacian asal Zie mau memaafkannya.
Nico kembali ke perusahaan setelah mengantarkan Zio ke apartemennya, Zio tidak kembali lagi ke perusahaan karena badannya terasa sakit semua.
"(Baru kemarin hubungan gue dan Zie mulai membaik, tapi sekarang hubungan kita merenggang kembali. bahkan Ken juga ikut membenci gue.) " batin Zio.
saat ini dirinya sedang duduk bersandar di sofa yang ada di ruang tamu apartemennya. pikirannya menerawang jauh memikirkan hubungannya dengan sahabat sahabatnya.
.
.
.
.
.
Bersambung.......
.
.
.
.
.
.