Kenzo, Kenzie & Kenzio

Kenzo, Kenzie & Kenzio
Di jebak



Ke esokkan harinya Zie bangun agak kesiangan..., setelah membersihkan diri ia turun kebawah untuk sarapan.


rumahnya terasa sangat karena Papinya sudah berangkat kerja sedangkan Om dan Tante nya yang masih tinggal rumahnya pun Zie tidak tau kemana perginya saat ini.


setelah selesai sarapan Zie pergi ketaman belakang sambil membawa segelas orange juice untuk bersantai di gasebo yang ada di sana. hari ini ia benar benar tidak masuk kerja seperti apa yang di katakan Papinya semalam.


"Zie...., kamu tidak berangkat kerja?? apa kamu baik baik saja??". tanya suara seorang wanita yang seumuran dengan Papinya yang tidak lain adalah Tante Dewi.


Entah darimana datangnya tiba tiba tante dewi sudah berada di dekat Zie dan sekarang ikut duduk bersama di gazebo.


"Ya tante...., Zie baik baik saja. hanya ingin bersantai saja di rumah." jawab Zie seadanya.


"Syukur lah...., Tante pikir kamu sedang tidak enak badan makannya tidak pergi kekantor." ucap Tante Dewi. "Zie.., soal Marvin apa kamu tidak keberatan Papimu mengangkatnya sebagai anaknya juga??". tanya Tante Dewi ingin tau.


"Tidak..., Zie malah senang punya saudara seperti Marvin." jawab Zie.


"Tapi dengan di angkatnya Marvin sebagai anaknya Prabu itu artinya kamu harus berbagi warisan juga dengan Marvin bukan?" Tanya Tante Dewi.


"Tidak masalah....,"jawab Zie enteng karena sedari dulu Zie tidak pernah memikirkan soal harta yang di milik Papinya.


" Begini Zie...., kalau memang harus berbagi, kenapa tidak dengan Axel dan Lexa?? mereka kan masih sedarah denganmu, mereka keponakan Papimu sendiri. kenapa harus orang lain yang tidak memiliki ikatan darah sama sekali? lihat lah, Papi mu itu sangat mempercayai Marvin begitu saja, Marvin bahkan mendapat kepercayaan untuk mengelola perusahaan sendiri." ucap Tante Dewi mengemukakan pendapatnya


Sudah sejak lama Tante Dewi ingin membicarakan soal ini tapi belum ada waktu yang tepat. kebetulan tadi ia melihat Zie yang masih dirumah dan duduk bersama. jadi Tante Dewi pikir inilah saatnya menyampaikan keinginannya kepada Zie.


ini yang menyebabkan Tante Dewi sangat membenci Marvin, dia hanya orang asing yang di bawa oleh Prabu dan di angkat menjadi anaknya tapi kenapa Prabu sepertinya lebih sayang dengan Marvin yang tidak memiliki ikatan darah sama sekali di banding dengan kedua anaknya yang tidak lain adalah keponakan Prabu sendiri.


"Tante...., walaupun Marvin orang lain dan tidak memiliki ikatan darah sama sekali tapi dia orang yang sangat baik. Marvin mendapat kepercayaan dari Papi karena dia Mampu. Karena kemampuan yang di milikinya dalam memimpin perusahaan dengan baik sehingga Papi memberikan kepercayaan itu kepada Marvin. coba tante bisa mendidik Axel dan Lexa dalam bidang bisnis dengan baik sehingga mereka memilik kemampuan di atas kemampuan aku ataupun Marvin, aku yakin Papi pasti tidak akan keberatan jika harus memberikan kepercayaan kepada mereka juga untuk memimpin anak cabang perusahaan di negara Y. tante pasti tau kan kalau perusahaan Al Azhar adalah perusahan yang memiliki anak cabang dimana mana??." ucap Zie panjang kali lebar.


Benar, kalau anak anaknya memiliki kemampuan dalam berbisnis melebihi Marvin, Prabu pasti akan memberikan kepercayaan juga kepada Axel dan Lexa. Marvin yang bukan siapa siapa saja di percaya untuk mengelola perusahaan sendiri apalagi Axel dan Lexa yang sudah jelas keponakan sendiri. begitu pikir Dewi.


Zie tau kalau saat ini tatenya sedang memprovokasi dirinya tapi lihatlah, sepertinya justru Tante Dewi yang malah terprivokasi oleh Zie.


"Apa kamu tidak keberatan jika berbagi kekayaan milik Papi mu pada saudara saudaramu??". tanya Tante Dewi.


"Tidak..., kekayaan Papi sangat lah banyak. aku tidak akan mampu menghabiskannya sendirian. lagian ya tante, mau sebanyak apapun harta kekayaan yang kita miliki tapi tidak ada satupun harta yang akan kita bawa mati." jawab Zie.


mendengar Zie menyebut tentang kematian, bulu kuduk tante Dewi langsung meremang.


"kau masih sangat muda Zie, masa depanmu juga masih panjang. begitu juga dengan tente yang belum terlalu tua. jadi jangan membahas soal kematian." ucap Tante Dewi sedikit takut.


"Tante...., kemati itu bisa datang kapan saja. bisa saja kan kita saat ini baik baik saja terus besok tau tau sudah mati. tidak ada yang tau kan kapan kematian itu akan terjadi...?? itu sebabnya kita harus mengingat kematian agar kita selalu berbuat baik kepada siapapun dan dimanapun." ucap Zie.


mendengar ucapan Zie, tante Dewi semakin merasa takut. benar apa kata Zie kalau kematian bisa datang kapan saja dan tante Dewi merasa takut karena merasa belum siap jika kematian itu datang menghampirinya.


membayangkan itu semua bulu kuduk tante dewek kembali merinding.


"Zie..., tante kekamar dulu ya??" Pamit Tante Dewi lalu pergi meninggal kan Zie begitu saja tanpa mendengar jawaban Zie terlebih dahulu.


sepeninggalannya tante Dewi, Zie sendiri lalu pergi ke ruang kerjanya untuk memeriksa pekerjaannya yang Mif kirim melalui E-mail. Zie menghabiskan waktu di ruang kerjanya hingga siang hari. tidak hanya untuk bekerja, Zie juga sesekali berbalas pesan dengan teman temannya seperti Ken, Zio, Darren dan juga Arion. ya... Arion, meski memiliki selisih waktu dua jam antara tempat tinggal Zie dan Arion tapi hal itu tidak jadi masalah untuk Arion bertukar kabari dengan Zie.


ia lalu segera menghubungi Mang Diman untuk segera mencari tau siapa pemilik motor itu, dan menanyakan siapa orang yang menyuruhnya mengirim paket itu.


mudah bagi mang Diman untuk mencari tau tentang pemilik plat nomer itu karena Mang Diman memiliki banyak koneksi petugas kepolisian yang memiliki jabatan tertinggi.


Di sisi lain Darren juga sedang mencari tau siapa orang yang ingin mencelakai Zie dengan caranya sendiri. Darren sudah menemukan titik kelemahan dari orang orang yang saat ini menjadi sandra anak buahnya. Darren menekan orang orang itu agar membuka mulutnya dengan mengancam keselamatan keluarga yang mereka miliki. tentu saja mereka mengatakan semuanya demi melindungi keselamatan keluarganya sendiri.


Zie yang sedang duduk menikmati malam siang pun terganggu dengan hp nya yang berdering. ia lalu mengambil hp nya dan melihat siapa orang yang menghubunginya.


"Nomer baru....." gumam Zie sambil melihat layar hp nya.


Zie lalu menggesel tombol hijau dan menempelkan hpnya ketelinga.


"Hallo...." ucap Zie.


"Hallo mbak...., mbak saya mau mengabari bahwa Tuan Prabu Al Azhar kecelakaan di jalan XYZ. tolong mbak cepat datang kesini ya?." ucap suara di sebrang telepon.


suaranya terdengar seperti seorang perempuan yang sedang panik.


"Apa!??! Papi kecelakaan!??! Iya mbak..., saya segera kesana." jawab Zie langsung mematikan hp nya.


Zie yang mendengar Papinya kecelakaan langsung berlari keluar sambil menangis dan pergi dengan menggunakan salah satu mobilnya. ia benar benar sangat panik, sehingga tidak bisa berfikir panjang.


"(Ya tuhan tolong selamatkan Papi.)" ucap Zie dalam hati.


sepanjang jalan Zie terus berdo'a agar Tuhan selalu menjaga dan melindung dimanapun Papinya berada.


sesampainya di jalan itu, zie di buat kebingungan. tadi orang yang menelponnya bilang papinya mengalami kecelakaan di jalan XYZ. tapi begitu Zie sampai, tidak ada apa apa di sana. hanya jalanan sepi yang jauh dari pemukiman warga. tiba tiba datang dua mobil hitam dan berhenti didekat mobil milik Zie.


semua penumpang yang ada di dalamnya keluar dengan wajah garang dan berbadan kekar berjumplah delapan orang yang langsung mengepung Zie.


"(S*al gue di jebak)". gumam Zie dalam hati.


Zie yang terlalu panik tidak bisa berfikir dengan benar. bisa bisanya Zie langsung mempercayai penelpon tadi yang tidak ia kenal tanpa mencari kebenarannya terlebih dahulu.


.


.


.


Bersambung......


.


.


.