Kenzo, Kenzie & Kenzio

Kenzo, Kenzie & Kenzio
Rumah Baru.....



Setelah mengudara hingga berjam jam, akhirnya Pesawat pribadi yang di naiki Tuan Prabu dan rombongannya landing di bandara dengan sempurna. Amerika memiliki selisih waktu 12 jam dengan indonesia. bisa di katakan waktu di Amerika berbanding terbalik dengan indonesia. jika di indo jam 6 pagi maka di Amrik jam 6 sore.jika di indo jam 12 siang maka di Amrik jam 12 malam. Zie tersenyum senang begitu keluar dari pesawat, ia narik nafas dalam dalam dan menghembuska udara di amerika untuk pertama kalinya.


dari bandara, rombongan Tuan Prabu langsung melanjutkan perjalanan denga menggunakan mobil menuju rumah yang akan mereka tempati. sesuai permintaan Zie, sebuah rumah sederhana berdiri di pinggir jalan raya yang berada di tengah tengah kota. Rumah sederhana fersi Papinya tapi menurut zie rumah berlantai dua dengan segala perengkapannya ini cukup besar dan mewah.


"wuah........ rumahnya bagus banget pih. zie suka." ucap zie turun dari dalam mobil sambil tersenyum dan terus memandangi bangunan rumah yang ada di hadapannya.


" Papi seneng kalau kau suka...,gimana denganmu Vin? kau suka dengan Rumah baru nya??" tanya Papi kepada Marvin.


"Suka dong Pih...., Marvin pasti betah tinggal disini. apa lagi ditemenin anak papi yang cantik itu. iya nggak zie.....??" jawab marvin tersenyum sambil menggoda zie.


"iya in aja biar cepet...., kita liat dalamnya yuk....."ucap Kenzie cuek lalu menarik lengan marvin untuk ikut masuk kedalam rumah. marvin hanya pasrah berjalan mengikuti zie.


Papinya tersenyum senang melihat kedekatan Kenzie dan Marvin. papi zie berharap semoga rencana untuk menjodohkan keduanya bisa terlaksana.


papi zie lalu berjalan menyusul keduanya masuk kedalam rumah.


"Gimana, suka nggak....? tanya papi lagi ketika sudah berada di dekat kenzie. zie mengangguk dan tersenyum manis.


"Kamarnya dimana Pih?" tanya zie.


"ada di lantai dua." jawab Papi zie.


Zie langsung berjalan menaiki anak tangga untuk memilih kamar mana yang akan ia tempati. begitu masuk ke salah satu kamar yang cukup luas, zie langsung suka karena kamar itu terdapat balkon yang menghadap ke jalan, jadi zie langsung memilih kamar itu sebagai kamarnya sekarang. sedangkan Marvin memilih kamar yang ada di depan kamar zie. berati kamar yang ada di samping zie adalah kamar papinya.


"Papi sengaja belum merenovasi kamarnya agar kalian bisa merenovasi sendiri sesuai keinginan kalian masing masing." ucap Papi zie yang berjalan masuk kedalam kamar zie.


"Makasih ya pih......."Ucap Zie lalu memeluk papinya dengan sayang.


"sama sama sayang.....Terimakasih kamu telah hadir kembali dalam hidup papi." uacp Tuan Prabu sambil membelai punggung zie dengan sayang. Zie hanya menganggukam kepalanya dalam pelukan sang papi


"ada yang lagi sayang sayangan tapi nggak ngajak ngajak nih......". sahut Marvin yang sudah berdiri sambil menyender di pintu kamar zie.


"eh Vin....sini...". ucap Papi zie sambil merentangkan tangannya. Marvin berjalan mendekat dan masuk kedalam pelakan papinya.satu tangan memeluk papinya satu tangannya lagi memeluk zie.


Kenzie tentu tidak masalah dipeluk oleh Marvin karena zie sudah menganggap marvin seperti saudaranya sendiri.sama sama anak papi pikir zie.


"Beristirahat lah......,kau pasti lelah., Ayo vin....kau juga harus beristirahat."ucap Papi lalu mengajak Marvin keluar dari dalam kamar zie.


"iya pih.....,papi juga istirahat ya." ucap Zie.


"iya sayang......."jawab Papi.


"lo nggak nyuruh gue buat istirahat juga zie??pilih kasih.....huh!!"protes marvin pura pura merajuk.


"oh...iya...., lupa gue. Marvin juga istirahat ya.....". ucap kenzie atas protesan Marvin.


"iya sayang....."jawab Marvin menirukan gaya papinya lalu terkekeh.


"Dasaaarrr........"ucap Zie sambil geleng geleng kepala dan tersenyum.


setelah Papi dan Marvin keluar dari kamarnya zie langsung menutup pintu kamar lalu berjalan mendekat kearah ranjang untuk merebahkan diri. perjalanan kali ini memang cukup melelahkan meskipun pesawat yang dinaikinya sangat lah mewah.


Zie mengeluarkan Hp nya ingin menghubungi mbok nah, tapi melihat jam yang ada di dalamnya menunjukan pukul 3 sore itu artinya di indo masih jam 3 dini hari. zie akhirnya mengurungkan niatnya untuk menghubungi mbok Nah. ia malah beralih membuka galeri di HPnya dan melihat foto foto kebersamaannya dengan Ken dan zio.sesekali senyum manis terukir indah di sudut bibirnya mengingat kenangan itu.


Zie bersyukur meskipun sekarang jauh dari orang orang yang ia sayangi tapi masih ada Papi dan Marvin bersamanya.


setidaknya ia tidak hidup sendirian di negara yang masih sangat asing baginya.


"Gue nggak bisa bersedih terus seperti ini. gue harus bangkit. gue yakin suatu saat nanti gue akan kembali lagi ke indo. semoga saja saat gue balik nanti mereka tidak ngelupain gue."gumam zie menyemangati dirinya sendiri.


cukup lama zie rebahan di atas ranjangnya, lalu ia bangkit dan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri karena hari sudah semakin sore.


"Vin......jalan jalan yuk....." ajak Zie begitu duduk disamping marvin.saat ini martin sedang duduk bersantai di teras rumah sambil menikmati secangkir caffe Americano.


"Kemana?"tanya Marvin.


"ish....lo kan yang tau daerah sini.malah tanya gue lagi kemana!! kalau gue tau mah udah melesat pergi sendiri dari tadi."semprot zie.


Marvin terkekeh melihat wajah kesal zie.ia lupa kalau zie megang baru pertama kali menginjakkan kaki di negara ini jadi zie akan mengandalkan Marvin untuk pergi kemana mana.


"iya iya....., mau jalan sekarang apa Nanti??".tanya Marvin lagi.


"Nah gitu dong Nanyanya, baru bener."jawab zie tersenyum."Nanti aja deh....., "jawab Zie enteng.


"Kenapa Nanti??" tanya Marvin bingung.


"Emang kenapa kalau Nanti.?"tanya balik Zie." gue kan pengennya Nanti bukan sekarang. kalau sekarang gue pengen nyantai kaya lo sambil menikmati Cappucino" ucap Zie lagi.lalu pelayan pun datang membawakan secangkir kopi yang di pesan zie tadi sebelum duduk bersama Marvin.


"Enakan Amercano..."ucap Marvin meraih cangkir lalu menyeruput kopi miliknya.


"Pait itu mah...enakan Cappucino."jawab Zie tapi belum berani meminum kopinya karena masih panas.masih terlihat jelas asap yang mengepul di atas cangkir kopinya.


Marvin senang bisa lebih dekat dengan Zie, ia tidak tau bisa mencintai zie nantinya atau tidak yang jelas saat ini Marvin hanya merasa nyaman ketika bersama Zie. biar lah waktu yang akan menentukan kehidupan mereka di masa yang akan datang.


.


.


.


.


.


.


bersambung......


.


.


.


.