
Darren duduk terdiam di kursi tunggu yang ada di depan ruang UGD bersama Ben yang masih setia menemani Bosnya. sudah setengah jam yang lalu Arion di bawa masuk kedalam ruangan itu dan saat ini dokter masih menanganinya. pikiran Darren kacau melihat adik satu satunya seperti itu. Arion adalah satu satunya keluarga yang ia miliki tentu saja ia merasa sangat khawatir melihat keadaan Arion saat ini.
Beberapa kali Darren beranjak dari duduknya dan berjalan mondar mandir di depan pintu ruangan UGD lalu kembali duduk. ia juga beberapa kali terlihat mengusap wajahnya kasar. Darren hanya bisa berdoa dalam hati semoga tidak terjadi apa apa kepada Arion.
"Ben....., bilang pada keluargamu untuk membatalkan acara nanti malam. " Perintah Arion kepada Asistennya.
"Acara lamarannya batal Tuan?? ". tanya Ben memastikan.
" Bukan batal, tapi di undur..... " jawab Darren.
"Baik Tuan..... " jawab Ben patuh. ia tidak lagi bertanya karena Ben tau Tuan Mudanya sedang mengkhawatirkan adiknya sehingga mau tak mau acara lamarannya di tunda sementara waktu.
Ben lalu menghubungi keluarganya untuk memberitahu bahwa acara lamaran Bosnya nanti malam di undur. setelah itu Ben pamit pergi ke kantin untuk membeli minum untuknya sendiri dan juga Bosnya.
satu jam sudah berlalu, bahkan air minum yang Ben bawa untuk Tuannya sudah habis di minum tak tersisa tapi Dokter yang memeriksa Arion belum juga keluar dan hal itu membuat Darren semakin merasa cemas.
"Kenapa lama sekali...... " ucap Darren
"Sabar Tuan, mungkin sebentar lagi....... " belum juga kalimat yang Ben ucapkan selesai, pintu ruangan UGD akhirnya terbuka.
Dokter yang menangani Arion keluar sambil menghela nafasnya panjang.
Darren yang mendengar suara pintu terbuka langsung menoleh dan berdiri lalu menghampiri Dokter yang baru saja menangani adiknya.
"Bagaimana keadaan adik saya dokter.? " tanya Darren dengan raut wajah yang jelas khawatir.
"Pasien mengalami overdosis yang di sebabkan karena banyak memimun minuman beralkohol di barengi dengan mengkonsumsi obat tidur dalam dosis tinggi. beruntung saat ini nyawanya masih bisa tertolong. tapi untuk saat ini pasien masih dalam kondisi kritis. jadi untuk sementara pasien belum bisa di pindahkan ke ruang rawat karena masih memerlukan pemeriksaan secara intensif. mohon Tuan untuk bersabar dan membantu kesembuhan pasien dengan berdo'a sebanyak banyaknya. " jawab Dokter menjelaskan.
"tapi adik saya baik baik saja kan dok?? dia pasti selamat kan??" tanya Darren memastikan.
"saya belum bisa memastikan Tuan, kita tunggu semoga pasien bisa melewati masa kritisnya. " jawab Dokter.
"tolong dokter...., lakukan apa saja yang penting adik saya bisa selamat. " pinta Darren.
"kami pasti akan berusaha semampu kami, Tuan do'a kan saja......." jawab dokter.
"Baik dokter..... " ucap Darren.
"Kalau begitu saya permisi dulu..... " pamit dokter lalu meninggalkan Darren.
Darren kembali duduk di samping Ben, perasaannya belum bisa tenang karena kondisi Arion masih kritis. Ia hanya mampu berdo'a dalam hati semoga Arion mampu melewati masa kritisnya.
"Pulanglah Ben...., ini sudah malam. terimakasih karena sudah membantuku hari ini. " perintah Darren.
langsung sudah berwarna gelap karena saat ini sudah jam tujuh malam.
"Tapi Tuan......, " belum juga Ben melanjutkan kalimatnya tapi Darren sudah memotongnya terlebih dahulu.
"Tidak papa...,., aku bisa menunggu adikku sendiri disini jadi jangan mengkhawatirkanku. pulanglah...... " ucap Darren lagi.
"Baik Tuan..... " mau tidak mau Ben akhirnya menuruti perintah Darren.
setelah pamit Ben pun pergi meninggalkan Darren.
Darren lalu mengeluarkan benda pipih dari dalam sakunya yang sedari tadi tidak ia hiraukan.
ada beberapa pesan dan panggilan tak terjawab dari Zie, akhirnya ia pun mengabari Zie tentang kondisi Arion saat ini.
...,,______,,_______,,_______,,...
Keesokan harinya, menjelang jam istirahat kerja Zie langsung mendatangi rumah sakit di mana Arion di rawat. ia membawakan banyak makanan, buah dan juga minuman untuk makan siang bersama disana. Zie sudah mendapat kabar dari Darren bahwa Arion sudah melewati masa kritisnya semalam dan sekarang sudah di pindahkan keruang rawat. sejak kejadian itu Darren terus menemani adiknya disana, ia hanya sesekali bertukar kabar dengan Zie melalui pesan singkat dan telepon.
Darren yang sedang duduk di sofa, menoleh ketika pintu ruang rawat VIP yang di tempati Arion terbuka. ia langsung beranjak dari duduknya dengan tersenyum tampan yang tersunging menyambut kedatangan Zie.
Darren langsung mengambil alih barang bawaan dari tangan Zie dan mempersilahkan Zie untuk duduk di sofa.
"Kenapa tidak mengabari ku kalau mau datang kesini hm?? ". tanya Darren yang sudah duduk di samping Zie.
" Sengaja....., " jawab Zie menunjukkan cengiran khasnya. "gimana Arion, udah baikan?? ". tanya Zie.
" Sudah....., tapi sekarang dia lagi tidur. mungkin efek obat yang dokter berikan." jawab Darren dan Zie pun mengangguk mengerti.
Zie bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat kearah Arion yang sedang berbaring di brangkar sambil memejamkan matanya. wajah tampan Arion terlihat damai dalam tidurnya meskipun masih terlihat agak pucat.
Zie hanya memandangi wajah itu beberapa saat tanpa menyentuh sedikitpun karena ia tak mau menganggu istirahat Arion. Zie kembali berjalan dan duduk di samping Darren lagi lalu membuka bungkusan makanan yang ia bawa.
"aku bawa banyak makan, Kakak pasti belum makan siang kan??". ucap Zie sambil tersenyum manis.
" belum....., kebetulan kakak juga sudah merasa lapar. kamu perhatian banget sih, makasih ya...... " ucap Darren mengusap rambut panjang Zie dengan sayang.
mereka berdua menghabiskan makan siang bersama di ruang rawat Arion. setelah cukup lama disana Zia akhirnya pamit untuk kembali ke kantornya.
"Biar Kakak Antar..... " ucap Darren
"nggak usah kak...., Kakak disini saja temani Arion. dia lebih membutuhkan kakak. aku bisa kembali ke kantor sendiri. jangan khawatir".tolak Zie secara halus.
memang benar Arion lebih membutuhkan Darren karena hanya Darren yang menjaganya saat ini. siapa yang akan membantu Arion nanti kalau Darren pergi mengantar Zie. akhirnya Darren pun menuruti ucapan Zie.
keduanya berjalan beriringan sambil bergandengan tangan menuju tempat parkir mobil. Darren lalu membantu membukakan pintu mobil untuk Zie dan menutupnya kembali ketika Zie sudah duduk dengan nyaman di belakang kemudi.
"aku pergi dulu ya kak.... " pamit Zie tersenyum manis dan Darren pun mengangguk.
"Hati hati dijalan....., kabari kakak kalau sudah sampai di kantor. " pesan Darren.
"iya kak.... " jawab Zie lalu secara berlahan melajukan mobilnya meninggalkan Darren.
Setelah mobil yang di kendarai Zie menghilang dari pandangannya, Darren kembali ke ruangan Arion.
saat berjalan ia cukup heran ketika melihat dokter dan perawat yang berjalan dengan buru buru lalu masuk kedalam ruangan yang di tempati Arion.
merasa ada yang aneh...., Darren pun melangkahkan kaki nya lebih cepat agar segera tau apa yang terjadi di dalam sana. begitu masuk, Darren langsung membelalakan matanya melihat Arion yang terus memberontak ketika yang di pegangi dua dokter serta ada juga dua suster lainnya yang berdiri tidak jauh dari Arion. di bawah brangkar terdapat cairan merah kental yang berceceran dengan pisau buah yang juga tergletak di atas lantai. tangan Arion terluka karena ia mencoba bunuh diri dengan menyayat nadi yang ada di pergelangan tangannya.
"Apa yang terjadi.......? ". tanya Darren dengan panik lalu mendekat kearah Arion yang masih terus memberontak.
" Lepas.....!! jangan menghalangiku....!! pergi kalian semua....!! ". teriak Arion tak terkendali.
" Rion.... sadarlah.....!! apa yang kau lakukan!?! sadar Rion...!! bentak Darren.
ia lalu membantu Dokter memegangi Arion, sementara Dokter satunya berusaha memberikan suntikan obat penenang untuk Arion. selang beberapa saat Aron pun akhirnya mulai tenang dan mulai tertidur kembali. Dokter kemudian dengan sigap mengobati luka di pergelangan tangan Arion, lukanya cukup dalam sehingga pergelangan tangan Arion perlu mendapat beberapa jahitan untuk menutup lukanya.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan adik saya dokter....??, tadi Adik saya baik baik saja dan masih tertidur sebelum saya tinggal pergi keluar sebentar.? ". tanya Darren kepada dokter yang sedang mengobati luka Arion di bantu satu suster. sedangkan dokter dan suster yang lainnya sudah pamit keluar dari ruang rawat Arion.
" Saya juga tidak tau apa penyebabnya Tuan....., tapi sepertinya Adik Tuan mengalami depresi sehingga melakukan percobaan bunuh diri dengan menyayat pergelangan tangannya sendiri. untung tadi ada perawat yang masuk untuk mengecek kondisi pasien dan satu perawat lagi yang datang bersamaan membawakan makan siang untuk pasien jadi apa yang adik anda lakukan langsung bisa di tangani. Dan sepertinya penyebab over dosis yang di alami kemari juga kemungkinan di lakukan dengan sengaja oleh pasien untuk mengakhiri hidupnya." ucap dokter itu. "apa Adik anda sedang mengalami masalah yang berat Tuan??. " tanya dokter itu.
"Saya tidak tau dokter. " jawab Darren singkat. dalam hati Darren membenarkan perkataan Dokter bahwa Arion mencoba melakukan percobaan bunuh diri.
"lebih baik nanti anda tanyakan langsung dengan adik anda, ajak dia berbicara baik baik agar dia mau bercerita tentang masalah apa yang sedang dia hadapi agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi Tuan. " saran dokter sambil melilitkan perban untuk menutup luka Arion.
"Baik Dokter.... " jawab Darren....
"Kalau begitu saya permisi dulu tuan, kalau ada apa apa anda bisa langsung memanggil saya. " pamit Dokter itu.
"Terimakasih dokter. " ucap Darren.
"Sama sama..... " jawab Dokter itu tersenyum ramah meski yang di ajak senyum hanya memasang wajah datar.
stelah dokter pergi, Darren berjalan mendekat kearah Arion yang masih tertidur dan mengamati wajah adiknya itu yang terlihat pucat.
"Kenapa kamu melakukan itu Arion.....??, apa kamu juga ingin meninggalkan kakak seperti Papa dan Mama?? ". tanya Darren dengan wajah sendu sambil mengusap puncak kepada Arion dengan sayang. tentu saja Arion tidak menjawab karena adiknya itu masih terlelap.
selang satu jam...., Arion akhirnya terbangun dari tidurnya. Darren yang memang duduk di kursi yang ada di dekat brangkar dengan sigap membantu Arion bangun dan menumpuk bantal di belakang Arion agar adiknya itu duduk bersandar.
"ayo makan..., kau melewatkan makan siangmu setelah itu minum obatnya. " ucap Darren mengambil piring makanan Arion yang di sediakan oleh rumah sakit.
tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Arion. ia bahkan memalingkan wajahnya kearah lain ketika kakaknya menyendokkan makanan dan bermaksud menyuapi nya.
"Rion jangan seperti ini....., kau harus makan dan minum obat agar kau cepat sembuh." ucap Darren membujuk.
Arion masih tetap saja diam tanpa mau merespon Darren. tentu saja Darren merasa sangat sedih melihat kondisi adik satu satunya itu yang sepertinya kehilangan semangat hidup.
Darren menghela nafasnya panjang...., butuh kesabaran ekstra untuk menghadapi adiknya saat ini.
"Rion..., bicaralah. apa yang kamu rasakan?? jangan menyiksa diri mu sendiri. kakak tidak bisa melihatmu seperti ini. " ucap Darren lagi.
"Biarkan aku mati saja kak...... " satu kalimat meluncur dari mulut Arion meski dengan suara yang terdengar lemah di sertai satu tetesan air dari matanya. Arion menangis tanpa suara, sorot matanya terlihat sangat menyedihkan. "Aku tidak sanggup melihat orang yang aku sayang berbahagia dengan orang lain. hatiku hancur ketika dia menolak ku, sakit sekali rasanya kak. untuk apa aku hidup jika hanya untuk melihat dia berbahagia di atas sakit hati yang aku rasakan. aku nggak sanggup kak...., biar kan aku mati saja. " ucap Arion dengan keputus asa'an. Arion memang egois.
sebenarnya tadi Arion terbangun dari tidurnya saat Zie datang, tapi ia sengaja berpura pura tidur untuk mengetahui seberapa pedulinya Zie kepadanya. awalnya Arion senang karena Zie datang menjenguknya tapi apa yang dia lihat sungguh sangat menyakiti hatinya. Zie justru sangat dekat dan perhatian kepada kakaknya. hanya melihat Zie yang makan bersama dan bercengkrama dengan kakaknya saja membuat hatinya tak terima. ia sangat cemburu apalagi melihat sikap Zie yang begitu manja kepada kakaknya, Sikap yang tidak pernah Arion lihat dari Zie selama ini. apalagi keduanya memiliki binar mata penuh cinta untuk satu sama lain. sungguh hati Arion sangat hancur, ia tak sanggup melihat itu semua sehingga Arion berpikir untuk mengakhiri hidupnya saja. mungkin dengan mati, ia tidak akan merasa sakit hati ketika kakaknya tengah berbahagia dengan Zie.
Darren memeluk Arion yang mulai tidak terkendali lagi. ia tidak tega melihat adiknya yang nakal menjadi sangat rapuh seperti ini. baru kali ini Darren melihat Arion yang putus asa dan menyedihkan, padahal dulu saat orang tuanya meninggal Arion tidak sampai seperti ini.
Darren mulai berpikir apakah ia harus mengalah kepada Arion?? , pakah ia harus melepas Zie untuk Arion??. bukankah cinta itu tidak harus memiliki?? Biarlah Darren mencintai Zie dengan caranya sendiri meski tidak memilikinya. Darren yakin Zie juga bisa hidup bahagia bersama Arion karena Arion memiliki Cinta yang sangat besar untuk Zie. Darren juga tidak mungkin berbahagia dengan Zie sementara adiknya sendiri terpuruk seperti ini. ia tidak setega itu.
.
.
.
.
.
bersambung......
.
.
.
.
.