
Darren langsung pamit pulang setelah ia mengantar Zie sampai di rumahnya. ia ingin segera menemui adiknya yang ternyata ada di negara ini juga. padahal Darren sudah berpesan pada sangat adik agar tetap di negaranya untuk menggantikannya mengurus perusahaan selama ia tidak ada di tempat. tapi adiknya ini telah lolos dari pengawasannya sehingga dia bisa sampai di negara ini secara diam diam.
setelah pulang jalan jalan bersama Darren, Zie langsung masuk kedalam kamarnya untuk membersihkan diri. seharian beraktifitas diluar membuat nya tak nyaman karena berkeringat. padahal walaupun berkeringat Zie tetap lah wangi, tak ada bau asem keringat atau semacamnya.
"Hal yang paling menyenangkan itu ya gini..., rebahan di kamar sediri." Zie bermonolog sendiri sambil merebahkan dirinya di ranjang King size nya setelah mandi dan berpakaian dengan baju santai.
ia meraih boneka kelinci pemberian dari Darren tadi dan memeluknya dengan gemas. entah kenapa ia sangat menyukai boneka itu, padahal selama ini ia hanya menyukai boneka stich saja yang menurutnya bagus dan lucu. Zie lalu bergegas bangun dari posisi enaknya karena ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.
"pergi pagi pulang sore!! dari mana aja lo......, ??. " Semprot Marvin yang langsung menerobos masuk kedalam kamar Zie begitu pintu kamar itu terbuka.
orang yang mengetuk pintu kamar Zie, adalah Marvin. tadi siang ia menanyakan keberadaan Zie kepada Papinya tapi Papinya bilang Zie sedang keluar bersama Darren dan tadi sore Marvin bertanya kepada pelayan rumahnya tentang keberadaan Zie tapi mereka bilang Nona Zie belum kembali sejak pergi pagi tadi.
"biasa lah.... gue kan emang selalu sibuk walapun hari libur. masih mending sore gue udah pulang. nggak pergi pagi pulang pagi" jawab Zie dengan candaannya lalu ikut duduk di sofa yang ada di kamarnya bersama Marvin.
"itu mah judul lagi, pergi pagi pulang pagi. Nih... oleh oleh buat lo.... " ucap Marvin menyerahkan beberapa Paperbag pada Zie.
"Asyiikkk.......,ini beneran buat gue?? makasih Kak.... " jawab Zie tersenyum senang. ia langsung mengeluarkan semua yang ada di dalam paperbag ke atas meja.
"sama sama......, gimana suka nggak??" tanya Marvin lalu mengusap puncak kepala Zie dengan sayang.
"Widih.... ada Parfum, Baju, tas, dan Macarons juga......., kalau ini sih suka banget. " pekik Zie dengan bahagianya.
ia langsung membuka kotak Macarons terkenal asli dari paris itu lalu memakannya.
"Hmmm....... delicious..... " ucap Zie dengan mulut yang menuh dengan sebutir Macarons.
selain coklat, Zie juga menyukai kue berbentuk lucu bulat kecil berwarna warni ini.
"ini tuh khusus gue bawain buat lo....., bagi dong.... " ucap Marvin langsung mencomot Macarons yang ada di dalam kotak yang Zie pangku.
"Lah... katanya buat gue, nggak taunya mau juga. beli sendiri dong...!!, " ucap Zie sambil tertawa. ia mencegah tangan Marvin yang akan mengambil Macarons nya lagi.
"songong nih bocah...., ini juga gue yang beli. pelit amat sih. ini tuh banyak tau, emang lo abis makan ini semua sendirian. " jawab Marvin yang masih berusaha mengambil Macarons dari lindungan Zie.
"Kurang banyak malah...... " jawab Zie terkekeh lalu berdiri dari duduknya dan berlari keluar kamar untuk menyelamatkan beberapa kotak Macarons miliknya.
"ed dah...., kecil kecil makannya banyak juga lo...!! bagi nggak.....!?! ". pinta Marvin yang langsung mengejar Zie.
" enggak.... ini punya gue semua wleeek.... " jawab Zie sambil menjulurkan lidahnya.
terjadilah aksi kejar kejaran antara Zie dan Marvin. Zie berlari kearah taman belakang rumahnya di susul oleh Marvin yang terus mengejarnya.
"Zie... lo pelit banget sumpah!! bagi sini.....!!" pinta Marvin
"enggak...,!! lo nya aja yang clamitan. katanya buat gue, jadi lo di larang minta dong. " ledek Zie.
akhirnya Marvin berhasil menangkap Zie dan langsung menyerang Zie dengan jurus gelitikan maut.
"Ahahahaaaaa......., ampun...., ampun Vin." ucap Zie tertawa kegelian karena Marvin mengelitiki pinggangnya.
ia sampai terduduk di atas rerumputan sambil mendekap beberapa tumpuk kotak macarons yang masih tetap berada di pangkuannya.
"rasain jurus mematikan dari gue!! makannya jangan pelit pelit. " ucap Marvin yang juga tertawa.
"iya ampun...., stop Vin geli...., " ucap Zie masih tertawa.
"panggil gue apa hah.....?? " tanya Marvin yang masih belum berhenti mengelitiki Zie.
"iya... iya..., kak Marvin stop!!. geli..., perut gue sakit. " pinta Zie yang membuat Marvin menghentikan aksinya.
keduanya lalu duduk berdampingan di atas rerumputan dengan nafas terengah enggah. mereka lalu membuka kembali satu kotak macarons dan memakannya bersama.
"padahal kalau dari tadi kaya gini kan enak, makan sambil nyantai. lah elo malah main kejar kejaran dulu......, capek tau." ucap Marvin ngedumel.
"siapa suruh lo ngejar gue....?? kalau lo tadi diem di tempat gue juga nggak bakalan lari nyampe sini. " jawab Zie terkekeh...
"emang dasar lo ya..., paling bisa jawab ucapan orang. huuh...... " ucap Marvin bangkit dari duduknya sambil mengacak acak puncak kepala Zie gemas hingga rambutnya berantakan.
"ih..... lo ma... resek banget." kesal Zie sambil merapikan rambut panjangnya kembali yang sempat berantakan dan menutupi wajahnya gara gara ulah Marvin. Marvin hanya tertawa lalu menjulurkan lidahnya menggejek Zie. "Awas ya...., gue smackdown baru tau ra lo.... "ancam Zie garang.
" Ampun mbak jagooo........ " seru Marvin lalu berlari masuk kedalam rumah sebelum Zie benar benar mengamuk.
Zie dan Marvin memang akan bertingkah seperti anak kecil jika bersama meskipun usia mereka sudah sama sama dewasa. kadang akur, kadang berdebat, kadang memperebutkan sesuatu, saling menjaga dan melindungi. saling menyayangi dan itu semua yang membuat mereka dekat layaknya saudara kandung. rumah akan terasa ramai jika ada keduanya.
malam pun tiba, Zie, Papinya, tante Dewi, Lexa, Axel, Marvin dan juga Cerry duduk bersama di ruang makan untuk makan malam bersama. mereka semua makan dengan tenang tanpa ada sepatah katapun. setelah selesai baru mereka membicarakan apa yang ingin mereka sampaikan.
"Ehm......, Marvin, Cerry dan juga Zie besok Papi akan mengantar tante kalian pulang ke kota Y. jadi kalian bertiga jaga rumah baik baik. Marvin tolong kamu jaga adek kamu juga ya selama Papi pergi.....??". Ucap Papi Zie berpesan kepada anak anaknya.
" ko Papi perginya mendadak gitu sih....?? Marvin baru aja pulang tapi Papi malah mau pergi. " Protes Marvin.
"Sebenarnya sudah di rencana dari kemarin, Zie aja tau kok kalau Papi mau ke kota Y. " jawab Papi Zie.
"Kenapa cuma Zie yang di kasih tau,...?? " tanya Marvin cemberut.
"makannya lo jangan di kamar mulu...., jadi nggak tau apa apa kan. " sahut Zie sambil terkekeh.
"maklumin aja Zie..., masih pengantin baru. " tante Dewi ikut menimpali perkataan Zie yang membuat semuanya tertawa.
"iya Pi..... " jawab Marvin.
setelah pembicaraan itu, mereka semua akhirnya pergi meninggalkan ruang makan untuk beristirahat di kamarnya masing masing.
"Vin...., ikut Papi ke ruang kerja.... " Pinta Papi Zie lalu berjalan mendahului Marvin.
"iya Pi.....," jawab Marvin. "sayang kamu kekamar duluan ya. aku mau nemuin Papi dulu sebentar. " ucap Marvin kepada Cerry.
"iya sayang..... " jawab Cerry tersenyum cantik lalu pergi menuju kamar Marvin yang sudah menjadi kamarnya juga.
Marvin lalu pergi menyusul papinya ke ruang kerja..., ternyata di sana juga sudah ada Zie yang duduk di kursi kerja milik Papinya. sedangkan Papinya sendiri duduk di kursi yang ada di depan Zie.
"Sini duduk Vin..... " ucap Papi Zie menyuruh Marvin duduk di kursi yang ada di dekatnya.
tanpa membantah Marvin mengikuti ucapan Papinya dan duduk di kursi itu.
"Kamu tau kenapa Papi memanggilmu kesini?? " tanya Papi Zie kepada Marvin.
"Aku tau..... " jawab Zie cepat sambil mengacungkan jari telunjuknya keatas.
"Heh...., gue yang di tanya bukan elo....!!" sahut Marvin dan Zie hanya menunjukkan cengiran nya.
"heheheee.... abisnya muka lo tegang gitu. gue takut lo nggak bisa jawab. " ucap Zie enteng
"emangnya gue lagi sidang skripsi apa sampe nggak bisa jawab segala. " jawab Marvin terkekeh.
selalu begitu jika Zie dan Marvin bersama, keduanya mampu mencairkan suasana terasa menjadi lebih hangat.
"emang kenapa Papi menggail Marvin kesini??? " tanya Marvin kepada Papinya.
"Tuh kan bener...., lo nggak bisa jawab. " Sahur Zie sambil menggebrak meja yang mana membuat Marvin dan Papinya berjingkat kaget.
"Astaga...... " Papi Zie dan Marvin sama sama mengusap dadanya karena terkaget.
sedangkan Zie malah tertawa dengan wajah tak berdosa.
"Lama lama gue karungin juga lo....!! " semprot Marvin kesal kepada Zie.
"Ziiieeee......... " ucap Papi Zie menginterupsi.
"iya Pi... maaf.... " jawab Zie lalu diam seketika.
"Papi memanggil kamu kesini cuma mau kasih ini.... " ucap Papi Zie lalu memberikan sebuah berkas kepada Marvin.
"Apa ini Pi.....??. " tanya Marvin lalu menerima berkas itu.
"Buka saja..... " Perintah Papi Zie.
Marvin berlahan membuka berkas itu dan membacanya. kedua matanya membulat sempurna ketika membaca surat sertifikat rumah mewah yang tertera atas nama dirinya di sana.
"ini......... " ucap Marvin
"Ya...., ini hadiah pernikahan untuk kamu dari kami. dari Papi dan Zie." ucap Papi Zie sambil tersenyum.
"Dan ini kuncinya.... " ucap Zie memberikan kunci rumah kepada Marvin.
"Makasih banyak ya Pi...., " ucap Marvin yang langsung memeluk Papinya penuh haru.
ia sangat beruntung memiliki ayah seperti Tuan Prabu. meskipun Marvin bukan anak kandungnya tapi Tuan Prabu selalu menyayanginya dengan tulus.
"Aku nggak di aja pelukan juga...?? " tanya Zie yang sudah berdiri di dekat kakak dan juga Papinya.
"Sini sayang...... " ucap Papi Zie tersenyum lalu merentangkan sebelah tangannya agar Zie masuk kedalam pelukkan nya.
Dengan senang hati Zie juga ikut memeluk Papinya. kini Tuan Prabu memeluk Putra dan Putrinya secara bersamaan. tidak ada yang membahagiakan bagi Tuan Prabu selain memiliki anak anak hebat seperti mereka dan Tuan Prabu sangat bersyukur dengan apa yang di miliki nya sekarang.
"(Terimakasih atas kebahagiaan yang engkau berikan kepadaku ya Tuhan., kau memang telah mengambil orang yang aku sayangi tapi kau juga telah menggantinya dengan kehadiran kedua anakku.) " batin Tuan Prabu.
.
.
.
.
Bersambung...
.
.
.
.