
Tiga hari sudah Arion di rawat di rumah sakit dan hari ini ia sudah di perbolehkan pulang karena kondisinya yang memang sudah membaik. selama itu pula Zie juga sering berkunjung ke rumah sakit di saat waktu senggangnya. selain untuk menjenguk Arion, Zie juga datang kesana untuk menemui Darren. tapi sepertinya akhir akhir ini Darren sangat sibuk sehingga ia terkesan buru buru pergi ketika Zie datang, Darren hanya berpesan kepada Zie untuk menemani Arion sebentar karena ia sedang ada urusan penting yang tidak bisa di tunda.
Seperti hari ini, Zie di minta datang untuk menjemput Arion yang sudah di perbolehkan pulang dari rumah sakit karena Darren mengatakan ada meeting penting yang tidak bisa ia tunda.
"Maaf ya Zie...., aku sudah banyak merepotkanmu. kamu bahkan sudah meluangkan waktu sibukmu untuk mengantarku pulang. Aku sangat berterimakasih." ucap Arion saat Zie membantu mengemasi barang bawaannya.
"sama sama..... gue ggak ngerasa direpotkan Rion...., gue bahkan tidak sesibuk itu. jadi tidak perlu sungkan seperti itu. " jawab Zie tersenyum manis.yang mana membuat Arion selalu terpesona dengan senyuman itu. senyuman yang mampu menggetarkan hatinya yang selama ini beku.
Setelah selesai berkemas, Zie dan Arion berjalan bersama keluar dari rumah sakit menuju parkiran.
"Ada apa Rion?? sepertinya lo sedang menunggu seseorang?? ". tanya Zie yang melihat Arion celingukan seperti mencari sesuatu.
Zie memang masih menggunakan panggilan lo gue dengan Arion karena Zie masih menganggap Arion adalah teman baiknya sama seperti pertama kali mereka berteman. sedangkan Arion, ia mengubah panggilannya menjadi aku kamu karena menurut Arion Zie adalah gadis spesial yang ada di hidupnya saat ini.
" Iya.... , aku sedang mencari orang yang di suruh Kak Darren untuk mengambil berkas yang tertinggal di ruang rawat ku." jawab Arion sambil menunjukkan map berwarna biru yang sedari tadi ia pegang. " tapi sepertinya orang itu belum sampai disini. " ucap Arion lagi. Zie mengangguk mengerti.
"Apa itu berkas penting?? ". tanya Zie lagi.
" sepertinya iya...., karena Kak Darren langsung menyuruh orang untuk mengambilnya begitu tau berkas ini tertinggal disana. " jawab Arion.
"Kalau memang penting, kita antar saja langsung ke perusahaan kak Darren. " ucap Zie.
"Kau yakin mau mengantar berkas ini kesana?? apa itu tidak merepotkanmu?? ". tanya Arion memastikan.
" gue nggak masalah...., tapi bagaimana sama lo?? lo kan baru saja keluar dari rumah sakit, lo pasti masih butuh banyak istirahat dirumah. apa nggak papa kalau kita langsung pergi ke perusahaan Kak Darren??. " tanya Zie balik.
"tidak apa apa...., aku bahkan sudah merasa sehat sekarang." jawab Arion tersenyum tampan.
Arion mengeryitkan alisnya setelah sampai di parkiran karena Zie membawanya berjalan mendekat kearah mobil sport berwarna hitam milik Zie.
"Kamu kemari memakai mobil ini Zie?? tidak membawa supir?? ". tanya Arion karena mobil sport Zie hanya mampu menampung dua penumpang di dalamnya.
" Ya......, gue memang kemana mana selalu sendiri dan tidak membawa supir. "jawab Zie lalu memencet remot kontrol di tangannya untuk membuka kunci mobil keren itu.
" Kalau begitu, biar aku saja yang bawa mobilnya. " ucap Arion merasa tidak enak jika Zie sebagai perembuan yang harus menyetir.
"No....,!! lo baru saja keluar dari rumah sakit jadi biar gue aja yang bawa. ayo masuk.... ". ajak Zie yang bahkan membukakan pintu untuk Arion.
Arion mengangguk menurut dan masuk kedalam mobil Zie, bagitu pun Zie yang juga masuk kedalam mobil dan duduk di belakang kemudi lalu mulai melakukan mobilnya meninggalkan Rumah sakit menuju perusahaan DW Group.
setelah beberapa menit menempuh perjalanan akhirnya mereka sampai di perusahaan milik Darren yang lumayan besar. tapi tidak melebihi besarnya perusahaan milik Zie sendiri.
"Zie..... kamu nggak papa kan kalau naik keatas sendiri....?? aku merasa lelah, aku akan menunggumu disini. " tanya Arion ketika mereka sudah memasuki lobi kantor DW group.
sebelumnya Arion sudah memberi tahu Zie di lantai berapa letak ruangan Daren karena ini merupakan pertama kalinya Zie datang ke perusahaan milik Daren.
Zie yang mengerti bahwa Arion baru saja keluar dari rumah sakit dan masih butuh banyak istirahat pun menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan Arion.
Arion mengantar Zie hingga sampai di depan Lift khusus untuk CEO. Zie masuk kedalam lift seorang diri sedangkan Arion berjalan dan duduk di sofa yang tersedia di lobi.
Lift yang Zie gunakan berhenti di lantai paling atas bangunan gedung itu, ia melangkahkan kakinya keluar setelah pintu lift terbuka.
di lantai itu terlihat sangat sepi bahkan Zie melintasi ruangan yang bertuliskan ruang sekertaris pun terlihat kosong tak berpenghuni. sepertinya sekertaris Darren sedang tidak ada di tempat tapi Zie tidak peduli, ia terus saja berjalan mencari ruangan Darren.
akhirnya Zie menemukan ruangan yang bertuliskan ruang C.E.O, ia pun berjalan mendekat ke ruangan itu.
Zie mengeryit ketika mendapati pintu ruangn itu yang sedikit terbuka. samar samar Zie bisa mendengarkan suara dari dalam sana. ia langsung mendorong pintu itu dan membukanya lebar lebar.
"Plak..... " berkas yang ada di tangan Zie lolos begitu saja jatuh ke lantai.
Zie terperangah melihat pemandangan di dalam ruangan itu dimana saat itu posisi Darren berada di atas tubuh seorang wanita yang setengah rebahan di atas sofa. Sungguh hati Zie berdenyut nyeri melihatnya. siapa lah yang tidak sakit hati ketika memergoki orang yang kita sayang tengah bermesraan dengan orang lain.
Darren yang mendengar aja suara sesuatu yang jatuh pun menoleh dan melihat keberadaan Zie yang berdiri mematung di depan pintu ruangannya.
"Zie...... " ucap Darren dengan nada terkejut. Darren buru buru menegakkan badannya dan membetulkan bajunya yang sedikit berantakan sambil berjalan kearah Zie. "Zie...., ini tidak seperti yang kamu lihat, aku bisa jelaskan. " ucap Darren begitu sampai di hadapan Zie dan meraih tangan kanan Zie dalam genggamannya.
"Bugh....... " satu pukulan Zie layangkan kewajah tampan Darren setelah ia berhasil menepis tangan Darren yang menggenggamnya. wajah Darren sampai berpaling ke arah kiri mendapat serangan dadakan itu.
tidak seperti wanita wanita lain yang meluapkan kemarahannya dengan menangis dan mengeluarkan kata kata makian atau sebuah tamparan ketika memergoki pasangannya berselingkuh. Zie tidak tanggung tanggung meluapkan sakit hatinya kepada Darren dengan pukulan bertenaga penuh. jangan lupakan Zie yang jago berkelahi, sudah tentu pukulan itu begitu keras menghantam wajah tampan Darren hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah segar.
Wanita yang bersama Darren pun sampai menjerit kaget melihat Zie yang tiba tiba memukul Darren.
"Cukup.......!!" dengan Nada dingin Zie langsung memotong ucapan Darren dengan tatapan menghunus tajam yang ia layangkan kepada Darren dan juga wanita yang berdiri tak jauh di belakang Darren. bisa Darren lihat dari sorot mata Zie yang penuh dengan kekecewaan yang sangat mendalam. "semuanya sudah jelas, mulai saat ini jangan pernah menemuiku lagi. " ucap Zie dengan raut wajah yang datar dan dingin. Darren belum pernah melihat Zie bersikap seperti ini sebelumnya. sungguh saat ini sikap Zie benar benar berubah 180°.
Zie membalikkan badannya dan langsung berjalan pergi keluar dari ruangan Darren dengan air mata yang mulai menetes. hanya melihat sekilas tanda merah keunguan yang ada di leher wanita itu mampu memporak porandakan hati Zie. sedari tadi Zie sekuat hati menahan agar tidak menangis di hadapan Darren., ia tidak mau terlihat mengenaskan di hadapan lelaki brengks*k itu.
meski Darren berulang kali memanggilnya tapi Zie tidak menghiraukan, ia terus berjalan dengan langkah cepat sambil menundukkan wajahnya untuk menyembunyikan tangisnya. apa yang dilihatnya hari ini secara langsung sudah cukup menjelaskan semuanya. Zie benar benar merasa sangat kecewa dan sakit hati mendapati kenyataan bahwa Darren, orang yang ia cintai ternyata menghianati nya.
Arion yang melihat Zie keluar dari dalam lift langsung tersenyum dan berdiri dari duduknya untuk menyambut kedatangan Zie, tetapi Zie malah berlari melewati Arion begitu saja sambil menutupi sebagian wajahnya menggunakan tangan kanannya.
"Zie tunggu....... " Arion memanggil Zie dan berusaha mengejarnya tapi Zie sama sekali tidak menghiraukannya.
Zie terus berlari hingga masuk kedalam mobilnya dan pergi dengan kecepatan tinggi meninggalkan Arion.
Sementara di ruangannya, Darren duduk terdiam memikirkan bagaimana keadaan Zie. ia benar benar mencemaskan Zie. tidak di pungkiri hatinya pun merasa sakit saat melihat sang kekasih yang kecewa dan sakit hati karena dirinya.
"maafkan kakak Zie.... " gumam Darren dalam hati.
Darren terpaksa melakukan itu semua untuk memenuhi janjinya kepada Arion. Darren yang waktu itu tidak tega melihat adik kandungnya yang frustasi, putus asa dan tidak memiliki semangat hidup akhirnya mengalah. ia menuruti kemauan Arion agar melepaskan Zie untuk Arion.
atas saran Arion, Darren membuat sekenario seolah olah ia kepergok Zie tengah berselingkuh dengan sekertaris nya agar Zie membenci Darren. lalu selebihnya, Arion yang akan berusaha mendekati Zie untuk mengambil hatinya.
Padahal sekertaris Darren sendiri adalah istri dari Ben, asisten Pribadinya. Darren memang meminta bantuan Ben dan Istrinya untuk menjalankan sandiwara itu. tadi saat Zie datang sebenarnya Ben juga ada di sana lalu bersembunyi di dalam kamar mandi yang ada di ruangan itu. bahkan tanda kepemilikan yang tercetak di leher sekertaris nya itu adalah hasil karya Ben sendiri. sungguh mereka pemain sandiwara yang sangat sempurna.
"Apakah anda baik baik saja Tuan.....??". tanya Ben sambil mengompres sudut bibir Darren yang lebam dan mengeluarkan darah tadi dengan es batu yang di bungkus handuk tipis.
Darren menggeleng, " perasaanku tidak bisa tenang mimikirkan bagaimana keadaannya. " ucap Darren. "pastikan anak buahmu untuk terus menjaga dan mengawasinya kemanapun dia pergi. jangan sampai lengah. aku tidak mau terjadi sesuatu dengannya" perintah Darren kemudian.
"Baik Tuan....., saya sudah memerintahkan anak buah saya sesuai perintah Tuan". jawab Ben patuh. setelah selesai mengobati luka Tusnnya Ben pun menyuruh istrinya untuk membawa peralatan itu keluar dan kembali bekerja.
Ben sendiri masih setia menemani Tuan nya yang masih duduk dengan gelisah di atas kursi kebesarannya.
tak lama suara dering ponsel milik Ben pun memecahkan keheningan.
Ben langsung menerima panggilan itu yang ternyata dari anak buahnya yang ia perintahkan untuk mengikuti Zie.
" H-hallo Tuan......, kami mau melapor. " ucap orang di sebrang telepon.
"katakan.... " jawab Ben.
"Kami kehilangan jejak Nona....... " kata orang itu dengan takut takut.....
"Apa....!?! bagaimana Bisa....??. " tanya Ben dengan nada meninggi.
"Ada apa.....?? ". tanya Darren yang cukup terganggu dengan ekspresi Ben. ia lalu meminta ponsel Ben dan mendengarkan langsung laporan dari anak buahnya.
"Ma maafkan kami Tuan, Nona memakai mobil sport dengan kecepatan tinggi sehingga kami tidak bisa mengejarnya dan kehilangan jejak Nona. " ucap orang itu lagi....
"Apa!!! Bod*h kalian semua,l!! cepat cari dan segera temukan dia.!! jika sampai terjadi sesuatu kalian semua harus terima akibatnya." ucap Darren marah.
Darren langsung bergegas pergi untuk mencari keberadaan Zie. begitu sampai di lobi ternyata di luar sedang turun hujan yang cukup lebat, hal itu menambah kegelisahan dalam hati Darren.
"Ben....., lacak keberadaan Zie melalui GPS yang terpasang di anting nya. " perintah Darren yang teringat akan anting berbentuk ular pemberiannya yang selalu terpasang di telinga Zie.
"Baik Tuan..... " jawab Ben patuh dan segera melaksanakan perintah Darren.
keduanya lalu masuk kedalam sebuah mobil mewah dan segera pergi untuk mencari keberadaan Zie.
bersambung......
.
.
.
.
.